Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.201. Mengikuti Perjodohan


__ADS_3

Plakkkkkk


Marinka meletakkan puluhan lembar foto diatas meja, yang membuat Rakha jadi mengerutkan dahinya.


"Apa ini ma?" tanya Rakha.


"Para calon jodohmu. Ini semua anak dari kolega dan rekan bisnis papamu dulu. Kamu tinggal pilih yang mana kamu sukai dan temui dia." Jawab Marinka.


"Mam...."


"Kali ini tidak ada penolakkan. Apa kamu mau melihat mama mati sebelum melihat kamu menikah?" tanya Marinka.


"Kok mama ngomongnya jadi asal gitu. Mama masih sangat muda dan sehat. Mama pasti akan berumur panjang," ujar Rakha.


"Belum tentu. Karena syarat mati tidak harus tua atau muda, tidak harus sakit ataupun sehat. Kalau memang sudah waktunya, mama pasti akan mati. Entah hari ini, entah besok, entah...."


"Stop!"


Rakha benar-benar tidak sanggup mendengar hal yang mengerikan itu. Dia begitu menyayangi Marinka, meskipun dia tidak pernah mengatakan kata-kata itu secara langsung. Rakha menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia menyerah dan menuruti semua keinginan orang tuanya.


"Tapi bolehkah Rakha menolak, jika memang diantara mereka tidak ada yang cocok?" tanya Rakha.


"Tentu saja. Tapi kamu juga harus memberikan alasan yang logis, kenapa sampai kamu menolak gadis itu," ujar Marinka.


"Baiklah." Jawab Rakha.


"Jadi foto mana yang akan kamu pilih?" tanya Marinka.


"Apa uda harus memilihnya sekarang?" tanya Rakha.


"Tentu saja." Jawab Marinka.


Rakha melihat foto-foto yang berderet, setelah disusun dengan rapi oleh Ezka. Sungguh dia malas mengikuti perjodohan, yang menurutnya sangat konyol itu.


"Ini," Rakha menunjuk kesalah satu foto, tanpa melihatnya sama sekali.


"Baiklah. Besok jangan lupa temui dia, nanti mama akan kirim alamat pertemuan kalian."


"Uda ingin tempatnya private," sela Rakha.


"Iya Oke." Jawab Marinka sembari mengusap kepala putranya itu.


"Kalau begitu Rakha pulang dulu ya ma?"


"Pulang kemana? ini rumahmu juga, sebentar lagi hampir malam. Kamu menginap saja disini malam ini," ujar Marinka.


"Baiklah." Lagi-Lagi Rakha menuruti permintaan Marinka.

__ADS_1


Sementara itu di tempat berbeda, Gadlyn mampir ke salah satu pusat perbelanjaan sebelum pulang kerumahnya. Dia ingin membeli peralatan make up, yang sudah hampir habis.


"Sayang. Coba lihatlah siapa yang kita temui ini," ujar Reno.


Poppy melihat kearah yang dimaksud oleh Reno. Poppy cukup menyembunyikan senyumnya, saat melihat Gadlyn dengan pakaian OG nya.


Sementara Gadlyn langsung menoleh kesumber suara yang sangat dia kenal.


"Apa kamu punya uang buat membelinya? gajih OG nggak seberapa loh. Seingatku seperangkat make up yang biasa kamu pakai itu, cukup menguras isi dompetmu," ucap Reno.


"Dulu aku pasti sudah buta, bisa mencintai pria bermulut wanita sepertimu. Mau dulu ataupun sekarang, aku membelinya dengan dompetku, bukan dompetmu." Jawab Gadlyn.


"Belagu sekali kamu. Kamu itu harus tahu diri, cuma OG sok-sok'an pakai bedak mahal. Dan ini apa? dengan bangganya kamu ke mall pakai baju OG,"


"Aku sama sekali tidak masalah dengan seragamku. Meskipun kamu pandang sebelah mata, tapi aku bangga dengan pekerjaanku. Sebaiknya kalian menyingkir saja dari hadapanku, karena aku benar-benar sudah muak melihat kalian."


"Gadlyn. Maafin Reno ya? sayang, kamu juga nggak boleh gitu, walau bagaimanapun kalian pernah bersama kan?" ujar Poppy dengan wajah polosnya.


Mendengar perkataan Poppy, tentu saja membuat Gadlyn jadi tertawa.


"Heh. Mau berperan sebagai wanita polos dan baik hati ya?" batin Gadlyn.


"Astaga Poppy. Makin hari aktingmu makin bagus saja. Aku bahkan mengira, kamu sedang syuting film barusan. Kalau ada juri piala oscar, tentu kamu sudah dinobatkan sebagai pemenangnya," ujar Gadlyn sarkas.


"Jangan kelewatan kamu menindas orang! kamu bicara seperti itu, karena kamu cemburu sama Poppy kan?"


"Cemburu? sama dia? yang benar saja, kalian sama sekali tidak layak mendapatkan hal itu dariku."


*****


"Temani aku," ujar Rakha.


"Kemana?" tanya Yure.


Plakkkk


Rakha menghempaskan sebuah foto diatas meja kerjanya.


"Apa ini?" tanya Yure kembali.


"Aku harus mengikuti perjodohan yang sudah diatur oleh keluargaku. Dan foto gadis itu yang sudah kupilih." Jawab Rakha.


"What? jadi akhirnya kamu nyerah juga?"


"Mau bagaimana lagi, mama ngancem mati-mati terus, mana aku tahan melihat itu sampai terjadi."


"Hah...tidak ada salahnya juga sih mencoba. Apa ini kandidat satu-satunya?" tanya Yure.

__ADS_1


"Tidak. Mereka sudah menyiapkan puluhan foto yang bisa aku pilih."


"Tidak buruk. Siapa tahu ada yang cocok diantara mereka. Sepertinya aku akan mengikuti jejakmu juga. Kayaknya aku nggak sanggup kalau cari jodoh sendiri, bukan apa-apa, pekerjaan kita menyita banyak waktu. Aku rasa orang sesibuk kita ini, jodoh memang harus di carikan," ujar Yure.


"Ya sudah, sebaiknya kita pergi sekarang. Nanti mama bisa marah," ujar Rakha.


"Oke." Yure menyambar ponsel yang dia letakkan diatas meja kerja Rakha.


"Eh?" Gadlyn yang hendak mengantarkan teh buat Rakha, jadi terkejut saat pria itu membuka pintu.


"Tuan. Ini teh untuk anda," ujar Gadlyn.


"Aku mau pergi. Yure, apa kamu mau meminum teh?" tanya Rakha.


Mendengar hal itu Yure menggelengkan kepala dengan cepat. Dia masih cukup trauma meminum kopi buatan Gadlyn kemarin.


"Yure juga tidak mau, sementara aku juga buru-buru akan pergi. Jadi kehormatan itu aku berikan padamu, untuk meminum teh yang akan diberikan pada tuan presdir," ucap Rakha.


Rakha dan Yure kemudian berlalu begitu saja, yang membuat Gadlyn jadi kesal.


"Ya sudah kalau tidak mau. Aku bisa menikmatinya dengan roti ku," gerutu Gadlyn sembari meraih cangkir teh dan menyesap isi di dalamnya.


Bruuuuaaaarrr


Gadlyn menyemburkan teh yang ada didalam mulutnya.


"Teh rasa apa ini? beruntung singa itu tidak meminumnya, kalau tidak dia pasti akan mengocehiku. Aneh juga, padahal kan takaran gulanya sudah kukurangi satu sendok. Harusnya 4 sendok cukup kan?"


"Hah...ini salahku. Aku terlalu sibuk meratapi pria brengsek itu, jadi lupa tiap kali nanya takaran gula sama mama," sambung Gadlyn.


Ditempat berbeda, Rakha dan Yure sudah hampir tiba di tempat yang sudah dijanjikan. Marinka memang sengaja memilih tempat yang tidak jauh dari kantor, agar Rakha lebih mudah menemui para gadis yang akan dipilih oleh putranya itu.


Rakha dan Yure memasuki private room salah satu cabang restaurant yang dia miliki. Seorang gadis menoleh, saat melihat kedatangan Rakha dan megembangkan senyumnya.


"Tampan sekali dia? siapa yang akan menolak pria tampan kaya raya seperti dia," batin Jenny.


Jenny menarik baju yang dia kenakan. Baju yang memiliki belahan dada rendah, dan juga memperlihatkan pundaknya. Rakha mengerutkan dahi saat melihat penampilan gadis di depannya itu.


"Bagaimana?" bisik Rakha.


"Macam KKM." Jawab Yure.


"KKM?" Rakha tidak mengerti.


"Kupu-Kupu malam," bisik Yure.


"Sependapat! langsung skip," ujar Rakha yang langsung di acungi jempol oleh Yure.

__ADS_1


Setelah bicara basa-basi, Rakha akhirnya undur diri dari kencan buta itu. Pria itu tidak ingin memberikan harapan pada gadis, yang sejak tadi selalu merona saat Rakha berbicara sembari menatapnya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2