
Yuda menghela nafas panjang saat melihat Ezra begitu terpuruk. Pria itu terlihat lesu di kursi kebesarannya.
"Apa aku terlalu serakah? aku berharap kehidupan yang akan aku jalani dengan Jihan berjalan sempurna. aku terlalu percaya diri, aku mengira dengan harta yang aku punya aku bisa mengendalikan semuanya termasuk seorang wanita.Tapi kenapa, kenapa jadi berakhir seperti ini?"
"Jihan benar-benar membuatku muak, bahkan rasa cinta yang aku miliki untuknya hilang tak berbekas. Aku harus bagaimana Yud? aku benar-benar merasa bersalah pada Marinka."
"Kenapa harus bingung? sejak awal Tuhan memang mengirimkan Marinka sebagai jodohmu, hanya saja kisah cinta kalian memang dibuat sedikit berliku. Dan itu tidak apa-apa, anggap itu sebuah ujian dalam cinta."
"Cih...omonganku seperti seorang pakar cinta saja. Padahal pada kenyataanya aku hanya pernah satu kali berpacaran, itupun setelah 3 hari langsung diputusin. Hikz..."
"Sebaiknya kamu segera melihat video yang ada di cctv rumahmu. Terutama dihari kalian menandatangani surat perceraian. Mungkin dengan melihat semua itu, kamu akan menyadari, siapa wanita yang benar-benar kamu cintai."
"Aku pergi dulu ya? aku ingin mengurus semua calon uangku."
"Calon uang?"
"Ya. Bukankah kamu bilang kalau semua kerugianmu pada Jihan, boleh menjadi milikku?"
"Ckk...kamu ini sudah ketularan Jihan mata duitan,"
"Tidak masalah. Asal duitnya digunakan dengan benar. Oh ya bagaimana nasib cek 500 milyar itu?"
"Kenapa?"
"Dia tidak akan bisa mencairkannya bukan?"
"Tentu saja. Dia harus dapat persetujuan dariku kalau menginginkan hal itu,"
"Hahaha...aku tidak bisa membayangkan saat dia tidak bisa mencairkan cek itu,"
"Kalau begitu aku tugaskan satu hal untukmu."
"Apa?"
"Kirimkan uang 500 milyar ke dua rekening yang pernah aku berikan untuk Marinka."
"Buat apa? apa kamu masih ingin melanjutkan perceraianmu dengan Marinka?"
"Tentu saja tidak. Tapi kali ini aku harus melamarnya kembali dengan benar bukan? aku ingin mengambil hatinya dari awal, sebab aku tidak tahu apa dia mencintaiku atau tidak. dia tidak pernah menunjukkan hal itu padaku,"
__ADS_1
"Kalau kamu ingin tahu, segera kamu tonton videonya. Aku pergi dulu,"
"Nanti malam temani aku menemui Marinka ya?"
"Ogah. Datang saja sendiri, aku masih ingin mengurus calon uangku."
"Lebih baik kamu pikirkan bagaiman caranya mengurus Jihan. Jangan lepaskan wanita penipu itu dengan mudah." sambung Yuda.
"Untuk saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya, aku takut tidak bisa mengendalikan diri dan melenyapkan gadis itu dengan tanganku sendiri."
"Kenapa kamu ragu? apa aku boleh kasih saran?"
"Saran apa?"
"Masukkan saja dia kedalam sumur, atau lemparkan dia ke empang buaya milik kolegamu itu."
"Akan aku pikirkan. Aku juga tidak mungkin melepaskan dia begitu saja,"
"Baguslah. Sementara itu aku akan menguras semua uangnya, hingga dia cuma memiliki baju yang melekat dibadannya."
"Terserah saja."
Setelah menunggu beberapa lama, Serketaris Ezra datang dengan membawa sebuah laptop keluaran terbaru. Dengan tidak sabar Ezra membuka video cctv yang ada dirumahnya, dimulai sejak pertama kali Marinka tinggal dirumah itu.
Saat melihat video dirinya dan Marinka yang menuruni anak tangga sembari bergandengan tangan, membuat senyum Ezra mengembang. Pemandangan itu sungguh manis. Ezra kemudian melihat saat dirinya makan bersama, dan juga mencium kening Marinka, hati Ezra mulai sedikit berdenyut.
Dan ketika Ezra melihat video terakhir, air mata Ezra terjun bebas membasahi pipinya. Bagaimana tidak? di video itu Marinka tampak keluar dari ruang kerja Ezra dengan tubuh bergetar karena menangis. Padahal dalam ingatannya, waktu itu Marinka tidak mengeluarkan air mata sedikitpun, wanita itu tampak tegar dan biasa saja.
Ezra mempercepat video itu, sampai Marinka turun kebawah dan berpelukkan dengan para pelayan sembari menangis. Sungguh hati Ezra sangat sakit melihatnya, di video itu Marinka terlihat melangkahkan kaki dengan lesu saat ingin keluar dari rumah itu.
Ezra menyeka air matanya, pria itu mengingat- ingat saat dirinya merenggut kesucian Marinka ketika mabuk. Marinka memang pernah mengatakan kalau wanita itu menyayangi dirinya dan ingin hidup berdua selamanya dengan dia.
"Apa sebenarnya kamu punya perasaan lebih sama abang dek? maafkan abang yang tidak peka," Ezra kembali menyeka air matanya.
Ezra kembali membuat panggilan di nomor ponsel Marinka, namun nomor itu masih saja tidak aktif. Ezra bergegas pergi keluar rumah karena ingin menemui Marinka di kampus. Pria itu sangat tidak sabar ingin memeluk istri kecilnya itu.
Lama menunggu dipintu gerbang, keberadaan Marinka sama sekali tidak terlihat. Namun Ezra tidak sengaja melihat teman-teman Marinka yang baru saja keluar pagar sembari mengobrol.
"Hai..." sapa Ezra yang bingung harus mengatakan apa.
__ADS_1
Mela dan Arumi menoleh bersamaan ke asal suara yang menyapa mereka.
"Hey..."Jawab Arumi dan Mela serentak.
"Emm...Marinka kemana ya? kok nggak kelihatan?"
Mela dan Arumi saling berpandangan. Terus terang dua gadis itu merasa bingung dengan pertanyaan Ezra.
"Apa anda tidak tahu? Marinka sudah tidak lagi kuliah di kampus ini. Dia sudah pindah." Jawab Arumi.
"Pindah?" Ezra terkejut.
"Pindah kemana?" sambung pria itu.
"Kami juga tidak tahu pindah kemana. Yang pasti dia tidak lagi kuliah disini, sebenarnya ada apa dengan kalian? maaf bukan bermaksud ikut campur, tapi Marinka terlihat sangat sedih saat kamu menceraikan dia."
Sekuat hati Ezra menahan air matanya agar tidak jatuh, sedikir demi sedikit dia seperti memperoleh kepastian akan perasaan Marinka sesungguhnya.
"Apa kalian memiliki nomor ponsel Marinka yang baru? aku tidak bisa menghubunginya di nomor ponsel yang lama."
"Sama, kami juga begitu. Sudah beberapa hari ini nomor ponsel Marinka tidak bisa kami hubungi. Apa kamu sudah mendatangi rumahnya?"
"Sudah, tapi dia tidak ada dirumah."
"Apa mungkin dia sedang pergi berlibur? mungkin dia ingin menenagkan diri karena perceraian kalian. Maaf ya tuan, tapi saya heran kenapa anda menceraikan dia. Dia wanita yang baik dan lemah lembut yang pernah aku kenal, dia juga smart dan cantik, dia pandai dalam segala hal. Tapi memang disayangkan, dia memang tidak pandai merebut hati tuan, sehingga tuan bisa dengan mudah mencampakan dia," ujar Arumi.
"Maaf. Itulah sebabnya aku berada disini, karena aku ingin memperbaiki semuanya. Maukah kalian membantuku? saat bertemu dengannya, berikan nomor ponselnya padaku?" ujar Ezra.
"Bukankah anda akan menikahi kekasih anda yang seorang model itu?"
"Tidak. Itulah sebabnya aku berada disini,"
"Kenapa? apa anda sedang bertengkar dengan kekasih anda, atau kekasih anda ketahuan selingkuh?" tanya Arumi dengan berani.
"Kalau benar demikian, sebaiknya anda pikir ulang lagi. Mungkin sahabat saya memang bukan jodoh yang tepat buat anda. Lagipula sahabat saya bukan sebuah barang, yang bisa seenaknya anda buang dan anda pungut kembali," sambung Arumi.
Arumi menarik tangan Mela, kemudian meninggalkan Ezra begitu saja. Sementara itu Ezra terdiam mematung dipintu gerbang dengan sejuta penyesalannya.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1