Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.160. Murka


__ADS_3

Nafas Galang naik turun saat mendengar suara-suara merdu yang bersahutan dari balik pintu yang saat ini dia tatap dengan api amarah. Bagi Galang saat ini amarahnya bukanlah amarah rasa cemburu, karena rasa cinta yang dia miliki sudah musnah seketika saat dirinya tahu Karin sudah menduakannya.


Saat ini Galang hanya ingin mengembalikan harga dirinya, yang terasa si pecundangi oleh istrinya sendiri. Padahal selama ini semuanya sudah dia berikan pada Karin, termasuk mengorbankan rumah tangganya dengan Marinka.


Tok


Tok


Tok


Gerakkan pinggul Reza melambat, suara merdu dari mulut keduanya juga tiba-tiba mereda.


"Siapa sih? ganggu aja, lagi nanggung ini," ujar Karin kesal.


"Rano. Kamu kah itu?" tanya Reza, yang mengira itu adalah sang kasir yang ada di bawah.


Karena tak ada jawaban, Reza melanjutkan aksinya memompa milik Karin. Tak ayal suara wanita itu kembali menggema memenuhi ruangan itu.


Dok


Dok


Dok


Kini suara ketukan itu sudah berubah menjadi suara gedoran. Karin yang tidak ingin percintaan panas itu diakhiri secara paksa, dia segera mengalungkan tangannya dileher Reza karena takut pria itu menarik kepemilikkannya yang sudah terlanjur membuatnya melayang itu.


"Sudah jangan hiraukan pengganggu itu, teruskan saja. Dia pasti dengar juga kita lagi ngapain. Seharusnya bisa nunggu dong," ujar Karin.


"Kamu ini. Emang lagi enak banget ya?"


"Emm." Karin mengangguk dengan nafas yang terengah.

__ADS_1


Sesuai permintaan Karin, Reza tidak menggubris gedoran pintu diluar. Dia malah semakin mempercepat tempo gerakkannya, sehingga suara Karin meracau tak keruan. Bahkan Galang saja bisa mendengar suara derit ranjang yang luar biasa hebat.


"Pasangan binatang ini, benar-benar membuatku habis kesabaran." Galang sudah diliputi amarah.


Pria itu kini menggulung lengan baju kemejanya. Dengan gerakkan mantap, Galang menerjang pintu itu dengan kekuatan penuh. Hanya dengan dua kali tendangan, pintu itu berhasil terbuka dan memperlihatkan keadaan dua orang yang tengah tanpa busana itu.


"Dasar Lo*te. Apa punya suamimu tidak bisa membuat milikmu lega?" hardik Galang.


Reza yang terkejut langsung mencabut kepemilikkannya. Karena tidak ada selimut, Karin hanya bisa menutupi asetnya dengan kedua tangannya.


"Kamu! apa tidak punya gadis yang bisa kamu colok? dasar tolol! beraninya kamu menghinaku, aku akan membuat usahamu ini tutup sekarang juga." Hardik Galang yang langsung merekam video untuk pasangan mesum itu.


Brukkkk


Reza langsung merangkul kaki Galang, dia sangat takut dengan ancaman Galang itu. Terlebih pria itu sudah merekamnya.


"Ampun tuan, maafkan saya. Nyonya lah yang sering menggodaku," ujar Reza.


"Dasar pria kurang ajar! sayang kamu jangan dengarkan dia. Sayang aku minta maaf sama kamu. Aku bisa menjelaskan semuanya sama kamu. Dia sudah memaksaku, dia menodaiku dan mengancam akan menyebar video syur kami, kalau aku tidak bersedia melayaninya. Sayang, kamu percaya aku kan? mana mungkin aku mengkhianatimu demi dia yang bukan apa-apa," Karin merangkul lengan Galang yang langsung di hempas oleh pria itu.


Galang menarik rambut Karin dengan keras, sehingga kepala Karin tertarik keatas, dan wanita itu meringis kesakitan.


"Apa kamu pikir kamu bisa membodohiku berkali-kali Karin? cukup satu kali saja kamu membuatku buta memilihmu daripada Marinka."


"Tapi sekarang tidak lagi, karena bagiku kamu itu tidak lebih dari sekedar kotoran hina." sambung Galang.


"Mas. Kamu bicara apa? aku ini istri kamu mas, seharusnya kamu percaya dan mendengarkan kata istrimu daripada orang lain,"


"Istri yang mana ya? istri yang bahkan selama 4 tahun tidak tahu takaran gula untuk teh suaminya? istri yang tiap minggu minta uang belanja lebih, tapi ternyata diberikan pada gigolonya? coba katakan padaku? peran istri yang mana kamu jalankan selama ini? kamu hanya berlaku sebagai istri, hanya saat diranjang."


"Hah...itupun kamu membagi ranjangmu dengan pria lain. Rasanya aku ingin menangis saat mengingat kekejamanku pada Marinka dulu, dan inilah balasan dari Tuhan karena aku sudah berbuat dzolim sama dia hanya demi lo*te sepertimu!" hardik Galang.

__ADS_1


Nafas pria itu naik turun, karena emosinya benar-benar meledak kali ini.


"Mas. Kita pulang ya? pikiran kamu sedang kacau saat ini, saat dirumah kita bisa bicarakan ini baik-baik ya mas?" bujuk Karin.


Galang hanya tensenyum sinis, dan kemudian pergi meninggalkan Karin. Karin segera memungut pakaiannya, dan mengenakannya secara tergesa-gesa.


Namun saat dirinya sampai didepan pintu rumah, sebuah koper besar sudah berada diteras. Karin dengan sisa tenaganya, menekan bel rumah, bahkan menggedor-gedor rumah itu. Karena tidak ada yang membukai pintu, Karin segera membuat panggilan telpon untuk Galang.


"Pergilah! aku tidak ingin melihat wajahnu lagi!" ujar Galang setelah menerima panggilan telpon itu.


"Mas. Dengarkan penjelasanku dulu mas, apa kamu nggak kasihan dengan anak kita?"


"Justru karena aku memikirkan anak kita, makanya aku tidak menghabisimu dengan tanganku. Justru karena memikirkan anak kita, aku nggak mau mental anakku rusak karena punya ibu sepertimu."


"Baiklah Mas. Aku tahu hari ini kamu sedang marah Mas. Aku akan pulang dulu kerumah mama, kita akan bicara lagi nanti setelah pikiran kamu sudah tenang."


Galang tidak menjawab ucapan Karin, pria itu langsung mematikan panggilan telpon itu. Baginya Karin hanya bicara omong kosong. Karin menggeret kopernya meninggalkan kediaman Galang. Galang yang tengah berada di kamarnya, hanya bisa menatap Karin dari tirai jendelanya.


"Karin. Aku tidak menyangka rumah tangga kita harus berakhir dengan cara seperti ini. Aku tidak menyangka kamu tega mengkhianatiku yang sangat tulus sama kamu. Tapi aku tidak akan bersedih hati terlalu lama, sebab ada Marinka yang selalu mencintaiku dengan tulus. Aku yakin aku akan bahagia jika bersama dia."


"Besok aku akan mengurus surat perceraian kita, bagiku antara aku dan kamu tidak ada kata bersatu lagi. Aku tidak akan mau memungut bekas orang lain," sambung Galang.


Sreekkkkk


Galang menutup Gorden itu dengan sedikit kasar. Pria itu kemudian menurunkan semua foto pernikahannya dan semua foto yang ada Karin didalamnya. Galang juga mengumpulkan sisa-sisa barang Karin, yang dia satukan kedalam kardus dan membakarnya semua.


Sementara itu dikediaman Paulin, segerombolan ibu-ibu sosialita tengah mendatangi rumah Paulin untuk meminta pertanggungjawaban wanita parubaya itu. Paulin yang tengah bersantai sembari menghitung pundi-pundi uangnya, cukup terkejut saat mendengar gedoran keras di pintu rumahnya.


"Siapa sih yang bertamu nggak punya aturan? kayak ini tinggal di hutan saja." ujar Paulin.


"Mama bukain, siapa tahu kebutuhan mendesak. Ada yang butuh berlian dadakkan buat pergi ke kondangan," ucap Herman.

__ADS_1


Mata Paulin berbinar saat mendengar semua itu. Pikirannya sudah ingin menambah pundi-pundi uang, karena dia ingin sekali membeli mobil mewah. Namun baru saja dia membuka pintu, sebuah tangan langsung menarik rambutnya hingga dirinyapun terjerembab ke lantai.


TO BE CONTINUE ...🤗🙏


__ADS_2