
Yugie memposisikan diri diantara kedua paha Vania. Perlahan pria itu menekan miliknya untuk membuat miliknya sedikit lebih masuk kedalam liang basah milik Vania.
"Sssttttt" Vania mendesis saat benda besar dan tumpul itu mulai mengoyak muara pertahanannya.
Yugie memejamkam matanya saat kejantanannya berhasil masuk meski barudibagian ujungnya saja. Perlahan pria itu semakin mendorong masuk miliknya hingga jauh melesak kedalam dan menemukan sebuah dinding penghalang yang menahan miliknya agar melengang bebas jauh kedalam sana.
Yugie menghentak miliknya sehingga Vania yang berada dibawah kungkungannya menjerit kesakitan. Yugie memejamkan matanya karena diapun merasakan sakit oleh cengkraman milik Vania.
"Sayang. Tahan sedikit ya? belum berhasil soalnya," bisik Yugie.
"Tapi sakittt...hikz..."
"Kamu boleh menggigitku agar bisa meredam sakitmu," ujar Yugie.
"Iya." Jawab Vania.
Yugi perlahan memaju mundurkan pinggulnya dan kemudian membuat satu kali hentakkan keras hingga miliknya berhasil terbenam seluruhnya.
"Akkkkhhh...sakiiitt...hikz...sakittt...hikz..."
Yugie tahu Vania tidak tega menggigitnya. Dia lebih memilih menjerit daripada menyakiti dirinya. Yugie mendiamkan miliknya didalam liang hangat istrinya, sementra dia mencumbu bibir Vania agar belahan jiwanya itu cepat merasa rileks.
Dan benar saja. Sesaat kemudian Vania sudah bisa tenang dan malah menikmati ciuman panas mereka. yugie menggunakan kesempatan itu untuk mulai menggerakkan pinggulnya dan sesekali melepaskan ciuman mereka. Yugie mulai membuat gerakkan-gerakkan yang menyenangkan hingga Vania terpaksa harus bersuara merdu.
"Ahh...Vania..kamu sungguh nikmat sayang," Yugie semakin lama semakin meningkatkan tempo gerakannya.
Tubuh Vania diguncang hebat hingga suara mereka saling bersahutan, dan kedua tangan Yugie bertumpu pada kedua bukit indah milik Vania.
"Ahh...sayang lebih cepat...," tubuh Vania menggila. Sesuatu didalam dirinya sudah mendesak ingin dikeluarkan. Yugie yang mengerti Vania akan mendapat kan pelepasan keduanya, menuruti permintaan Vania yang ingin dirinya meningkatkan tempo gerakkannya.
"Ah...ah...ah..."
Kepala Vania jauh terdorong kebelakang, saat sesuatu yang dahsyat terdorong keluar hingga tubuhnya menggelepar hebat.
"Sepertinya aku sudah memuaskanmu. Sekarang aku ingin kamu yang memuaskanku. Naiklah," ujar Yugie yang membuat Vania tersipu.
"Ba-Bagaimana caranya?" tanya Vania.
"Aku akan menuntunmu. Ikuti nalurimu," ujar Yugie.
Vania kemudian menuruti keinginan Yugie. Sebelum dirinya memasukkan batang keras itu. Vania merasa takjub saat melihat benda besar itu yang bisa masuk memenuhi dirinya.
"Benar-Benar luar biasa ciptaan Tuhan," batin Vania.
Vania kemudian meraih benda yang masih sangat gagah itu, dan mulai membenamkan benda itu kedalam miliknya. Meski awalnya sulit, namun pada akhirnya benda itu berhasil melesak masuk seluruhnya.
Yugie mulai memegang pinggul Vania, dan menuntun istrinya itu agar bergerak sesuai keinginanya. Vania yang paham, segera memepercepat gerakannya hingga membuat Yugie merasa senang dibawah sana.
"Oww...ah...lebih cepat lagi sayang..."
__ADS_1
Vania menuruti keinginan Yugie. Namun Yugie yang merasakan miliknya ingin segera muntah, segera mengambil alih permainan itu. Kini pria itu mengambil posisi dibelakang Vania, dan memasukinya dengan posisi itu.
Vania tersenyum puas dalam permainan itu. Senyum saat tubuhmya masih diguncang hebat oleh Polisi tampan itu. Wanita itu sangat menyukai apapun yang Yugie lakukan padanya terlebih dia menyukai benda perkasa milik suaminya.
"Emmmppptttt...ahhh...." Vania menarik nafasnya sejenak saat gelombang dahsyat itu kembali menghampirinya.
Tidak jauh berbeda dengan dirinya, Yugiepun merasakan hal yang sama. Hingga tubuh keduanya bergetar hebat saat sama-sama mendapatkan pelepasannya.
"Ahhh...sayang..."
"Oh...baby..."
Yugie mendorong jauh miliknya saat semua lahar putih miliknya muntah dirongga gelap dan basah milik istrinya.
Hosh
Hosh
Hosh
Yugi perlahan mencabut kepemilikkannya, sementara tubuh Vania sudah ambruk bermandikan keringat.
Cup
"Kamu luar biasa sayang. Terima kasih sudah menjaga mahkotamu untukku," ujar Yugie.
"Aku juga berterima kasih padamu karena sudah memelihara milikmu hingga tumbuh dengan baik," ucap Vania.
"Emm...mi-milikmu sangat besar. Bukankah itu karena kamu rajin merawatnya hingga dia bisa tumbuh sebesar itu?"
Mendengar ucapan Vania, Yugie jadi tertawa keras hingga perutnya merasa sakit dan mengeluarkan air mata.
"Eh? ke-kenapa kamu tertawa? aku salah ya?'" tanya Vania.
"Apa kamu ingin milik suamimu membesar lagi?" tanya Yugie yang ingin menjahili Vania.
"Emang masih bisa tumbuh besar? kalau bisa boleh juga." Jawab Vania yang membuat mata Yugie jadi melotot.
"Apa ukuran segini membuatmu tidak puas?" tanya Yugie.
"Pu-Puas kok." Jawab Vania.
"Enak?"
"Enak banget." Jawab Vania tersipu dan menyembunyikan wajahnya di dada Yugie.
"Lagi?" tanya Yugie.
"Kamu mau lagi?" tanya Vania.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, aku lebih mau lagi." Jawab Yugie.
"Mau." Jawab Vania merona.
Yugie menyunggingkan senyumnya dan mulai mencumbu Vania dari awal lagi. Malam itu mereka benar-benar menghabiskan malam tanpa sisa. beruntung Yugie libur bekerja, jadi mereka bisa bangun siang.
*****
"Sssttttt"
Vania lagi-lagi mendesis saat dirinya mencoba bangun dari tempat tidur dan menapakkan kaki ke lantai.
"Awww..." Vania merasakan sakit dan perih didaerah intinya, hingga kakinya pun terasa gemetar.
"Sayang. Kamu kenapa?" tanya Yugie.
"Sakit." Jawab Vania yang jadi terduduk di tepi tempat tidur.
Yugie menghampiri Vania yang tampak menyeka air matanya.
"Pembalap kok cengeng? semalam bilangnya lagi-lagi terus, kok sekarang nangis?" ledek Yugie sembari menggendong tubuh Vania.
Pukkk
Vania memukul pelan dada Yugie, sembari tersenyum malu dengam lelehan air matanya.
"Kayak gini mau minta di perbesar lagi. Segini aja sudah nggak bisa jalan. Jadi mau diperbesar lagi nggak?" goda Yugie.
"Nggak mau. Nanti dikira aku kondoran gegara jalannya susah." Jawaban Vania lagi-lagi membuat Yugie tertawa keras.
Yugie menurunkan tubuh telanjang Vania dan mulai memandikan istrinya itu sembari menggosok tubuhnya dengan sabun.
"Dingin ya?" tanya Yugie saat gayung demi gayung Yugie menyiramkan air ditubuh istrinya.
"Iya." Jawab Vania.
"Sabar ya? rumah baru kita sedikit lagi kelar. Kamar mandi kita punya fasilitas yang lengkap nantinya. Kamu tidak perlu lagi merasa kedinginan," ujar Yugie.
"Kamu bangun rumah baru? buat apa?" tanya Vania terkejut.
"Tentu saja buat kita tinggali. Masa percobaanmu sudah lulus. Maafkan aku sudah mengajakmu hidup susah." Jawab Yugie.
Vania mengalungkan tangannya dileher Yugie sembari menyunggingkan senyumnya.
"Seperti katamu waktu itu. Tidak perduli besar kecil rumah kita. Tidak perduli terkena panas, dingin ataupun badai. Asalkan aku bisa hidup bersamamu, aku sudah merasa bahagia."
"Sayang. Kamu adalah duniaku saat ini. Rumah besar tanpamu pasti tidak akan memiliki arti. Tapi kalau sudah terlanjur dibuat, aku juga tidak akan menolak," sambung Vania sembari terkekeh.
Yugie menarik hidung mancung Vania, dan kemudian mereka kembali bercumbu mesra.
__ADS_1
"Mau lagi?" tanya Yugie.l
Vania yang sempat terlena dengan ciuman panas Yugie, langsung menggeleng cepat dengan wajah panik. Pasalnya dia masih merasakan ngilu di daerah intinya.