
"Ada beberapa fakta lain yang harus kamu ketahui tentang Jihan dan Marinka."
"Ada apa?"
"Sebaiknya kita pulang kerumahmu. Kamu akan tahu setelah sampai dirumah, hari ini aku akan membongkar semua hingga tuntas."
"Baiklah. Sepertinya kamu ingin membuat hatiku hancur sekaligus hari ini, tapi tidak apa. Kalau aku mati kena serangan jantung hari ini, aku minta dikuburkan di pemakaman keluargaku nantinya."
"Ckk...sembarangan. Kamu belum boleh mati dulu, dosamu terlampau banyak, kamu harus tobat dulu."
"Hah...ayo kita pulang, aku ingin mendengar semuanya hari ini."
"Sebenarnya aku jadi takut mengatakan semuanya padamu,"
"Takut kenapa?"
"Aku takut kamu masuk kedalam sumur,"
"Ckk...kamu ini masih sempat-sempatnya bercanda. Apa pantas seorang pengusaha nomor satu di kota J, bunuh diri kedalam sumur?"
"Kali aja, selama ini kamu juga bodohnya nggak ketulungan," batin Yuda.
"Jangan mengumpatku!"
"Siapa yang mengumpatmu? orang patah hati terlalu sensitif," ujar Yuda.
Yuda dan Ezra masuk kedalam mobil sport mewah berwarna hitam. Ezra dengan kecepatan sedang membawa mobil itu dengan pikiran yang selalu melayang ke Marinka.
"Minggir dulu Zra bentar," ujar Yuda.
"Ada apa?" tanya Ezra yang sedikit memperlambat laju mobilnya.
"Pokoknya berhenti saja dulu,"
Ezra mulai menepikan mobilnya ditempat yang lumayan sepi.
"Ada apa?"
"Turun!" ucap Yuda.
"Kenapa turun? apa ada yang ingin kamu beli? disini tidak ada warung."
"Pokoknya turun saja dulu,"
Ezra terpaksa menuruti apa yang Yuda katakan, meskipun sebenarnya dia sangat malas, karena suasana hatinya sedang tidak baik.
"Masuk!"
__ADS_1
Yuda menyutuh Ezra masuk disebelah kemudi, yang membuat Ezra jadi heran.
"Maksudnya apa nih?"
"Nggak ada maksud apa-apa. Biarkan aku yang nyetir mobil, apa kamu tahu? disepanjang jalan aku selalu berdo'a dalam hati, agar kita tidak nabrak tiang listrik?"
"Ckk...Yud...bisa liat situasi nggak sih kalau mau bercanda?"
"Siapa yang bercanda? disepanjang jalan kamu melamun, aku takut karena suasana hatimu sedang tidak baik. Jadi biarkan aku saja yang menyetir,"
Ezra tanpa banyak bicara lagi langsung masuk dan duduk disamping kemudi.
"Kamu mah enak udah nyelup, nah aku? aku juga masih ada niat pengen kawin zra," gerutu Yuda sembari menginjak gas mobil.
Klikkkk
Yuda menekan tombol musik, sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering Ezra stel karena merindukan Marinka. Lagu-Lagu bernuansa klasik itu, mengingatkan Ezra ketika istrinya itu menidurkannya saat mereka dilanda LDR beberapa hari.
"Yud. Kita ke Apartement Marinka saja dulu, aku ingin bertemu dengannya," ujar Ezra.
"Tidak. Kamu harus melihat apa yang akan aku tunjukkan padamu, setelah itu kamu baru bisa bertemu dengannya."
Ezra menghela nafas panjang. Kerinduannya pada Marinka seolah tidak bisa ia bendung lagi.
"Dek. Aku sudah hancur sekarang, apa ini karma darimu? aku gagal mempertahankan rumah tangga kita, dan lebih memilih wanita sampah. Apa jika aku mengajakmu untuk mejalani pernikahan sebenarnya, kamu akan mau?"
"Zra..hey...kita sudah sampai nih,"
Ezra menoleh kekanan dan kekiri, karena terlalu sibuk dengan lamunannya, pria itu bahkan tidak sadar kalau mereka sudah sampai dikediamannya.
Ceklek
Ezra membuka pintu mobil dan berjalan dengan gontai. Sementara itu Yuda mengekor dibelakang Ezra yang terlihat tidak bersemangat.
"Maafkan aku Zra. Aku terpaksa harus mengatakan semuanya hari ini. Karena aku merasa punya kewajiban, aku ingin kamu bersatu kembali dengan Marinka sebelum semuanya terlambat."
"Katakan! fakta apa lagi yang kamu ketahui tentang Jihan dan Marinka?" tanya Ezra dengan wajah datar.
"Sebentar, aku butuh laptopmu. Mungkin fakta ini tidak terlalu penting bagimu, tapi tidak ada salahnya aku memperlihatkan ini padamu,"
Ezra mengeluarkan laptopnya, Yudapun meraih laptop itu dan memasukkan flashdisk disisi benda itu.
"Sebelum kita menonton ini, aku ingin mengatakan satu hal padamu,"
"Apa?"
"Selama ini kamu selalu beranggapan Jihan adalah gadis yang sudah menolongmu 4 tahun yang lalu, namun pada kenyataannya bukan dia penolongmu sebenarnya."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Ezra penasaran.
"Saat kejadian kamu dirampok, ada seorang gadis SMA yang menolongmu waktu itu. Meski dia sedang buru-buru karena akan menghadaoi ujian nasional, dia sempat mengantarmu kerumah sakit. Namun karena dia terburu-buru, dia menitipkanmu pada Jihan yang kebetulan baru keluar dari ruang KIA. Apa kamu tahu sedang apa Jihan diruang KIA? diusianya yang baru 19 tahun, Jihan memutuskan menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang. Yang artinya dia sudah bersiap diri untuk terus dicelupi laki-laki."
"Ja-Jadi, bukan Jihan penolongku? lalu siapa gadis SMA itu? apa kamu tahu alamat rumahnya?"
"Ternyata dari awal Tuhan sudah memberi tanda untukmu, kalau gadis itu adalah jodohmu. Tapi sayangnya kamu merubah takdir itu terlalu cepat,"
"Ap-Apa maksudmu?"
"Ya. Gadis SMA itu adalah Marinka. Istri yang sudah kamu campakkan."
Jdeeeerrrrrrr
Fakta yang Yuda ungkap itu membuat Ezra benar-benar syok. Bayangan akan senyum manis dan kerlingan mata Marinka seakan terpatri dipelupuk mata Ezra.
"Ap-Apa kamu tidak salah mencari informasi?"
"Informasi ini sangat akurat, karena aku mendengarnya langsung dari mulut Marinka."
"Ap-Apa? bagaimana mungkin? apa dia sejak awal memang sudah mengenalku?"
"Tidak. Dia teringat setelah aku menceritakan rasa ketergantunganmu pada Jihan, karena kamu merasa sudah berhutang budi dengan Jihan. Zra, kamu benar-benar ditipu Jihan habis-habisan."
"Jihaaaaannnn...." mata Ezra merah berair karena menahan amarah.
"Dan coba kamu lihat ini,"
Yuda menyodorkan ponselnya pada Ezra, agar pria itu menonton video yang susah payah dia dapatkan. Ezra mengerutkan keningnya saat melihat dua orang yang dia kenal sedang bercakap-cakap. Dua wanita itu tidak lain adalah Jihan dan Marinka. Dua wanita itu sedang membahas sesuatu dan tampak Jihan mengeluarkan sebuah cek.
Mata Ezra terbelalak saat tahu cek itu dimasukkan Jihan kembali kedalam saku bajunya. Sungguh Ezra seperti terkena kejut listrik saat melihat dan mendengar percakapan antara kedua wanita itu.
"Luar biasa bukan? Jihan benar-benar wanita matre dan tidak tahu malu."
Pranngggggg
Ezra yang emosi langsung menghancurkan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya. Bahkan satu unit laptop juga jadi sasaran kemarahan Ezra.
"Aihh...belum juga aku menunjukkan video terakhir zra, kamu sudah merusak laptopnya. Lebih baik kamu lihat saja sendiri videonya lewat cctv rumahmu. Itu video terakhir saat Marinka pergi dari rumah ini, aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kamu melihatnya,"
"Kenapa? ada apa dengan video itu?"
"Kamu lihat saja sendiri, setelah melihat baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Karena fakta yang terakhir adalah hal yang mungkin penting kamu dengar,"
Brukkkk
Ezra menjatuhkan bokongnya pada kursi kebesarannya. pria itu menjambak-jambak rambutnya sendiri karena kesal dengan kebodohannya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏