Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.101.Titik Terang Buntu


__ADS_3

"Apa??? apa Jihan sudah gila?" Ezra murka.


"Apa kamu baru tahu, kalau mantan kekasihmu itu gilanya sudah akut? kalau aku sih sudah tahu sejak dulu."


Ezra memijat keningnya yang tiba-tiba pusing seketika. Jihan mampu membuat dirinya yang sehat wal'afiat bisa tekena serangan jantung, jika diteruskan bersama.


"Bagaimana keadaan Regia saat ini?"


"Sebelum aku datang menemuinya dia sangat terpuruk. Beruntung pikirannya masih normal dan tidak melakukan hal-hal yang tidak dininginkan. Kalau tidak, aku pasti akan menyesal seumur hidupku."


"Ini semua salahku, andai saja aku tidak menggunakan akun bank miliknya, tentu Jihan tidak akan menargetkan Regia."


"Lalu bagaimana langkahmu selanjutnya?"


"Aku akan menyiksa wanita itu habis-habisan. Sampai dia menginginkan kematian, daripada kehidupan."


"Lalu Regia bagaimana?"


"Aku akan menikahinya."


"Menikahinya? apa itu karena rasa bersalah?"


"Tidak Zra. Itu murni karena aku mencintainya."


"Apa kamu tidak masalah dengan statusnya yang seperti itu?"


"Tidak. Menurutmu ada berapa milyaran wanita didunia ini yang hilang keperawanan dengan cara tidak benar? Regia bukan salah satu dari mereka, dia kehilangan itu karena dipaksa, bukan suka rela seperti yang Jihan lakukan."


"Aih...kamu mengingatkan aku sudah pernah nyelup sekilas barang bekas itu. Aku jadi merasa bersalah pada Marinka."


"Kamu celupkan saja punyamu itu dengan bensin. Mungkin bisa ilang bekas wanita gila itu."


"Kamu nyuruh barang aku dicelupkan dibensin? sekalian saja kamu bakar dengan korek api. Tidak hanya hilang bekasnya, juga akan hilang seluruhnya."


Yuda terkekeh melihat ekspresi Ezra yang cemberut.


"Oh ya, aku ada informasi tentang perkembangan pencarian Marinka,"


"Benarkah? apa kita sudah menemukan dimana keberadaan Marinka?"


"Sayangnya belum. Sepertinya itu sudah direncanakan dengan matang."


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Sebab Marinka tidak berada di kota J."


"Dia tidak berada si kota J?"


"Emm. Seorang peretas suruhanku sudah meretas seluruh jalanan kota J, dan berhasil menemukan Marinka saat dia menaikki sebuah mobil hitam bersama seorang pria dan wanita lainnya."


"Apa plat nomornya juga tertangkap? kearah mana mobil itu pergi?"

__ADS_1


"Tentu saja. Dan orang suruhanku juga sudah mengecek plat nomor itu, mobil itu pergi menuju luar kota."


"Lalu apa hasilnya."


"Mobil itu sudah berganti kepemilikan lebih dari 10 orang. Karena mobil itu mobil bekas pakai, jadi tidak tahu keberadaan pemilik asli dari mobil itu saat ini."


"Lalu bagaimana gambar yang tertangkap kamera apa tidak jelas? siapa yang pergi bersama Marinka?"


"Tidak. Meskipun sudah di cek beberapa kali, tetap saja gambarnya tidak jelas dan pecah saat di Zoom."


"Begitu niat sekali dia ingin meninggalkan aku," Ezra kembali memijat keningnya.


"Kamu tenang saja, kita masih terus berusaha agar Marinka segera ditemukan."


"Aku sangat takut kehilangan dia Yud,"


"Ya aku tahu."


"Apa kamu ingin obat anti stres?" tanya Yuda.


"Apa kamu memilikinya."


"Tentu saja, bahkan obat ini sangat ampuh."


"Baiklah, berikan padaku obatnya."


"Kamu harus datang sendiri pada sumbernya Setelah pulang ngantor nanti, aku akan mengajakmu kesana."


"Kenapa tidak? bukankah dia sumber dari mala petaka yang kamu hadapi saat ini? inilah saatnya kita membalaskan rasa sakit yang dia berikan untuk kita."


"Yud. Kamu itu mengerikan,"


Yuda terkekeh mendengar perkataan sahabatnya itu.


"Siksaanku belum seberapa, jika dibandingkan dengan apa yang kamu lakukan 5 tahun yang lalu."


Ezra menyeringai. Yuda dan dirinya memang menjadi satu paket komplit. Hanya saja Ezra paling tidak suka menyiksa wanita. Berbeda dengan Ezra, berbeda pula dengan Yuda. Pria itu cenderung usil saat melakukan penyiksaan terhadap musuh-musuhnya.


"Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Ezra saat mereka baru tiba di markas.


"Kamu harus kuat hati ya? jangan mentang-mentang dia mantan kamu, kamu jadi nggak tega dan mau lepasain dia. Aku terpaksa masukin kamu kedalam situ sama dia."


"Memangnya kamu masukin kemana? kedalam karung?"


"Kedalam karung? itu ide bagus juga Zra, tapi saat ini aku masukin dia kedalam sumur dulu."


"Su-Sumur? apa di sudah mati?"


"Belum. Mungkin baru setengah mati, lagian kamu tenang saja, sumurnya sedang kemarau. Itulah sebabnya semua binatang mau ngungsi kedalam sana."


Ezra menyipitkan matanya menatap kearah Yuda, sementara Yuda hanya menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Kamu temui dia, ini kesempatanmu melampiaskan kekesalanmu, karena wanita itu si Marinka ilang kan?" Yuda sengaja jadi kompor buat Ezra.


"Kamu mau kemana?"


"Aku akan mengurus si pemerkosa itu. Aku akan memberikan dia pelajaran yang tidak bisa dia lupakan."


"Sungguh malang nasib pria itu," ujar Ezra terkekeh.


Ezra dan Yuda berpisah dengan arah ruangan yang bertolak belakang.


Drap


Drap


Drap


Kaki Ezra berhenti pada sebuah lubang buatan, yang diatasnya sudah diberi penerangan, agar bisa melihat objek didalamnya. Mata Jihan terbuka saat merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya dari atas.


"Sa-Sayang, tolong aku!" ujar Jihan lirih.


Jihan sudah terlamu lelah berdiri, itupun dirinya menahan diri, melawan rasa takutnya karena sudah semalaman gadis itu tidur bersama dengan tikus-tikus berwarna hitam legam.


"Kamu pantas mendapatkannya. Sudah terlalu lama kamu berada di zona yang nyaman. Kini kamu harus merasakan hal ini, agar kamu bisa belajar dari kesalahanmu. Ini belum seberapa dari apa yang Regia rasakan karena kehilangan hal yang berharga. Beruntung kamu tidak memilikinya lagi, karena kalau hal itu masih ada dalam dirimu, Yuda pasti akan memerintahkan orang untuk melakukan hal yang sama, seperti yang kamu lakukan pada kekasihnya."


"Jihan. Tidak berpikirkah kamu sebelum bertindak? bagaimana bisa kamu berbuat kejam, padahal kalian itu sesama wanita."


"Yuda sudah merampas uangku."


"Uang mana yang kamu bicakan? apa uang hasil kamu menipuku selama bertahun-tahun itu? kalau begitu dengan sangat menyesal aku katakan padamu, akulah yang menyetujui Yuda untuk merampas uang itu kembali dari tanganmu."


"Tega kamu sama aku? setelah banyak kenangan manis diantara kita, apa hatimu benar-benar sudah mati rasa?"


"Tega? kamu bilang aku tega? Jihan, kamu masih saja bersikap tidak tahu malu. Andai aku menyadari kebodohanku lebih awal, tentu aku tidak akan terlalu lama berhubungan dengan wanita ular sepertimu. Hemm...ngomong-ngomong soal ular, sepertinya temanmu hari ini harus bertambah," Ezra menyeringai.


"Lemparkan ular kedalam!" ujar Ezra pada anak buahnya.


"U-Ular?" bibir Jihan bergetar.


"Tidak...! Ezra kumohon jangan lakukan itu, aku takut Ezra..." teriak Jihan yang sama sekali tidak Ezra gubris. Sementara itu Ezra sangat menikmati jerit ketakutan dari Jihan, sembari menyesap secangkir kopi


"Buka celananya!" ujar Yuda


"Mau apa kalian? brengsek! aku masih normal, aku tidak suka batangan seperti kalian?" hardik pria bertato naga.


"Heh... jangan menganggap tinggi dirimu itu. Bahkan lobang daruratmu itu sama sekali tidak layak dimasuki oleh orang gila sekali pun."


"Kamu! ambilkan aku lakban," ujar Yuda.


Yuda menyeringai penuh misteri, yang membuat pria didepannya bergidik ketakutan.


TO Be Continue...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2