Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.12. Resmi Bercerai


__ADS_3

"Wanita ini benar-benar bodoh. Selamat menuju alam berikutnya kakakku yang To-lol," batin Karin


Karin menyeringai, saat melihat tanpa ragu Marinka membubuhkan tanda tangannya diatas sebuah kertas dan menyodorkannya pada Galang.


"Terima kasih kamu sudah menyetujui untuk bercerai. Bersiaplah, mungkin sidang cerainya tidak berlangsung lama. Aku tidak ingin berlarut-larut, sehingga perut Karin keburu membesar."


"Iya Mas."


Galang melangkah ingin keluar pintu, namun sesaat kemudian tubuhnya berbalik.


"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Galang.


"Su-Sudah Mas."


"Bagus."


Galang kembali melanjutkan langkah kakinya dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.


"Astaga, aku tidak salah dengar kan? mas galang barusan perhatian padaku? apa ini pertanda baik untuk hubungan kami? aku tidak masalah jadi istri kedua, asal dia bisa lebih mencintaiku," ucap Marinka lirih.


Malam ini Marinka tidur sembari senyum-senyum sendiri. Hatinya benar-benar sedang berbunga-bunga saat ini.


"Aku berhasil mendapatkan tanda tangan Marinka. Besok akan segera ku urus kepengadilan."


"Baguslah kalau kak Inka sudah setuju. Seharusnya dia memang melakukan itu untuk anak sambungnya."


"Bersabarlah. Sebentar lagi kita akan menikah secara Resmi."


"Makasih Sayang. Aku sangat bahagia sekali,"


"Aku juga sangat bahagia. Akhirnya kita bisa bersatu dengan ikatan perkawinan yang Sah."


"Apa kita perlu memberitahu orang tua kita?"


"Tentu saja. Ini adalah hari bahagia kita, meskipun kita tidak mengadakan resepsi mewah, tapi aku ingin kedua orang tua kita sama-sama hadir diacara sakral kita."


"Baiklah. Nanti aku akan memberitahu Papa dan Mamaku,"


"Emm." Galang mengangguk.


Dua minggu kemudian...


Sidang perceraian antara Marinka dan Galangpun digelar. Tak banyak keluarga yang menyaksikan sidang itu, hanya ada pasangan Herman dan Paulin. Serta Surya dan Rini. Setelah hakim membacakan putusan, akhirnya Marinka dan Galang diputuskan resmi bercerai.


Karin tersenyum penuh kemenangan, begitu juga kedua orang tua wanita itu. Sementara Marinka yang polos dan tidak mengerti apapun tentang situasi yang sebenarnya, ikut tersenyum lebar kearah Galang.


"Semoga pengorbananku tidak akan sia-sia," batin Marinka.


"Marinka,"


"Ya Ma."

__ADS_1


"Mama tahu ini pasti berat buat kamu, tapi Papa dan Mama sangat menghargai pengorbananmu ini. Kamu seorang calon ibu yang baik,"


"Tidak apa Ma. Lagipula, meski sudah bercerai aku dan Mas Galang akan menikah kembali nantinya. Ya walaupun hanya nikah siri, tapi itu tidak apa-apa, yang penting anak Mas Galang punya status yang jelas dulu."


Mendengar itu Rini dan Surya mengerutkan dahinya, pasalnya pasangan itu sama sekali tidak mendengar dari mulut putranya bahwa mereka akan menikah kembali secara siri.


"Ya. Menjadi istri kedua juga tidak buruk, yang terpenting kalian selalu akur." Jawab Rini yang meneruskan saja kata-kata Marinka.


"Tapi walau bagaimanapun, kami tetap mendapatkan harta gono gini dari Galang," timpal Surya.


"Tidak usah Pa. Toh nanti kami tetap berada satu atap yang sama."


"Tidak Marinka, Galang pasti lupa membahas ini dipengadilan, tapi itu tidak apa-apa. Papa yang akan memberikan kompensasi untukmu," ujar Surya.


Surya mengeluarkan buku cek dari dalam tas kerjanya yang selalu ada didalam mobil pribadinya. Cek senilai 1 milyar dia berikan untuk Marinka.


"Papa. ini terlalu berlebihan,"


"Tidak. Kamu pantas mendapatkannya, malah itu tidak sebanding dengan semua pengorbananmu selama ini. Jadi kamu harus terima ya? kamu bisa cairkan, dan buat tabungan untuk dirimu sendiri."


"Iya Marinka, kamu terima saja ya? agar beban dipundak Papa dan Mama sedikit terangkat."


"Baiklah. Inka terima ya?"


Marinka meraih selembar cek yang berisi uang senilai 1 milyar itu, dan memasukkannya kedalam tas selempangnya.


"Kami tidak mampir lagi ya? Papa dan Mama sangat lelah," ujar Rini saat mobil mereka tiba didepan pintu gerbang rumah Galang.


Marinka turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.


"Mas," sapa Marinka yang melihat Karin dan Galang duduk disofa depan tv.


"Baru sampai?" tanya Galang basa-basi.


"Iya. Tadi supir Mama dan Papa lumayan pelan bawa mobilnya."


"Dua minggu lagi akta cerai kita akan keluar, dan pada saat akta cerai itu keluar, kemungkinan sehari atau dua hari berikutnya kami akan melangsungkan pernikahan. Apa itu tidak masalah bagimu?"


Marinka tersenyum mendengar ucapan Galang, yang begitu menjaga perasaannya, setidaknya itu yang difikirkan Marinka. Padahal yang sebenarnya, Karinlah yang mengajarkan semua kata-kata itu.


"Aku tidak apa-apa Mas. Lebih cepat lebih baik, maka lebih cepat pula kita menikah siri."


Galang tidak menanggapi ucapan Marinka, Karin mencolek pinggang Galang, agar memberikan sedikit respon yang bisa membuat Marinka senang.


"I-Iya. Secepatnya kita akan menikah kembali." Jawab Galang.


"Ya sudah, aku masuk dulu ya Mas? aku sangat lelah."


"Ya."


Marinka beranjak dari tempat duduknya, dan pergi masuk kekamarnya.

__ADS_1


"Sayang. Apa sebaiknya aku tidak usah menikahi dia lagi?"


"Jangan. Dia masih bisa kita manfaatkan loh tenaganya,"


"Lagipula pernikahan itu kan cuma status, kamu tidak akan menyentuhnya juga. Jadi anggap sajalah pembantu gratis."


"Baiklah kalau itu maumu. Aku menurut, hanya karena kamu yang minta. Sebenarnya aku sangat malas melihat wajahnya lagi."


"Jangan begitu, gitu-gitu kakakku loh."


"Kamu kok baik banget sih Honey? padahal dia sering jahat sama kamu,"


"Ya mau gimana lagi Mas. Kami sudah bersama sejak kecil, jadi meskipun terkadang aku suka sebal sama dia, tetap aja aku harus sabar kan?"


Galang merangkul pundak Karin dan membawanya kedalam pelukkan.


"Aku benar-benar tidak salah pilih, kamu wanita yang sempurna dikirim Tuhan untukku."


"Aku juga beruntung memilikimu sayang,"


"Ke kamar yuk? aku lelah banget hari ini," ujar Galang.


"Yuk."


Galang dan Karin masuk kedalam kamar, sementara Marinka sedang bercengkrama dengan sahabatnya Sera.


"Jadi untuk apalagi kamu dirumah itu? kamu tinggal saja bersamaku dirumah kontrakkan."


"Tidak Sera. Setelah bercerai, kami berencana akan menikah kembali meskipun secara siri."


"Ap-Apa? Kamu itu memang benar-benar bodohnya tidak tertolong lagi ya? apa bagusnya kamu mempertahankan pria tidak punya hati begitu? kamu akan mati muda kalau lama disana Marinka."


"Aku mencintainya Sera."


"Apa dengan cinta bisa membuatmu kenyang?"


"Tapi dia sangat baik padaku akhir-akhir ini."


"Itu karena dia ada maunya. Ya Tuhan...aku tidak bisa ngomong apa-apa lagi sama kamu Marinka. Kenapa Tuhan membiarkan aku punya sahabat bodoh sepertimu. Aku yakin 1000 persen kamu akan menyesal nantinya."


"Kamu jangan menakutiku dong. Do'akan aku yang baik-baik,"


Sera menghela nafas panjangnya, baginya kebodohan sahabatnya itu benar-benar ketahap akut.


"Marinka. Aku selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Jika suatu saat kamu tidak tahan lagi, dan ingin pergi dari situ, carilah aku. Kita tidak membutuhkan laki-laki sampah yang akan membuat hidup kita sengsara. Tubuh kita ini terlalu berharga hanya untuk disakiti. Diluar sana, masih banyak pria yang mau menerima kita apa adanya. Apa kamu mengerti Marinka?"


"Makasih Sera. Kamu memang sahabat terbaikku. Aku akan mendatangimu, jika suatu saat terjadi sesuatu padaku."


"Baiklah, aku tutup telponnya ya?"


"Emm."

__ADS_1


Marinka dan Sera mengakhiri percakapan itu dan beristirat ditempat mereka masing-masing.


__ADS_2