
Ezra memijat keningnya saat masalah yang dia hadapi diperusahaannya tidak semudah yang dia bayangkan. Sudah dari pagi dirinya mengadakan meeting bersama pemegang saham, namun belum ada titik temu. Pasalnya sebuah koleksi set perhiasan mereka yang dipesan oleh keluarga bangsawan, dikembalikan secara tiba-tiba. Perhiasan itu disinyalir telah melakukan plagiat dari seorang disigner perhiasan terkenal di dunia. Keluarga bangsawan itu memberikan waktu pada mereka untuk mendisign dan mencetak ulang perhiasan yang baru, yang tentu saja harus disetujui terlebih dahulu.
"Bagaiman kalau disign kita tetap saja tidak disukai oleh mereka?" tanya Ezra
"Itu artinya kita harus mengembalikan uang mereka sebanyak dua kali lipat dari harga barang."
"Apa ini tidak terlalu dibuat-buat? apa mereka ingin mencari uang dengan cara memeras? apa kalian sudah menanyakan pada disigner kita, apa dia benar-benar sudah melakukan plagiat?"
"Sayangnya iya tuan. dia sudah mengakuinya, memang tidak sama persis dengan aslinya. Tapi sangat jelas, disign yang dia buat hanya dia tambah sedikit aksen. Coba anda perhatikan ini,"
Pria itu kemudian menunjukkan dua buah gambar dilayar. Disign perhiasan yang tampak mirip, hanya beda warna dan sedikit perubahan aksen."
"Sangat memalukan! bagaimana dia bisa berbuat seperti itu. Apa dia pikir perusahaanku ini perusahaan abal-abal?"
"Tuan tenang saja, saya sudah memecat dia."
"Kita bisa saja mengembalikan uang keluarga itu seharga 10 kali lipat. Tapi bukan itu poin utamanya, yang kita hadapi ini keluarga bangsawan, mereka bisa menghancurkan reputasi perusahaan hanya dengan sekali bersuara."
"Itulah sebabnya kami memanggil tuan kemari. Kami ingin tuan memecahkan masalah ini bersama kami. Kami tidak ingin salah bertindak, dan merugikan perusahaan."
"Temukan seorang disigner handal dalam 3 hari, atau suruh semua disigner kita bekerja keras untuk membuat disign. pilih yang paling bagus kemudian ajukan."
"Disigner kita menyerah kalau mendisign untuk keluarga bangsawan itu. Pasalnya orang itu sangat perfeksionis dan pilih-pilih. Disign mereka takut di tolak."
Ezra terdiam. Kali ini dia benar-benar merasa dipusingkan. Kalau bukan menyangkut tentang reputasi perusahaan, mungkin dia sudah meninggalkan tempat itu secara tiba-tiba.
"Pokoknya perintahkan saja begitu, sembari aku akan memikirkan solusi yang lain. Aku juga akan berusaha untuk mencari disigner handal untuk membantu kita."
"Baiklah tuan, begitu saja kalau begitu."
"Oke. Kita cukupkan disini saja rapat kita hari ini, besok kita adakan rapat kembali untuk membahas perkembangan masalah ini," ujar Ezra.
Ezra membubarkan diri lebih dulu, pasalnya kepalanya sedikit kram karena terlalu banyak beban pikiran yang bergelayut diotaknya akhir-akhir ini.
Ezra kemudian memutuskan untuk pergi meminum kopi disebuah kafe, agar bisa menenangkan sarafnya yang sedikit tegang.
"Ah...aku hampir lupa, seharusnya aku janjian dengan Ando kan? aku lihat dulu, dimana butiknya yang paling dekat disini," ujar Ezra.
Ezra kemudian mencari lokasi butik Ando yang paling dekat dari tempatnya nongkrong. Setelah menemukannya, Ezra bergegas pergi ketempat itu dengan menggunakan taksi.
"Melihat dari geogle map nya sih benar disini titik lokasinya, apa agak majuan dikit ya?" ujar Ezra.
Ezra memberhentikan taksinya saat melihat sebuah butik yang terlihat ramai pengunjung.
"Pantas saja Ando kelabakkan, pengunjung saja seperti ini. Benar-Benar sukses berat si Ando," ucap Ezra.
__ADS_1
Ezra kemudian keluar dari taksi setelah membayar ongkos. Ezra perlahan melangkah masuk kedalam, dan melihat-lihat keadaan butik dan barang-barang di butik itu.
Deg
Deg
Deg
Marinka mengusap dadanya yang tiba-tiba saja berdebar dengan kencang. Tidak jauh berbeda dengan Marinka, Ezrapun merasakan detak yang sama.
"Aduh, kenapa dadaku? keluargaku nggak punya riwayat sakit jantung, apa ini karena aku terlalu lelah bekerja?" ujar Ezra sembari mengusap-usap dadanya.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Sera.
"Aku nggak tahu, tiba-tiba jantungku berdebar."
"Apa kamu mau lahiran sekarang?" Sera jadi ikutan panik.
"Setahuku kalau mau lahiran perut yang sakit, bukan dada berdebar. Apa jangan-jangan ada masalah dengan jantungku?" tanya Marinka.
"Husssttt jangan bicara sembarangan. Kamu itu pasti akan baik-baik saja. Apa kamu butuh teh?" tanya Sera.
"Nggak. Mungkin aku butuh udara segar kali ya?"
"Emm." Marinka mengangguk.
Marinka berjalan perlahan, mengingat kandungannya sudah sangat besar.
"Aku sangat berharap anakku lahir sesuai dengan jadwal operasi 3 hari lagi."
"Kenapa kamu memilih di tanggal itu?"
"Itu tanggal lahir papanya anak-anak." Jawab Marinka.
"Kamu masih belum bisa move on Rin?"
"Belum. Mungkin untuk selamanya Ra."
"Jangan begitu, Kenapa kamu tidak melirik Ando. Dia kan suka sama kamu,"
"Dia sudah kuanggap seperti kakak sendiri. Lagian ada seseorang juga yang menyukai dia," Marinka melirik kearah Sera.
Sera tersenyum kecut mendengar ucapan Marinka.
"Ternyata memang nggak bisa nyembunyiin apapun dari loe ya? tapi itu tidak penting Rin, aku sama sekali tidak masalah kalau kamu dan dia bersatu."
__ADS_1
"Bodoh. Cukup aku saja yang menyerah dengan mudah, karena aku tidak ingin bertahan seperti dengan suami pertamaku. Ando patut kamu perjuangkan, dia pria yang baik."
"Cinta tidak bisa dipaksakan, dia menyukaimu."
"Tapi aku tidak menyukai dia."
"Aku..."
Kata-Kata Marinka terhenti, saat melihat sosok yang begitu familiyar didepan matanya. Ezra yang tengah memilih-milih pakaian wanita, tidak menyadari ada sosok Marinka yang berdiri tidak jauh darinya. Sementara itu tubuh Marinka jadi tegang dan sedikit bergetar.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Sera yang sedikit panik karena melihat Marinka yang sudah mengeluarkan air mata.
"Ada dia disini,"
"Siapa?"
Marinka menunjuk kearah Ezra, Sera mengerutkan dahinya karena dia seperti mengenal pria itu. Mata Sera terbelalak saat mengingat sosok yang sering Sera lihat, saat Marinka merindukan sosok itu dan melihat foto-fotonya di galery ponsel.
Marinka menyeret tangan Sera agar sedikit bersembunyi, dia tidak ingin Ezra sampai melihat kehadirannya.
"Kamu yakin tidak ingin menemui dia?"
"Menurutmu buat apa kita sampai jauh-jauh ke Paris? kalau aku menemui dia, lalu buat apa lagi kita berada di negara ini?"
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sera.
"Tentu saja aku tidak baik. Aku sangat merindukan dia, merindukan pelukkannya." Air mata Marinka mengalir hingga kedagunya.
"Awwww..."
"Kenapa Rin?" Sera panik.
"Anak-Anak tiba-tiba bergerak aktif,"
"Sepertinya mereka tahu Papanya ada disini,"
"Maafkan mama nak, mama belum bisa bertemu dengan papa kalian," ucap Marinka lirih.
"Apa kamu sangat ingin Ezra mengelus perutmu?" tanya Sera.
"Sangat. Tapi itu tidak mungkin kan? Jihan pasti ada bersamanya, mereka keparis pasti ingin bulan madu atau ingin liburan."
Sera menyeringai, sepertinya gadis itu menemukan sebuah ide, agar bisa mewujudkan keinginan ibu hamil itu.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1