Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.283. Cerita Ilyas


__ADS_3

"Sayang. Bagaimana kalau kita terapi kakimu keluar negeri saja? mungkin disana peralatan medisnya sudah banyak yang canggih. Jadi kakimu bisa cepat sembuh," ujar Meiza ynag ingin memberikan semangat pada suaminya.


"Luar negeri?" tanya Ilyas.


"Ya. Kita akan cari rumah sakit terbaik dimanapun itu." Jawab Meiza.


"Apa kalau keluar negeri akan aman? Meiza sebenarnya pasti merasa bosan dirumah. Aku tidak mungkin mengurungnya terus-terusan. Mau sampai kapan? aku harus segera bicara dengan papa dan Rakha," batin Ilyas.


"Aku akan menurut selama itu baik buatku. Tapi sayang, bisakah kamu mengatur agar aku bisa bicara dengan papa dan Uda Rakha secepatnya?" tanya Ilyas.


"Ada apa? apa ini soal teror it" tanya Meiza.


"Emm." Ilyas mengangguk.


"Kenapa kamu jadi ketakutan seperti itu. Kalau Tuhan tidak mentakdirkan kita mati, pasti tidak akan mati," ujar Meiza sembari menggenggam tangan suaminya.


"Sayang. Ini menyangkut keselamatanmu dan anak-anak kita. Kalau dia menargetkanku, tentu aku tidak masalah. Tapi dia sudah mengatakan kalau dia ingin menargetkanmu dan anak-anak. Kalau itu sampai terjadi, aku benar-benar tidak ingin hidup lagi di dunia ini," ucap Ilyas sembari menggenggam erat tangan Meiza.


"Baiklah. Kita akan bicarakan ini segera dengan papa. Agar orang-orang dari markas bisa melindungi kita. Kita tidak mungkin diam dirumah terus menerus," ujar Meiza.


"Kalau memang keluar negeri bisa aman, kita pergi keluar negeri saja. Tapi tutup semua akses informasi tentang kepergian kita ke luar negeri," ucap Ilyas.


"Iya nanti kita akan bicarakan. Tapi ngomong-ngomong siapa mereka itu? kenapa ingin menargetkanku? apa kamu punya musuh?" tanya.


"Bukan aku. Lebih tepatnya papa Ezra dan Mama Marinka." Jawab Ilyas.


"Ap-Apa? kok bisa? ada dendam apa mereka dengan keluargaku? tanya Meiza penasaran.


"Nanti akan kita bahas bersama papa dan uda Rakha saja. Kamu tidak tahu betapa bahayanya orang ini," ujar Ilyas.

__ADS_1


"Baiklah. Kita akan segera bicarakan hal ini pada mereka. Sepertinya kamu memang perlu berobat keluar negeri, agar kamu cepat sembuh,"


"Terima kasih masih mau setia sama aku yang cacat ini. Aku...."


"Stttttt...jangan bicara sembarangan lagi. Mungkin dimata orang-orang kamu memang cacat. Tapi dimataku kamu pria sempurna," ucap Meiza.


Ilyas menggenggam kedua tangan Meiza dan kemudian menciumnya secara bergantian.


"Aku tidak pernah salah menilai seorang wanita Aku sangat beruntung karena sudah mrmilihmu dalam hidupku," ujar Ilyas.


*****


"Ada apa kamu mengumpulkan kami disini?" tanya Rakha.


"Uda. Rencananya aku ingin membawa Ilyas berobat keluar negeri. Tapi dua hari yang lalu Ilyas mendapat telpon teror dari orang yang pernah memanfaatkan Ilyas untuk mencelakai Moza,"


"Oh ya? apa yang ingin dia lakukan kali ini?" tanya Ezra terlihat santai.


"Kami memang sempat melupakan tentang insiden itu karena itu permintaan Moza. Lagipula tidak ada lagi pergerakkan dari mereka selama 6 bulan ini. Jadi kenapa dia tiba-tiba ingin mencelakai Meiza? sebenarnya apa yang dia rencanakan? ada hubungan apa kamu dengan orang itu?" tanya Rakha.


"Kali ini dia ingin menargetkan aku dan Meiza, karena dia merasa sudah aku khianati. Dia sengaja menungguku bangun, dan ingin menyakiti meiza agar aku menderita karena hal itu."


"Aku seorang anak yatim piatu sejak usia 10 tahun. Aku juga tidak memiliki sanak saudara lagi. Mungkin itulah sebabnya menurut dia aku kandidat paling cocok untuk di cuci otaknya,"


"Bertahun-Tahun aku di doktrin tentang aksi balas dendamnya pada keluarga Hawiranata. Dendam masa lalu yang sudah sangat lama. Sampai akhirnya aku dia sekolahkan sampai menjadi seorang dokter."


"Sejujurnya aku benar-benar menganggap dia sebagai seorang kakak, meskipun kami tidak memiliki hubungan darah. Tapi niat awal yang sudah salah, tidak pernah menjadikan kami lebih dekat. Karena dia hanya menganggap aku sebagai pion balas dendamnya. Dia ingin aku membayar jasa-jasanya itu dengan menghabisi keluarga Hawiranata satu persatu."


"Sebenarnya target pertamaku adalah Meiza. Tapi aku sangat bersyukur, karena yang tadinya niat membunuh, aku malah sungguh-sungguh jatuh cinta padanya. Hingga target berganti pada Moza, itupun karena dia mengirimkan pesuruhnya yang lain untuk mengawasiku. Sebenarnya apa yang aku lakukan sangat bertolak belakang dengan nuraniku. Aku pikir dia akan menyuruhku membuat keluarga ini kacau balau. Tapi aku terkejut, karena ternyata dia ingin memanfaatkanku untuk membunuh,"

__ADS_1


Ilyas mengenggam erat tangan Meiza dan menciumnya.


"Aku sangat bersyukur jatuh cinta pada Meiza. Dia seperti cahaya penerangku, yang sempat berada dalam kegelapan. Dan ternyata pilihanku tidak pernah salah, dia tidak meninggalkanku meskipun aku tidak lagi sempurna."


"Dendam apa yang kamu maksud?" tanya Rakha.


"Sekitar 21 tahun yang lalu, apa pernah papa menjebloskan seseorang kepenjara di kota S? dan pada akhirnya orang itu masuk penjara dan di eksekusi hukuman mati," tanya Ilyas.


"Apa yang kamu maksud itu Satyo?" tanya Ezra.


"Ya. Deryl adalah putra pertama dari paman Satyo. Dia ingin menuntut balas atas kematian Ayahnya." Jawab Ilyas.


Ezra tertegun saat mendengar hal itu. Tidak jauh berbeda dengan Ezra, Rakhapun juga sama. Dia masih ingat tentang insiden 21 tahun yang lalu meskipun saat itu dirinya masih anak-anak. Karena secara tidak langsung dirinya juga ikut andil dalam menghukum Satyo.


Namun tiba-tiba wajah terkejut itu berubah jadi tawa. Ezra tertawa begitu keras. Namun bagi Ilyas tawa itu malah terdengar mengerikan. Namun saat tawa itu mereda, tatapan Ezra berubah jadi dingin menusuk.


Flasback On


"Ayah...ayah...jangan bawa ayahku," seorang anak remaja berusia 13 tahun berteriak histeris saat dua orang polisi membekuk Satyo dikediamannya.


Ezra menghentikan langkah sesaat, saat melihat Deryl yang tengah dipegangi oleh anak buahnya. Anak itu tampak meronta-ronta.


"Ayahmu sedikit melakukan kesalahan. Jadi sedikit harus dihukum. Kamu anak laki-lakinya, harus bisa melindungi keluargamu disaat ayahmu tidak ada," ujar Ezra sembari menepuk pelan pipi anak itu.


"Lepaskan dia!" Ezra menyuruh anak buahnya melepaskan Deryl.


Ezra kemudian masuk kedalam mobil hitamnya yang di belakangnya di ikuti oleh mobil tahanan yang tengah membawa satyo dengan tangan terborgol.


"Ayah...ayah..." Deryl berteriak sembari mengejar mobil polisi itu hingga tersungkur.

__ADS_1


Saat sidang vonis Deryl juga hadir untuk mengetahui vonis terakhir ayahnya. Dia orang yang paling berteriak histeris, saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati pada Satyo. Ezra masih ingat tatapan kebencian anak itu padanya. Tatapan penuh dendam dan amarah.


__ADS_2