
"Apa tidak ada yang ketinggalan?" tanya Ezra.
"Sepertinya tidak ada bang."
"Ya sudah. Kalau gitu kita chek out sekarang," ucap Ezra.
"Ya bang."
Hari ini adalah hari kamis, hari dimana Marinka dan Ezra akan kembali ke kota J, sesuai yang sudah disepakati. Disepanjang jalan Marinka hanya memejamkan matanya, bukan tertidur, tapi wanita itu larut dalam pemikirannya sendiri.
"Tiga hari lagi, hanya tersisa tiga hari lagi. Marinka, kamu harus kuat. Jangan pernah tunjukkan sisi lemahmu nantinya. Kamu sudah menandatangani perjanjian itu, bukankah kamu harus tepat janji?" batin Marinka.
Disaat Marinka sedang larut dalam pemikirannya sendiri sembari terpejam, tiba-tiba ponsel Ezra berdering. Pria itu menoleh kearah Marinka yang terlihat lelap, meskipun sebenanya wanita itu sedang terjaga dan memasang telinganya.
"Ya sayang."
"Kamu dimana?" tanya Jihan.
"Ada dijalan."
"Dijalan? bukankah ini masih jam kantor?"
"Ya saat ini aku ada di luar kota, baru akan kembali ke kota J."
"Apa kamu baru saja melakukan perjalanan bisnis?"
"Ya." Ezra terpaksa berdusta.
"Sayang. Apa kamu sudah mengurus surat ceraimu dan Marinka?"
"Sudah."
"Bagus. Tiga hari lagi aku akan pulang, aku ingin di hari itu hubungan palsu kalian benar-benar berakhir."
"Ya."Jawab Ezra singkat.
Sayang sekali Marinka sama sekali tidak tahu apa yang Ezra dan Jihan bicarakan, karena pri itu tidak membuat mode pengeras suara. Setelah mengakhiri panggilan telpon itu, Ezra kemudian menoleh kearah Marinka yang terlihat masih memejamkan matanya.
Tangan Ezra tiba-tiba mengusap puncak kepala Marinka dan tidak terasa air mata Ezra yang selama ini kokoh, akhirnya jatuh juga.
"Maafkan abang Marinka. Maafkan abang karena kamu terpaksa merasakan lagi pahitnya lagi sebuah perceraian. Kamu wanita yang sempurna dimataku, tapi kita memang tidak bisa bersama,"
Sementara itu Marinka terpaksa diam saja dan tidak menunjukkan respon apapun. Dia masih saja berpura-pura tertidur lelap.
Setelah menempuh waktu kurang lebih 1 setengah jam, akhirnya Marinka dan Ezra tiba juga di kota J. Padatnya ibu kota akhirnya kembali Ezra dan Marinka rasakan setelah beberapa waktu yang lalu sudah melewati jalanan yang lumayan lenggang.
"Dek, bangun! kita sudah sampai," bisik Ezra.
"Eh?" Marinka yang ternyata benar-benar terlelap sedikit terkejut.
"Nyenyak sekali ya?"
"Maaf bang."
"Tidak apa-apa, hanya saja abang merasa bosan karena tidak punya teman ngobrol,"
__ADS_1
"Maaf ya bang. Adek benar-benar ngantuk dan lelah."
"Ya sudah, kita masuk kedalam. Nanti adek bisa melanjutkan tidurnya lagi."
"Emm." Marinka mengangguk.
Marinka melirik kearah jam tangannya, yang ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
"Sudah jam 11 bang. Abang duluan saja naik keatas."
"Loh adek mau kemana?"
"Adek mau nyiapin makan siang buat abang."
"Ckk...tidak perlu. Adek harus beristirahat, biar pelayan saja yang mengurus semua itu."
"Apa itu tidak menjadi masalah buat abang?"
"Tidak. Sekarang kita beristirahat dulu ya?"
"Emm."
Ezra menggenggam tangan Marinka, dan mereka menaiki anak tangga bersama.
"Tidurlah lagi! nanti saat makan siangnya siap, abang akan membangunkanmu."
"Abang mau kemana?"
"Abang mau pergi ke ruang kerja dulu, ada pekerjaan yang mau abang selesaikan."
"Ya."
Ezra kemudian meraih sebuah buku cek, dan menuliskan beberapa angka disana. Namun tidak berapa lama kemudian dia merobek cek itu dan mengganti dengan cek yang lain. Namun lagi-lagi cek itu dia robek, karena merasa nominal yanh dia tulis, sama sekali tidak sesuai.
Hingga tidak terasa sudah puluhan cek yang dia robek dan berakhir di tong sampah. Ezra benar-benar merasa stres memikirkan soal perceraiannya.
"Hah...ya Tuhan...mengapa rasanya sulit sekali mengambil keputusan ini, belum lagi aku tidak tahu, bagaimana reaksi dari Papa dan Mama," ucap Ezra lirih.
Tok
Tok
Tok
"Bang. Makan siangnya sudah siap,"
Mendengar suara Marinka diluar pintu, Ezra buru-buru menyembunyikan map biru dan selembar cek yang sudah dia tulis nominalnya.
"Ya tunggu dek," Jawab Ezra dari arah dalam.
Krieeekk
Ezra membuka pintu ruang kerjanya dan mendapati Marinka sudah berdiri dihadapannya.
"Apa pekerjaan abang sudah selesai?" tanya Marinka.
__ADS_1
"Sudah. Apa makan siangnya sudah siap? abang sudah sangat lapar,"
"Iya. Tadi pelayan sudah memberitahu adek,"
"Yuk kita makan?"
"Emm." Marinka mengangguk.
Marinka dan Ezrapun makan siang bersama sembari berbincang banyak hal. Setelah selesai, mereka kembali kekamar untuk beristirahat.
*****
Tiga hari kemudian...
"Tugas kelompok kita sudah selesai kan?" tanya Rehan pada Marinka.
"Sudah. Hari ini dosen akan memeriksanya, dan menentukan kelompok mana yang akan dibawa untuk berkunjung ke salah satu perusahaan tekstil yang ada di Paris." Jawab Marinka.
"Semoga saja kelompok kita yang menang,"
"Amiin. Apa kau tahu, aku sangat ingin pergi ke negara itu. Dengan adanya kompetisi ini, aku sangat berharap kelompok kita yang menang."
"Kalau kita menang, aku akan mengajakmu kerumah sepupuku yang ada di Paris. Dia juga seorang pengusaha dibidang fashion."
"Benarkah?"
"Iya. Itulah sebabnya aku mengambil jurusan disigner, kami ingin meneruskan usaha keluarga yang memang bergerak di bidang fashion."
"Kamu sangat beruntung sekali Re...istilah kata, kamu cuma butuh ijazah saja, kalau soal usaha, kamu cuma butuh formalitas saja. Sedangkan aku? semuanya memang harus merangkak dari nol."
"Tidak masalah. Aku yakin kamu akan menjadi disigner yang sukses kedepannya nanti."
"Amiin. Jawab Marinka.
"Ka. Kenapa wajahmu terlihat pucat? apa kamu sedang sakit?"
"Tidak juga, cuma aku memang merasa sedikit pusing. Apa wajahku benar-benar pucat?"
"Ya. Kalau kamu merasa tidak enak badan, aku akan mengantarmu pulang sekarang,"
"Tidak usah. Kita harus menyerahkan hasil kerja kelompok kita dulu dan mengetahui hasilnya."
"Kalau kamu merasa kurang sehat, kita bisa menyerahkan hasil tugasnya pada teman-teman yang lain, sebaiknya kamu kuantar pulang saja."
"Tidak us..."
"Ka?"
Rehan terlihat panik, saat Marinka sudah jatuh pingsan. Beruntung saat ini Marinka sedang berada disampingnya, sehingga Rehan berhasil menangkap tubuh Marinka yang lemah. Rehanpun bergegas membawa Marinka kerumah sakit, agar Marinka segera mendapat pertolongan.
Setelah tiba dirumah sakit, Rehan segera menggendong tubuh mungil Marinka. Karena panik, Rehan sampai lupa menghubungi teman-temannya yang lain sampai teman-temannya itu yang menghubungi dirinya duluan, karena tugas kelompok mereka ada ditangan Marinka.
Rehan berjalan mondar mandir didepan ruangan tindakkan, meski Marinka tidak memiliki hubungan spesial dengannya, tapi Marinka sudah dia anggap seperti adiknya sendiri. Terlebih Rehan tahu, bagaimana tentang kehidupan Marinka yang memprihatinkan.
TO BE CONTINUE ...🤗🙏
__ADS_1