Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.21. Cantik


__ADS_3

"Poin kedua, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kita tidur satu kamar. Apa ini tidak terbalik? bukankah seharusnya tidur dikamar terpisah lebih aman?" tanya Marinka.


"Oh...itu, aku memang sudah yakin kamu akan salah faham dipoin kedua itu."


"Kenapa? apa aku sudah salah menafsirkannya?"


"Maaf, tapi memang iya. Aku memang menulisnya sedikit ambigu, jadi wajar saja kalau kamu salah faham."


"Jadi apa maksud yang sebenarnya?"


"Itu, aku takut Mama yang keponya maksimal, tiba-tiba datang kerumah, dan memeriksa isi kamar kita. Bisa berabeh kalau mama sampai tahu kalau kita tidur terpisah."


"Benar juga."


"Lagian kamu tidak perlu khawatir, aku tidak mungkin menyentuhmu. Aku sangat mencintai kekasihku, jadi aku tidak mungkin mengkhianatinya."


"Apa kekasihmu tahu soal pernikahan kontrak ini?"


"Ya. Sejujurnya, dia pula yang memberikan ide gila ini. Tapi mau gimana lagi, inilah solusi terbaik untuk masalah kami."


"Baiklah, aku setuju juga untuk poin kedua. Selanjutnya poin ketiga...tuan akan memberikan nafkah padaku?"


"Emm. Bukankah sebagai suami aku wajib memberikan nafkah?"


"Ya tapi itu tidak diperlukan, lagian kita hanya menikah sebentar saja, nikahnyapun bohongan."


"Pernikahan ini bukan bohongan, ini Sah secara hukum dan agama. Tapi kita mempunyai perjanjian khusus secara pribadi. Jadi aku akan tetap menafkahimu dan kamu dilarang menolaknya."


"Baiklah terserah saja." Jawab Marinka.


"Selanjutnya...tuan akan tetap memberikan kompensasi setelah perceraian?"


"Ya. Dan kamu juga tidak boleh menolaknya."


"Tuan, aku ikhlas membantumu, anda juga sudah banyak membantuku. Jadi anggap saja hutang kita impas, anda tidak perlu memberikan kompensasi apapun padaku."


"Sudah kubilang, tidak ada penolakkan!"


"Ya terserah saja kalau begitu," Marinka menghela nafas.


"Untuk poin terakhir itu, kamu harus fikirkan baik-baik sebelum kamu menandatanganinya," ujar Ezra.


Marinka langsung membaca dengan seksama isi poin terakhir yang Ezra maksudkan.


"Ini maksudnya bagaimana tuan?"


"Apapun yang terjadi diantara kita, sejak terhitung tanggal pernikahan, dan tepat setelah 6 bulan pernikahan, maka salah satu diantara kita berhak mengajukan gugatan perceraian tanpa salah satu dari kita berhak bertanya dan apa alasannya."


"Oh maksudnya kalau misalkan tuan ingin mengajukan cerai, aku dilarang bertanya penyebab dan alasannya. Karena ini kesepakatan mutlak begitu?"


"Kurang lebih seperti itu. Lagian tidak masalah juga bukan? toh pada akhirnya kita akan pisah juga."


"Benar. Ya sudahlah, semua poinnya aku setuju," ujar Marinka.


"Tanda tangan dua kali ya? aku sudah membuatnya dua rangkap. Jadi kamu bisa pegang satu, dan aku juga pegang satu."


"Emm." Marinka mengangguk.


Marinkapun segera menandatangani surat kontrak itu dan menyerahkannya pada Ezra.


"Tuan, setelah bertemu orang tuamu nanti, aku harus tinggal dimana? aku kan tidak punya tempat tinggal lagi."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan sebuah apartement untukmu."


"Apartement? apa itu rumah tuan?"


"Bukan. Aku membelikannya atas namamu "


"Atas namaku? tuan, ini sangat berlebihan. Anda memberiku terlalu banyak, aku takut lupa diri."


"Tidak masalah, kamu memang pantas mendapatkannya. Lagipula apa yang kamu lakukan untukku, sangatlah berarti. Walau kamu tidak menyadarinya, tapi tidak mudah bagi seseorang mengorbankan hidupnya hanya untuk hal konyol."


"Tuan, tanpa anda mungkin aku sudah tidak ada didunia ini. Jadi tidak masalah bagiku melakukan semua pengorbanan ini untukmu. Jika orang berbuat baik padaku, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat."


"Marinka, hatimu sungguh baik. Bodoh sekali mantan suamimu menyia-nyiakan orang sebaik dirimu."


"Aku tidak sebaik itu dimata orang-orang itu. Mereka semua membenciku dan tidak menginginkanku,"


"Marinka. Jika kamu ingin membalas dendam pada mereka, aku bersedia membantumu."


"Tidak tuan. Biarlah ini menjadi urusanku, aku tidak ingin melibatkan siapapun."


"Baiklah, jangan sungkan kalau kau membutuhkan bantuanku."


"Emm."


"Ah...akhirnya kita sampai juga, bersiaplah!"


"Sudah sampai?"


"Emm."


Marinka menatap pagar rumah yang tinggi menjulang, rumah mewah dan luas membuat mata Marinka sangat takjub.


"Kenapa?"


"Rumah sebesar ini apa anda mendapatkan uangnya dengan cara memelihara tuyul?"


Ezra tertawa keras mendengar ucapan Marinka.


"Ini rumah orang tuaku, rumahku tidak jauh juga dari sini."


"Jadi anda tinggal ditempat terpisah? tapi kenapa? rumah ini sangat besar dan luas, kenapa harus memisahkan diri?"


"Biar lebih nyaman saja. Aku tidak suka gerak gerikku diawasi."


"Aiihh...orang kaya mah bebas,"


Ezra mengulum senyumnya mendengar cara bicara Marinka yang apa adanya.


"Aku jadi ingin tahu, bagaimana reaksinya saat melihat rumahku yang besarnya dua kali lipat dari rumah ini, apa dia akan pingsan?" batin Ezra.


Ezra membukakan pintu mobil disisi Marinka, dan menyambut tangan wanita itu layaknya seperti sepasang kekasih.


"Pa, kali ini kita tidak boleh tertipu oleh anak nakal itu. Sudah berapa kali dia membawa kekasih palsu, namun tidak ada yang dia nikahi."


"Iya. Malam ini mangsa tidak boleh sampai lolos," timpal Baskoro.


"Mereka datang," bisik Masayu.


Ezra dan Marinka berjalan melenggang menuju ruang tamu, dengan tangan Marinka yang mengait dilengan Ezra.


"Selamat malam, om, tante," sapa Marinka dengan senyum terbaiknya.

__ADS_1


"Dapat darimana anak bandel, gadis cantik begini?" bisik Masayu.


"Iya. wajah gadis ini benar-benar sempurna," bisik Baskoro.


"Pa, ma, kok gitu? calon mantu kalian sedang menyapa kalian, kok malah bisik-bisik gitu?"


"Eh? maaf silahkan duduk."


Marinka mencium tangan Masayu dan Baskoro. hal yang tidak pernah dilakukan setiap wanita yang dibawa oleh Ezra kerumah, termasuk Jihan kekasih Ezra yang sudah dipacarinya selama 3 tahun.


"Kamu cantik sekali nak, siapa namamu. Hem."


"Marinka tante."


"Marinka? namanya juga cantik ya pa?" ujar Masayu sembari menoleh kearah suaminya.


"Sudah lama kenal Ezra?"


"Kalau kenalnya sih sudah lama, tapi kami baru dekat akhir-akhir ini saja."


"Oh ya? kalian kenal dimana?"


"Dikantor tante."


"Dikantor? apa kamu bekerja dikantor Ezra?"


"Oh bukan tante. Kebetulan Marinka masih seorang mahasiswi, saat itu Inka sedang magang dikantor bang Ezra."


"Bang? oh...so sweet ya pa? panggilan mereka beda dengan anak muda kebanyakan."


Ezra yang melihat tingkah orang tuanya hanya bisa memijat keningnya yang tidak pening.


"Orang tuamu ada dimana?" tanya Baskoro.


"Saya anak yatim piatu Om."


Baskoro dan Masayu terdiam, sementara Marinka sangat gugup melihat respon orang tua Ezra.


"Apa kamu sudah siap menikah muda?" tanya Masayu.


"Apa Om dan tante tidak keberatan dengan saya yang yatim piatu? terus terang saya ini bukan orang berada."


"Tidak masalah. Lagipula kami tidak butuh uang menantu kami, apalagi kedudukkan, karena kami punya semua itu. Kami hanya butuh seorang menantu yang sayang dengan putra kami dan mau melahirkan penerus keluarga kami."


"Ya Tuhan ma, obrolannya kenapa sudah sejauh itu sih?" Ezra benar-benar merasa malu dihadapan Marinka.


"Kenapa? kalau nunggu kamu yang bertindak, bisa-bisa papa dan mama masuk kubur baru kamu kepikiran buat nikah." ujar Masayu.


"Marinka, apa kamu sudah tahu tentang masa lalu Ezra?" tanya Baskoro.


"Apa ini menyangkut tentang mantan kekasihnya itu?"


"Oh jadi kamu sudah putus dari Jihan? baguslah kalau begitu, lebih bagus Marinka kemana-mana juga," ucap Masayu.


"Ma, nggak boleh gitu." protes Ezra.


"Apa? lebih baik aku ajak calon mantuku makan malam bersama, yuk Nak?"


"Eh?" Marinka menoleh kearah Ezra yang kemudian diangguki oleh pria tampan itu.


Selama makan malam bersama, Masayu bercerita banyak hal dengan Marinka, Marinka cepat sekali mengakrabkan diri dengan orang tua Ezra yang membuat pria itu sedikit kagum pada wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2