
"Oke. Mungkin pertanyaan ini agak sensitif untuk anda, tapi sudah kepalang tanggung, kita semua masih penasaran dengan masa kecil dari mbak MD?" ujar Rafly.
"Ya sama saja, masa kecil saya juga bahagia meski saya besar di panti asuhan."
"Emang dari umur berapa anda di sana mbak?"
"Sejak bayi. Mungkin kalau di perkirakan usia saya saat itu baru satu atau dua hari. Soalnya tali pusatnya masih sangat segar, itu sih kata pengasuh saya. Itulah sebabnya sampai saat ini saya nggak tahu tepanya ulang tahun saya." Jawab Marinka.
"Tapi katanya mbak sempat di adopsi? itu di usia berapa mbak?" tanya Rafly.
"Sekitar 8 tahun. Ya itu, saya diangkat anak oleh keluarga adik angkat saya. Tapi saya hanya di jadikan tameng."
"Tameng? maksudnya bagaimana mbak?"
"Saya di jadikan tameng untuk adik angkat saya. Saya di suruh mengerjakan semua PR sekolah, itu sejak SD sampai lulus SMA."
"Wah paket lengkap ya? udah pelakor, bodoh lagi. Pintarnya cuma merebut suami kakaknya aja," ujar Rafly.
Karin tertunduk mendengar ucapan Rafly. Dia tidak berani memperlihatkan wajahnya di hadapan Marinka dan juga suaminya.
"Terus apalagi yang keluarga itu lakukan? nggak apa, buka aja semuanya. Saya yakin mbaknya nggak pernah ngungkapkan isi hati mbak selama ini dengan tuntas,"
"Betul mas Rafly. Saya sebagai suami saja nggak tahu cerita lengkapnya. Istri saya ini paling nggak suka menjelek-jelekkan orang, padahal apa yang di bicarakan memang benar. Mungkin dengan disini, dia bisa ngungkapin perasaannya. Sekalian ini untuk pembelajaran bagi kita semua," ujar Ezra.
"Tuh...mbak, udah dapat dukungan dari masnya. Siapa tahu yang jahat itu lagi nonton sekarang," ucap Rafly.
Marinka tersenyum manis menatap kamera.
"Saya itu dulu sangat naif sekali orangnya. Saya itu senang masak mas Rafly. Jadi kalau ketemu menu aneh di media sosial, saya selalu ingin mencobanya. Apa mas Rafly tahu apa tujuan saya melatih kepandaian itu?" tanya Marinka.
"Apa?" tanya Rafly.
"Kata ibu panti, buat suami jatuh cinta dengan selalu membuat perutnya kenyang dan ketergantungan dengan masakkan kita. Jadi di pernikahan pertama, saya aplikasikan itu. Tapi ternyata, nasehat itu saya pikir kebohongan. Buktinya suami saya tetap nggak suka sama saya? Itu sama sekali nggak rasional, itu terbukti diluar sana banyak wanita yang pandai memasak dan mengurus suami, tetap saja di selingkuhi. Dan anehnya selingkuhan itu malah nggak pandai apa-apa. Mungkin kalau ada jualan robot yang pandai membersihkan kotoran setelah BAB, wanita itu akan membelinya karena takut kuku cantiknya rusak."
"Jadi jaman sekarang nggak pandai masak nggak apa, anda cuma perlu cari suami kaya tapi jangan cari yang doyan selingkuh. Ini sekalian nasehat untuk para gadis yang ada di studio dan dirumah, kalau mau cari suami benar-benar harus milih. Yang milih saja, masih saja salah pilih. Kalau anda dapatnya yang modelan Fir'aun, nah...ingatlah kasus saya, kalau kalian mampu sabar ya jalani, kalau nggak tahan, cepat-cepat pilih jalan yang enak."
"Ya ampun, parah banget ya mbak kalau udah modelan Fir'aun," ujar Rafly terkekeh.
__ADS_1
Galang tiba-tiba teringat saat Marinka selalu memasak apapun yang dia mau, membuat minuman yang dia sukai. semua masakkan yang Marinka masak selalu sesuai dengan selera lidahnya. Bahkan meskipun dia memintanya di tengah malam, Marinka selalu menuruti perintahnya.
"Ya Tuhan...manusia macam apa aku ini. Benar kata Marinka, kelakuanku sudah seperti Fir'aun. Bahkan dengan bodohnya aku malah memilih wanita ja**ng yang tidak pandai apa-apa. Bahkan meski 4 tahun menikah, dia sama sekali tidak pandai membuat secangkir teh dengan benar. Seharusnya aku juga bisa menilai, kakaknya saja bisa dia khianati, bukan tidak mungkin suatu saat dia juga akan mengkhianati aku. Dan aku sudah mendapatkan karmaku," batin Galang.
"Aku harus bagaimana ini? bagaimana aku bisa lari dari mereka? apa aku bersujud saja di kaki mereka agar mau mengampuni aku? tapi bagaimana kalau mereka nggak mau dan tetap melaporkan aku ke polisi? aku nggak mau masuk penjara," batin Karin dengan tubuh bergetar.
"Ya mau bagaimana lagi mas Rafly. Kalau kita bergaul dengan orang yang tidak pandai bersyukur ya seperti itu," ucap Marinka.
"Tapi sekarang saya sangat yakin, dia akan menangis darah saat tahu mbak sudah sangat sukses dan kaya raya." ujar Rafly.
"Sekarang gini aja deh mbak, sebutin aja deh nama-nama mereka. Siapa tahu kita kenal, takutnya malah tetanggaan sama kita. Ya nggak penonton?" ujar Rafly.
"Betullll..." sahut penonton.
"Nggak boleh dong," ucap Marinka.
"Loh kenapa?" tanya Rafly.
"Meski saya ingin mereka hancur, tapi anak mereka suatu saat akan nonton tayangan ini. Saya rasa nggak ada orang tua yang ingin anaknya tahu, kalau orang tua mereka pernah melakukan kekeliruan. Coba mas Rafly bayangkan, bagaimana mental anak itu, saat seluruh dunia tahu bahwa orang tuanya adalah seorang pembunuh."
"Ya tentu tidak dong. Hukum itu harus tetap di tegakkan. Dengan cara apa? ya caranya biar saya saja yang tahu," ucap Marinka dengan anggun.
"Wah...salut benget deh dengan mbak MD. Jujur kalau ini di posisi saya, pasti saya nggak akan tahan. Pasti saya akan koar-koar ke publik. Mbak MD ini saya nilai masih sangat berbesar hati. Kalau asli orangnya baek, ya begini. Meski dimulut sadis, tapi masih saja mikirnya panjang. Ini bisa jadi teladan buat kita, agar pikiran kita ini nggak dangkal," ucap Rafly.
"Oke kita lanjut untuk ke pertanyaan selanjutnya. Apa anda pernah bertemu orang tua kandung anda?" tanya Rafly.
"Belum."
"Belum?"
"Ya belum." Jawab Marinka.
"Why? kenapa bisa belum? usia anda sudah 26 tahun kan?" tanya Rafly.
"Kenapa harus di pertanyakan lagi? jelas sekali karena saya anak yang tidak di inginkan." Jawab Marinka.
Rafly menatap wajah Marinka yang ronanya sudah berubah.
__ADS_1
"Sedih? sepertinya anda sedang sedih saat ini," tanya Rafly.
"Nggak mas Rafly, anda keliru. Ini buka rona kesedihan, tapi lebih ke...emm..apa ya? emm...bentuk rasa kecewa kali ya?" ujar Marinka.
"Apa yang membuat anda kecewa. Atau untuk siapa jelasnya rasa kecewa itu anda tujukan?" tanya Rafly.
"Ibu saya. Ibu yang melahirkan saya." Jawab Marinka.
Deg
Deg
Deg
Jantung Lilian berdegup dengan kencang. Mata wanita parubaya itu sudah sembab, bahkan sejak pertama kali Marinka membuka kisahnya. Air mata Lilian tidak sanggup untuk tidak terjun bebas setelah mendengar semua penderitaan yang dialami putrinya.
"Kenapa dengan Ibu anda? kenapa tidak dengan ayah anda, atau keluarga yang lainnya? bukankah seorang ibu sangat berjasa telah melahirkan anda?"
"Justru karena itu saya lebih kecewanya pada sosok orang yang sudah melahirkan saya."
"Kenapa?" tanya Rafly.
"Karena semua orang mungkin bisa berlaku kejam terhadap putrinya, termasuk ayah saya. Tapi seharusnya tidak untuk seorang ibu. Saya juga seorang ibu mas Rafly, saat mengandung anak saya, tiap gerakkannya, tendangannya, begitu sangat saya rindukan sampai saat ini. Terlebih saat akan melahirkan, rasa sakitnya itu sangat luar biasa. Jadi bagaimana bisa sosok yang menjadi satu kesatuan dengan tubuh kita, bisa kita buang tanpa menoleh lagi kebelakang? ini potret seorang ibu yang sangat tidak bisa saya gambarkan meski dengan kata-kata, orang seperti ini sangat jelas sekali berhati keras dan kejam."
"Tapi itu tidak apa-apa mas Rafly, kata orang hidup adalah pilihan bukan? mungkin dengan membuang saya, itu adalah pilihan yang terbaik baginya."
"Maafkan aku sayang, ingin sekali aku mengatakan bahwa ibu Lilian adalah ibu kandungmu. Tapi ibu melarangku mengatakannya, karena dia ingin sendiri mengatakannya padamu," batin Ezra.
"Apa anda membencinya?" tanya Rafly.
"Tentu saja tidak. Sejahat apapun dia, dia tetap ibu saya. Saya berterima kasih sekali karena sudah melahirkan saya, dengan begitu saya bisa menemui macam-macam penderitaan, dan akhirnya bisa bertemu dengan suami yang luar biasa hebat." Jawab Marinka.
"Jadi anda tidak masalah ya? kalau suatu saat ibu anda tiba-tiba datang menemui anda, setelah menonton tayangan ini?" tanya Rafly.
Marinka terdiam. Sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya dan menatap mantap di depan kamera. Sementara itu Lilian harap-harap cemas, dengan wajah yang sudah dibanjiri dengan air mata.
TO BE CONTINUE....🤗🙏
__ADS_1