Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.207. Bagaimana Ini?


__ADS_3

"Kak. Kumohon jangan libatkan aku dalam masalah besar, kepalaku bisa di penggal oleh om Ezra. Si singa Rakha juga akan melubangi kepala dan dadaku dengan timah panas. Aku...."


Cup


Ezka yang sudah di luar kendali, langsung membungkam mulut Yure dengan bibirnya. Mata Yure melotot seketika, saat mendapat serangan tak terduga itu. Yure berusaha melepaskan ciuman itu, namun Ezka menahan kepalanya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Yure berdegup dengan kencang. Bisa dibilang ini adalah ciuman pertamanya. Meski ciuman Ezka cukup kaku, tapi tetap saja bisa membuat Yure ikut terhanyut. Yure yang kewarasannya mulai terganggu, perlahan mebalas ciuman itu. Keduanya terhanyut dalam gairah yang membara, dan entah sejak kapan tidak lagi mengenakan sehelai benang pun.


"Kakak kita harus berhenti sekarang. Ini tidak benar, aku tidak ingin menimbulkan masalah besar yang akan membuat aku dan kakak menyesalinya," ujar Yure dengan nafas terengah.


"Kumohon jangan berhenti. Aku sudah tidak tahan lagi, aku benar-benar menginginkannya," ucap Ezka dengan nafas tersenggal.


"Tapi kak...ahhh...."


Yure tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, karena Ezka sudah mempermainkan benda kebanggaanya dibawah sana.


"Ah...rasanya ini benar-benar gila, aku benar-benar tidak tahan lagi." batin Yure.


Brukkkkk


Yure merubah posisi, dengan menjadikan Ezka berada dibawah kungkungannya.


"Aku harap kakak tidak menyesalinya," ujar Yure.


Bukannya menyesal, Ezka malah mengalungkan kedua tangannya di leher Yure. Tatapan mata keduanya bertemu, Yure mengakui kalau gadis yang ada dibawah kungkungannya itu sangatlah cantik dan menggairahkan. Sesaat kemudian bibir mereka kembali saling bertautan, dan tubuh mereka kembali menghangat.


"Ah...Yure...." tubuh Ezka bergelinjang, saat Yure sudah bermain di puncak dadanya.


Jangan ditanya bagaiamana perasaan Yure saat ini. Pria itu juga tengah dibakar gairah yang sama. Yure juga banyak meninggalkan jejak kepemilikan di dada gadis itu.


"Ahhh...emmppptt..."


Ezka lagi-lagi bersuara merdu, saat Yure tiba-tiba bermain dibawah sana. Namun suara itu mendadak berhenti, saat Yure tiba-tiba menghentikan aktifitas yang membuat tubuh Ezka sudah menggila itu.


"No...ku mohon jangan berhenti. Jangan menyiksaku," ujar Ezka dengan nafas yang tidak beraturan.


"Apa kakak yakin tidak akan menyesal? aku sudah cukup bersabar menahannya," bisik Yure.


"Lakukan...aku sudah tidak tahan lagi," ujar Ezka lirih dengan tatapan mata menghiba.


"Aku harap kakak tidak menyesalinya," ucap Yure sembari memposisikan diri diantara kedua paha gadis itu.


"Awww...sakitttt," Ezka meringis kesakitan saat Yure berusaha mendorong miliknya perlahan.


Yure berhenti sejenak, dan memperhatikan raut wajah Ezka yang sangat cantik itu.

__ADS_1


"Kakak bisa berpikir ulang, sebelum semuanya terlambat. Karena kalau kakak masih saja menginginkannya, aku pastikan mulai malam ini kakak akan menjadi wanitaku selamanya," ujar Yure.


Cup


Bukannya menolak, Ezka malah melu**t bibir Yure, hingga pria itu mendorong jauh miliknya melesak kedalam sana.


"Heggghhhh...emmpphhhtt"


Suara jeritan Ezka teredam dalam ciuman mereka, saat benda besar dan tumpul berhasil menyeruak kedalam sana. Yure perlahan berhenti bergerak, menikmati cengkraman kuat dibawah sana. Air mata Ezka meleleh dari sudut matanya, dan langsung diusap oleh Yure.


"Maaf," bisik Yure sembari memompa perlahan miliknya.


Kini sakit yang Ezka rasakan, sudah berganti dengan suara-suara merdu, yang membuat Yure semakin bergairah. Malam itu merupakan malam yang panjang bagi keduanya, karena mereka tidak hanya melakukannya sekali, namun hingga berkali-kali.


"Ah...Ezka...."


"Yureee...."


Ezka dan Yure saling meneriakkan nama mereka masing-masing, saat mereka mengerang secara bersamaan.


Hosh


Hosh


Hosh


Cup


"Aku pasti sudah gila, karena sudah memanfaatkan Ezka disaat dia sedang tidak berdaya. Entah apa yang akan terjadi saat dia terbangun nanti. Aku rasa dia akan langsung membunuhku," batin Yure.


Yure menatap wajah cantik Ezka yang tampak tertidur lelap. Yure mengelus wajah lelah itu dengan ibu jarinya. Sesaat kemudian dia menarik tubuh Ezka agar merapat kearahnya, dan merekapun menghabiskan sisa malam dengan tidur saling berpelukkan.


*****


Yure mengerutkan dahinya, saat sayup-sayup suara ponselnya terdengar berdering. Yure mencari keberadaan ponsel itu, yang ternyata tergeletak dilantai. Yure kemudian meraihnya dan melihat Rakha lah yang membuat panggilan itu.


"Kamu dimana?" tanya Rakha.


"Di rumah." Jawab Yure dengan suara lesu.


"Di rumah? kamu tidak ke kantor?" tanya Rakha bersuara tinggi.


"Tentu saja ke kantor. Memangnya kapan aku tidak pernah datang ke kantor?"


"Kenapa kamu telat? ini sudah hampir jam 10," tanya Rakha.


"Sembarangan. Mana pernah aku bangun jam segitu? ini pasti masih jam...."


Mata Yure terbelalak, saat sekilas melihat jam di ponselnya.


"Kamu kenapa sih? kamu ngigau ya? atau jangan-jangan kamu semalam habis begadang dengan seorang wanita, sampai-sampai bangunnya kesiangan gitu?" tanya Rakha.

__ADS_1


"Wanita?"


Yure merasa seperti sudah melewatkan sesuatu. Di saat ingatannya sudah kembali, matanya tiba-tiba mencari sosok Ezka kesana kemari.


"Rakha sepertinya aku nggak masuk kerja dulu hari ini. Ada urusan penting yang harus aku kerjakan," ucap Yure.


Yure langsung mengakhiri panggilan telpon itu, tanpa menunggu jawaban dari Rakha terlebih dahulu.


Yure kemudian mencari keberadaan Ezka di kamar mandi, dan sama sekali tidak menemukan keberadaan gadis itu. Yure juga berusaha menelponnya, namun nomor Ezka juga tidak aktif.


"Bagaimana ini? matilah aku, dia pasti akan membuat perhitungan denganku. Tapi...."


Yure tiba-tiba teringat dengan kejadian semalam. Kejadian yang membuat jantungnya berdebar. Sesaat kemudian Yure menoleh kearah tempat tidur, dan mendapati bercak darah disana.


Perlahan senyum Yure mengembang, sepertinya rasa panik yang sempat melandanya kini sudah berubah menjadi kebahagiaan. Dengan berani, Yure akhirnya membuat panggilan untuk Marinka.


"Yure?" tanya Marinka.


"Iya tante, ini Yure. Kak Ezkanya ada?" tanya Yure.


"Ada. Dia baru pulang dari menginap dirumah temannya." Jawab Marinka.


"Oh gitu? berarti kak Ezka nggak ngantor hari ini?" tanya Yure.


"Sepertinya tidak." Jawab Marinka yang merasa cukup aneh.


"Ada apa? kenapa kamu menanyakan kakakmu? apa ponselnya tidak aktif?" tanya Marinka.


"I-Iya tante. Maaf sudah mengganggu."


"Tidak masalah. Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan? nanti biar tante panggikan dia," tanya Marinka.


"Biar nanti saja. Mungkin baterai ponselnya habis. Sudah dulu ya tan? Yure mau kerja dulu," ucap Yure.


"Ya." Jawab Marinka.


Yure langsung mengakhiri panggilan itu, dan menghela nafas setelahnya. Secepat kilat Yure membuat chat untuk Ezka, dan langsung mengirimnya setelah selesai.


"Sepertinya masa lajangku akan segera berakhir. Susah payah di jodohkan, ternyata jodohku orang yang selalu dekat denganku," ujar Yure dengan penuh percaya diri.


Sementara itu di tempat berbeda Ezka tengah menangis di dalam kamarnya. Gadis itu sedang meratapi semua kebodohannya, hingga dirinya harus kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ezka kemudian meraih ponselnya, dan menyalakan ponsel itu agar kembali aktif.


Ting


Sebuah chat masuk, jantungnya berdebar saat tahu itu berasal dari Yure. Sekilas dia jadi teringat malam panas yang dia lalui bersama pria yang sudah diangap sebagai adiknya itu.


"Kita harus bicara," chat Yure.


Ezka sama sekali tidak membalas chat itu. Tanpa gadis itu sadari, dengan dirinya menolak bicara dengan Yure, akan menciptakan kesalahpahaman yang cukup menguras air mata.


To be continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2