Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.130.Berkelas Bukan Murahan


__ADS_3

"Baiklah, kita berpisah disini saja Bu. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi," ujar Marinka sembari menyelempangkan tas yang dia bawa.


"Ya. Saya sangat mengharapkan hari itu datang lagi, saya ingin melihat anak-anakmu." ucap Lilian.


Meski Marinka tidak mengerti arah pembicaraan Lilian, tapi Marinka menganggap ucapan itu sebagai sebuah harapan seorang teman baru yang ingin berjumpa kembali dengannya. Marinka menyunggingkan senyum manis dan sedikit menundukkan kepalanya tanda pamit diri.


Air mata Lilian tumpah sembari menatap punggung Marinka yang semakin lama semakin menjauh, dan hilang dibalik tembok pembatas. Wanita parubaya itu mencengkram baju diarea dadanya, ada rasa sesak yang dia rasakan karena ingin memeluk putrinya itu namun belum kesampaian.


"Apa nyonya baik-baik saja?" tanya sang asisten pribadi.


"Saya baik. Mari kembali ke hotel." Jawab Lilian sembari menyeka air matanya dan kemudian memasang kaca mata hitamnya.


Disepanjang perjalanan menuju hotel, Lilian masih saja tidak berhenti menangis. Sejujurnya dia sangat bahagia bertemu dengan Marinka, namun rasa bahagia itu datang secara bersamaan dengan rasa sedihnya, karena belum bisa berterus terang dengan putrinya itu.


"Mas. Andai kamu masih hidup, kamu pasti sangat bahagia melihat putri kita. Dia tumbuh sangat baik, cara bicaranya mengingatkanku padamu. Begitu lembut dan teratur, andai kamu memiliki pusara pasti suatu saat aku akan mengajak dia menemuimu Mas," batin Lilian.


Lilian memejamkan matanya, mata itu terlalu lelah menangis, hingga tanpa sadar dirinyapun jatuh tertidur.


*****


Tap


Tap


Tap


Tok


Tok


Tok


Krieeekkkkk


Wanita cantik dan sexy didepan Sera menatap dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ini merupakan pertemuan kali ketiga bagi mereka berdua. Namun di pertemuan mereka yang kedua, Renata menatap dirinya tidak bersahabat. Wanita itu seolah ingin memperingatkan dirinya, bahwa Ando bukan seorang pria yang bisa dia raih dengan mudah.


"Siapa Re?" tanya Ando.


"Salah satu pelayan tokomu." Jawab Renata.

__ADS_1


Sera menjulurkan tangannya, memberi isyarat agar wanita didepannya segera menyingkir. Dan itu membuat Renata jadi tidak senang, namun sebisa mungkin dia tahan.


Ando mengerutkan dahi saat melihat penampilan Sera yang baru. Gadis itu terlihat cantik dan sexy, meskipun tidak mengenakan pakaian terbuka.


"Saya ingin menyerahkan laporan penjualan pada bulan ini tuan," ujar Sera tanpa menatap wajah Ando sama sekali.


Sera lebih sibuk membuka lembaran-lembaran kertas yang dia bawa, untuk diperlihatkan pada Ando. Sementara itu Ando menatap lekat kearahnya, namun Sera berpura-pura tidak melihat.


"Dia memanggilku tuan? apa dia sengaja ingin menciptakan jarak diantara kami? terus ada apa dengan perubahannya ini? aku tidak suka dia yang seperti ini," batin Ando.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Sepertinya Ando cukup terpengaruh dengan penampilan baru gadis ini. Aku harus bergerak cepat, aku nggak mau calon pohon uangku ditebang," batin Renata.


Sejujurnya saat ini sera dilanda gugup luar biasa. Dapat dia lihat dari ekor matanya, Ando menatap dirinya dengan tatapan yang tidak biasa. Dan itu membuat dirinya ingin segera pergi dari situ.


"Semuanya ada disini, saya pamit undur diri dulu tuan," ujar Sera.


Ando tidak menjawab ucapan Sera, pria itu menatap dirinya bertambah tajam, hingga terpaksa Sera memutus lebih dulu tatapan mereka yang sempat bertaut. Sera segera membalikkan badan, dan pergi.


"Ada apa dengan tatapanmu itu? apa kamu menyukai gadis itu?" tanya Renata.


"Tidak. Dia bukan tipeku." Jawab Ando sembari melihat semua berkas yang Sera berikan.


"Sepertimu." Jawabnya singkat.


"Jadi kamu menyukaiku?" tanya Renata antusias.


"Ya." Jawab Ando dengan wajah datar.


Tes


Dari balik pintu Sera menitikkan air matanya, namun secepat kilat dia menyekanya. Dia ingin menjadi gadis berkelas bukan wanita murahan seperti Renata. Sera bergegas pergi dari depan pintu itu, namun baru saja dirinya berjalan puluhan langkah, langkah itu terhenti karena Renata menghentikannya.


"Kamu pasti sudah mendengarnya bukan? aku tahu kamu menguping, jadi sudah jelas kalau Ando menyukaiku. So, jangan coba-coba menggodanya lagi," ujar Renata sembari mendorong sedikit bahu Sera.


Sera sedikit menepuk bahunya beberapa kali, seolah bekas sentuhan Renata merupakan noda yang harus dibersihkan. Sera kemudian mengembangkan senyum dan maju dua langkah untuk membuat jaraknya dan Renata semakin merapat.


"Tidak perlu mengancamku. Kalau kamu sudah merasa cantik, kenapa harus takut bersaing denganku? saat ini Ando sedang tersesat dan matanya kena katarak, jadi dia belum bisa membedakan mana coklat dan mana tahi ayam. Nanti kalau matanya sudah sembuh, siap-siap saja kamu dilempar dalam kandang ayam." Sera mendorong bahu Renata lumayan keras, hingga wanita itu sedikit terhuyung.


"Jangan coba-coba menindasku lagi. Karena aku tidak segan-segan merusak wajahmu dengan sepatu lancipku ini," sambung Sera.

__ADS_1


"Dasar wanita rendahan. Apa kamu sadar siapa dirimu itu? kamu itu cuma pelayan, jadi belajarlah tahu diri. Kamu ingin merusak wajahku? apa kamu itu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? aku ini calon nyonya pemilik tempatmu bekerja."


Hati Sera benar-benar panas mendengarnya, dia tidak perduli meskipun dia harus masuk penjara karena menghajar wanita didepannya itu. Dengan gerakkan cepat, dia melepas sepatu high hillsnya dan ingin menghajar Renata dengan sepatu itu. Namun sebelum sepatu itu benar-benar merusak wajah Renata, suara menggelegar menghentikan aksinya.


"Hentikan!" Suara Ando memecah kesunyian koridor itu.


Suara pria dibalik punggung Renata, membuat wanita itu menyunggingkan senyumnya. Sementara itu, tangan Sera masih saja diudara dengan barang bukti sepatu disana. Renata berbalik badan dan segera berhambur kepelukkan Ando.


"Ando. Pelayanmu ini ingin menindasku, aku sangat takut. Hikz..."


Ando menatap kearah Sera, pria itu tahu Sera masih diliputi emosi.


"Ando. Pecat saja dia, bagaimana kalau dia melukai orang lain? dia itu urakan sekali," sambung Renata.


Mata Sera dan Ando saling beradu. Ando dapat melihat salah satu tangan Sera terkepal erat dengan sedikit bergetar.


"Pergilah!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Ando.


Tanpa mengucapkan kata, Sera segera memasang kembali sepatunya dan berbalik badan. Gadis itu melangkah pergi diiringi air matanya yang tumpah ruah dipipinya.


Sera bergegas pulang, dia tidak lagi kembali kebutik. Dia ingin menenangkan diri.


"Dasar Ando si mata katarak. Suka sekali dengan janda bolong berhati sundal bolong. Aku sumpahin burungmu terjepit resleting," Sera ngomel-ngomel didalam kamarnya.


"Burung siapa yang terjepit resleting?" tanya Marinka yang tiba-tiba membuka pintu kamar Sera.


Sera menyeka sisa air matanya, Marinka menatap penampilan Sera yang terlihat berantakan.


"Kamu kenapa? apa ada yang menindasmu?" tanya Marinka.


"Noh...janda bolong. Kalau aja si Ando nggak ngehalangi, sudah kubuat seluruh wajahnya bolong-bolong sama sepatu lancipku ini," ujar Sera sembari menunjukkan sepatu hillsnya yang lancip.


"Dia ngapain kamu emangnya?" tanya Marinka.


"Ngehina aku. Aku paling nggak tahan dihina, meskipun yang dia bilang itu benar. Mending dia ngajakin aku gontok-gotokan daripada dia ngehina aku. Telinga sama hatiku jadi panas dengernya." Jawab Sera.


"Kamu ini sama sekali tidak berubah, hobi banget adu fisik. Ngadepin orang kayak gitu harus dengan cara elegant, ngapain udah gadis besar masih main gontok-gontokan?"


"Aku bukan kamu Rin. Aku itu nggak pandai adu mulut, pusing kepalaku dengar ocehannya. Mending kutampol mulutnya, biar puas hatiku."

__ADS_1


Marinka terkekeh, Sera sama sekali tidak berubah dimatanya. Marinka jadi teringat saat masa-masa SMA. Sera rela babak belur demi membela dirinya yang ditindas oleh kakak kelas. Sera memang tidak pandai berkata-kata, sangat bertolak belakang dengan dirinya. Tapi Marinka sangat bangga memiliki teman yang solidaritasnya tinggi seperti Sera.


__ADS_2