
"Hikz...aku sedih benget Rin. Entah kapan kita bakal ketemu lagi," ujar Sera sembari memeluk Marinka.
Sera sangat sedih, karena saat ini mereka tengah berada di bandara. Ando dan Sera mengantar Marinka sekeluarga ke bandara, karena mereka akan kembali ke Indonesia hari ini.
"Kamu jangan sedih dong, kalau kamu nangis aku jadi ikutan nangis nih. Hikz...."
Tangis Marinka akhirnya pecah juga. Ezra dan Ando yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menggaruk pelipis mereka. Ezra yang tahu air mata istrinya itu mudah tumpah, pria itu sudah menyiapkan beberapa lembar tisu.
"Bang. Tisu," ujar Marinka sembari menadahkan tangan.
Ezra langsung memberikannya, dan Marinka juga membaginya untuk Sera.
"Kamu sering-sering pulang ya? jangan lupa dengan tanah kelahiranmu," ujar Marinka.
"Iya." Jawab Sera sembari menganggukkan kepalanya dan mengelap air matanya dengan tisu.
Mata Sera dan Marinka jadi sedikit bengkak, karena terlalu lama menangis.
"Sayang. Sudah hampir waktunya pesawat kita berangkat. Kita belum boarding pass sama sekali," ujar Ezra.
"Emm." Marinka mengangguk dan memberikan pelukkan terakhir untuk Sera.
"Ndo. Kami berangkat ya? tolong sesekali kontrol juga pabrik yang disini," ujar Ezra.
"Kamu tidak usah khawatir. Serahkan semuanya pada orang kepercayaanmu. Aku juga akan sering-sering mengontrolnya," ucap Ando.
Ezra juga memberikan pelukkan terakhir sebelum keberangkatannya. Setelah itu Marinka dan keluarga pergi memasuki bandara. Ando mengusap puncak kepala istrinya, dia mengerti apa yang Sera rasakan saat ini. Berpisah dengan sahabat terbaik, karena selama ini mereka jarang terpisahkan.
"Nanti kalau saat liburan musim panas, kita akan berlibur ke Indonesia. Kita harus melihat usaha baru mereka disana." ucap Ando, menghibur istrinya.
"Sungguh?" mata Sera berbinar.
"Tentu saja. Kakak juga belum pernah berkunjung kemakam mama dan papa di kampung. Nanti kita akan ziarah kesana," ujar Ando.
Sera berhambur kepelukkan Ando .Dia merasa beruntung memiliki suami seperti Ando, yang penyayang dan mengayomi.
"Makasih ya kak? padahal papa dan mamaku sudah nggak ada, tapi kakak masih mau menghargai mereka, seolah mereka itu masih hidup."
__ADS_1
"Ya harus dong. Mereka itu juga orang tuaku, aku harus berterima kasih pada mereka karena sudah memberikan putrinya yang berharga padaku."
Sera semakin mengeratkan dekapannya, dia begitu terharu mendengar ucapan suaminya itu.
"Ayo kita pulang, kasihan anak-anak ditinggal lama." sambung Ando.
"Emm." Sera mengangguk.
Merekapun memutuskan pulang, mereka tidak ingin meninggalkan anaknya terlalu lama, karena putranya itu masih membutuhkan pengawasan.
Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Di bandara soekarno hatta dan bandara halim perdana kusuma, pengunjung masyarakat sipil begitu membludak. Usut punya usut, itu di karenakan ada yang menggiring opini bahwa MD akan kembali ke Indonesia di bulan ini. Entah siapa yang membocorkan hal itu, tapi Marinka sedikt risau saat mendengarkan percakapan dua orang yang ada didepan tempat duduknya.
"Apa kamu sudah mendengar, kalau MD akan kembali ke Indonesia bulan ini?"
"Kata siapa?"
"Aku hanya mendengar kabar yang berhembus dikalangan masyarakat. Terlebih saat keberangkatanku seminggu yang lalu, banyak sekali para fans mendatangi bandara, hanya ingin melihat MD secara langsung."
"MD memang mengagumkan. Dia memang pantas dipuja banyak orang. Aku jadi penasaran, sebenarnya seperti apa wajah asli MD itu."
"Orang berduit seperti itu, pasti memiliki penampilan yang sempurna."
"Tidak tahu, tapi menurut perkiraanku, pasti bertambah ramai."
"Kenapa?"
"Ini sudah hampir penghujung bulan, maka harapan mereka akan terkabul. Karena mereka sudah menunggu dari awal bulan."
"Ya Tuhan...ini fans fanatik namanya. Kasihan sekali kalau mereka akan kecewa, saat MD tidak muncul atau tidak ingin bertemu dengan mereka. Bisa jadi fans itu akan berbalik jadi haters."
Marinka melirik kearah suaminya yang duduk berseberangan dengan tempat duduknya. Mereka duduk berbagi dengan anak mereka. Co pilot tiba-tiba memberitahukan bahwa sebentar lagi pesawat mereka akan mendarat. Pramugari juga mengingatkan para penumpang agar tetap mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan segera mendarat.
Setelah pesawat mendarat, Marinka tidak langsung turun untuk mengambil barang-barang mereka, wanita itu menarik tangan suaminya untuk berbicara.
"Bang. Apa abang mendengar percakapan orang itu tadi?"
"Ya." Jawab Ezra.
__ADS_1
"Bagimana ini bang? adek nggak punya persiapan apapun. Bagaimana kalau mereka menyerbu adek? adek nggak pengen buat kehebohan di bandara. Besok pasti jadi gempar lagi."
Ezra menyunggingkan senyumnya, dia mengerti kekhawatiran istrinya itu, karena dia sudah menyiapkan segalanya untuk mengatasi segala kemungkinan yang ada.
"Kamu tenang saja ya dek? abang sudah menyuruh orang-orang abang untuk mengirim bodyguard terbaik. Dan abang juga menyiapkan ini," ujar Ezra sembari menunjukkan sesuatu didalam tasnya.
"Topeng? tapi kenapa ada 4 topeng?"
"Ini hanya jika diperlukan saja. Kalau kamu sampai terekspose, otomatis kita semua jadi terekspose. Bukankah adek ingin melindungi anak-anak?"
"Emm. Adek mengerti."
"Kalau dibawah memang banyak fans kamu, itu artinya akan ada wartawan disana. Kamu harus siap jika mereka menginginkan sedikit informasi dari kamu."
"Bagaimana kalau kita berpencar saja bang? abang bawa anak-anak, sementara adek kabur lebih dulu untuk menghindari mereka?"
"Itu artinya kamu akan mengecewakan fans yang membesarkan namanu? apa kamu siap memiliki banyak haters? jika siap, tidak masalah."
Marinka terdiam. Sebenarnya dia sama sekali tidak perduli jika ada orang menghujat dirinya. Tapi dia tidak sanggup, jika hujatan itu ditujukan untuk keluarganya terlebih anak-anaknya.
"Baiklah, adek ikut abang saja."
"Tidak masalah menyapa mereka sejenak. Beri jawaban seadanya saja, jika para wartawan itu memberikan pertanyaan padamu."
"Emm." Marinka mengangguk.
"Anak-Anak. Kalian mau bantu mama berakting tidak? mama sedang terkenal sekarang, jadi banyak yang ingin tahu tentang mama kalian. Jadi kalau ada yang menanyakan tentang nama mama kalian, kalian jangan beritahu ya?" ujar Ezra.
"Kami tahu kok Pa. Kami juga dengal belitanya di tv. Iya kan Da?" ujar Ezka.
"Ya."Jawab Rakha.
"Anak pintar. Jadi apapun yang terjadi jangan lepaskan topeng kalian nanti ya? tapi kita berdo'a saja, semoga fans mama nggak datang hari ini."
Ezra dan keluarga mulai menuruni tangga, dan sesuai berita yang beredar, para fans membludak, hingga Marinka dan keluarga terpaksa memakai topeng. Para Security bergerak cepat karena tidak ingin para fans itu membuat masalah di bandara, sehingga membuat tidak nyaman para calon penumpang.
Para bodyguard yang Ezra kerahkan juga bergerak cepat, untuk melindungi majikan mereka. Ada suara jerit histeris para fans saat melihat sang idola menangkupkan kedua tangannya dengan senyum terkembang di bibirnya. Bahkan tanpa sadar Marinka meneteskan air mata, rasanya baru kemarin dirinya dicaci dan direndahkan. Tapi sekarang, milyaran umat manusia banyak yang memuja dirinya.
__ADS_1
TO BE CONTINUE...🤗🙏