Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.255. Susah Jalan


__ADS_3

"Baby. Bangunlah!" bisik Rakha ditelinga Gadlyn.


Gadlyn menggeliat dan perlahan membuka matanya yang masih begitu berat karena mengantuk.


"Masih ngantuk, badanku sakit semua," rengek Gadlyn.


"Sudah siang. Hari ini kita harus pergi ke swiss," ujar Rakha.


"Ke Swiss?" tanya Gadlyn.


"Iya. Kita mau bulan madu kesana. Aku sudah tidak sabar mau buat Rakha junior disana." Jawab Rakha.


Mendengar itu Gadlyn jadi tersipu malu.Pasalnya dia jadi teringat percintaan panasnya tadi malam.


"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Rakha.


"Tidak apa." Jawab Gadlyn sembari menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apa kamu teringat yang semalam?" bisik Rakha dengan suara sensualnya.


Pukkkk


Gadlyn memukul dada Rakha pelan dengan senyum malu-malu.


"Mau lagi?" tanya Rakha.


"Jangan menggodaku terus. Lebih baik sekarang aku mandi saja, bukankah kita mau berangkat ke Swiss?" ujar Gadlyn sembari menurunkan kakinya ke lantai, dengan menjadikan selimut sebagai penutup tubuhnya.


"Sayang. Apa kau tahu? meski hanya terlihat punggungmu saja, di Joni sudah bangun begini," ujar Rakha sembari memperlihatkan kejantanannya yang tegak sempurna.


"Sayang. Ihhhh...malu taukkk," Gadlyn menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sementara itu Rakha jadi terkekeh melihat ekspresi wajah Gadlyn yang memerah.


"Ya salah sendiri. Sudah tahu selimut cuma satu, kok malah dibawah pergi. Bilang saja kalau kamu mau menggodaku," ucap Rakha.


"Mana ada aku menggodamu. Sembarangan aja," ujar Gadlyn sembari melangkahkan kakinya.


"Auuuuuuu...sakitttt," langkah kaki Gadlyn terhenti, saat dia merasakan sakit dan perih di inti tubuhnya.


Rakha bergegas turun dan menggendong Gadlyn.


"Kenapa selimutnya di lepas? malu," ujar Gadlyn.


"Malu apa. Aku sudah melihat semuanya. Lagipula kita mandi nggak butuh selimut," ujar Rakha.


"Masih sakit banget ya?" tanya Rakha.


"Emm." Gadlyn mengangguk.


"Ya iyalah sakit. Orang pisangmu sebesar itu. Sampai sekarang masih terasa ada yang mengganjal dibawah sana," batin Gadlyn.

__ADS_1


"Maaf ya? tapi nanti kalau udah terbiasa pasti sudah tidak sakit lagi. Makanya sering-sering kerja keras biar nggaj sakit lagi," ujar Rakha sembari mengedipkan mata.


"Huuu...modus." Jawab Gadlyn.


Rakha meletakkan Gadlyn didalam bathup, dan kemudian mengisinya dengan air hingga penuh. Dirinya pun ikut berendam sembari menggosok punggung istrinya itu.


"Sayang. Joni bangun terus nih," bisik Rakha dari arah belakang. Sementara tangannya sudah tidak bisa di kondisikan lagi.


Gadlyn hanya bisa memejamkan matanya, saat merasakan gelenyar aneh ditubuhnya ketika Rakha mere**s lembut kedua aset berharganya.


"Sayang. Tapi aku masih merasakan sakit," ujar Gadlyn namun tubuhnya bereaksi lain, saat Rakha mulai bermain diceruk lehernya.


"Aku janji akan bermain dengan lembut," bisik Rakha.


Rakha kemudian memutar tubuh Gadlyn menjadi berhadapan. Kedua sejoli itu kemudian bercumbu mesra untuk mengulang kegiatan mereka tadi malam.


"Ahh....emmpptthh...." Gadlyn tak kuasa menahan suara merdunya, saar Rakha sudah membenamkan miliknya di liang basah milik Gadlyn. Sesuai janjinya, Rakha memompa miliknya dengan lembut, hingga Gadlyn tidak lagi merasakan sakit pada intinya.


"Apa masih sakit?" sejenak Rakha menghentikan gerakannya.


"Tidak. Teruskan, jangan berhenti!"


Gadlyn menutup mulutnya karena merasa sudah keceplosan. Wanita itu jadi menyembunyikan wajah di dada Rakha. Sementara Rakha tersenyum senang, saat mendengar jawaban dari Gadlyn.


"Sesuai permintaanmu baby," bisik Rakha sembari kembali memompa miliknya dengan tempo yang makin lama makin cepat, hingga tubuh Gadlyn berguncang hebat.


"Ahh...Rakha..."


Gadlyn dan Rakha meneriakkan nama satu sama lain, saat pasangan suami istri itu mendapatkan pelepasan secara bersamaan.


"Lagi?" bisik Rakha.


"Big no! aku takut susah jalan nantinya. Malu diliat orang." Jawab Gadlyn.


"Orang akan mengerti. Namanya juga pengantin baru," ujar Rakha.


"Pokoknya nggak mau. Biar nanti lanjut di Swiss aja," ucap Gadlyn.


"Mau berapa ronde?" tanya Rakha.


"Ronde apanya?" tanya Gadlyn tidak mengerti.


"Di Swiss nanti mau ngasih main berapa Ronde?" tanya Rakha menggoda Gadlyn.


"10 Ronde." Jawab Asal yang membuat mata Rakha jadi melotot.


"10 ronde? awas saja kalau bohong. Pokoknya sudah janji 10 ronde ya? awas saja kalau tidak menepati janji," ujar Rakha.


"Suwer tekewer kewer pokoknya." Jawab Gadlyn.


Gadlyn bergegas keluar dari bathup. Dia ingin segera kabur dari harimau buas itu. Wanita itu berpikir janji tinggallah janji. Dia sama sekali tidak berpikir, kalau Rakha benar-benar menyiapkan banyak amunisi agar Rakha juniornya cepat nempel di rahim istrinya itu.

__ADS_1


Gadlyn bergegas membilas tubuhnya. Wanita itu sempat tersenyum saat melihat banyak tanda merah di dadanya. Rakha kemudian menyusul dan mereka saling menggosok punggung mereka satu sama lain.


"Selesai. Cepatlah pakai handuk, nanti masuk angin," ujar Rakha.


"Emm." Gadlyn mengangguk.


Gadlyn bergegas keluar kamar mandi, dan kemudian mempersiapkan semua kebutuhan mereka yang akan dibawa ke Swiss, selama mereka berbulan madu.


Sementara itu ditempat berbeda, Yugie kini tengah berada di rumah Yure. Hari ini kebetulan hari minggu, saatnya orang untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga.


"Diminum es buahnya Gie," ujar Ezka.


"Makasih kak," ucap Yugie.


"Ada apa? tumben kamu datang, istrimu mana?" tanya Yure.


"Mau apa kakak menanyakan istriku? mau diajak pelukkan lagi?" tanya Yugie kesal.


Yure dan Ezka saling berpandangan dan kemudian tersenyum.


"Sayang. Sepertinya kamu saja yang jelaskan. Kalau aku yang jelaskan dia pasti tidak akan percaya padaku," ujar Yure.


"Jadi kamu masih bertengkar dengan istrimu? Yugie, kejadian malam itu hanya salah paham saja. Malam itu Vania sudah meminta izin sama kakak untuk memeluk Yure. Dia bilang hanya ingin memastikan perasaannya saja, apa masih ada atau tidak. Kakak juga ada disana malam itu, tapi kakak ketutupan pilar," ujar Ezka.


"Dasar bodoh. Vania itu mencintaimu. Dia bilang jantungnya tidak lagi berdebar saat memelukku. Sangat berbeda saat dia sedang memelukmu. Dia baru menyadari bahwa dia sudah jatuh cinta sama kamu," timpal Yure.


"Ap-Apa? Vania mencintaiku? kakak tidak bohong kan?" tanya Yugie.


"Buat apa aku bohong? kurang kerjaan saja. Lagi pula aku pikir kamu sudah berbaikkan dengan Vania, ternyata masih perang toh," ucap Yure sembari terkekeh.


"Berbaikkan apa? sekarang masalahnya tambah runyam karena dia salah paham juga padaku. Bahkan aku mendapat satu bonus gamparan dari dia." Jawab Yugie.


Mendengar itu Yure dan Ezka jadi tertawa keras bersama. Sementara Yugie memutar bola mata dengan malas.


"Sepertinya bahagia sekali melihat adiknya sengsara," ujar Yugie.


"Kapan lagi melihat perwira Polisi kelimpungan." Jawab Yure.


"Dasar kakak sialan. Aku sumpahin anak kalian mirip aku semua," ucap Yugie.


"Nggak apalah. Ganteng juga." Jawab Ezka yang membuat Yugie bertambah kesal.


"Udah ah...mending aku pulang," ujar Yugie cemberut.


Yugie berdiri dari tempat duduknya dan bergegas pergi.


"Yugie minum dulu es buahnya," teriak Ezka.


"Es buahnya nggak enak." Jawab Yugie dengan teriakkan yang sama.


Sementara itu Yure dan Ezka jadi tertawa mendengar jawaban kesal dari Yugie.

__ADS_1


__ADS_2