Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
231. Wanitamu?


__ADS_3

Bugh


Rakha memberi pukulan telak pada Reno. Pria itu tersungkur di aspal, dan bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Katakan! dengan tangan mana dia menyentuhmu," Nafas Rakha terlihat naik turun, dengan pancaran mata merah menyala.


Dengan tangan bergetar Gadlyn mengulurkan tangannya yang terlihat merah, akibat ditarik paksa oleh Reno.


"Aku bilang tangan mana yang pria itu gunakan untuk menarik tanganmu?" tanya Rakha.


Gadlyn yang ketakutan jadi tidak fokus mendengar pertanyaan dari Rakha.


"Brengsek! beraninya kamu memukulku? jangan ikut campur, dia itu wanitaku!" hardik Reno sembari beranjak dari jalan berwarna hitam itu.


"Kamu yang brengsek! semua keturunanmu brengsek. Wanitamu? beraninya kamu menganggap wanitaku sebagai wanitamu? akan ku tunjukkan padamu, apa hukumannya karena sudah berani mengganggu wanitaku," ujar Rakha berapi-api.


Rakha berjalan dengan langkah besar menghampiri Reno. Pria itu kembali melayangkan pukulan keras bertubi-tubi hingga Reno tidak mampu membuat perlawanan. Ilmu bela diri Rakha terlalu tinggi, untuk bisa di kalahkan.


"Sekali lagi kamu berani mengganggu wanitaku, aku akan patahkan kaki dan tanganmu!" hardik Rakha.


"Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu. Kenapa memangnya kalau kamu seorang pengusaha nomor satu di kota ini? Gadlyn hanya mencintaiku, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama di kamar hotel. Kamu ingin merebut bekasku?"


"Tutup mulut busukmu brengsek! dasar bajingan mesum," hardik Gadlyn.


Sementara Rakha yang awalnya terprovokasi, jadi menoleh kearah Gadlyn saat mendengar ucapan Reno. Reno menyeringai, dia yakin Rakha percaya dengan semua ucapannya.


"Lagi pula aku tidak percaya kalau kalian itu sepasang kekasih. Aku tidak pernah melihat kalian membuat pernyataan di media dan terlihat kencan bersama," ujar Reno lagi-lagi memprovokasi.


"Kenapa kami harus memberitahumu tentang hubungan kami. Kamu sama sekali tidak layak," ucap Gadlyn.


"Pokoknya selagi tidak ada bukti kalian sudah bersama, aku akan selalu mengejarmu. Aku mencintaimu Gadlyn," ujar Reno dengan tidak tahu malunya.


"Baik. Akan aku buktikan padamu sekarang juga," ujar Gadlyn.


Entah dapat keberanian darimana, Gadlyn meraih wajah Rakha dan mencium bibir pria itu.


Deg


Deg


Deg


Jantung Rakha dan Gadlyn berdebar dengan kencang. Ciuman itu merupakan ciuman pertama mereka.


Reno yang cemburu tanpa pikir panjang ingin memukul Rakha dari belakang, dengan sepotong kayu yang dia temukan disekitar situ. Rakha yang tingkat kewaspadaannya menurun karena ciuman itu, sama sekali tidak menyadari ada bahaya yang mengintainya.


"Rakha awas!" Gadlyn yang menyadari lebih dulu membalikkan posisi tubuh mereka.


Bugh

__ADS_1


Benda tumpul dan keras itu menghantam punggung Gadlyn, hingga membuat gadis itu tidak sadarkan diri dipelukkan Rakha.


Rakha menggertakkan giginya, dengan pandangan mata membunuh. Jujur saja Reno sangat gentar saat ini. Karena melihat Gadlyn yang menjadi sasarannya, Reno bergegas kabur.


Rakha kemudian membopong Gadlyn agar masuk kedalam mobilnya. Pria itu bergegas membawa Gadlyn ke EH Hospital.


"Panggil semua dokter wanita yang ada dirumah sakit ini. Tangani dia dengan baik! awas saja kalau tidak ada yang bisa menyembuhkan dia," ujar Rakha yang membuat para tim medis disana kelimpungan.


Gadlyn bergegas dibawa ke ruang tindakkan. Ternyata ada luka memar di pegelangan tangan dan punggung gadis itu. Sementara itu Rakha berjalan mondar mandir di depan ruang tindakkan. Pria itu begitu tidak sabar menunggu hasil pekerjaan tim dokter.


Kriekkkk


Seorang dokter keluar dengan senyum lega di bibirnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rakha.


"Tuan muda tidak usah khawatir. Nona baik-baik saja. Dia hanya syok akibat pukulan dipunghungnya, selebihnya semuanya baik-baik saja." Jawab dokter.


Rakha menghela nafas lega saat mendengar penjelasan dokter.


"Apa sekarang sudah bisa di jenguk?" tanya Rakha.


"Suster sedang mengoleskan salf di punggungnya. Setelah itu baru akan kita pindahkan diruang perawatan. Tuan muda bisa beristirahat dulu. Setelah nona di pindahkan, tuan muda baru bisa menjenguknya dengan nyaman," ujar dokter.


"Catat semua tim yang membantu menangani nona muda. Siapapun yang terlibat, akan diberikan bonus," ucap Rakha.


"Terima kasih banyak tuan muda," dokter itu membungkukkan badan tanda ucapan terima kasih.


"Lakukan pekerjaan dengan benar. Tuan muda akan memberikan kita bonus. Apa kalian tahu? gadis ini adalah calon nona muda kita," dokter itu memberitahu kabar gembira pada timnya.


Setelah selesai mengobati luka Gadlyn, gadis itupun di pindahkan ke ruang perawatan. Setelah siuman, Rakha memasuki ruangan itu dengan wajah datar dan dingin.


"Tu-Tuan. Maafkan saya," ujar Gadlyn terbata.


Rakah mengira Gadlyn meminta maaf atas sikap cerobohnya yang menjadikan tubuh kecilnya sebagai tameng melindungi dirinya. Sebagai pria yang memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi, jelas saja Rakha merasa terhina harus di lindung seorang wanita yang lemah seperti itu.


"Maaf atas dasar apa?" tanya Rakha pura-pura cuek.


"Ka-Karena sudah berani mencium tuan." Jawab Gadlyn.


Jawaban Gadlyn membuat mata Rakha melotot, dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Ctakkkkkk


Rakha menyentil dahi Gadlyn lumayan keras.


"Tuan sakiiiitttt," Gadlyn meringis sembari mengusap-usap dahinya.


"Apa yang kamu pikirkan dengan otak kecilmu itu? apa aku ini terlihat seperti pria yang butuh perlindungan seorang wanita? kamu sama saja dengan menghinaku, dengan menjadikan tubuh kecilmu yang seperti cacing itu jadi tameng benda sekeras itu," omel Rakah.

__ADS_1


"Cacing katanya? apa tubuhku tidak semenarik itu? pria bermulut harimau ini tidak tahu terima kasih. Tahu gitu aku biarkan saja kepalanya pecah dan otaknya berceceran," batin Gadlyn.


"Sudah salah masih berani mengutukku?"


"Si-Siapa yang mengutuk tuan? a-aku tidak berpikir begitu." Jawab Gadlyn.


Gadlyn yang teringat dengan motor kesayangannya, mendadak panik seketika. Pasalnya selain itu adalah motor kesayangannya, motor itu merupakan satu-satunya aset untuk dirinya mencari uang.


"Tu-Tuan. Motor saya ada dimana?" tanya Gadlyn.


"Sudah ku buang ke laut." Jawab Rakha asal.


"Kok main buang saja? itu motor kesayanganku, itu sarana buat aku pergi ke kantor. Tuan gimana sih? kok main buang aja?" tanpa sadar Gadlyn mengomeli Rakha.


"Kamu memarahiku? lancang sekali kamu!" Rakha berpura-pura marah.


"Bu-Bukan begitu. Tapi motor itu sangat berharga bagiku. Paijo adalah suami pertamaku," ujar Gadlyn.


"Paijo? siapa Paijo?" tanya Rakha dengan mode cemburu.


"Motor itu Paijo namanya. Dia yang menemaniku saat suka dan duka." Jawab Gadlyn dengan raut wajah sedih.


"Keputusanku membuangnya sudah benar. Mulai minggu depan kamu ke kantor biar aku yang antar jemput," ujar Rakha.


"Kok gitu?" tanya Gadlyn bingung.


"Gara-Gara motor itu kamu sering celaka. Sudah 3 kali kamu jatuh dari motor sialan itu. Takutnya yang ke empat kali kamu akan masuk kuburan. Mau masuk kuburan?"


Gadlyn yang ketakutan jadi menggeleng cepat.


"Ta-Tapi aktifitas saya tidak hanya pulang pergi ke kantor saja tuan. Saya kan sering bantu mama kepasar dan ketempat lainnya. Jadi saya pakai apa dong?"


Rakha tampak terdiam. Dia lupa kalau dirinya tidak boleh bertindak sesuka hati meskipun dirinya mengkhawatirkan Gadlyn.


"Fokus saja dengan kesembuhanmu. Nanti biar aku yang pikirkan caranya," ujar Rakha.


"Terima kasih tuan sudah repot-repot memikirkan saya. Tuan, apapun yang Reno katakan tentang saya, saya mohon jangan percaya dengan ucapannya. Itu sama sekali tidak benar," ujar Gadlyn.


"Buat apa kamu menjelaskan semua itu? tidak ada urusannya denganku," ucap Rakha.


"Eh? benar juga. Buat apa aku menjelaskannya pada harimau ini? seolah aku takut, kalau harimau ini percaya dengan omongan musang berbulu landak itu," batin Gadlyn.


"Rakha bodoh. Apa kamu tidak bisa menunjukkan sisi pria yang lemah lembut dihadapan gadis yang ingin kamu dekati? kalau begini caranya, Gadlyn akan bertambah takut. Tapi, aku sangat penasaran kenapa dia berani menciumku? membuat jantungku berdebar saja," batin Rakha.


"Apa saat berpacaran dengan si brengsek itu kamu sudah biasa berciuman dengannya?" tanya Rakha.


"Tidak pernah. Bahkan tadi adalah ciuman pertamaku."


Gadlyn langsung menutup mulutnya, karena mulutnya terlalu licin saat berbicara. Sementara itu hati Rakha melonjak senang, karena ciuman itu juga merupakan ciuman pertama baginya. Gadlyn mencuri-curi pandang kearah Rakha, karena gadis itu ingin tahu pria itu sedang berekspresi seperti apa saat ini. Tanpa Gadlyn sadari, Rakha mengangkat sedikit sudut bibirnya, dengan hati bersorak gembira.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2