Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.190. Kesepakatan


__ADS_3

"Bunda kabur dari rumah saat mereka sedang lengah. Saat itu pelayan sedang memberiku makan siang, dan bunda menggunakan kesempatan itu buat mengelabuhi pelayan rumah. Bunda kemudian menemui ayahmu, dan beruntung saat bunda mengatakan tentang kehamilan bunda, ayahmu bersedia bertanggung jawab."


"Kamipun memutuskan untuk kawin lari, dan sama-sama meninggalkan keluarga kami. Tapi naasnya kaburnya bunda begitu cepat diketahui, dan mereka mengerahkan banyak orang untuk menyeretku kembali pulang."


"Loh kenapa bunda tidak meminta restu saja? membawa ayah kerumah,"


"Bunda sudah mencobanya. Tapi keluarga kita tidak sesederhana seperti yang kamu pikirkan. Mereka tidak merestui hubungan kami, karena latar belakang keluarga ayahmu hanya orang biasa. Sementara bunda seorang gadis bangsawan keraton."


"Ap-Apa? bangsawan keraton?" Marinka terkejut.


"Ya. Kita masih keturunan darah biru. Itulah semuanya diatur sesuai hukum keraton. Sudah susah payah bunda ingin membuat perubahan, bunda tidak suka hidup terikat dengan banyak aturan. Itulah sebabnya bunda selalu berontak. Namun keras kepala bunda berdampak buruk dengan kehidupan bunda di masa depan. Saat akan kawin lari, mobil kami yang dikendarai oleh ayahmu, di hadang oleh orang suruhan eyangmu. Saat itu bunda dibius dan tidak sadarkan diri, dan saat bunda sudah siuman, bunda melihat ada kepulan asap dari dasar jurang."


"Apa yang terjadi?" tanya Marinka.


"Ayahmu beserta mobil itu jatuh ke jurang." Jawab Lilian dengan menitikkan air mata.


Sementara Marinka jadi ikut menitikkan air mata, sembari menutup mulutnya.


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Marinka.


"Bunda kembali di seret pulang, dan dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Bunda kemudian dipaksa meminum ramuan penggugur kandungan, namun bunda berusaha menolak meskipun bunda harus membayarnya dengan menerima tamparan yang keras bertubi-tubi."


"Dan di saat bunda sedang tidak berdaya, datanglah Romo Mario, dia menawarkan diri untuk jadi suami bunda dan bersedia menerima bunda apa adanya. Dengan syarat harus jadi istri kelima, dan janin itu harus dilenyapkan. Tentu saja kedua orang tua bunda langsung setuju. Karena mereka menganggap kehamilan bunda adalah aib, dan orang yang melamar bunda itu juga seoarang keturunan bangsawan."


"Jadi bunda setuju menjadi istri kelima?"


"Ya. Bunda terpaksa, demi anak bunda yang ada diperut bunda."


"Bukankah syaratnya janin itu harus di hilangkan?"

__ADS_1


"Ya. Tapi bunda membuat kesepakatan. Bunda setuju jadi istrinya sampai bunda melahirkan dan bayi itu tidak boleh di bunuh, melainkan dititip ke panti asuhan. Setelah kamu di titipkan kesana, bunda kemudian menikah dengan pria itu. Pria keras dan kejam. Banyak keanehan selama bunda menikahinya. Satu persatu istri-istrinya jatuh sakit dan meninggal. Hanya tinggal bunda yang bertahan, dan diapun menjadikan bunda istri satu-satunya hingga dia mangkat."


"Apa bunda bahagia hidup dengannya?" tanya Marinka yang membuat Lilian terkekeh.


"Selama puluhan tahun menikah dengannya, baru 4 tahun belakangan bunda merasakan hidup bebas. Hidup bergelimang harta tidak menjamin kebahagiaan. Sifat pria itu sangat kejam, selain dia pencemburu. Bahkan sejujurnya bunda tidak rela dia meniduriku. Kalau bunda menolak, dia tidak segan-segan memukul dan melakukan hubungan dengan kasar."


"Selama puluhan tahun bunda nyaris tidak pernah keluar rumah. Kalau ketahuan akan disiksa. Padahal bunda ingin sekali menemuimu, namun bunda seperti hidup di penjara."


"Pernah suatu ketika bunda hampir berhasil kabur. Tapi bunda diancam, kalau bunda kabur maka kamu akan mereka lenyapkan. Bunda benar-benar tidak berdaya, bunda kemudian kembali dengan suka rela, menahan semua rasa sakit dan penderitaan, agar kamu bisa bertahan hidup."


"Bunda. Hikz...."


Marinka berhambur kepelukkan Lilian sembari terisak.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Bunda ikhlas mengorbankan hidup bunda, demi kelangsungan hidup anak-anak bunda," ujar Lilian sembari mengusap rambut panjang Marinka.


"Justru bunda yang merasa bersalah. Selama perpisahan kita, kamu menjalani kehidupan yang tidak jauh lebih baik dari bunda. Oh ya bagaimana kabar mantan suamimu dan madumu itu? apa kamu tidak ingin mengurusnya dengan cepat?" tanya Lilian.


"Sudah. Ternyata konspirasi pembunuhan itu bukan dilakukan oleh mantan suamiku, tapi dilakukan oleh maduku dan ibunya."


"Bukankah dia yang mengadopsimu? kenapa dia tega sekali?"


"Jawabannya cukup sederhana, karena aku bukan anak kandungnya. Selama 14 tahun bersama, ternyata tidak membuat dia bisa menyayangiku dengan tulus. Semuanya penuh kebohongan dan kepalsuan."


"Lalu mantan suamimu? apa kamu melepaskannya begitu saja?"


"Dia sudah mendapat karmanya sendiri. Tapi lebih tepatnya karma yang di buat oleh bang Ezra. Sekarang dia sudah bangkrut dan berada dirumah sakit jiwa."


"Kenapa?" tanya Lilian.

__ADS_1


"Dia memprovokasi bang Ezra dengan membuatnya cemburu. Pria tidak punya malu itu berusaha mendekatiku lagi dan ingin aku bersama dia. Tentu saja itu membuat bang Ezra marah, jadilah dia membuat pria itu bangkrut. Karena tidak tahan hidup miskin, dia jadi gila dan berakhir dirumah sakit jiwa."


"Hah...akhir yang sangat buruk. Semua perbuatan buruk pasti akan selalu ada ganjarannya," ujar Lilian.


"Jadi tempat ini sudah resmi menjadi milik bunda?" tanya Marinka.


"Itulah yang bunda pusingkan saat ini. Almarhum memiliki seorang adik yang sangat serakah. Dia menginginkan semua ini jatuh ketangannya. Termasuk perkebunan, sawah dan usaha leluhur lainnya."


"Sebenarnya bunda tidak ada masalah dengan semua itu. Bunda juga sudah tua, Mario juga sudah hampir selesai kuliah. Harta benda juga tidak akan dibawa mati. Tapi yang jadi masalahnya, kalau semua itu jatuh ketangan dia, sudah dipastikan semuanya akan hancur."


"Kenapa?"


"Tabiatnya sangat buruk. Kerjanya cuma menghamburkan uang dan main perempuan. Dia juga gila judi. Secara hukum agama, semua aset sudah dibagi sesuai dengan porsinya. Tapi karena dia merasa ini adalah milik kakaknya, jadi dia menginginkan lebih banyak atau bahkan menginginkan semuanya."


"Aihhh...ternyata dimanapun berada, akan selalu ada orang-orang seperti itu. Kadang aku sampai heran dibuatnya. Sudahlah bunda, daripada pusing-pusing mending serahkan saja semuanya. Sudah saatnya bunda hidup tenang, dan ikut tinggal bersamaku. Aku bisa menjamin kalau bunda tidak akan hidup kekurangan."


Lilian tersenyum, sembari mengusap puncak kepala putrinya.


"Bunda percaya kalau kamu mampu menghidupi bunda. Tapi andai bisa sesederhana itu. Ini bukan bicara soal harta saja, yang kami pikirkan tentang rakyat yang bergantung pada perkebunan kita."


"Kenapa?"


"Kebun teh, kelapa, cengkeh, sayur, buah, kurang lebih sekitar 2000 an hektar diberbagai tempat. Itu sudah resmi milik bunda dan Mario. Sendangkan yang sudah dibagi dengan pria itu beda lagi. Yang jadi masalahnya, kalau semua itu jatuh padanya maka rakyat yang bekerja akan menderita. Karena mereka semua bergantung pada kita."


"Kenapa mereka menderita? mereka kan bisa bekerja seperti biasanya?"


"Dia itu orang yang tamak dan kikir. Semua orang yang bekerja dengannya mengeluh karena jam kerja dan upah tidak sesuai. Tapi mereka bisa apa? mereka butuh buat makan, karena rata-rata penduduk disana tidak berpendidikan tinggi dan tidak memiliki lapangan pekerjaan yang lain."


Marinka terdiam. Dia tidak menyangka kalau akan serumit itu urusannya. Namun tanpa mereka ketahui, seseorang mendengar pembicaraan mereka sembari menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2