
Perlahan Marinka mendekat ke arah pintu yang tertutup. namun baru maju beberapa langkah, seseorang menghentikan aksinya.
"Maaf mbak, toiletnya bukan yang itu. Tapi disebelah sana," ujar sang kasir.
" Oh gitu ya? maaf saya kira yang ini." ucap Marinka.
Marinka memasuki toilet, sementar kasir itu kembali turun kebawah.
Seorang pria berotot, dengan perut sispacknya keluar dari pintu yang tertutup dalam keadaan banjir keringat. Dibelakangnya juga keluar seorang wanita yang tidak lain adalah Karin, yang keluar dalam keadaan berantakan.
"Apa mungkin berlatih senam atau Yoga berada didalam ruangan pelatihnya itu? di pikirkan bagaimanapun, Karin tidak mungkin kan main gila dengan laki-laki itu? meskipun pria itu lumayan tampan, dengan tubuh berototnya, tapi bukan berarti Karin harus tergoda bukan?" batin Marinka
Marinka memang belum pergi dari tempat itu, dirinya masih berada didalam toilet, dengan sedikit membuka pintu agar bisa melihat pergerakkan Karin diruang seberang.
Marinka melihat Karin merapikan pakaiannya, namun hal yang tak terduga terjadi didepan matanya, Karin berciuman dengan pria berotot itu sebelum benar-benar pergi dari tempat itu.
"Oh my god. Ternyata adik angkatku ini memang wanita luar binasa. Selain pelakor, ternyata dia ini juga ja**ng sejati. Heh, cukup menarik. Ternyata aku tidak perlu susah-susah membuat drama perselingkuhan, karena ternyata ini memang kejadian yang sebenarnya. Karin...tunggulah detik-detik kehancuranmu," ujar Marinka lirih.
Marinka keluar dari toilet, setelah pria itu masuk kembali dalam ruangannya, dan Karin turun kebawah. Marinka mengamati situasi dibawah, kalau-kalau Karin masih berada disana. Namun keberuntungan berada dipihaknya, Karin sudah pulang kerumahnya karena tidak lagi terlihat disana.
"Kak. Aku mau daftar kelas pelatihnya itu dong," ujar Marinka yang mulai mengorek informasi.
"Kelas pelatih? maksudnya mbak mau ngambil kelas senam dan Yoga?" tanya sang kasir.
"Oh jadi pelatihnya melatih kelas senam dan Yoga ya?"
"Iya."
"Kalau gitu aku ngambil kelas Yoga saja. Apa di kelas Yoga akan banyak orang nantinya?"
"Nggak mbak. Pelatihnya hanya melatih satu orang saja. Jika banyak yang mendaftar, pelatih biasanya hanya membagi jam nya saja."
"Pantas saja Karin punya kesempatan buat selingkuh, ternyata situasinya memang mendukung," batin Marinka.
"Gimana mbak? apa jadi ngambil kelas Yoga nya?" tanya kasir.
"Jadi dong. Tapi saya nggak bisa setiap hari, saya ambil yang seminggu dua kali saja."
"Oke. Atas nama siapa mbak?" tanya sang kasir.
"Marina," ujar Marinka yang menyamarkan namanya.
"Ini harus bayar di muka mbak,"
"Nggak masalah. Berapa?"
__ADS_1
"300 ribu."
Marinka mengeluarkan uangnya dan membayar lunas kelas yang dia pilih. Setelah itu dia bergegas pergi dari situ.
"Aku rasa pengintaian hari ini aku cukupkan dulu. Aku akan melanjutkannya besok lagi, aku harus mengurus anak-anak. Entah kenapa, aku jadi merindukan mereka," ucap Marinka.
Marinka memutuskan pulang kerumah untuk memenuhi tugasnya sebagai baby sitter. Karena sudah waktunya makan siang, Marinkapun menyuapi anak-anaknya dengan telaten, dan setelah itu mengajak mereka tidur siang.
"Bagaimana? apa yang dilakukan nyonya tadi?" tanya Ezra pada orang suruhannya.
"Nyonya melakukan pengintaian pada Nyonya Karin, istri dari tuan Galang."
"Mangingtai? mengintai kemana?"
"Nyonya Karin pergi ke salah satu pusat kebugaran. Dan nyonya menemukan fakta baru disana, kalau istri tuan Galang itu sedang berselingkuh dengan pemilik tempat itu."
"Bagus. Istriku pasti akan cepat menyelesaikan misinya,"
"Tapi tuan, ada hal lain yang harus sampaikan."
"Apa?"
"Nyonya juga mendaftar kelas Yoga dengan pelatih yang sama. Yaitu pemilik tempat itu."
"Awasi nyonya, lindungi dia kalau ada hal yang tidak beres. Satu lagi, pasang alat penyadap, pelacak, dan juga pengintai. Aku nggak mau kecolongan lagi,"
"Baik tuan."
"Pergilah!"
Orang suruhan Ezra beranjak pergi, Ezra jadi tidak konsentrasi bekerja karena memikirkan istrinya akan bersama dengan pelatih yang mempunyai bibit mesum.
"Rasanya aku sungguh nggak tahan. Aku ingin sekali memberitahunya kalau aku ini suaminya, tapi kalau aku memaksanya mengingat, aku takut dia akan kesakitan dan bisa jadi malah semua memorinya menghilang. Ini benar-benar ujian untuk rumah tanggaku," ucap Ezra.
"Ada apa? kelihatannya kusut sekali?" tanya Yuda saat baru saja masuk ruang kerja Ezra.
Ezra kemudian menceritakan semuanya. Tingkat kejahilan Yudapun kembali bekerja.
"Wah...bahaya tuh. Karin yang tahu dia bersuami saja bisa selingkuh, apalagi Marinka yang merasa tidak punya suami? bisa jadi dia kecantol juga kan?"
"Sebenarnya kamu itu sahabatku atau bukan sih Yud? kok malah menakut-nakuti aku?" ujar Ezra kesal.
Yuda terkekeh melihat ekspresi wajah Ezra yang kesal.
*****
__ADS_1
Keesokkan harinya...
Seperti biasa, Marinka menyiapkan sarapan dan bekal buat Ezra. Setelah itu dia naik keatas untuk memasang dasi suaminya yang dia lupakan itu. Setelah itu dia menemani Ezra sarapan, dan mengantar Ezra hingga kedepan teras.
Cup
Ezra tiba-tiba mencium kening Marinka secara tiba-tiba, yang tidak hanya membuat tubuh Marinka menegang tetapi Ezra juga menjadi kaku.
"Sial, karena terbiasa aku jadi lupa. Bagaimana ini? pasti dia mengira aku pria mesum, tapi dia kan istriku?" batin Ezra.
"Ma-Maaf. A-Aku...."
Ezra tidak sanggup menjelaskan, pria itu langsung berbalik badan dan pergi begitu saja. Sementara itu pipi Marinka jadi merona, sikap Ezra membuat jantungnya jadi berdebar-debar. Namun Marinka segera mengendalikan diri dan bersiap pergi ke pusat kebugaran kembali.
Seperti hari sebelumnya Marinka melakukan pengintaian pada Karin. Dia ingin mendapat lebih banyak bukti, agar bisa menghancurkan Karin dengan mudah. Marinka bertekad, akan merenggut apapun sumber kebahagiaan Karin.
Seperti hari kemarin, hari ini Karin kembali keluar rumah dengan pakaian olah raga yang berbeda. Dan seperti hari kemarin pula, Karin menemui sang pelatih secara diam-diam diruangannya. Namun satu hal yang Karin tidak tahu, diam-diam Marinka menyuruh seseorang untuk meletakkan sebuah kamera tersembunyi diruangan itu.
"Aku tidak perlu lagi mengintainya setiap hari, karena kamera itu sudah bisa menggantikan aku untuk mengintainya. Karin, nikmatilah apa yang bisa kamu nikmati. Karena sebentar lagi kamu tidak akan bisa menikmati apapun yang kamu nikmati saat ini," ujar Marinka lirih.
Setelah Karin turun, Kini giliran jam Marinka untuk berlatih Yoga. Mata pria yang ternyata bernama Reza, terbelalak saat melihat Marinka yang akan dia latih. Marinka saat ini memang tengah mengenakan pakaian senam yang terbilang lumayan sexy.
"Ini gila, dia cantik sekali. Sexy lagi," batin Reza.
"Heh.Tidak habis pikir, pria dengan tingkat kemesuman seperti ini mau dijadikan selingkuhan. Apa Galang tidak bisa memberikan kepuasan di ranjang?" batin Marinka.
Seperti yang Marinka duga, Reza seperti berusaha ingin menarik perhatian Marinka lewat tubuhnya yang atletis.
"Badan kakak bagus banget ya?" tanya Marinka.
"Oh iya dong, simbol lelaki jantan sejati." Jawab Reza sembari terkekeh, tanpa Reza tahu, Marinka memutar *** matanya dengan malas
"Pasti banyak cewek yang suka kakak,"
"Ya mau gimana lagi. Tapi sayangnya nggak ada yang cocok,"
"Sama kayak aku dong ya? aku juga jomnlo karena nggak mudah cocok tiap cari pacar."
"Masak sih? wanita secantik kamu belum ada yang punya."
"Sungguh," Marinka memasang senyum menggoda yang membuat Reza meleleh seketika.
Sementara ditempat berbeda Ezra tengah murka, karena melihat Marinka yang tengah menggoda laki-laki lain demi misinya. Sungguh meskipun itu hanya sebuah misi, pria itu sangat tidak rela Marinka disentuh orang lain.
"TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1