Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab 237. Kecelakaan


__ADS_3

"Yur. Hari ini kamu berangkat ke Paris ya?" ujar Rakha.


"Ke Paris? ada apa?" tanya Yure.


"Diamond Corp bermasalah." Jawab Rakha.


"Apa aku pergi sendiri?" tanya Yure.


Rakha melirik kearah Gadlyn yang terlihat sibuk menyusun berkas di meja kerjanya.


"Pergilah bersama Gadlyn. Nanti kalau aku selesai meeting dengan klien dari kota S, aku akan segera menyusul. Dan kamu bisa kembali menghandle perusahaan yang ada disini. Intinya kamu cuma perlu mewakiliku saat rapat bersama pemegang saham nanti," ujar Rakha.


"Baiklah aku mengerti." Jawab Yure.


"Gadlyn,"


"Ya tuan."


Gadlyn mendekat kearah meja Rakha dan berdiri di samping pria itu.


"Kamu pulanglah bersama Yure. Rumahmu searah dengan dia. Kamu pamitan dengan orang tuamu, karena kamu harus melakukan perjalanan bisnis keluar negeri," ujar Rakha.


"Keluar negeri?"


"Ya. Tepatnya ke Paris." Jawab Rakha.


Mendengar kota Paris di sebut, tentu saja Gadlyn sangat gembira. Diapun menerima tugas itu dengan senang hati.


Yurepun keluar dari ruangan itu, sementara Gadlyn beberes karena ingin pulang ke rumah.


"Ingat! disana kamu pergi bekerja. Bukan untuk jalan-jalan, apalagi mau menggoda pria," ujar Rakha.


"I-Iya tuan." Jawab Gadlyn.


"Dasar Harimau. Tahu saja kalau tujuanku pengen jalan dan belanja. Apa dia ini punya indera ke 7?" batin Gadlyn.


"Simpan ini untukmu," ujar Rakha.


Rakha menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam di depan Gadlyn. Sementara Gadlyn jadi mengerutkan dahinya.


"Ini apa tuan?" tanya Gadlyn.


"Tentu saja kartu. Apa kamu buta?"


"Astaga ini orang, pengen banget ku gremus pakai cabe rawit sekilo. Mulutnya ini sadis melebihi petir," batin Gadlyn.


"Ya aku tahu itu kartu. Tapi maksudku kartu itu untuk apa? kenapa memberikannya padaku? kalau itu untuk keperluan kantor, berikan saja pada tuan Yure. Aku takut hilaf," ucap Gadlyn.


"Tidak masalah kalau hilaf. Gunakan sesukamu." Jawab Rakha.


"Tidak mau. Uangku masih ada, masih cukup kalau cuma mau beli oleh-oleh buat mama," ujar Gadlyn.

__ADS_1


"Nggak ngambil, nggak usah pergi!" ucap Rakha.


"Tuan jangan begini. Tuan membuatku jadi tidak enak hati. Lagian anda tidak punya kewajiban memberikan hal berharga seperti ini. Kalau anda suamiku, baru aku mau menerimanya."


Hap


Gadlyn menutup mulutnya, yang lagi-lagi ngomong asal.


"Hehehe...maaf tuan bercanda. Apa ada kartu warna lain? kalau warna lain mungkin akan ku pertimbangkan," tanya Gadlyn.


"Warna lain?"


"Ya warna apa saja yang penting jangan warna Hitam. Gold misalnya,"


"Nggak punya kartu warna lain. Semuanya warna hitam." Jawab Rakha.


"Huuu ....sombong," ucap Gadlyn lirih namun masih bisa di dengar oleh Rakha.


"Apa?"


"Tidak ada apa-apa. Ya sudahlah tidak ada kartu-kartuan. Kartuku sendiri juga ada," ujar Gadlyn.


"Berapa banyak isi kartu bulukmu itu. Paling 20 juta nggak sampai. Aku ini paling tahu keuanganmu itu bagaimana."


"Kok tuan bisa tahu?" tanya Gadlyn.


"Ya iyalah. Orang aku yang gaji kamu." Jawab Rakha.


"Keras kepala sekali. Sini mana nomor rekeningmu?" tanya Rakha.


"Ya sudahlah kalau tuan memang memaksa. Saya paling senang kalau dipaksa gini, tadi cuma pura-pura nggak mau. Kirim yag banyak ya tuan," ucap Gadlyn sembari mencari nomor rekeningnya di nomor kontak ponselnya.


Setelah memberikan nomor rekeningnya, Gadlyn bergegas pergi karena Yure sudah memanggilnya.


Ting


Sebuah pesan dari M-Banking masuk kedalam ponsel Gadlyn. Gadlyn yang duduk disebelah Yure, segera meraih ponsel dalam tasnya.


"Astagaaaaaaa....."


Ckiiiiiiiittttttttt


Yure yang terkejut mendengar suara Gadlyn jadi menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Yure.


"Ma-Maaf tuan. Anda terkejut ya?"


"Tentu saja terkejut. Ada apa? apa ada masalah?"


"Eh...anu..tuan Rakha mengirim uang padaku dengan jumlah tidak masuk akal. Buat apa dia memberikan uang sebanyak ini?" tanya Gadlyn.

__ADS_1


Yure menggelengkan kepalanya, sembari kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Berapa yang diberikannya?" tanya Yure.


"500 juta." Jawab Gadlyn.


"Dasar Rakha bucin. Tapi cupu," ujar Yure terkekeh.


"Bucin cupu? maksudnya apa tuan?".


"Seharusnya kamu juga paham, kenapa dia sampai memberikan uang sebanyak itu. Si Rakha itu pria yang kaku, dia tidak tahu mengekspresikan rasa sukanya pada seorang gadis. Kalau diantara kalian tidak ada yang maju, alamat kalian akan jadi perjaka tua dan juga perawan tua,"


"Maksud tuan apa? a-aku takut salah mengartikan ucapan tuan."


"Jangan kira aku tidak tahu. Kamu juga suka dengan Rakha kan? kalian itu saling menyukai, tapi nggak ada yang berani maju."


"Tu-Tuan Rakha menyukaiku? ma-mana mungkin. Dia selalu galak padaku, ucapannya juga pedas."


"Itulah yang aku bilang. Dia itu pria kaku dan nggak pandai mengekspresikan rasa sukanya."


"Apa benar ya yang di bilang tuan Yure?" batin Gadlyn.


"Kenapa nggak kamu saja yang duluan nembak? jaman sekarang wanita yang duluan nembak juga banyak," tanya Yure.


"A-Aku nggak suka tuan Rakha." Jawab Gadlyn yang dibalas cebikkan oleh Yure.


Setelah melakukan persiapan dan berpamitan dengan keluarga masing-masing, Yure dan Gadlyn pergi ke bandara secara bersama-sama. Setelah mengkonfirmasi tiket yang dibeli secara online, merekapun pergi dengan menggunakan salah satu pesawat kebanggaan tanah air.


Awalnya berjalan seperti biasa. Tidak ada masalah apapun ketika mereka lepas landas. Namun ketika pesawat berada diatas ketinggian beberapa ribu kaki, dengan jarak tempuh beberapa ribu kilometer. Pesawat tiba-tiba mengalami guncangan hebat. Ternyata saat melewati sebuah kota, tempat itu sedang mengalami hujan petir. Diperkirakan karena cuaca yang buruk, pesawat jadi mengalami hambatan.


Jangan ditanya bagaimana keadaan penumpang saat ini. Mereka semua mengalami kepanikkan, termasuk Gadlyn dan Yure.


"Ya Tuhan...beri aku kesempatan hidup. Kalau aku bisa selamat, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku akan menyatakan perasaanku padanya, terserah dia mau nerima atau tidak,"


Air mata ketakutan Gadlyn mengalir hingga kedagunya. Entah mengapa orang yang ada dalam ingatannya hanya ada Rakha seorang.


"Ezka aku mencintai...aku mencintaimu sayang. Tuhan, selamatkan aku. Kasihan anak-anakku kalau mereka lahir tanpa ayah. Aku memang manusia pendosa, tapi jangan hukum istriku dengan membiarkan dia mengurus anak-anak sendirian. Pokoknya aku janji, kalau aku selamat sedekahku akan ku perbanyak lagi,"


Suara hiruk pikuk penumpang gegap gempita. Namun Gadlyn dan Yure hanya memejamkan mata ditemani dengan rapalan do'a-do'a. Namun mata yang terpejam sementaran itu berubah, setelah pesawat yang mereka tumpangi jatuh diperairan.


Prangggggg


Cangkir kopi yang hendak Rakha raih, tiba-tiba tersenggol dan hancur berantakkan di lantai.


Deg


Deg


Deg


Rakha mengelus dadanya yang tiba-tiba berdebar tidak menentu. Rakha segera meraih ponselnya kemudian menelpon Yure dan Gadlyn namun nomor mereka tidak ada yang aktif.

__ADS_1


__ADS_2