
Ezra menarik tangan Marinka setelah selesai memeriksa kepala istrinya itu. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, pria itu membuat Marinka memasuki mobilnya. Marinka menatap wajah suaminya yang terlihat ada luka dan sedikit noda darah di sudut bibirnya.
Marinka meraih selembar tisu, untuk mengelap noda darah itu, namun Ezra menghindarinya dengan wajah dingin.
"Bang. Abang terluka, biarkan adek membersihkannya," ujar Marinka.
"Jangan sentuh! duduk manis dan diam ditempat dudukmu!" ucap Ezra.
Marinka terdiam. Ini pertama kalinya Ezra berbicara lumayan keras padanya. Marinka memikirkan bagaimana caranya agar Ezra tidak marah lagi padanya.
"Bagaimana ini? sepertinya bang Ezra benar-benar marah kali ini. Kalau sudah begini, rayuan maut sepertinya tidak akan mempan lagi. Aku harus bagaimana?" batin Marinka.
Di sisi lain. Galang menyeringai puas, saat melihat kecemburuan Ezra.
"Sepertinya temperament pria itu lumayan buruk. Aku bisa memanfaatkan temperanennya itu untuk merebut Marinka dari tangannya. Dia harus mengembalikan Marinka padaku, karena Marinka adalah milikku," ucap Galang lirih.
"Berhenti bersikap tidak tahu malu. Sudah cukup kita membuat Marinka menderita. Biarkan dia bahagia," ujar Karin saat mendengar ucapan Galang.
Galang berbalik badan, dan tersenyum sinis kearah wanita itu.
"Mau masuk penjara, baru ingat tobat kamu? tidak usah menceramahiku, seharusnya aku hidup bahagia dengan Marinka kalau tidak kamu mengahasutku terus menerus. Apa kamu lupa? kamulah penyebab perpisahanku dengan dia,"
"Kamu nyalahin aku mas? kalau aku tidak berselingkuh, apa kamu masih terpikir buat mencari Marinka? tidak kan? jadi jangan bersikap serakah, hanya karena Marinka sekarang sudah jadi orang yang berbeda. Dulu saja kamu selalu mengatainya jelek dan tidak berpendidikkan, sekarang kamu mau menjilat ludahmu sendiri?"
"Apa kamu sudah selesai mengoceh? apapun yang ingin aku lakukan, tidak ada urusannya denganmu. Kamu nikmati saja sisa hidupmu di penjara," ujar Galang.
"Tidak masalah. Dan kamu tunggu saja, karma juga akan datang kepadamu, kamu pikir Marinka akan membiarkan kamu begitu saja tanpa di hukum? kamulah sumber malapetaka semua penderitaannya selama ini."
"Tutup mulutmu brengsek!" hardik Galang.
"Heh. Setelah ku pikir-pikir, aku sama sekali tidak menyesali sudah berselingkuh dari pria sepertimu. Selain payah diatas ranjang, kamu juga tidak ada bedanya denganku. Lambat laun kamu akan berselingkuh juga," ucap Karin.
"Siapa yang kamu bilang payah diranjang?"
"Kamulah, siapa lagi? jika dibandingkan dengan Reza, kemampuanmu itu tidak ada apa-apanya. Jadi jangan pernah bermimpi Marinka ingin meninggalkan Ezra demi pria payah sepertimu,"
Galang benar-benar merasa terhina dengan apa yang Karin ucapkan. Namun Karin tidak perduli dengan Ekspresi marah di wajah pria itu, Karin malah menutup pintu tepat di depan wajah Galang.
"Karin. Lihat saja, aku akan membuatmu mendapatkan hukuman berat di penjara. Kalau kalian para wanita mempermasalahkan durasi? lalu kenapa? begitu banyak tempat berobat, aku akan melakukannya setelah aku berhasil mendapatkan Marinka," Galang menyeringai.
Marinka dan Ezra tiba di kediaman mereka. Ezra menarik tangan Marinka, hingga wanita itu berusaha menyeimbangkan langkah kaki mereka.
Brakkkkk
Ezra menutup pintu kamar dengan lumayan keras. Pria itu kemudian melepaskan pakaian Marinka.
"Dia mau apa? apa dia mau mengajakku bercinta?" batin Marinka. Wanita itu terlihat bingung.
__ADS_1
Setelah membuat Marinka telanjang, Ezra membawa wanita itu ke kamar mandi dan merendamnya di bathup. Ezra bahkan menggosok tubuh Marinka dengan sabun. Melihat itu, kini Marinka mengerti. Ezra ingin menghilangkan bekas sentuhan Galang dari dalam dirinya.
Tap
Marinka menghentikan gerakkan tangan Ezra yang tengah menggosok tubuhnya dengan menggunakan spons.
"Kenapa? apa kamu begitu senang di sentuh pria itu? sehingga bekasnya pun kamu begitu tidak rela menghilangkannya?"
"Abang sudah salah faham padaku. Mana mungkin aku senang di sentuh olehnya?"
"Tapi aku melihat sendiri kamu tertawa saat dia menggenggam tanganmu,"
"Seharusnya abang melihat versi lengkapnya, kenapa adek bisa tertawa seperti itu."
"Apapun itu Aku sudah mengatakan padamu. Jangan menemuinya, tapi kamu masih saja keras kepala."
"Abang tidak percaya padaku?" tanya Marinka.
"Bagaimana abang mau percaya padamu? jelas-jelas dia ingin merebutmu dariku, tapi kamu masih saja menantang maut dalam hubungan kita. Adek ngerti nggak sih ketakutan abang?" Ezra lagi- lagi meninggikan suaranya.
"Adek ngerti. Tapi...."
"Bagus kalau kamu mengerti. Itu artinya adek harus intropeksi diri, kenapa huru hara rumah tangga kita bisa sampai terjadi."
"Jadi abang mau adek bagaimana? pisah kamar?" Marinka berharap dengan ancaman itu Ezra akan melunak dan tidak marah lagi padanya.
Marinka menghela nafas panjang, ini murni pertengkaran pertamanya selama pernikahan.
"Ini mulut nggak bisa di rem. Sudah tahu dia lagi marah, pakai ngancam pisah kamar segala. Jadi murka kan dia?" ucap Marinka.
Marinka bergegas membilas tubuhnya, dia ingin segera membujuk suaminya agar tidak marah lagi. Dia tidak ingin membiarkan kesalahfahaman diantara mereka berlarut-larut.
Kriekkkk
Marinka membuka pintu kamar mandi dan tidak mendapati Ezra di kamar mereka.
"Kemana dia?" ujar Marinka.
Marinka bergegas mengganti pakaiannya dan mencari keberadaan Ezra.
"Kalian tahu tuan ada dimana?" tanya Marinka saat turun kebawah dan bertanya pada para pelayan rumah.
"Tuan ada diruang kerja nyonya. Ini saya sedang buat kopi, tuan minta dibuatkan kopi soalnya."
"Biarkan saya yang mengantarnya untuk tuan," ujar Marinka.
Marinka meraih kopi dari tangan pelayan, dan membawanya keruang kerja Ezra.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Kriekkkkkkk
Marinka melangkah masuk. Dapat Marinka lihat, Ezra tengah memejamkan mata sembari memijat keningnya dan bersandar di sebuah sofa panjang.
Marinka meletakkan kopi itu diatas meja, dan membaringkan kepalanya di pangkuan Ezra yang membuat pria itu sedikit terkejut.
"Abang marah?" tanya Marinka selembut mungkin, namun Ezra kembali memejamkan mata tanpa menggubris Marinka yang tengah berbaring di pangkuannya.
Karena tidak di gubris, Marinkapun bangkit dan duduk di pangkuan Ezra dengan posisi saling berhadapan. Sungguh prilaku ini dia tidak pernah melakukannya, hingga Ezra pun sedikit dibuat terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ezra heran.
"Apalagi. Suamiku sedang marah padaku, jadi saat ini adek sedang merayu abang." Jawab Marinka.
"Wanita ini. Mana ada merayu bilang-bilang?" batin Ezra.
"Abang jangan marah lagi ya? adek ngaku salah deh. Tapi sumpah demi apapun, adek nggak punya perasaan lagi sama dia. Abang kan tahu cintaku cuma buat abang seorang," rayu Marinka.
"Masih mau bilang pisah kamar lagi?" tanya Ezra.
"Nggak bang. Adek juga nggak sanggup jauh-jauh dari abang," Marinka menggelengkan kepalanya.
Marinka kemudian menyentuh luka lebam di wajah Suaminya. Tanpa terasa air matanyapun menetes.
"Kamu kenapa nangis?" tanya Ezra.
"Maafin adek bang. Gara-Gara adek, abang jadi begini. Hikz...."
Ezra lupa kalau istrinya itu mempunyai hati yang sangat lunak. Pria itu kemudian membawa Marinka kedalam pelukkannya.
"Kalau tidak ingin membuat abang terluka, jauhi dia sejauh mungkin. Abang tidak suka melihat adek dekat-dekat dengannya, meskipun dia duluan yang mendekatimu."
"Ya. Adek janji akan menghindari dia, adek juga sudah menyelesaikan urusanku dengan mereka. Ternyata Galang tidak terlibat dalam kebakaran itu. Itu semua konspirasi yang Paulin dan Karin buat, dan sengaja memfitnah Galang."
"Jadi kamu melupakan begitu saja kesalahan yang Galang perbuat terhadapmu?"
"Jika abang tidak mengizinkan aku dekat-dekat dengannya, adek bersedia melupakan semuanya. Apapun yang abang minta, akan adek lakukan. Adek nggak suka buat abang marah, karena adek mencintai abang."
Ezra mengeratkan pelukkannya sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1