
"Sial...ini kenapa sih dengan dasinya? biasanya juga bisa pasang sendiri."
Ezra tampak mengikatkan dasi di kerah kemejanya, namun selalu berakhir miring dan tidak rapi. Marinka yang baru saja selesai membuat sarapan dan bekal untuk Ezra, bergegas naik keatas untuk melihat persiapan suaminya itu.
Marinka mengintip apa yang dilakukan Ezra dibalik pintu yang sedikit terbuka, perlahan wanita itu mendorong pintu karena melihat suaminya itu sedang kesulitan memakai dasi.
Marinka sudah berada dihadapan Ezra, dan perlahan meraih dasi itu untuk dia kenakan. Ezra membiarkan apa yang ingin Marinka lakukan, sembari menatap lekat kearah wajah cantik istrinya itu. Sementara itu Marinka bersikap seolah-olah tidak tahu, saat Ezra menatap lekat padanya.
"Selesai,"
"Terima kasih."
"Ayo kita sarapan bersama bang,"
Marinka segera balik badan, Ezra segera mengekor dibelakang istrinya itu. Dia tidak ingin memperkeruh hubungan mereka yang sedikit sudah canggung dari biasanya.
Ingin rasanya Ezra bercerita dan bertanya banyak hal pada Marinka, tapi melihat situasi yang tidak memungkinkan, Ezra hanya diam saja dan menunggu suasana sedikit mencair. Ezra juga melihat mata Marinka yang sedikit bengkak, mungkin karena semalaman wanita itu menangis.
"Abang minta maaf soal kemarin sore," Ezra membuka percakapan, saat suapan pertama mampir kemulutnya.
"Tidak masalah bang, abang tidak salah kok. Mungkin abang hanya terlalu lelah, karena baru sampai dari perjalanan jauh."
"Seharusnya abang tidak boleh bicara kasar padamu, abang hanya...hanya..."
Marinka mengerutkan dahinya saat melihat Ezra begitu sulit mengucapkan kata-katanya. Jujur, Marinka sangat berharap kalau Ezra akan mengatakan kalau pria itu sangat merindukannya.
"Sudah jam 7 lewat, nanti abang telat ngantornya."
Marinka memotong pembicaraan Ezra, agar pria itu tidak lagi canggung.
"Ah...ya...abang sudah sedikit terlambat, nanti setelah pulang kita bicara lagi."
Ezra segera menyudahi sarapan paginya, dan bangkit dari kursi. Marinka mengekor dibelakang Ezra dengan menenteng rantang kecil berwarna biru.
"Ini bekal buat abang,"
Marinka menyodorkan bekal itu setelah mereka sudah sampai diteras. Ezra meraih rantang itu dan mengucapkan terima kasih.
Ezra melangkah maju untuk mencium kening Marinka, namun diluar dugaan istrinya itu malah menghindar, sehingga membuat Ezra mengepalkan tangannya.
"Pergilah, nanti abang terlambat. Adek juga sudah hampir telat ngampusnya," Marinka mencoba menolak secara halus.
"Baiklah, abang pergi dulu."
"Ya."
Ezra segera masuk kedalam mobilnya. Tanpa mereka sadari, hubungan aneh itu terekam oleh para pelayan setia mereka. Sejak Ezra kembali, tidak ada pemandangan romantis yang menjadi santapan mereka setiap hari, bahkan mereka terlihat seperti orang asing.
__ADS_1
Sementara itu, disepanjangan perjalanan menuju kantor, Ezra berkali-kali memukul stir mobilnya karena kesal. Perasaannya sangat kacau, saat Marinka seperti sedang menghindarinya.
"Sebenarnya ada apa dengan Marinka? kenapa dia tiba-tiba berubah sikap begitu?" ucap Ezra
"Ini kenapa lagi, dasar jalan sialan. Nggak tahu orang lagi buru-buru, malah macet lagi," gerutu Ezra.
Setelah memakan waktu hampir 30 menit, dengan segala umpatannya, Akhirnya Ezra tiba juga dikantornya. Tidak seperti biasanya, kali ini wajah Ezra benar-benar sangat masam. Moodnya sangat buruk, sehingga setiap karyawan yang ingin menyapanya jadi ketakutan.
Brakkkk
Ezra membuka pintu ruangannya dengan cukup kasar, Yuda yang tengah menyusun berkas di meja Ezra terjengkit kaget karena ulah pria itu.
"Astaga...belum juga kawin akunya zra, kamu sudah mau buat aku terkena serangan jantung."
Ezra tidak menjawab ucapan Yuda, pria berwajah masam itu langsung duduk dikursi kebesarannya. Ezra kemudian meraih tumpukkan berkas itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Sepertinya mood Ezra sedang tidak bagus, apa dia sedang bertengkar dengan Marinka? atau sedang bertengkar dengan Jihan?" batin Yuda.
"Aku kembali keruanganku dulu," ujar Yuda.
Ezra sama sekali tidak menjawab ucapan Yuda, Yuda pun meninggalkan ruangan itu. Pria itu tidak mau mengganggu singa yang sedang sakit gigi.
"Salah sendiri mau-maunya terjebak dengan dua wanita, jelas-jelas ada wanita yang waras, tapi tetap saja mau memilih wanita gila uang itu." Gerutu Yuda.
Yuda melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sementara itu ditempat berbeda, Marinka kekampus dengan gairah yang sedikit redup. Melihat Marinka seperti itu, membuat Arumi dan Mela punya alasan untuk menggoda sahabatnya itu.
"Dia sudah pulang,"
"Sudah pulang? kalau sudah pulang kenapa kamu sedih?"
"Ada sedikit pertengkaran kecil,"
"Ckk...biasanya pasangan itu kalau lama tidak ketemu, pasti makin mesra. Ini kenapa malah bertengkar?"
"Maaf ya teman-teman, aku tidak bisa cerita ke kalian, soalnya ini masalah rumah tangga "
"Ya kami ngerti. Kamu jangan sedih, kalian harus berbicara baik-baik tentang masalah kalian,"
"Ya kamu benar," ujar Marinka.
"Marinka, kamu sudah selangkah lebih maju. Jangan sampai kamu lemah dan mundur, karena kalau sampai pertahananmu roboh, maka kamu sendiri yang akan terluka." batin Marinka.
"Sialan...aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi," Ezra melempar pena yang dia gunakan untuk menandatangani banyak berkas.
"Semalam aku kesulitan tidur, karena tidak ada dia. Sekarang aku sulit berkonsentrasi, itu juga karena memikirkan dia. Sebenarnya aku ini kenapa?" gerutu Ezra dengan kesal.
Ezra yang moodnya benar-benar buruk melampiaskannya pada isi rantang yang dibuat oleh Marinka. Tanpa sadar Ezra sudah menghabiskannya tanpa sisa sedikitpun.
__ADS_1
Tepat pada pukul 5 sore, Ezra tiba dikediamannya. Orang pertama yang dia cari adalah Marinka, namun keberadaan istrinya itu sama sekali tidak dia temukan.
"Apa nyonya belum pulang?" tanya Ezra pada salah satu pelayannya.
"Belum tuan."
"Belum?"
Ezra melirik arloji ditangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 5.15 sore.
"Kemana dia? tidak biasanya dia pulang melebihi jam pulangku. Terlebih tidak ada konfirmasi dari dia."
Ezra menyingkap tirai, saat mendengar ada sebuah mobil yang berhenti didepan pagarnya. Lagi-Lagi dia melihat Marinka diantar sebuah mobil yang sama.
"Bukankah itu mobil bocah bernama Rehan itu?" ucap Ezra lirih.
Ezra melihat Marinka sedikit berbincang dan tertawa bersama Rehan.
Sretttt
Ezra menutup tirai kamarnya dengan lumayan kasar. Pria itu bergegas turun kebawah untuk menyambut kedatangan Marinka.
Kriekkkk
Marinka terkejut saat melihat kehadiran Ezra tetap didepan pintu, saat dia baru saja menekan handle pintu itu.
"A-Abang," Marinka terbata.
"Jadi apa kamu sibuk akhir-akhir ini karena asyik pergi dengan pria itu?"
"Pria? pria yang mana? apa yang abang maksud si Rehan?"
"Memangnya ada berapa pria selama ini yang sering mengantarmu pulang kerumah?"
"Cuma Rehan, itupun karena kami sedang mengerjakan tugas kelompok bersama. Adek tidak enak kalau mau ngerepotin supir kita. Karena Rehan berada satu jalur yang sama, jadi adek nebeng dia saja."
"Mulai besok akan ada ahli yang akan mengajarimu menyetir, jadi kamu tidak perlu lagi nebeng mobil orang lain."
"I-Iya bang,"
Ezra berbalik badan dan meninggalkan Marinka begitu saja.
"Sikap bang Ezra sangat aneh, kalau melihat sikapnya yang begitu, orang-orang akan mengira dia sedang cemburu padaku." ucap Marinka lirih.
Marinka bergegas menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya sendiri untuk segera membersihkan diri.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1