
"Tidak boleh ada yang merenggut nyawa cucu-cucuku kecuali memang sudah takdir. Kalau kamu masih bisa membuat pilihan, berarti masih ada kemungkinan. Kalau kalian berhasil menyelamatkan mereka semua, maka semua tim yang terlibat gajinya akan aku naikkan menjadi tiga kali lipat."
"Jadi pada intinya mereka harus selamat. Apa kamu mengerti?"
"Mengerti tuan. Baiklah, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan mereka semua," ujar dokter.
"Bagus. Cepat lakukan, jangan membuang waktu lagi," ucap Ezra.
"Baiklah." Jawab dokter.
Dokter kemudian masuk ke dalam ruang operasi kembali, untuk berjuang menyelamatkan nyawa anak dan cucu majikkannya itu.
"Ilyas. Kakimu sudah sembuh?" tanya Ezra.
Ilyas yang belum sadar kakinya sudah sembuh, mengikuti arah pandang Ezra.
"Ka-Kakiku?" bibir Ilyas bergetar.
"Kenapa? kamu baru sadar kakimu sudah sembuh?"
"Pa-Papa kakiku sembuh pa. Kakiku sembuh. Aku bisa jalan lagi? hahaha" Ilyas tertawa.
Puk
Puk
puk
"Selamat ya? papa ngerti, mungkin saat melihat Meiza celaka, kakimu reflek bekerja untuk menyelamatkan anak dan istrimu itu," ujar Ezra.
"Iya pa. Saat melihat darah di lantai, rasanya duniaku sudah jungkir balik saat itu. Aku tidak bisa tanpa Meiza pa." Jawab Ilyas.
"Itulah tadi kenapa aku lebih memilih menyelamatkan Meiza daripada anak-anak, meskipun sebenarnya aku juga sangat mencintai anak-anakku. Tapi keselamatan Meiza yang paling utama," sambung Ilyas.
"Yakinlah. Meiza pasti akan baik-baik saja," ujar Ezra.
Ezra melirik kearah Marinka yang duduk di ruang tunggu, dengan wajah bermuram durja. Ezra kemudian menghampiri Marinka, dan merangkul pundak istrinya itu.
"Sabarlah sayang. Yakinlah anak dan cucu-cucu kita akan selamat semua nantu," ujar Ezra dengan lembut.
"Adek takut bang," ucap Marinka, sembari merebahkan kepalanya di dada Ezra.
Ezra mengusap puncak kepala Marinka yang sudah terisak. Sejujurnya Ezra juga takut saat ini, tapi dia harus tegar. Agar Marinka tidak bertambah sedih dan takut.
Setelah menunggu hampir 4 jam, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Degup jantung Ilyas bertalu-talu, saat ingin tahu keadaan anak dan istrinya.
"Bagaimana keadaan putri dan cucuku?" tanya Ezra.
"Ada dua kabar yang mau saya sampaikan. Yaitu kabar baik dan kabar buruk." Jawab dokter.
Deg
__ADS_1
Deg
Deg
Jantung Ilyas sudah seperti lari Marathon saat mendengar ucapan dokter. Rasanya dia tidak ingin mendengar apapun lagi, karena dia sedang ketakutan saat ini.
"Kabar baik apa?" tanya Ezra.
"Kabar baiknya mereka selamat semua." Jawab dokter.
"Ah...syukurlah," ucap Ilyas.
Terlihat juga rasa lega, di wajah Ezra dan Marinka. Namun tiba-tiba Ezra teringat tentang ucapan dokter yang membawa kabar buruk.
"Lalu. Apa kabar buruknya?" tanya Ezra.
"Nona Meiza mengalami koma." Jawab dokter.
Ilyas, Ezra dan Marinka tertegun. Sesaat kemudian Rakha datang dengan tergesa-gesa.
"Bagaimana keadaan Meiza pa?" tanya Rakha.
"Dia mengalami koma." Jawab Ezra.
Sama dengan mereka, Rakhapun juga terkejut. Diliriknya marinka yang sudah terisak kembali .Perlahan dia mendekati Marinka dan memberikan pelukkan untuk mamanya itu.
"Mama tenang saja. Meiza itu wanita yang kuat. Dia pasti ingin melihat anak-anaknya tumbuh besar," ujar Rakha.
"Kamu sudah bisa jalan lagi Yas?" tanya Rakha
"Iya Uda. Ini benar-benar suatu keajaiban. Puluhan kali mengikuti terapi, tapi tidak bisa menyembuhkan kakiku. Namun saat melihat Meiza jatuh, kakiku bereaksi dengan spontan. Hah...percuma kakiku sembuh, kalau aku harus membayarnya semahal ini." Jawab Ilyas dengan wajah muram.
"Bersyukurlah. Tuhan pasti memiliki rencana, dibalik musibah ini," ujar Rakha.
"Emm." Ilyas mengangguk.
Setelah menunggu Meiza di pindahkan, barulah Mereka bisa menjenguk Meiza.
"Sayang. Tidurnya jangan lama-lama ya? kasihan putra putri kita menunggumu saat ini. Mereka ingin bertemu denganmu," ujar Ilyas dengan lelehan air mata.
"Tidak hanya mereka, aku juga nggak bisa tanpa kamu. Aku kangen dengan semua kebawelanmu,"
Ilyan menggenggam erat tangan Meiza dan sesekali menciumnya.
"Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak lumpuh, aku pasti bisa menjagamu dengan baik dan tidak akan pernah menyusahkanmu," sambung Ilyas.
Puk
Rakha menepuk bahu Ilyas yang tampak rapuh.
"Sudahlah. Ini bukan salahmu, ini sudah takdir dia yang harus melewati masa seperti sekarang ini. Yang penting sekarang kita harus banyak-banyak berdo'a, agar Meiza cepat sembuh," ujar Rakha.
__ADS_1
"Kamu istrirahat saja. Malam ini biar papa yang jaga Meiza," ujar Ezra.
"Nggak pa. Waktu aku koma Meizalah yang telaten merawat dan menjagaku. Sekarang biarkan aku melakukan hal yang sama untuknya. Nanti minta tolong supri saja, agar membawakan aku pakaian selama aku tinggal di rumah sakit," ucap Ilyas.
"Baiklah. Kalau itu maumu," ujar Ezra.
"Biar kutemani dulu malam ini," ucap Rakha.
"Jangan Uda. Kak Gadlyn pasti sangat membutuhkanmu. Sangat sulit menjaga dua bayi, dia pasti kelelahan. Tidak masalah, biar aku saja yang menjaganya sendirian," ujar Ilyas.
"Ya sudah kalau begitu," ujar Rakha.
Rakha mengerti, Ilyas mungkin butuh waktu yang banyak dengan Meiza. Dia mengerti perasaan Ilyas saat ini.
"Ya sudah. Kami pulang dulu. Nanti kalau ada apa-apa cepat kabari kami," ujar Ezra.
"Iya pa." Jawab Ilyas.
Ezra, Marinka dan Rakha pun pulang kerumah. Tiga hari kemudian mereka membawa Moza ke rumah sakit, karena ingin melakukan operasi Cesar. Meski mereka sedang diliputi rasa bahagia, tapi tetap saja mereka merasakan sedih karena Meiza belum sadar juga sampai saat ini.
"Sayang. Bangunlah! Hari ini anak Moza juga lahir. Apa kamu nggak mau melihat keponakan-keponakanmu yang luar biasa? anak kita juga nungguin kamu," ujar Ilyas.
Sejak menunggu Meiza dirumah sakit, Ilyas sudah kehilangan bobot tubuhnya sebanyak 3 kg. Tubuh pria itu jadi semakin kurus, ditambah stres saat dirinya lumpuh waktu itu.
*****
6 bulan sudah berlalu sejak Meiza koma di rumah sakit. Tapi tanda-tanda wanita itu terbangunpun belum ada. kini Meiza sudah bisa dirawat dirumah, dengan menyewa dua orang perawat untuk membantu merawat Meiza.
"Sayang. Hari ini aku dinas malam. kamu baik-baik di rumah ya? jaga anak kita," ujar Ilyas.
Ilyas memang sudah kembali bekerja di rumah sakit EH hospital. Sama dengan Ilyas, Moza dan Anser juga bekerja di rumah sakit yang sama.
Ilyas melangkahkan kaki dengan gontai, saat baru pulang keesokkan paginya. Semangat hidup pria itu seakan musnah, sejak Meiza koma berbulan-bulan. Namun pagi ini dia cukup terkejut, saat tidak mendapati Meiza diatas tempat tidur. Ilyas memamg sudah terbiasa, saat pulang bekerja selalu menemui Meiza terlebih dahulu di ruang khusus.
"Sa-Sayang? kamu dimana? suster...suster...," Ilyas berteriak panik.
Pria itu bahkan melempar tas kerjanya begitu saja, saat tidak mendapati Meiza di ruangan itu. Pikiran buruk sudah berdatangan di dalam otaknya saat ini. Ilyas bergegas memeriksa ponselnya, karena takut melewatkan sesuatu. Namun dia bertambah kesal, karena ternyata baterai ponselnya sudah habis.
Ilyas bergegas turun kebawah, untuk menanyakan pada para pelayan tentang keberadaan Meiza. Namun ternyata pelayan semuanya pergi entah kemana. Disaat dirinya sedang panik, telpon rumahpun berbunyi. Ilyas segera mengangkat telpon rumah itu.
"Hallo...."
"Lebih baik kamu siapkan surat cerai untuk putriku. Aku tidak mau lagi dia bersamamu," ujar Ezra diseberang telpon.
"Pa-papa. Maksud papa apa? aku saat ini sedang kebingungan, karena Meiza tiba-tiba menghilang," tanya Ilyas.
"Dia ada dirumahku. Perawat apa yang kamu sewa itu, hingga bisa membuat meiza jatuh dari tempat tidur dan mengalami perdarahan di otaknya. Kamu sama sekali tidak becus menjaga putriku, lebih baik kalian pisah saja."
"Ap-Apa? nggak pa. Jangan lakukan itu. Aku sangat mencintai Meiza. Aku minta maaf, aku akan menjaga Meiza dengan lebih baik lagi. Bila perlu aku akan berhenti bekerja," ujar Ilyas panik.
"Meiza ada dirawat dirumahku sekarang. Kami tidak perlu kesini lagi. Urus saja surat cerai kalian dipengadilan,"
__ADS_1
Ezra langsung mengakhiri panggilan itu. Sementara Ilyas yang panik langsung pergi ke rumah Ezra. Dia tidak ingin di pisahkan dengan Meiza.