Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.214. Pingsan


__ADS_3

"Cantik," batin Rakha saat melihat penampilan Gadlyn.


"Eh? apa penampilanku aneh? kenapa dia menatapku begitu? atau jangan-jangan dia sedang marah karena ucapanku kemarin. Aku harus cepat-cepat minta maaf, takutnya dia berubah pikiran dan menjadikanku OG lagi," batin Gadlyn.


"Emmm...tu-tuan," Hadlyn gugup.


"Ada apa?" tanya Rakha dengan wajah datar.


"Sa-Saya minta maaf atas ucapan saya kemarin." Jawab Gadlyn.


"Ucapan? ucapan yang mana?" tanya Rakha.


"Eh? emm...anu...so-soal boneka itu." Gadlyn melirik kearah Rakha, kemudian tertunduk kembali.


Mendengar itu wajah Rakha jadi bersemu merah, hingga ke telinganya.


"Sudahlah lupakan, jangan dibahas lagi." Jawab Rakha sembari berpura-pura cuek dan sibuk dengan laptop di depannya.


Gadlyn sangat senang mendengar ucapan Rakha.


"Sekarang apa yang bisa saya kerjakan tuan?' Gadlyn berinisiatif meminta pekerjaan pada Rakha.


Sembari mengetik, Rakha sembari berpikir. Apa yang dia kejakan saat ini tidak mungkin di kerjakan oleh Gadlyn. Pikirnya gadis di depannya itu tidak mungkin mampu.


"Belum ada. Yure belum masuk kerja, jadi belum ada laporan yang akan di cek. Mungkin besok baru masuk," ujar Rakha.


"Ja-Jadi saya melakukan apa sekarang tuan?" Gadlyn kebingungan.


"Duduk saja di sana." Jawab Rakha sembari menunjuk sofa dengan wajahnya.


"Apa saya tidak memiliki meja saya sendiri tuan?" tanya Gadlyn.


"Hari ini akan datang. Untuk sementara kamu duduk saja disitu." Jawab Rakha.


Gadlyn menuruti apa yang Rakha katakan. Gadis itu duduk dengan manis sembari menatap kearah Rakha yang tampak serius menatap laptop di depannya.


"Kalau di perhatikan wajahnya benar-benar sangat tampan. Garis wajahnya juga sangat tegas. Hidungnya sangat mancung, bibirnya juga merah alami. Apa dia bukan perokok?" batin Gadlyn.


"Sial. Kenapa dia melihatku terus menerus? aku kan jadi nggak bisa fokus kerja kalau begini," batin Rakha.


"Ehemmm...kamu bantu aku bersihkan dan susun buku di lemari itu. Susun sesuai abjad judul buku!" ucap Rakha.


Mendengar ucapan itu Gadlyn senyum semringah. Baginya pekerjaan itu tidak masalah, daripada hanya duduk dan menunggui bosnya bekerja.

__ADS_1


"Baiklah. Saya ambil alat kebersihan dulu tuan," ujar Gadlyn dengan senyum semringah.


"Gadis ini otaknya sedikit bermasalah. Di beri tugas bersih-bersih malah girang, seperti mendapat bongkahan berlian saja," batin Rakha.


Gadlyn kemudian keluar ruangan, untuk mengambil kain lap dan juga kemoceng. Meskipun pekerjaan pertamanya tidak sesuai dengan keahliannya, tapi Gadlyn sama sekali tidak mengeluh.


Setelah alat kebersihan itu berhasil dia dapatkan, Gadlyn kembali keruangan Rakha dan membuka lemari yang Pria itu maksud. Gadlyn dengan telaten membersihkan debu pada buku satu persatu, dan menyusunnya kembali sesuai abjad buku.


Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Namun tidak ada pergerakkan, atau perintah dari Rakha untuk beristirahat atau makan siang. Gadlyn yang mempunyai riwayat penyakit magh, keningnya sudah berkeringat. Namun gadis itu sama sekali tidak berani untuk berkata-kata.


Rakha menoleh kearah Gadlyn. Di lihatnya gadis itu tampak gelisah dan berwajah pucat.


"Kamu kenapa?" tanya Rakha.


"Tu-Tuan," bibir dan tubuh Gadlyn gemetar.


"Hey...kamu kenapa?" tanya Rakha, sembari cepat menghampiri Gadlyn.


"Sa-Sa...."


Brukkkk


Gadlyn jatuh pingsan di sofa. Melihat hal itu Rakha jadi panik dan segera menggendong Gadlyn untuk di bawa kerumah sakit. Rakha memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, dan sesekali menoleh kearah Gadlyn yang berwajah pucat.


Hanya butuh waktu 20 menit bagi Rakha untuk sampai ke EH Hospital. Saat dirinya tiba di depan rumah sakit, tim dokter dan perawat yang sudah sempat dia hubungi, menyambutnya dan bergegas menangani Gadlyn.


"Baik tuan muda." Jawab Tim dokter.


Rakha yang melihat proses tindakkan, membuat tim dokter jadi gugup. Meskipun tetap melakukan perkerjaannya dengan profesional. Rakha menghela nafas panjang dan kemudian menunggu di luar. Dia tahu betul para dokter dan perawat itu sedang ketakutan saat ini, itulah sebabnya dia memutuskan menunggu di luar pintu.


Setelah menunggu hampir 20 menit, seorang dokter keluar untuk menjelaskan tentang keadaan Gadlyn.


"Maaf tuan muda. Dari hasil pemeriksaan nona Gadlyn mempunyai riwayat penyakit magh," ujar Dokter.


"Sakit magh?" tanya Rakha.


"Ya tuan. Mungkin dia telat buat makan siang, atau bahkan memang sejak pagi dia belum makan." Jawab Dokter.


"Ckk...gadis ini bodoh sekali. Kenapa dia nggak bilang kalau lapar. Ini malah nungguin aku yang gila kerja. Apa dia pikir dia itu mempunyai nyawa 9?" batin Rakha.


"Bagaimana hasil pemeriksaan lainnya?" tanya Rakha.


"Untuk hasil lainnya akan keluar setelah cek laboratorium keluar. Mungkin sekitar 1 jam lagi." Jawab dokter.

__ADS_1


"Baiklah nanti beritahu aku hasilnya. Sekarang apa sudah bisa di jenguk?" tanya Rakha.


"Nona belum siuman. Saya sudah menyuruh suster untuk menyiapkan bubur buat nona. Dia harus makan bubur dulu, agar lambungnya tidak bermasalah. Nona akan kita pindahkan dulu diruang perawatan, biar tuan muda nyaman menjenguknya."Jawab dokter.


"Rawat dia di ruang keluarga Hawiranata," ujar Rakha.


"Baik tuan muda." Jawab dokter.


Rakha pergi keruangan pribadinya, dia juga butuh asupan makanan. Pria itu cukup lega mengetahui Gadlyn baik-baik saja. Saat Rakha beristirahat, seorang suster memberitahunya kalau Gadlyn sudah siuman.


Krieekkkkkkkk


Rakha menekan handle pintu dan pandangan matanya beradu dengan mata Gadlyn.


"Tuan muda, nona menolak untuk makan buburnya. Padahal nona harus segera minum obat," ujar suster.


"Keluarlah! biar saya yang urus," ucap Rakha.


Suster itu keluar, meninggalkan Rakha dan Gadlyn berdua. Rakha meraih mangkuk bubur dan duduk di tepi tempat tidur.


"Tu-Tu...emmpppttthh," Gadlyn menutup mulut dan menggelengkan kepalanya, saat Rakha menyodorkan satu sendok bubur didepan mulutnya.


Rakha menatap Gadlyn dengan tatapan yang mematikan. Ini kali pertama dia melakukan sesuatu untuk seorang wanita, dan wanita itu menolak usahanya. Di tatap begitu membuat Gadlyn ketakuatan dan air matanya mengalir begitu saja.


"Ini demi kebaikkanmu," ujar Rakha membuka suara.


"Hikz...tapi saya jijik tuan." Jawab Gadlyn.


"Kamu jijik padaku?" tanya Rakha yang sudah memasang wajah garang.


"Bu-Bukan. Saya nggak suka bubur, jijik. Hikz ..." Gadlyn terisak.


Mendengar itu Rakha menghela nafas panjang. Belum apa-apa dia sudah dibuat pusing.


"Itulah sebabnya aku lebih memilih hidup sendiri seumur hidup. Apa bagusnya menikah? ini contohnya, wanita sungguh merepotkan dan manja," batin Rakha.


Rakha dengan stok kesabarannya, bicara selembut mungkin dan menyeka air mata Gadlyn dengan ibu jarinya. Di perlakukan seperti itu, jelas saja membuat Gadlyn jadi diam seketika.


"Aku jamin ini bubur terenak yang pernah kamu makan. Kamu sudah berani membuatku khawatir, jadi kamu tidak boleh bersikap begini padaku. Apa kamu mengerti?"


Suara yang awalnya lembut, diujung kalimatnya tetap saja mengintimidasi.


"Baru satu hari jadi serketarisku, sudah cuti sakit. Kalau kamu nggak mau makan buburnya, otomatis kamu sakitnya akan lama. Kalau sakitnya lama, aku akan menggantikan posisi serketaris dengan orang lain. Dan kamu bisa seumur hidup jadi OG. Apa kamu mau?" tanya Rakha yang di jawab gelengan cepat oleh Gadlyn.

__ADS_1


"Bagus. Buka mulutmu!" perintah Rakha.


Gadlyn terpaksa membuka mulutnya, meskipun setiap suapan yang masuk, air mata Gadlyn tidak mau berhenti mengalir.


__ADS_2