Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.156.Demam


__ADS_3

"Hari ini giliran kamu yang menjadi targetku. Galang, nikmatilah apapun yang bisa kamu nikmati. Karena sebentar lagi hidupmu akan hancur saat dirimu tahu, wanita yang kamu cintai dan kamu banggakan, ternyata sudah main serong dibelakangmu,"


Marinka mengenakan hoddy dibalik kaca mobil yang gelap. Tidak lupa kaca mata berwarna hitam selalu bertengger diatas hidung mancungnya. Wanita itu melihat sinis, saat melihat galang mencium kening Karin dan melambaikan tangan kearah putrinya.


Setelah mobil Galang mulai berjalan, mobil hitam Marinka beranjak mengikuti dari belakang. Kini dia tidak perlu lagi mengikuti kepergian Karin, karena barang bukti yang dia perlukan dirasa sudah cukup. Kini Marinka ingin melakukan pengintaian pada Galang, wanita itu sangat berharap galang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Karin.


Namun harapan Marinka itu sama sekali tidak terwujud. Karena meski diakhir pekan sekalipun, Galang hanya diam saja dirumah dan benar-benar berkumpul dengan anak dan istrinya.


Kini sudah hampir 2 minggu Marinka mengintai Galang dan dibantu oleh orang suruhannya. Tapi hasilnya tetap saja sama. Dan Marinkapun memutuskan bahwa Galang sudah dia cap sebagai suami yang lurus.


"Baiklah. Karena kamu suami setia, maka permainan akan segera kita mulai," Marinka meyeringai.


"Kirimkan foto awal sebanyak 1 lembar," ujar marinka diseberang telpon.


Foto yang Marinka maksud adalah foto yang memperlihatkan Karin tengah masuk ke sebuah pusat kebugaran yang biasa dia datangi. Memang tidak ada kesan perselingkuhan didalam foto itu, Marinka sengaja ingin melihat senyum Galang yang terbit dibibirnya namun perlahan menghilang saat melihat kenyataan yang sebenarnya.


Galang membuka sebuah amplop coklat berukuran kecil, dan melihat isi didalamnya. Benar dugaan Marinka, pria itu tampak menyunggingkan senyum saat melihat foto istrinya yang tampak cantik dan sexy, dengan balutan baju olahraga ketat.


"Iseng banget sih Karin, apa dia ingin memberitahu aku kalau sekarang tubuhnya sudah kembali sexy? awas saja dia, aku tidak akan membiarkan dia tertidur nanti malam," ujar Galang sembari terkekeh.


Hari berikutnya, Galang kembali menerima selembar foto Karin, dengan pakaian yang berbeda. Kali ini tampak di foto itu Karin sedang akan menaiki sebuah tangga. Lagi-Lagi Galang masih tersenyum, pria itu mengira foto itu Karinlah yang mengiriminya. Itulah sebabnya Galang sama sekali tidak mempertanyakan tentang foto itu pada istrinya.


Seperti hari sebelumnya, Galang kembali mendapat selembar foto. Kali ini Galang mulai sedikit mengerutkan dahinya. Pasalnya, difoto itu tampak Karin sedang menaiki sebuah tangga dengan posisi tangan kiri terangkat. Galang menajamkan matanya saat dirinya melihat tangan istrinya itu disambut oleh sebuah tangan misterius, yang hanya telihat sedikit tangan dan sebuah jam tangan. Sementara tubuh pemilik tangan misterius itu tertutup langit-langit tangga yang melingkar.


"Ini maksud Karin apa ya? apa ini kode kalau dia menginginkan sebuah jam tangan? ah...baiklah, aku memang sudah lama tidak membelikan hadiah untuknya," ujar Galang


Setelah menyuruh Orang untuk mengirim foto itu, Marinka kembali menyelidiki seseorang yang tak lain adalah Paulin, yang dulu pernah menjadi ibu angkatnya.


Setelah lama tidak bertemu, kini Paulin rupanya tengah merambah bisnis jual beli berlian yang modalnya merupakan kucuran dana dari sang menantu. Marinka bahkan bisa melihat cara Paulin berpakaian sudah sangat jauh berbeda, saat dulu mereka masih bersama.


"Heh. Hidupmu sekarang makmur sekali Paulin. Kamu terlihat sangat bahagia diatas penderitaan orang lain. Tapi itu tidak akan berlangsung lama lagi, karena aku pastikan apa yang kamu kumpulkan selama ini, maka akan keluar jauh lebih besar dari yang kamu dapatkan."


Marinka menginjak gas mobilnya, dan meninggalkan kediaman Paulin, yang sekarang sudah disulap mewah oleh menantu kesayangannya itu. Dirumah Paulin saat ini memang tengah ramai, karena banyak wanita sosialita berkumpul untuk membeli beberapa berlian dari Paulin.


Setelah dari kediaman Paulin, Marinka memutuskan pulang kerumah. Wanita itu terkejut saat mendapati mobil Ezra sudah berada didepan rumah. Marinka melihat jam dipegelangan tangannya, waktu baru menunjukkan pukul 2 siang, tapi Ezra sudah berada dirumah saat ini.


"Aku belum masak buat makan malam, dia sudah pulang jam segini kenapa ya?"


Marinka begegas masuk kedalam rumah, dan menaiki tangga. Marinka kemudian mengetuk pintu kamar Ezra, namun sama sekali tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Mama," Marinka terjengkit kaget, saat suara Rakha mengejutkannya dari belakang.


"Papa kamu sudah pulang?" tanya Marinka.


"Sudah Ma. Tapi sepeltinya Papa sakit deh, mama tolong lawat papa ya? kasihan papa,"


"Eh? i-Iya."


Marinka menekan handle pintu, sementara Rakha kembali ke kamarnya. Marinka mendapati Ezra memang tengah meringkuk didalam selimut dengan tubuh sedikit bergetar.


"Ba-Bang," seru Marinka.


Ezra membuka matanya saat mendengar suara Marinka dibalik punggungnya. Pria berwajah pucat itu membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya itu dengan lemah.


"Sa-Sayang," Ezra tidak perduli Marinka marah karena dia memanggilnya dengan sebutan itu. Kali ini dia benar-benar ingin sekali dimanjakan.


Ezra meraih tangan Marinka, dan membawa tangan lembut itu di dadanya.


"Abang sakit?" tanya Marinka sembari menatap kening Ezra dengan telapak tangannya yang ternyata mendapat respon panas dari kulit pria itu.


"Sepertinya abang demam. Kita kerumah sakit saja ya?" tanya Marinka


Marinka menoleh keatas nakas, dan memang ada plastik obat disana.


"Ya sudah, kalau begitu abang beristirahat saja. Nanti aku buatkan sup untukmu." ujar Marinka sembari berdiri dari tepi tempat tidur.


Tap


Tangan Ezra mencekal tangan Marinka. Langkah Marinkapun terhenti dan menatap pria yang tengah terbaring itu dengan iba.


"Jangan tinggalin abang. Abang membutuhkanmu," Ezra kemudian menepuk sisi tempat tidur disebelahnya, agar Marinka ikut berbaring disampingnya.


Entah mengapa Marinka tak kuasa menolak permintaan Ezra. Wanita itu kemudian berbaring disisi Ezra, yang langsung mendapat pelukkan hangat dari pria itu.


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Jantung Marinka berdegup dengan kencang, jarak yang terlampau dekat dengan Ezra, membuat jantungnya bertalu-talu.


"Astaga...apa yang sudah ku lakukan? aku ini bukan muhrim dia? tapi kenapa aku merasa sangat nyaman saat dia memelukku? pelukkan ini begitu sangat familiar," batin Marinka.


"Kenapa? apa kamu merasakan familiar dengan pelukkanku?" tanya Ezra, yang kemudian diangguki oleh Marinka.


"Itu karena kita memang memilikki hubungan khusus,"


"Hubungan khusus?"


"Emm." Ezra mengangguk.


"Sayang. Aku tidak tahu ini waktu yang tepat atau tidak memberitahumu tentang kita. Tapi sejujurnya aku sangat kesulitan saat ini. Aku sangat takut kamu di goda oleh pria lain, itulah sebabnya aku memilih untuk membicarakan ini pelan-pelan denganmu."


"Sebenarnya apa yang ingin abang bicarakan?"


"Kamu masih ingat bukan peristiwa kebakaran waktu itu?


"Ya."


"Memang benar orang yang sudah menolongmu waktu itu adalah abang, tapi bukan 3 minggu yang lalu kamu terbangun dari koma, melainkan hampir dua minggu sejak kejadian itu." Ezra terdiam, dia ingin melihat respon Marinka. Pria itu berharap Marinka sedikit mengingat, namun karena tidak ada respon, Ezra kembali meneruskan ceritanya.


"Jujur waktu itu abang sedikit memanfaatkan kesulitanmu karena abang dipaksa menikah secepatnya, sementra abang memiliki kekasih tapi tidak direstui. Lalu kemudian kita melakukan nikah kontrak selama 6 bulan, selama pernikahan itu benih-benih cinta tumbuh diantara kita."


"Jadi kita sudah menikah?"


"Ya. Bahkan kita sudah memiliki dua orang anak. Rakha dan Ezka adalah anak kita,"


"Maaf bang. Tapi ceritamu itu tidak cukup jadi bukti, aku tidak bisa mempercayainya begitu saja."


"Sebenarnya abang bisa saja memberikan bukti surat nikah kita atau dokumen lainnya. Tapi ada satu tanda ditubuhmu yang mungkin kamu bisa merasakan bahwa ucapan abang benar,"


"Apa?" tanya Marinka.


Ezra kemudian meraba perut Marinka, dimana terdapat bekas luka operasi saat dirinya melahirkan. Mendapat sentuhan itu tentu saja Marinka terkejut dan segera menepis tangan Ezra.


"Itu bukti bahwa kamu pernah melakukan operasi cesar saat melahirkan anak-anak kita. Saat itu kamu berada di Paris, bersama Ando dan Sera. Abang...."


Belum sempat Ezra meneruskan kalimatnya, Marinka tiba-tiba mengeluh sakit dikepalanya dan tidak sadarkan diri.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...🤗✅


__ADS_2