
Yuanita menyipitkan matanya saat melihat kedatangan mobil sport mewah yang ia kenal. Mata wanita itu semakin menyipit, saat melihat Ezra membukakan pintu untuk wanita yang dia kenal juga namun tidak begitu akrab.
"Hai..."Sapa Jihan pada Yuanita.
"Oh..hai...kamu sudah balik dari Amrik?"
"Ya. Kami kesini karena ingin minta dibuatkan baju untuk moment sakral kami nanti,"
Yuanita melirik kearah Ezra, sementara yang dilirik pura-pura tidak melihat .
"Oh gitu? kalau gitu jangan buang-buang waktu lagi, kamu langsung naik keatas saja. Pegawaiku akan langsung mengukur, ukuran pakaian yang kamu inginkan."
"Baiklah, aku naik keatas dulu kalau begitu."
Jihan bergegas naik keatas, sementara Ezra masih tetap dibawah. Dia tahu Yuanita ingin minta penjelasan padanya.
"Kami sudah menandatangani surat perceraian,"
"Aku tidak bertanya soal itu. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu tolol dipelihara? apa mata dan hatimu sudah buta? Marinka kurang apa? dia cantik, sexy, dan juga baik hati. Kamu akan menyesal sudah mencampakan wanita seperti dia,"
"Aku mencintai Jihan."
"Apa kamu sama sekali tidak ada hati dengan Marinka?"
Ezra terdiam, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Setelah Marinka pergi, Dia seperti merasa ada yang hilang. Ezra juga kesulitan tidur, dan kebiasaannya berteriak meminta dipasangkan dasi juga masih terbawa-bawa.
"Mungkin saja aku sudah jatuh cinta padanya, tapi Yu, aku tidak mungkin menghianati Jihan kan? hubungan kami bukan sehari dua hari, aku tidak ingin menyakiti hatinya. Lagipula aku sudah berhutang nyawa dengannya."
"Bodoh. Kalau itu masalahnya, berarti perasaanmu terhadap Jihan bukanlah cinta sejati, tapi atas dasar utang budi. Kalau kamu memilih Marinka, bukan berarti kamu sudah menghianati Jihan. Malah sebaliknya, tanpa kamu sadari, kamulah yang sudah menghianati Marinka, karena dia istri sah mu, semetara Jihan hanya status pacarmu."
Ezra terdiam. Pria itu semakin dilema, sekilas dia jadi teringat kebersamaannya dengan Marinka. Sudah 3 hari dia tidak melihat wanita itu, hatinya sedikit terusik karena menahan Rindu.
"Aku sih terserah kamu saja Zra. Sebagai sahabat aku hanya mengingatkan, aku takut kamu menyesal. Lalu bagaimana respon orang tuamu?"
"Aku akan menikah tanpa restu mereka."
"Astaga Zra...apa cinta sudah membuat mata dan hatimu sudah buta? mereka orang tuamu Zra, kamu rela membuang mereka demi Jihan yang bukan siapa-siapa? ada apa denganmu sebenarnya?" Yuanita sedikit emosi.
"Aku tidak membuang mereka, mereka yang ingin membuangku karena aku bersikeras ingin menikahi Jihan."
"Sama saja. Sumpah ya, aku jadi ikutan kesal."
Tanpa banyak bicara lagi, Yuanita langsung naik keatas, karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya. Sementara itu Ezra menyandarkan tubuhnya disofa, tanpa sadar Ezrapun tertidur.
"Abang...abang...adek kangen sama abang,"
Blammm
Mata Ezra tiba-tiba terbuka, kepalanya menoleh kekanan dan kekiri. Suara Marinka begitu terdengar jelas ditelinganya.
"Hah...ternyata cuma mimpi, sepertinya aku yang merindukan dia saat ini. Secepatnya aku harus bertemu dengan dia,"
Ezra mengusap wajahnya, entah mengapa perasaannya menjadi gelisah tak menentu.
"Sayang,"
__ADS_1
"Sudah?"
"Ya."
"Kita pulang sekarang,"
"Emm."
"Yu..."
"Ya." Yuanita menjawab dengan malas.
Sepanjang perjalanan pulang Ezra diam membisu, Jihan yang tengah asyik bermain ponsel sama sekali tidak menyadari perubahan yang terjadi pada Ezra.
"Sayang. Apa kamu tidak masalah kalau kita menikah sirih dulu?" tanya Ezra.
"Kenapa begitu?"
"Perceraian akan membutuhkan waktu yang cukup lama, kalau kamu mau menunggu tidak masalah."
"Ya sudah, yang penting kita menikah saja dulu."
Setelah memakan waktu hampir 25 menit, mereka tiba di apartement milik Jihan. Apartement hadiah dari Ezra saat gadis itu berulang tahun dua tahun yang lalu.
"Masuk dulu yuk?"
"Nggak usah, aku ada perkerjaan yang harus aku selesaikan."
"Ya sudah. Hati-Hati ya?"
Setelah berpamitan, Ezra menginjak gas mobilnya. Dan disinilah mobil itu berakhir, disalah satu apartement mewah yang pernah Ezra beli buat Marinka.
Sejenak Ezra merasa ragu untuk menekan bel apartement itu, tapi karena ada dorongan ingin bertemu, Ezra akhirnya menekan bel itu beberapa kali.
"Kemana dia? apa dia masih kuliah?"
Ezra membuat panggilan untuk Marinka, namun nomor Marinka sama sekali tidak aktif.
"Ckk...apa batre marinka habis?"
Setelah menunggu cukup lama, Ezra kemudian memutuskan untuk pulang.
*****
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Rehan.
"Ya."
"Tarik nafasmu dalam-dalam, sebelum pergi pikirkan dulu matang-matang. Aku tidak mau kamu menyesal," ujar Rehan.
"Tidak Re. Keputusanku sudah bulat, aku tidak ingin balik belakang lagi,"
"Baiklah, kita berangkat kalau begitu."
Rehan, Marinka dan Sera menarik koper mereka menuju bandara. Marinka memejamkan matanya, ketika wanita itu sudah berada didalam pesawat.
__ADS_1
"Selamat tinggal bang, maaf aku pergi tanpa pamit denganmu. Adek Do'akan semoga kalian bahagia, jika memang Tuhan mengizinkan kita pasti bertemu lagi."
Marinka mengusap-usap perutnya, sekuat mungkin Marinka menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Maafkan mama nak, Mama harus membawa kalian pergi jauh dari papamu. Tapi mama janji, suatu saat kalian akan bertemu dengan papamu."
Bukan tanpa alasan Marinka menyebut kata kalian pada anak-anaknya, karena kemarin ingin mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter, Marinka kembali memeriksakan kandungannya. Marinka yang ingin melihat kondisi anaknya, melakukan USG disalah satu klinik yang dekat dari kontrakan sahabatnya.
Marinka sangat terkejut, saat dokter mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung bayi kembar. Rasa sedih, bahagia bercampur jadi satu.
"Tuhan memang maha adil, disaat aku ditinggalkan dua kali oleh orang yang aku cintai, Tuhan malah mengirimkan aku dua orang anak untuk menghibur kesedihanku. Mama tidak akan menyia-nyiakan kalian,"
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya burung besi itu membawa Marinka terbang bersamanya. Membantu Marinka meninggalkan semua kenangan pahit dan manis, membantu Marinka mengejar impian di negara yang sangat ingin Marinka datangi.
Tes
Air mata Marinka lagi-lagi terjatuh, ada rasa pedih dihatinya.
"Selamat tinggal bang, selamat tinggal papanya anak-anak."
Sera menoleh kearah sahabatnya yang sedang memejamkan mata. Gadis itu tahu betul perasaan Marinka saat ini, hati Marinka benar-benar sedang terluka.
*****
"Sayang. Jalan yuk? ini malam minggu, aku pengen dinner sama kamu," ujar Jihan.
"Baiklah. 30 menit lagi akan ku jemput,"
"Oke."
Jihan mengakhiri panggilan telpon itu. Sementara itu Ezra menghela nafasnya, sejujurnya dia menyetujui ajakan Jihan karena ingin meringankan rasa berat yang dia rasakan saat ini. Sudah dua hari Marinka tidak bisa dihubungi dan ditemui. Ezra sama sekali tidak menyadari bahwa Marinka saat ini sudah pergi jauh.
Sesuai janji, Ezra datang menjemput Jihan buat dinner disalah saru restaurant mewah.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Jihan.
"Pesan menu yang sama denganmu,"
"Aku pengen makan ini, ini, ini dan ini."
"Ya terserah saja."
Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, akhirnya semua hidangan memenuhi meja. Ezra tahu mereka tidak mungkin bisa menghabiskan semuanya, namun seperti itulah kebiasaan tiap kali makan bersama Jihan.
Ezra melihat bill yang mereka habiskan untuk sekali makan. Angka dengan 3,8 jt bagi Ezra adalah perkara kecil baginya, hanya saja dia jadi teringat dengan Marinka. Mereka bisa hanya menghabiskan uang kurang dari 100rb tiap kali makan.
"Sayang. Minggu depan kita akan menikah, aku pengen kamu menginap di apartementku malam ini. Tidak ada kata penolakkan," ujar Jihan.
"Tapi..."
"Sayang. Kamu kenapa sih? minggu depan kita sudah mau menikah, kenapa kamu masih saja kaku."
"Hah...baiklah,"
Jihan menyunggingkan senyumnya karena merasa Ezra masih dalam kendalinya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏