
"Periksa seluruh riwayat penyakitnya. Jangan sampai ada yang terlewatkan satupun," ujar Rakha pada semua tim dokter penyakit dalam.
"Baik tuan muda." Jawab Mereka serentak.
Yure kemudian dibawa kedalam ruang pemeriksaan. Serangkaian pemeriksaan sudah di lakukan padanya, termasuk pengambilan sampel darah untuk di bawa ke laboratorium.
Setelah tim dokter melakukan anamnesa pada Yure, dan hasil pemeriksaan sudah keluar, merekapun sudah berhasil menegakkan diagnosa.
Semua tim dokter berdiri berjajar, sementara Yure dan Rakha duduk berdampingan.
"Katakan! bagaimana hasil pemerikasan kalian," ujar Rakha.
"Maaf tuan muda. Dari hasil pemeriksaan dan anamnesa, tidak ada satupun penyakit di temukan di tubuh tuan Yure." Jawab salah seorang dokter yang mewakili timnya.
Braaakkkkk
Rakha menggebrak meja, hingga dokter dan Yurepun ikut terkejut.
"Bagaimana tidak ada penyakit? apa kalian pikir Yure berpura-pura sakit? apa mata kalian tidak bisa melihat wajahnya yang pucat itu?" hardik Rakha.
"Tapi sepertinya aku akan segera punya penyakit Ka. Aku hampir kena serangan jantung karena terkejut," batin Yure.
"Aku jadi meragukan kalian dapat lisensi dari mana. Sekarang lebih baik kalian mengundurkan diri saja deh," sambung Rakha.
"Ja-Jangan tuan. Kami benar-benar sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh, tapi memang tidak ada penyakit di tubuh tuan Yure. Termasuk sakit magh sekalipun," ujar seorang dokter.
"Omong kosong. Jadi diantara kalian tidak ada yang bisa menjelaskan sakit apa Yure sebenarnya? jadi buat apa kalian disini lagi? pergilah!" Rakha terlihat sangat marah.
"Rakha sudahlah. Jangan mempersulit mereka. Mereka sudah bekerja dengan sangat baik. Mungkin aku cuma masuk angin biasa saja," ujar Yure yang berusaha menenangkan Rakha.
"Tu-Tuan Yure,"
Salah seorang dokter mencoba membuka suaranya, meskipun sedikit bergetar.
"Ada apa dok?" tanya Yure.
"Maaf tuan. Sebenarnya saya pribadi dari tadi memikirkan satu kemungkinan yang lain, yang mungkin bisa jadi penyebab tuan mengalami mual dan muntah di pagi hari," ujar dokter itu.
"Apa yang dokter pikirkan?" tanya Yure.
"Tapi saya mohon tuan jangan marah, karena pertanyaan saya ini agak sedikit lancang " Jawab dokter.
"Tidak masalah, katakan saja!" ujar Yure
__ADS_1
"Sebenarnya keadaan seperti yang tuan alami juga pernah terjadi pada pasangan suami istri, salah satu pasien saya. Ternyata suaminya mengalami kehamilan simpatik." Jawab dokter.
"Kehamilan simpatik? maksudnya bagaimana?" tanya Yure bingung.
"Kehamilan simpatik dimana istrinya yang hamil, sementara yang merasakan gejala kehamilan dan ngidam adalah suaminya." Jawab dokter.
"Ta-Tapi itu kan tidak terjadi pada tuan Yure. Tuan Yure belum menikah, dan tidak...."
"Oke saya mengerti. Terima kasih atas kerja keras kalian," ujar Yure.
Yure kemudian menoleh ke arah Rakha, Rakha yang mengerti kemudian keluar dari ruangan itu, dan mereka pergi keruangan pribadi.
"Rakha. Bagaimana kalau yang di katakan dokter itu benar?" tanya Yure.
"Kenapa kamu bertanya padaku? seharusnya kamu bertanya pada gadis yang sudah kamu nodai itu. Apa saat melakukan yang kedua kalinya dia tidak bercerita padamu?"
"Tidak. Dia tidak mengatakan apapun." Jawab Yure.
"Bisa jadi dia belum menyadari kalau dia sedang hamil," timpal Rakha.
"Mungkin saja. Ah...kenapa kita jadi menduga-duga sih? sekarang masalahnya adalah, kalau itu benar apa yang harus aku lakukan?" tanya Yure.
"Kenapa masih bertanya? kamu dan Vania baru bertunangan. Sementara anakmu butuh ayahnya. Apa kamu mau anakmu terlahir tanpa ayah dan jadi anak haram?" ujar Rakha asal.
"Sembarangan. Tapi andai itu benar, mungkin ini jalan dari Tuhan, agar aku bisa bersatu dengannya. Tapi bagaimana kalau dia masih menolakku juga?" tanya Yure.
"Mafia kepalamu. Apa kamu tidak tahu, adikmu itu salah satu dari kita? menggunakan kekerasan, tentu saja tidak mempan padanya. Bisa jadi akulah yang tepar," batin Yure.
"Ezka. Apa benar kamu sedang mengandung anak kita saat ini? apa ini alasan kamu kabur ke luar negeri? dasar bodoh, kenapa harus takut berterus terang. Apa kamu tidak tahu? ini malah akan membuat masalah baru buat kita?"
"Jadi apa rencanamu?" tanya Rakha.
"Aku akan menemuinya, aku akan bertanya padanya. Tapi saat ini dia sedang ada di luar negeri," ujar Yure.
"Kamu harus bergerak cepat Yur. Bulan depan hari pernikahanmu. Jangan terlalu banyak membuang waktu. Kalau dia setuju menikah denganmu, otomatis disini kalian harus melakukan diskusi dengan keluarga Vania," ucap Rakha.
"Aku mengerti." Jawab Yure.
"Kalau begitu kejarlah dia keluar negri. Lebih cepat lebih bagus," ujar Rakha.
"Ka. Berapa kode apartemen kita di Paris?" tanya Yure.
"Kenapa kamu bertanya? kan ada Ezka disana. Lagipula mau ngapain kamu ke Paris?" tanya Rakha.
__ADS_1
"Sebab gadis itu sedang berada di Paris saat ini. Takutnya pas sampai sana Ezka tidak ada di apartemen, aku mau numpang istirahat jadi nggak bisa." Jawab Yure.
"Kalau belum di ganti, kodenya ulang tahun Ezka. Lagi pula kamu kenapa seperti jadi orang kere gitu? kan bisa sewa hotel atau penginapan lain. Apalagi disana ada keluarga om Ando ," ujar Rakha.
"Benar juga." Jawab Yure.
Yure sengaja berkata demikian. Dirinya tidak mau memperpanjang percakapan itu lagi. Sebelum semuanya jelas, Yure belum ingin membongkar semua masalahnya.
"Ya sudah kamu ku antar pulang saja. Soal tiket ke Paris, biar aku yang urus semuanya," ujar Rakha.
"Baiklah." Jawab Yure.
Rakha akhirnya memutuskan mengantar Yure pulang terlebih dahulu. Setelah itu dia mengurus tiket keberangkatan Yure ke Paris.
Sesampai di apartemen, Yure mencoba menghubungi Ezka kembali. Namun tetap saja Ezka tidak mau menerima panggilan telpon darinya. Dan yang paling menyakitkan adalah, Ezka malah memblokir nomor ponselnya.
"Heh. Segitu inginnya kamu menjauhiku. Segitunya kamu tidak ingin bersamaku. Ezka, lihat saja. Kalau sampai terbukti kamu mengandung anakku, dan tidak memberitahuku. Aku akan memperlihatkan padamu kegilaan apa yang akan aku tunjukkan padamu. Aku akan mengikatmu bersamaku, sampai kamu tidak bisa melepaskan diri lagi," ujar Yure lirih.
*****
Hoekkk
Hoekkk
Hoekk
Ting tong
Ting tong
Yure yang masih lemas, terpaksa membuka pintu apartementnya.
Ceklek
"Masih muntah-muntah?" tanya Rakha yang melihat Yure sudah berwajah pucat.
"Emm." Yure hanya bisa mengangguk.
"Ini sarapan untukmu," ujar Rakha sembari menyodorkan kantung plastik berisi sarapan pagi untuk Yure.
"Jangan berikan apapun padaku kalau dibawah jam 10 pagi," ucap Yure.
"Kenapa?" tanya Rakha.
__ADS_1
"Percuma saja. Semuanya habis keluar. Itulah aku memilih pergi ke Paris sedikit siang. Tidak lucu kalau aku muntah-muntah di pesawat. Bisa di kira aku mabuk udara, memalukan!" Jawab Yure.
Mendengar itu Rakha jadi terkekeh, sementara Yure bibirnya jadi cemberut.