Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.100. Pembalasan


__ADS_3

Regia dengan gamblang menceritakan semua kejadian malam itu, ditemani air matanya yang sudah membasahi wajahnya. Mendengar itu tubuh Yuda jadi menegang dan segera memeluk erat Regia.


"Stop! jangan teruskan," Yuda semakin mengeratkan pelukkannya pada gadis itu.


"Maaf...maafkan aku sayang, semua ini terjadi karena kebodohanku. Gara-Gara aku kamu jadi menderita," air mata Yuda jadi ikut terjatuh.


"Tuan jangan menyalahkan diri sendiri, aku mengaku atau tidak, orang itu pasti akan tetap melecehkan aku. Aku hanya tidak ingin tuan celaka, itulah sebabnya aku berkorban sedikit."


"Gadis bodoh, sedikit apanya? kamu benar-benar membuat perasaanku jadi buruk. Lagipula aku tidak perlu dilindungi oleh seorang wanita." Yuda mencium puncak kepala Regia.


"Tuan,"


"Hem?"


"Apa kamu yakin masih menerimaku apa adanya? aku tidak ingin di kasihani,"


"Aku sudah bilang padamu, aku mencintai dirimu, sikap dan kepribadianmu. Bukan selaput darahmu itu,"


"Tuan, bagaimana kalau dia menyebarkan video itu? aku mengkhawatirkan ibu,"


"Kamu tenang saja, percayakan semuanya padaku. Aku pastikan dia tidak akan mengganggumu lagi,"


"Emm," Regia mengangguk.


"Jihan. Beraninya kamu berbuat seperti itu pada kekasihku. Aku pastikan mulai saat ini kamu akan sulit bertemu matahari," batin Yuda.


Yuda melerai pelukkannya pada Regia, dan menyelipkan rambut gadis itu kebelakang telinga.


"Kamu jangan sedih lagi ya? mulai hari ini, setiap ada masalah, kamu harus bercerita padaku. Jangan pernah memendamnya sendiri lagi oke?"


"Emm."


"Aku mencintaimu Regia,"


"Aku juga sangat mencintaimu tuan,"


"Ckk...kamu ini menghancurkan suasana romantis saja. Kenapa masih memanggilku dengan sebutan tuan?"


"Ja-Jadi aku harus memanggil apa?"


"Apa saja, asal jangan tuan."


"Ma-Mas Yuda?"


Yuda menyunggingkan senyumnya sembari mengangguk.


.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Yuda.


Regia menggelengkan kepalanya dan tiba-tiba perutnya terasa lapar.


"Mau makan diluar?"


"Nggak PD, mataku lagi bengkak." Regia menggelengkan kepalanya.


"Temani aku ke dapur, aku akan membuatkan makanan untukmu,"


"Mas Yuda bisa masak?"


"Jangan meremehkan kekasihmu ini, kamu akan ketagihan setelah mencicipi masakkanku."


"Aku jadi ingin mencobanya,"


"Ayo kita keluar kamar,"


"Emm."


Yuda kemudian melihat stok dalam kulkas Regia. Tidak banyak yang bisa dia temukan didalam sana, selain ikan dan sedikit sayuran. Setelah menunggu hampir 35 menit, dua ekor ikan lele, sayur capcay dan sambal siap untuk disantap.

__ADS_1


"Enak?"


"Emm." Regia mengacungkan jempolnya tanpa bersuara.


"Makan yang banyak," Yuda mengelus lembut pipi Regia.


"Makasih ya Mas." Regia tersenyum.


"Regia. Mas janji sama kamu, ini air mata terakhirmu karena kebodohanku. Kedepannya hanya ada kebahagiaan yang akan menghampiri hidupmu," batin Yuda.


"Mas makan juga dong,"


Regia menyodorkan makanan, langsung dari tangan Regia. Yuda membuka mulutnya, bahkan Yuda menjilat semua nasi yang ada dijari-jari kekasihnya itu.


"Mas nggak merasa jijik?"


"Kenapa harus jijik? jari-jari calon istri sendiri." Jawab Yuda.


Mendengar gombalan Yuda, Regia jadi tersipu malu, hingga dia sudah lupa dengan kesedihannya beberapa hari ini.


"Teruslah tersenyum dan bahagia. Mas tahu, tidak mudah bagimu untuk menghapus trauma yang kamu alami akibat kebodohan Mas. Tapi Mas janji akan mengganti semua kesedihan dan rasa sakitmu dengan kebahagiaan yang berlimpah,"


Mendengar ucapan Yuda, mata Regia jadi berkaca-kaca. Yuda menghapus air mata Regia dengan punggung jari telunjuknya kemudian menggelengkan kepalanya.


"Mas harap ini air mata terakhir yang..."


"Tidak Mas. Aku akan selalu menangis kalau Mas Yuda terus saja membuat aku terharu,"


Yuda menyunggingkan senyumnya dan menyodorkan segelas air minum, karena Regia menyudahi makannya.


"Mas pulang dulu ya? ada hal penting yang harus Mas kerjakan."


"Ya. Hati-Hati," ujar Regia sembari mengantar Yuda hingga kedepan pintu.


Greppppp


Yuda memeluk Regia dengan erat, seolah pelukkan itu sangat takut kehilangan gadis itu. Regia tersenyum menerima pelukkan hangat itu, gadis itu benar-benar merasa bahagia saat ini.


Ting tong


Ting tong


Jihan mengintip dari lubang pengintaian, untuk mengetahui siapa yang datang. Jihan mengerutkan dahinya saat melihat kedatangan Yuda.


"Kenapa Yuda kemari? apa Ezra berubah pikiran dan memberikan uang 500 milyar itu untukku?"


Jihan begitu semangat memutar kunci pintunya. Hingga saat pintu terbuka, tangan kekar Yuda langsung bertengger dilehernya sehingga membuat dirinya kesulitan bernafas dengan wajah yang memerah.


Pak


Puk


Pak


Puk


Jihan berjuang memukul tangan Yuda, agar pria itu melepaskan cengkraman tangan dilehernya.


"Bagaimana rasanya? apa sudah merasa dekat dengan kematian?" tanya Yuda sembari semakin mengeratkan cengkraman tangannya.


"Berani-Beraninya kamu menyuruh orang untuk menodai Regia? sungguh nyalimu begitu besar Jihan, aku akan membuatmu lebih menderita lagi dari yang Regia rasakan saat ini."


Yuda menghempaskan Jihan, hingga gadis itu tergeletak dilantai.


"Uhukkkk," Jihan terbatuk, gadis itu bisa bernafas setelah Yuda melepaskan cekikkan dileher gadis itu.


"Yuda. Apa kau sudah gila? kamu ingin membunuhku?"


"Membunuhmu? itu hukuman yang terlalu ringan bagimu, aku akan membuatmu jauh lebih menderita lagi dari kematian. Mana ponselmu!" hardik Yuda.

__ADS_1


.


Jihan melirik kearah ponselnya, namun gerakkan itu tertangkap oleh Yuda.


Brukkkk


Lagi-Lagi Yuda mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh ke lantai. Yuda memeriksa video Regia, dan menghapusnya setelah menemukannya.


"Apa hubunganmu dengan gadis sialan itu?"


"Kamu yang sialan! seluruh keluargamu sialan! jangan bicara buruk lagi tentang kekasihku, atau mulutmu akan ku robek-robek."


"Oh jadi dia kekasihmu? tanyakan pada kekasihmu, kembalikan uangku!"


"Uangmu? itu bukan uangmu, itu uang Ezra. lagipula itu bukan salah Regia, karena sebenarnya akulah si peneror itu."


"Yuda brengsek! kembalikan uangku brengsek!"


"Kamu yang brengsek, sialan! telpon si pemerkosa itu, katakan untuk menemuimu di jl. XX. Katakan kamu ingin bertemu dan ingin memberikan job baru. Cepat!"


"Aku tidak mau."


"Apa kau yakin? baiklah, itu adalah pilihanmu. Aku bisa menangkapnya, meskipun tanpa bantuanmu sekalipun."


"Tuan," dua orang berbaju hitam baru tiba di apartement Jihan.


"Bawa wanita ini! jika menolak, seret saja seperti seekor anjing. Bawa dia kemarkas! jaga dia jangan sampai lolos."


"Baik tuan."


Yuda berjalan lebih dulu dan pulang kerumahnya.


*****


"Mau dibawa kemana aku? Yuda lepaskan aku, masukkan saja aku kepenjara." ujar Jihan Ketakutan.


"Penjara? penjara terlalu enak buat kamu. Lagipula aku sudah membuat penjara khusus untukmu," ujar Yuda sembari menyeringai.


"Apa penjara khusus buat dia sudah siap?" tanya Yuda pada anak buahnya.


"Sudah tuan."


"Aku tidak menyangka, ada saatnya aku benar-benar memasukkan orang kedalam sumur," Yuda tertawa keras.


"Su-Sumur? Yuda, apa kau sudah gila? aku bisa mati tenggelam."


"Oh tentu saja tidak tenggelam. Kamu tenang saja, sumurnya tanpa air kok. Kalau berair tentu saja kamu akan mati dengan mudah, tapi aku tidak ingin kamu mati dengan mudah. Aku ingin membuatmu hidup segan mati tak mau. Ayo, lemparkan dia kedalam sumur!" ujar Yuda.


"Yuda... tidak Yud...ku mohon lepaskan aku! aku minta maaf sudah menyinggungmu Yud, kumohon lepaskan aku!"


Yuda sama sekali tidak menghiraukan jeritan Jihan. Pria itu juga ingin melihat Jihan dijatuhkan didalam sana.


Brukkkk


"Auuuuu" Jihan meringis kesakitan saat dirinya terlempar kedasar sumur tanpa air itu. Sumur dengan kedalaman 5 meter itu memang tidak terlalu sempit, namun masih membuat Jihan ketakutan.


"Lemparkan kecoa!" ujar Yuda.


Jihan yang merasa geli, tanpa pikir panjang langsung menginjak mati beberapa kecoa.


"Oh, berani dengan kecoa ya? kalian, lemparkan tikus got nya!"


"Ap-Apa tikus?" ucap Jihan lirih, yang mendengar ucapan Yuda.


"Yuda kumohon jangan, aku takut Yud. Tolong jangan Yud, aaaakkkhhhhh" Jihan menjerit ketakutan saat melihat tikus hitam dan besar masuk kedalam sumur itu.


"Itu belum seberapa, tunggu sampai pria itu berhasil kutangkap. Akan ada banyak kejutan untukmu," Yuda menyeringai dan meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Jihan yang sudah sangat ketakutan jadi tidak sadarkan diri. Tidak sampai 24 jam, anak buah Yuda berhasil menangkap orang suruhan Jihan. Yuda sangat puas, karena akhirnya dia memiliki mainan baru setiap harinya.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2