
"Istirahatlah! mimpi yang indah," Ando mengusap puncak kepala Sera setelah pertautan bibir mereka terlepas.
"Emm." Sera mengangguk dengan pipi yang merona.
Gadis itu melambaikan tangannya saat mobil yang Ando kendarai mulai melaju dan hilang dalam kegelapan. Sera memasuki apartement dengan wajah semringah sembari selalu memegang bibirnya.
"Cieeee...yang abis kencan," ledek Marinka saat Sera memasuki apartement.
"Eh? kamu belum tidur? ini sudah jam 10 Rin," tanya Sera.
"Ini baru selesai, aku memang sengaja nungguin kamu." Jawab Marinka sembari menyimpan semua hasil design dan alat tulisnya kedalam sebuah kardus besar.
Sera menjatuhkan bokongnya disebuah sofa besar, dan meletakkan tas tangannya diatas meja bundar didepannya.
"Ngapain nungguin aku? serasa kamu jadi emakku," ujar Sera.
"Eh tunggu! kayaknya ada yang beda diwajahmu?" Marinka memperhatikan wajah Sera dengan seksama, yang membuat Sera jadi salah tingkah.
"Apanya yang beda? nggak ada."
"Nggak, ada yang beda ini. Tapi apa ya?" tanya Marinka sembari meraih dagu Sera.
"Apaan sih, nggak ada." Sera menepis tangan Marinka.
Saat menepis tangannya, Marinka melihat sebuah cincin melingkar dijari manis sahabatnya itu.
"Aha...sepertinya aku tahu perbedaannya dimana, setelah melihat cincin ini," Marinka mengacungkan tangan Sera dihadapannya.
Grepppp
Sera memeluk Marinka dengan erat, dengan air mata yang ambyar seketika.
"Kenapa. Hem?" Marinka membalas pelukkan sahabatnya itu, sembari mengelus punggungnya.
"Makasih sudah menjadi sahabatku Rin. Gara-Gara berteman denganmu, aku jadi mendapat keberuntungan yang luar biasa, sama sepertimu."
Marinka menjauhkan tubuh Sera dari dekapannya dan menatap wajah sahabatnya itu.
"Ada apa Ra? berbagilah denganku,"
"Ando melamarku, kalau tidak ada halangan bulan depan kami akan menikah."
"Apa??? kok tiba-tiba gitu?" Marinka terkejut.
"Aku juga terkejut. Tapi nggak apalah Rin, apapun hasilnya nanti aku akan terima. Sekarang aku mau jalani hubungan yang ada dulu. Aku juga nggak mau bermimpi dulu Ando mau menikahiku," ucap Sera.
"Pantas saja perubahan itu begitu nyata,"
"Perubahan apa sih?"
"Noh...bibirmu. Jangan kita aku nggak menyadarinya. Kayaknya kelamaan tuh," ucap Marinka sembari mengulum senyumnya karena Sera sudah tersipu malu.
"Si Ando gerak cepat banget ya, baru juga ngelamar udah nyosor aja." sambung Marinka.
"Hussstt...jangan keras-keras, malu di dengar suamimu,"
__ADS_1
"Dia lagi meriksa laporan di kamar,"
"Sayang...bobok yuk?" ujar Ezra yang tiba-tiba muncul.
"Noh...baru juga dibilangin," bisik Sera.
Marinka bergegas pergi untuk memenuhi ajakan suaminya. Sementara itu Sera masuk kekamarnya dengan hati berbunga-bunga.
Sementara itu ditempat berbeda, Ando baru saja tiba di rumahnya. Rehan yang sedang asyik bermain game jadi menghentikan kegiatannya itu karena ingin mendengar hasil lamaran kakak sepupunya.
"Gimana bro sepupu? apa berhasil?" tanya Rehan.
"Tentu saja. Apa kamu pikir kakakmu ini sudah tidak memiliki pesona lagi?" jawab Ando dengan gaya sombongnya.
"Tunggu! bibirmu kenapa?" tanya Rehan.
"Sial. Kelihatan banget ya?"
"Ho'oh, bengkak tuh."
"Kayaknya dia baru pertama kali mengerti dunia kenyot mengenyot," ujar Ando sembari terkekeh.
"Baguslah itu, daripada dapat yang mahir? itu sudah karuan masih orisinil," timpal Rehan.
"Papa Mamaku sudah tidur ya?"
"Sudah kayaknya, lagian ini udah jam 10 lewat juga."
"Rencananya aku akan menikah dengan Sera bulan depan."
"What? kok mendadak?"
"Ya bagus sih, tapi kesannya kayak buru-buru."
"Mumpung kamu masih liburan, aku jadi bisa memanfaatkan tenagamu itu buat bantuin ngurus pernikahanku."
"Inilah yang dinamakan saudara sontoloyo," ujar Rehan.
"Emang Om dan Tante sudah pasti setuju?"
"Tentu saja harus setuju. Mereka selalu mendesakku buat nikah, karena pengen gendong cucu katanya. Sekarang aku sudah memutuskan, jadi dilarang protes."
"Sadis amat bahasamu," ujar Rehan terkekeh.
"Udah ah, aku mau tidur, ngantuk." ujar Ando sembari nyelonong pergi.
*****
"Kak. Aku takut," ujar Sera saat mereka sudah berada didepan rumah Ando.
Hari ini Ando membawa Sera kerumahnya, untuk dikenalkan pada orang tuanya. Mereka pun bermaksud ingin makan siang bersama.
"Tidak usah takut, lagipula ada kakak disini. Kakak memang tidak tahu respon mereka positif apa negatif, karena kakak belum bercerita tentangmu ke mereka."
"Seharusnya kakak ceritakan semua, jadi kakak bisa langsung menilai hasilnya positif atau negatif. Kalau negatif, kan aku bisa kabur lebih dulu."
__ADS_1
"Enak aja mau kabur, kamu juga harus tanggung jawab dong."
"Tanggung jawab apa? aku nggak ngapa-ngapin kok," tanya Sera.
"Siapa bilang? kamu itu sudah berhasil memporak-porandakan hatiku," ujar Ando sembari menaik turunkan alisnya.
"Ckk...kakak ini, disituasi seperti ini masih sempat-sempatnya ngegombal. Ini mau masuk apa nggak? kalau nggak aku pulang nih. Nggak tahu apa lututku udah lemas duluan begini," gerutu Sera yang membuat Ando terkekeh.
Ando menggenggam tangan Sera saat mereka memasuki rumah mewah pria itu. Jantung Sera sudah seperti genderang yang bertabuh saat mulai duduk disebuah kursi, tempat keluarga Ando biasa menghabiskan makanan bersama.
"Oh...jadi ini gadis pilihan kamu?" ujar Helen yang tak lain adalah ibu yang sudah melahirkan Ando.
"Iya Ma."
"Pendidikkan terakhirmu apa? sekarang bekerja dimana? apa keluargamu juga keluarga pengusaha?" tanya Handoyo.
"Pa. Kok nanyanya gitu sih? itu nggak penting semua buat aku Pa," ucap Ando yang mulai emosi. Dia tidak menyaka orang tuanya bersikap impulsif.
Sementara itu Rehan tampak diam, hanya menyimak percakapan itu sembari memakan buah pisang.
"Ya nggak penting buat kamu, tapi penting buat keluarga kita. Kita harus perhatikan dong bibit bebet dan bobotnya. Kamu itu anak kami satu-satunya, sudah sepatutnya mendapat yang lebih," ujar Handoyo.
Ando menggenggam tangan Sera yang sudah dingin dan gemetaran dibawah meja.
"Kok diam? Om kamu tanya loh," timpal Helen.
Sera menelan ludahnya, sialnya dia tidak kursus dulu dengan Marinka. Seharusnya dia menyiapkan jawaban khusus, agar dia tidak terlalu kaku untuk menjawab pertanyaan yang menyudutkannya.
"Sa-Saya cuma tamanan SMA om. Keluarga saya juga bukan keluarga pengusaha. Saya cuma seorang anak yatim piatu. Kebetulan saya juga bekerja disalah satu butik kak Ando." Jawab Sera dengan wajah tertunduk.
"Oh...main trik ya? biar bisa gaet bos kamu?" tanya Helen.
Sera menggelengkn kepalanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kalian kenapa sih? kemarin mendesak Ando buat cari istri karena pengen gendong cucu. Sekarang giliran sudah dapat, kalian nanya yang nggak berbobot gitu?" Ando benar-benar kesal saat ini.
"Nggak berbobot apanya? meski kami mendesak, tapi bukan berarti kamu bisa cari calon istri sembarangan dong. Apa kamu pikir kami tidak mampu mencarikan calon istri berkelas buat kamu? anak-anak kolega papa kamu banyak loh yang nanyain kamu," ucap Helen.
"Tapi kan aku...."
Kata-Kata Ando terhenti saat Sera menarik tangan pria itu dari bawah meja. Sera lagi-lagi menggelengkan kepalanya kearah Ando, dapat pria itu lihat air mata Sera sudah memenuhi pelupuk matanya, yang membuat Ando menjadi iba.
"Mama jadi ingin dengar, bagaimana pendapat dia tentang ini?" tanya Helen.
Sera menatap Helen dan Handoyo secara bergantian. Meski hatinya terasa perih, tapi dia tetap berusaha mengahargai kedua orang tua itu, minimal demi Ando sang pujaan hati.
"Kak. Apa yang dikatakan Om dan Tante ada benarnya. Kakak orang hebat, sudah sepatutnya mendapatkan yang lebih dariku. Aku nggak apa kok, sudah diterima perasanku saja aku sudah sangat senang. Sebaiknya kakak turuti saja kehendak orang tua kakak," ujar Sera.
"Sepertinya pembicaraan ini tidak usah diteruskan lagi, karena aku menilainya kalian ini seperti orang tua yang ada di dalam sinetron. Sebenarnya kalian ini hidup di zaman apa?"
"Kak. Nggak boleh gitu ngomong dengan orang tua," ucap Sera lirih namun masih bisa didengar oleh Helen dan Handoyo.
"Biarin aja. Ayo kita pergi dari sini!"
Ando menarik tangan Sera, Sera dengan berat hati menuruti kemauan Ando meski dia masih sempat menundukkan sedikit kepalanya tanda hormat dan pamit.
__ADS_1
"Tunggu!..."
TO BE CONTINUE...🤗🙏