Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.290. Sepakat


__ADS_3

Tring


Tring


Tring


"Ya?" Meiza menerima panggilan telpon dari nomor yang tidak dia kenal.


"Aku setuju dengan semua syarat yang sudah kita sepakati waktu itu," ujar Joana dari seberang telpon.


"Apa kamu sudah mengetahui kebenaran tentang Deryl?" tanya Meiza senang.


"Ya. Jangan lupa atur dirimu berada di rumah sakit. Mungkin dia akan mengirim orang untuk menyelidiki kebenaran tentang laporanku," ucap Joana.


"Baiklah aku mengerti. Lalu apa rencanamu kedepannya?" tanya Meiza.


Joana kemudian menceritakan tentang rencananya pada Meiza. Meiza mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah berhati-hatilah," ujar Meiza.


"Kamu perhatian pada orang yang akan merebut suamimu?" tanya Joana.


"Kata Ilyas dia sangat menyayangimu dan menganggapmu seperti adiknya. Sebelum kamu merebutnya dariku, maka aku akan menganggap kamu seperti adikku sendiri." Jawab Meiza.


Joana terdiam. Hanya ada keheningan diseberang telpon. Tidak berapa lama kemudian, tanpa mengucapkan kata apapun, Joana menutup telponnya.


"Apa itu Joana?" tanya Ilyas.


"Ya. Aku akan membuat diriku dirawat di rumah sakit sementara waktu. Anggap saja aku sedang badrest karena menanti kelahiran anak-anak." Jawab Meiza.


"Sampai berapa lama?" tanya Ilyas.


"Sampai situasi aman saja." Jawab Meiza.


Ilyas membawa Meiza dalam dekapannya. Dan sesekali mencium puncak kepala istrinya itu.


"Entah mengapa aku masih saja ketakutan saat ini. Joana itu gadis yang susah ditebak dan berdarah dingin," ujar Ilyas.


"Apa dia pernah membunuh anak-anak?" tanya Meiza.


"Setahuku tidak pernah. Waktu itu pernah Deryl menyuruhnya melenyapkan satu keluarga. Namun dikeluarga itu terdapat seorang anak kecil dibawah umur 5 tahun. Joana tidak membunuh anak itu, dan langsung meninggalkannya begitu saja setelah selesai dengan tugasnya." Jawab Ilyas.


Meiza tampak terdiam dan berpikir. Sesaat kemudian dia mengembangkan senyumnya.


"Apa mungkin menurutmu dia mengajakku bernegosiasi karena tidak tega membunuh anak-anak kita?" tanya Meiza.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Ilyas.


"Meski dia pembunuh berdarah dingin, tetap saja dia seorang wanita dan akan menjadi calon seorang ibu nantinya. Mungkin beban moralnya sangat berat, kalau dia harus melengapkan anak-anak yang tidak berdosa. Bukankah dia seorang anak yatim piatu juga?"


"Cukup masuk akal," ujar Ilyas.


"Lagipula dia bilang sudah mengetahui kebusukkan Deryl," ucap Meiza.


"Benarkah?" tanya Ilyas.

__ADS_1


"Sepertinya akan mudah mengarahkan Joana ke jalan yang kebih baik," ujar Meiza.


"Aku tidak yakin, karena Joana gadis yang tidak mudah ditebak bola pikirkan. Itulah sebabnya sekian tahun bersama, aku sama sekali tidak tahu kalau dia menyukaiku," ucap Ilyas.


"Mau bertaruh denganku?" tanya Meiza.


"Bertaruh apa?"


"Menurutku Joana pasti akan melepaskanmu." Jawab Meiza.


"Bagaimana kalau tidak?"


"Sesuai kesepakatan. Kamu harus pergi bersamanya." Jawab Meiza.


Greppppp


Ilyas memeluk erat Meiza. Sementara Meiza, tanpa Ilyas tahu menyembunyikan senyum di dada pria itu.


"Kamu jangan menakutiku. Aku tidak mau berpisah denganmu. Kalau kita sampai pisah, apa gunanya aku sembuh? lebih baik aku lumpuh selamanya," ujar Ilyas.


"Ya jangan gitu juga dong. Tetap harus semangat buat sembuh. Lagian kan Joana gadis yang cantik," ujar Meiza.


"Secantik apaun dia. Yang aku mau cuma kamu. Karena kamulah aku berada disini sekarang. Karena kamu aku semangat menjalani terapi. Kalau tidak, mending aku nggak ada saja di dunia ini," ucap Ilyas.


Hap


Meiza menutup mulut Ilyas dengan telapak tangannya.


"Jangan bicara sembarangan lagi. Aku tidak bisa tanpa kamu. Lebih baik aku melihatmu bersama Joana, yang jelas akan menjagamu dengan baik. Daripada aku tidak bisa melihatmu lagi di dunia ini," ucap Meiza.


"Mana mungkin aku rela melepaskanmu untuk wanita lain? tapi kalau memang keadaan tidak memungkinkan, mungkin untuk sementara kita memang harus dipisahkan dulu. Asalkan wanita itu Joana, aku percaya dia bisa menjagamu dengan baik." Jawab Meiza.


Sementara itu di tempat berbeda, Abizard tengah menerima laporan dari anak buahnya tentang gadis yang ingin dia selidiki.


"Apa yang kalian temukan tentang gadis itu?" tanya Abizard.


"Dia gadis keturunan Rusia dan Indonesia. Dia tinggal disebuah kontrakkan yang sudah dibayari oleh seseorang. Usia gadis itu baru 23 tahun. Dia seorang yatim piyatu." Jawab salah seorang kepercayaan Abizard.


"Seseorang? siapa?" tanya Abizard.


"Deryl." Jawab pria itu.


"Deryl? ada hubungan apa dia dengan perjaka tua itu?" tanya Abizard.


"Dia bekerja untuk Deryl." Jawab pria itu.


"Berikan alamat kontrakkannya padaku," ujar Abizard.


Pria bertato itu menuliskan alamat kontrakkan Joana disecarik kertas. Abizard tersenyum senang.


"Kirimkan sebuket bunga mawar merah ke kontrakkannya. Tulis kartu ucapan 'Aku mencintaimu'. Dengar tidak?" tanya Abizard.


"De-Dengar bos."


"Kerjakan. Mumpung masih pagi," ujar Abizard sembari bangkit dari tempat duduknya.

__ADS_1


Abizard yang masih mengenakan piyama bergegas mandi. Karena dia berniat menemui Joana secara langsung.


Tok


Tok


Tok


Mata Joana terbuka sempurna saat mendengar ketukan dipintu kontrakkannya. Sudah hampir 10 tahun dia menyewa kontrakkan itu, namun tidak pernah sekalipun ada yang pernah mengetuk pintu. Termasuk yang punya kontrakkan.


Sebenarnya Deryl sudah ingin membelikan rumah untuknya, namun Joana menolak. Dia lebih suka tinggal dirumah yang kecil, karena dia tidak suka pekerjaan wanita yang harus merawat rumah. bentuk isi kontrakkannya saja sudah tidak karuan. Jika orang melihatnya, tentu orang akan menyangka yang tinggal dikontrakkan itu adalah seorang laki-laki.


Joana bangkit dari tempat tidur. Dan mengintip dari tirai jendela.


"Hanna florist?" ucap Joana lirih, saat melihat tulisan dibaju pegantar bunga.


Krieeekkk


"Ada apa?" tanya Joana.


"Maaf nona. Saya ditugaskan buat mengantarkan bunga pesanan anda," ujar pria yang tingginya hanya sebatas telinga Joana.


"Maaf tapi saya tidak pernah memesan bunga. Saya juga tidak suka bunga." Jawab Joana.


"Ini pemberian seseorang untuk anda. Tolong diterima, saya cuma bertugas mengantarnya saja,"


Joana akhirnya menerima bunga itu, agar pria kerdil dimatanya itu segera pergi dari rumahnya.


"Aku mencintaimu. Ckk...lagi-lagi orang gila. Jangan-Jangan salah kirim," ujar Joana lirih.


Joana kembali menutup pintu rumahnya, dan meletakkan bunga itu dimeja begitu saja. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, saat Joana memutuskan untuk tidur kembali.


Tok


Tok


Tok


"Ckk...siapa lagi sih? baru juga tidur sebentar," gerutu Joana.


Tanpa Joana sadari dirinya sudah 3 jam mengulang tidur kembali. Dengan rambut berantakan, dan hanya mengenakan tanktop juga celana hotpant, Joana membuka pintu tanpa mengintip lewat jendela terlebih dahulu.


Kriekkkkkk


Abizard mengunggingkan senyum, saat melihat muka bantal Joana.


"Siapa?" tanya Joana dengan mata yang belum melek sempurna.


"Siang baby," ujar Abizard.


Mata Joana langsung melotot, saat matanya sudah bisa melihat Abizard dengan jelas.


"Kamu? kamu kenapa ada disini?" tanya Joana.


Tanpa menjawab ucapan Joana, Abizard masuk kedalam, dan melihat suasana kontrakkan Joana.

__ADS_1


__ADS_2