Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.88. Tersiksa


__ADS_3

Ceklekkkk


Sepi, sunyi tidak ada tanda-tanda kehidupan kesan pertama yang Ezra rasakan ketika masuk kedalam apartemen Marinka. Pria itu langsung pergi menuju kamar istrinya itu dan berbaring diatas tempat tidur.


"Ah...hanya aroma mu saja yang tertinggal di sprei ini. Kamu sebenarnya ada dimana dek? abang sangat merindukanmu," ucap Ezra lirih.


Ezra meraba-raba tempat tidur, dan sesekali mencium aroma tubuh Marinka yang masih tertinggal disprei yang sengaja Ezra tidak cuci.


"Apa disana kamu juga merindukan abang? kembalilah sayang, abang tidak bisa sendiri tanpa kamu."


"Abang janji, kalau adek pulang, abang akan memberikan segalanya untukmu. Tapi adek pulang ya dek? abang benar-benar tersiksa."


Ezra yang lelah bekerja dan kurang tidur, tanpa sadar sudah terlelap diatas tempat tidur Marinka. Aroma tubuh Marinka di sprei itu laksana obat bius yang bisa menenangkan Ezra sehingga pria itu bisa tertidur dengan nyenyak.


"Kamu benar-benar luar biasa Rin. Baru seminggu butik ini kamu kelolah, tapi omset yang kamu dapatkan sudah luar biasa banyak." ujar Ando.


"Kakak bisa saja. Ini kan berkat bimbingan kakak juga, lagipula budaya di negara kita jangan pernah kita tinggalkan,"


"Aku tahu. Kamu sangat ramah saat melayani pelanggan, itulah mereka suka belanja disini."


"Bagaimana dengan butik yang lain kak?"


"Stabil. Semua berjalan dengan lancar, karena semua berjalan dengan baik, kakak ingin mentraktir kamu dan Sera makan siang. Bagaimana?"


"Traktir terus. Ntar uang kakak habis loh," ucap Marinka sembari terkekeh.


"Kakak tidak semiskin itu. Kakak masih sanggup membeli makanan sekaligus membeli restaurannya,"


"Sombong nih ceritanya,"


Ando terkekeh melihat ekspresi wajah Marinka yang menggemaskan.


"Ya sudah bersiap-siaplah! ajak Sera, kita akan makan siang bersama,"


"Iya kak."


Marinka masuk kedalam dan memberitahu Sera bahwa mereka akan makan siang bersama. Merekapun memutuskan untuk makan di restauran tempat langganan Ando.


"Ibu hamil harus banyak makan sayur dan ikan," ujar Ando sembari meletakkan beberapa jenis sayur dan sepotong ikan salmon.

__ADS_1


Perhatian yang Ando berikan selama ini, tidak luput dari mata Sera. Gadis itu bisa merasakan, bahwa Ando memperlakukan Marinka lebih istimewa dari dirinya.


"Makasih kak. Anak-Anakku pasti senang diperhatikan oleh Om nya."


Mendengar itu Ando tersenyum, pria itu sama sekali tidak keberatan saat Marinka menamainya Om untuk anak-anaknya.


"Oh ya, bagaimana kuliahmu?"


"Semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebentar lagi akan diadakan lomba mendisign perhiasan."


"Oh ya? apa lombanya antar kampus?"


"Tidak. Hanya sesama teman kelas saja."


"Tidak masalah, itu juga bisa membangun kreatifitasmu. Walau hanya dengan teman sekelas, jangan pernah menganggap remeh siangan lombamu. Kamu harus tetap berkonsentrasi saat mendisign."


"Ya kak." Jawab Marinka.


"Ra. Kok kamu diam aja? ikutan ngobrol dong," ucap Ando.


"Bingung mau ngomong apa. Obrolan kalian itu tidak nyambung di otakku. Aku cukup jadi pendengar saja."


Ando terkekeh mendengar ucapan Sera. Gadis bernama Sera Saputri itu cukup pendiam dimata Ando, bahkan gadis itu tidak pernah menyapa dirinya duluan sebelum Ando mendahuluinya.


"Siapa nih yang mau jawab? kamu jawab gih," ujar Sera.


"Aku nanya kamu, kali ini aku ingin mendengar suaramu lebih lama." ucap Ando.


"Untuk bagian Arin, biar dia sendiri yang menjawabnya. Aku memang nggak punya keluarga lagi, ayah dan ibuku mereka semua anak tunggal. Waktu aku SMP mereka mengalami kecelakaan dan meninggal. Dah gitu aja kali ya?" ujar Sera.


"Dia mah masih enak, paling nggak nyicip yang namanya pelukkan orang tua. Nah aku? sejak bayi sudah dibuang ke Panti asuhan. Segitunya mereka tidak menginginkan aku."


"Yang membuangmu pasti akan menyesal, saat mereka tahu anak yang mereka telantarkan sudah tumbuh menjadi anak yang cantik dan cerdas," ucap Ando.


"Tapi tetap saja nasib sial tidak mau beranjak dari hidupku. Setelah dibuang orang tua kandung, aku masih harus merasakan dibuang suami juga."


"Mantan suamimu juga akan menyesal sudah mencampakkan wanita sepertimu. Kamu bersabarlah, suatu saat akan ada yang benar-benar mencintaimu."


"He..cinta...aku tidak mau merasakan hal yang satu itu lagi. Aku sudah mati rasa,"

__ADS_1


"Jangan begitu. Jangan mudah menganggap dunia ini berakhir, hanya karena satu kali mengalami kegagalan."


"Maaf kak, sepertinya harus aku luruskan lagi. aku sudah dua kali mengalami kegagalan dalam rumah tangga."


"Dua kali?"


"Emm."


Marinka kemudian menceritakan semua apa yang dia alami saat pernikahan pertamanya. Ando secara garis besar mengerti, dan cukup prihatin dengan apa yang menimpa Marinka.


"Hah...macam-macam saja permainan dunia ini. Disaat kamu sudah merasakan dua kali kegagalan, aku bahkan belum sama sekali merasakan kehidupan pernikahan."


"Kakak buruan cari jodoh, sudah 30 tahun kan ya? ntar keburu kiamat kak," ujar Marinka sembari terkekeh.


"Belum nemu yang pas,"


"Jangan nunggu yang pas, tapi nunggu ada yang mau. Noh yang depan mata ada,"


"Depan mata?"


"Ummm."


Marinka menoyorkan bibirnya ke arah Sera yang tampak sibuk dengan makanannya. Melihat yang Marinka maksud, Ando jadi terkekeh, sementara yang sedang di gosipkan tampak tidak perduli.


*****


"Sudah 22 tahun ya? dia pasti sudah tumbuh besar dan jadi gadis yang cantik. Maafkan bunda yang terpaksa melakukannya, setidaknya kamu lebih baik disana daripada mati terbunuh."


"Suatu saat kita pasti akan bertemu. Tunggu sampai dia mati dulu,"


Lilian ning menoleh ke arah seorang pria yang usianya terpaut hingga 15 tahun darinya. Manikahi pria yang masih memiliki keturunan bangsawan, bukan membuat Lilian ning serta merta menjadi senang dan bahagia. Justru pernikahan yang terpaksa dia jalani selama 21 tahun ini, tidak membuatnya bisa jatuh cinta pada sosok pria yang ada di samping tempat tidurnya itu.


Perasaan Lilian ning masih tetap utuh pada sosok sang kekasih Dirham Diningrat, yang mati terbunuh saat mereka ingin melakukan kawin lari kesalah satu pelosok negeri. Saat itu Lilian tengah mengandung buah cintanya dengan Dirham. Lilian dipaksa menggugurkan kandungan itu karena dianggap mencoreng nama keluarga mereka yang merupakan ketururunan Keraton.


Setelah membuat kesepakatan, akhirnya Lilian dibiarkan melahirkan anak itu dengan syarat harus menikah dengan pilihan orang tuanya dan juga anak yang Lilian lahirkan harus mereka asingkan dari keluarga. Demi kelangsungan hidup putrinya, Lilian menyetujui persyaratan itu dan rela menjadi istri kelima dari suaminya sekarang.


Bukan tanpa alasan Lilian ingin keluar dan menikah dengan orang dari rakyat biasa. Lilian ingin kebebasan, dan tidak ingin terikat banyak peraturan. Namun orang tuanya tidak setuju dengan keputusan dirinya, bagi mereka darah biru yang ada ditubuhnya tetap harus dikembangkan. Itulah sebabnya orang tua Lilian tidak perduli meskipun dirinya jadi istri kelima, dengan alasan dirinya sudah tidak lagi perawan dan pernah melahirkan anak.


"Marinka Diningrat. Sampai saat ini kamu pasti masih membenci orang tuamu, tapi bagi Bunda itu tidak apa-apa. Suatu saat Bunda akan datang, kita pasti akan bertemu kembali."

__ADS_1


Lilian ning memandangi potret bayi mungilnya 22 tahun yang lalu. Potret bernuansa hitam putih itu tampak sudah usang, seiring seringnya bersentuhan dengan jari jemari Lilian. Potret yang selalu dia tangisi setiap hari ulang tahun putrinya itu.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2