Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab. 191. Syok


__ADS_3

Prok


Prok


Prok


Lilian dan Marinka dikejutkan oleh suara tepuk tangan yang keras dari seseorang. Seseorang yang sangat Lilian benci, karena dulu sempat ingin melecehkannya. Seseorang yang selalu ingin merebut hak milik dirinya dan putranya. dan seseorang yang selalu dia curigai tentang kematian suaminya yang secara tiba-tiba.


"Bunda. Siapa dia?" bisik Marinka.


"Salah satu keturunan Fir'aun." Jawab Lilian setengah berbisik.


"Eh?" Marinka kebingungan. Jawaban Lilian memunculkan pertanyaan dibenaknya tentanh sosok yang terlihat tidak baik dimatanya itu.


"Manusia serakah yang baru saja kita bicarakan," bisik Lilian.


"Oh..."Marinka hanya nisa ber oh ria. Dan dia cukup lega, karena penilaiannya tidak salah terhadap pria di depannya itu.


"Ternyata kebiasaan menguping memang keahlianmu sejak dulu. Mau apa kamu datang kemari? kamu sudah tahu kalau kamu tidak pernah diterima disini. Sebaiknya kamu pulang saja, kita jalani kehidupan kita masing-masing." ucap Lilian.


"Sampeyan jangan galak-galak begitu dong mbak yu. Opo sampeyan tahu? aku sudah nunggu moment ini puluhan tahun. Coba mbak yu bayangkan kalau dalam penantianku ini, aku sampai mati lebih dulu? kan iso gagal semuanya," ujar Satyo.


"Kamu sudah memperkirakan semuanya, kalau kamu tidak mungkin gagal dengan semua ambisimu itu. Karena kamu juga tahu, orang jahat matinya akan lebih lama dari orang baik. Jadi itulah sebabnya rasa percaya dirimu itu sangat tinggi," ucap Lilian kesal.


"Ckk...ndak ono gunane kita selalu berdebat seperti ini. Sekarang mbak yu sudah punya anak mantu yang kaya raya. Jadi lebih baik serahkan saja semuanya padaku, aku janji akan menjaga peninggalan suamimu dengan baik. Toh mbak yu juga ndak mau menerimaku sebagai suamimu. Padahal kan itu bagus buat mbak yu agar tidak kesepian lagi," ujar Satyo terkekeh.


"Menjadi istrimu yang keberapa? aku ini sudah tua, sudah barang pasti bukan kegiatan diatas tempat tidur yang kamu inginkan dariku. Dan aku tahu pasti apa yang ada dalam otak dangkalmu itu," ujar Lilian.

__ADS_1


"Kenapa mesti berpura-pura ndak butuh belaian pria? padahal kita bisa mengelolah peninggalan mamasku sama-sama. Mbak yu sudah sadar kalau sampeyan itu sudah tua. Mario juga masih sangat muda, ndak akan mengerti mengurus bisnis. Jadi lebih baik aku saja yang mengurusnya."


"Mimpi aja kamu. Itulah gunanya Mario aku sekolahkan tinggi. Biar dia jadi pintar. Nggan cuma pintar otak, tapi akhlaknya juga bagus. Ndak seperti kamu, otak mungkin pintar, tapi ndak ada akhlaknya. Itupun otakmu sarat dengan hal-hal yang nggak baik."


"Ah...selalu saja berakhir dengan perdebatan yang tidak perlu. Diminta baik-baik, tapi malah ndak bisa diajak kerja sama. Ya terpaksa aku harus menggunakan amunisi terakhirku," ucap Satyo.


"Oh ya, kenapa kamu diam saja toh ndok? ndak salim sama pamanmu iki?" tanya Satyo pada Marinka sembari mengulurkan tangan kanannya.


"Maaf. Seingatku selama ini aku nggak punya paman yang mengurusku disaat aku sedang susah. Aku tidak perlu diakui keponakkan saat aku sudah berjaya. Karena aku membutuhkan keluarga puluhan tahun yang lalu, bukan satu menit yang lalu." Jawab Marinka sembari melipat tangan didadanya. Marinka sudah cukup geram saat mendengar semua ocehan yang terkesan melecehkan Lilian sejak tadi.


"Oh...cah gemblong. Sombong sekali kamu? lah iki keturunanmu, anak hasil dari luar pernikahan. Hasilnya kurang ajar ndak ada sopan santune," ucap Satyo.


Lilian memutar bola mata dengan malas.


"Bicara apa kamu? nggak usah bicara soal sopan santun, seolah sopan santun sudah kamu borong semua selama ini. Lagian sopan santun juga tahu tempatnya. Kamu mengatai putriku hasil dari luar pernikahan dan keturunan kurang ajar, lah kamu sendiri apa? orang tuamu menikah dengan secara baik-baik, dapat kuturunan seperri Fir'aun." ucap Lilian.


"Ndak masalah sampeyan mengataiku apa saja. Tapi saat sampeyan mendengar apa yang akan aku katakan, sampeyan akan menyesal dan nangis darah. Sebaiknya sampeyan segera siapkan sertifikat dan surat pengalihan harta padaku. Karena kalau kali ini sampeyan menolak, sampeyan akan menyesal seumur hidup." ancam Satyo.


"Lancang! beraninya kamu mengancam bunda tepat di depan wajahku? apa kamu pikir aku akan membiarkan kamu begitu saja?" hardik Marinka.


"Ckk...ckk...ndak usah galak-galak. Lagi pula disini bukan wilayah kekuasaan suamimu," ujar Satyo.


"Ada apa ini?" Ezra dan Mario datang tiba-tiba karena mendengar suara Marinka yang berteriak lumayan keras.


Ezra cukup lega, karena Marinka berteriak dengan orang asing. Karena sebelumnya dia sempat berpikir istrinya itu berteriak pada Lilian.


"Sayang kamu kenapa? siapa dia?" tanya Ezra.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa. Hanya anjing serakah yang gila harta dan kedudukkan." Jawab Marinka.


"Anak kurang ajar. Mulutmu itu minta di tampar!" Satyo mengangkat tangannya, namun tangan itu ditangkap Ezra, dan tubuh Ezra pindah berhadapan dengan pria itu.


"Beraninya kamu berteriak pada istriku! dan kamu ingin memukul istriku? aku saja tidak pernah melakukan itu padanya. Aku rasa tanganmu ini kamu sudah tidak menginginkannya lagi," ujar Ezra sembari memelintir tangan Satyo.


"Bang. Lepasin dia," Marinka berusaha menenangkan kemarahan suaminya.


Ezra kemudian melepaskan tangan Satyo yang sudah kesakitan. Sementara Mario, pemuda itu menyeringai puas.


"Awas saja kalau kamu berani kasar dengan keluargaku. Aku tidak akan segan-segan melubangi kepalamu," ujar Ezra.


Bukannya takut, Satyo malah tertawa begitu keras.


"Kamu terlalu sombong anak muda. Ingatlah, diatas langit, masih ada langit. Aku kesini hanya ingin berbagi kebahagiaan pada mertuamu dan juga istrimu. Karena aku sudah lama menantikan hari ini tiba." ujar Satyo.


Satyo mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah video pada Lilian. Vidio yang akan membuat Lilian tidak memiliki pilihan lain, selain menyerahkan kekuasaan pada Satyo. Setidaknya itulah yang Satyo pikirkan selama ini.


"Kamu perhatikan sosok itu baik-baik," ujar Satyo.


Mendengar itu, Marinka dan Mario ikut nonton dari sisi kanan dan sisi kiri Lilian. Lilian mengerutkan dahinya, karena merasa sama sekali tidak mengenal sosok didalam video itu. Seorang pria dengan tubuh kurus, sedang di pasung di sebuah rumah bobrok. Rambut pria itu sangat panjang, dan hampir mencapai pinggangnya. Wajah pria itu juga ditumbuhi jambang, jenggot dan kumis. Baju yang dikenakan sangat lusuh dan ada robekkan disana sini.


Dan ketika pria itu menegakkan kepalanya, meyoroti matanya, tangan Lilian tiba-tiba bergetar. Sembari masih memperhatikan video itu, seseorang datang, yang tak lain adalah Satyo. Satyo menyeringai kearah depan kamera, sebelum dirinya kemudian mengambil sebuah cambuk, dan mencambuk tubuh lemah itu sembari tertawa keras.


"Tidaaakkkkkkk...." Lilian berteriak, dan ponsel ditangannya pun jatuh ke tanah.


__ADS_1


Yuk mampir di karya terbaru Author. Dijamin tidak kalah seru dan menarik. Tapi siapkan hati dan jantung anda ya 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2