Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.129. Bertemu


__ADS_3

"Kamu sekarang lagi jalan dengan Renata?" tanya Ezra.


"Kenapa? nggak masalah kan?" ujar Ando.


"Ya enggak sih. Tapi apa kamu tidak ingin mempertimbangkan Sera? dia gadis yang baik, yang jelas si masih perawan."


"Aku tidak mempermasalahkan soal keperawanan, ternyata getaran itu masih ada saat aku bersama dia."


"Kamu masih suka sama dia?"


" Nggak tahu juga, tapi setelah jalan dengan dia akhir-akhir ini, aku merasa nyaman aja sama dia."


Ezra hanya bisa menghena nafas, tidak mungkin baginya memaksa Ando untuk mundur. Ezra takut Ando akan salah faham dan mengira dirinya akan merebut Renata darinya seperti waktu SMA dulu.


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Apapun itu aku akan selalu mendukungmu,"


"Makasih Zra,"


Tok


Tok


Tok


"Itu pasti dia," ujar Ando.


"Dia? siapa? Renata?"


"Emm." Ando mengangguk sembari berdiri ingin membukakan pintu.


Kriekkkk


"Masuklah!"


Renata melenggang masuk kedalam dan duduk disebuah kursi single. Matanya terbelalak saat menyadari pria yang duduk disebelahnya adalah mantan kekasihnya.


"Ezra?"


Ezra menatap Renata, wanita berusia 30 an itu memang terlihat lebih cantik dan sexy dari SMA dulu. Wanita itu juga terlihat matang dan berkelas.


"Apa kabar?" sapa Ezra lebih dulu.


"Baik. Aku tidak perlu bertanya kabarmu lagi, melihatmu disini pasti kamu sangat baik."


"Ezra terlihat jauh lebih tampan dan matang," batin Renata.


"Sudah punya anak berapa?" tanya Ezra.


Renata terkekeh mendengar pertanyaan Ezra. Pertanyaan itu terdengar lucu, meskipun dirinya memang sudah pernah menikah.


"Aku belum memiliki anak, karena saat menikah dulu aku menundanya.


"Menundanya? kenapa?"


"Aku tidak bahagia menikah dengan suamiku, dia sering melakukan KDRT padaku. Jadi aku diam-diam memasang alat kontrasepsi untuk menunda kehamilanku."


"Aku turut prihatin mendengarnya. Ya sudah, aku pergi dulu. Kalian bisa lanjutkan urusan kalian itu," ujar Ezra.


"Baiklah hati-hati." ujar Ando.


Ezra melangkah pergi keluar pintu tanpa menoleh lagi.


"Ndo. Aku ke toilet bentar," ujar Renata.


"Ya."

__ADS_1


Renata bergegas keluar, dia tidak ingin terlambat mengejar Ezra yang memiliki langkah yang besar.


"Ezra tunggu!" ujar Renata.


Ezra membalikkan tubuhnya dan melihat Renata yang tergesa-gesa menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Ezra.


"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Renata.


Ezra terdiam, pria itu jadi teringat saat di SMA dulu. Renata juga melakukan hal yang sama, padahal dirinya sedang dekat dengan Ando.


"Untuk apa?" tanya Ezra.


Renata terkejut dengan pertanyaan itu, mengingat Ezra yang selalu ramah dan baik hati pada semua orang. Dan Renata tahu persis seperti apa perangai pria didepannya itu.


"Tentu saja menjalin silahturahmi. Walau bagaimanapun kita pernah dekat, bahkan terlampau dekat kan?" tanya Renata sembari memasang senyum menggoda.


Ezra menyunggingkan senyumnya, dia tahu Renata saat ini sedang menggodanya.


"Maaf Re. Kita dari awal memang sudah saling mengenal, jadi meski silahturahmi itu tidak dipanjangkan, kita pasti akan baik-baik saja. Lagipula kita memiliki masa lalu yang tidak biasa, dalam arti kita pernah punya hubungan spesial. Sekarang aku sudah memiliki anak dan istri, aku tidak ingin kedekatan kita menjadi bumerang untuk rumah tanggaku. Jadi maaf ya? aku nggak bisa kasih kamu nomor ponselku,"


Renata tersenyum kecut, penolakkan yang Ezra lontarkan cukup membuat dirinya kehilangan muka. Terlebih setelah bicara, Ezra langsung melenggang pergi begitu saja.


"Sombong sekali dia?" ujar Renata sembari mengepal erat tangannya.


Sraaaaakkkkk


Ando menutup tirai jendela ruangannya, setelah melihat sesuatu diluar sana. Pria itu menyunggingkan senyumnya penuh arti.


"Amazing Ra, sumpah ini mah cantik dan sexy parah." puji Marinka saat melihat sahabatnya pulang dari berbelanja pakaian dan kesalon.


"masak sih Rin?"


"Ya masak kamu nggak lihat before after nya?"


"Kalau sudah kayak gini si Ando masih nggak lihat kamu juga, berarti mata si Ando kudu dikasih balsem biar melek," ujar Marinka sembari terkekeh.


"Nggaklah Rin. Sekarang aku udah mutusin, aku mau berubah bukan demi dia, tapi demi diriku sendiri. Anggap saja dia adalah motivasi agar aku bisa jadi lebih baik. Seperti yang kamu bilang, aku nggak mau dia melirikku hanya karena penampilanku."


"Hah...apapun itu, aku minta tolong padamu."


"Minta tolong apa?"


"Tolong jagain anak-anak, aku mau ke super market buat belanja kebutuhan anak-anak dan kebutuhan kita."


"Kamu kenapa nggak bilang? tadi aku bisa sekalin belanja buat kebutuhan kita dan anak-anak."


"Mana mungkin aku tega melihat dandanan cantikmu rusak karena belanja keperluan kita. Ya sudah tidak apa, kamu jagain anak-anak saja. ASIP ada dikulkas, aku udah stok disana."


"Ya udah. Hati-Hati."


"Emm."


Marinka melenggang pergi setelah meminta izin suaminya melalui via telpon. Marinka tidak ingin membuang-buang waktu karena ingin segera kembali kerumah.


"Nyonya. Target sudah keluar rumah,"


"Ikuti dia, aku akan keluar sekarang."


"Baik nyonya."


Lilian yang tengah santai, beranjak dari tempat duduknya dan bergegas pergi. Marinka yang sudah sampai di super market segera membeli barang-barang kebutuhan mereka. Setelah membeli keperluan anaknya, Marinka pergi ketempat buah-buahan berada. Sedang asyik memilih buah, Marinka dikejutkan dengan sesuatu yang terjatuh.


Brukkkkkkk

__ADS_1


Beberapa buah jeruk menggelinding, hingga ada yang berada tepat dibawah kakinya. Marinka dengan sigap membantu memunguti buah Jeruk itu, hingga terkumpul semuanya. Sementara itu Lilian tersenyum, matanyapun berkaca-kaca karena dia bangga mempunyai putri yang memiliki rasa perduli dengan orang lain, padahal disekitar situ banyak juga terdapat pengunjung yang melihat kejadian itu namun bersikap biasa saja.


"Terima kasih," ujar Lilian dengan senyum terbaiknya.


"Sama-Sama. Maaf, apa anda berasal dari Asia?" tanya Marinka.


"Ya. Saya berasal dari negara Indonesia."


"Indonesia? wah kebetulan sekali, saya juga berasal dari Indonesia," ujar Marinka.


"Benarkah? beruntung sekali jalan-jalan keluar negeri bisa bertemu dengan orang yang berasal dari satu negara. Apa anda menetap disini?"


"Hanya sementara, saya kuliah disini."


"Wah..bagus dong, pendidikkan memang harus di utamakan."


"Ya sudah Bu. Saya pamit pergi dulu,"


"Tunggu!" ujar Lilian.


"Ada yang bisa saya bantu lagi Bu?" tanya Marinka.


"Apa kamu sangat buru-buru? jika tidak, temani saya makan siang bersama," ujar Lilian.


Marinka mengerutkan dahinya, karena cukup merasa aneh.


"Ah...jangan salah faham, Ibu cuma mau mengucapkan terima kasih dengan cara makan siang bersamamu."


"Ibu tidak perlu melakukan itu. Itu bukan hal besar," ujar Marinka.


Lilian memasang wajah mendung, wanita parubaya itu bingung menemukan cara untuk menahan Marinka agar mau berbicara lama dengannya. Marinka menatap wajah sedih itu dan kemudian menghela nafasnya. Dia paling tidak tega melihat wajah orang tua yang murung bersedih, terlebih hanya ingin meminta hal sederhana seperti itu.


"Baiklah kita makan siang bersama, kebetulan saya juga belum makan."


Wajah Lilian cerah seketika. Mereka pun pergi ketempat makan yang ada di pusat perbelanjaan itu.


"Jadi ibu pergi liburan ke Paris sendirian?" tanya Marinka.


"Ya." Jawab Lilian singkat.


"Kenapa nggak pergi dengan keluarga ibu? dengan anak misalnya."


"Putraku sedang kuliah di kota J. Sementara putriku tidak tahu keberadaannya."


"Putri ibu hilang?"


"Lebih tepatnya karena kebodohan ibu sendiri."


Marinka terdiam. Dia tidak ingin mengorek luka hati Lilian lebih jauh lagi.


"Ibu lihat kamu beli popok bayi, buat anak siapa?" tanya Lilian.


"Buat anakku. Kebetulan saya sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar."


"Kembar?" Lilian terkejut.


"Ya kembar." Jawab Marinka.


Lilian tersemyum senang dalam hati. Wajar saja kalau Marinka bisa memiliki anak kembar, karena Dirham ayah Marinka memiliki saudara kembar juga, meskipun sudah meninggal sejak masih kecil. Kini keturunan kembar itu menurun pada Marinka, Lilian sangat senang mengetahui fakta itu.


"Apa dikeluargamu memiliki keturunan kembar?" tanya Lilian yang mengorek sedikit tentang apa yang Marinka rasakan.


"Saya tidak tahu. Jangankan mengetahui tentang keturunan, wajah ibu kandungku saja saya nggak pernah lihat."


Deg

__ADS_1


Jantung Lilian terasa ada yang menghantam. Ingin rasanya dia membawa Marinka kedalam pelukkannya, dan mengatakan dengan lantang bahwa dirinya adalah ibu kandungnya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2