Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.141. Masuk Pasar Tanah Air


__ADS_3

"Mama. Kapan kita jalan-jalan naik tangga mall lagi?" tanya Ezka putri Marinka.


"Akhir pekan ya sayang? mama lagi sibuk kerja saat ini." Jawab Marinka yang masih sibuk dengan semua berkas-berkas yang sedang dia tangani.


Saat ini Marinka memang ingin memasukkan brandnya ketanah airnya dengan jalur resmi. Marinka saat ini sedang membangun pabrik di negara asalnya, karena dia berencana akan kembali ke tanah air. Wanita itu ingin mengembangkan sayapnya disana, dia ingin membuat tanah airnya bangga karena sudah memiliki anak bangsa sepertinya.


"Uda. Kita ajak papa aja yuk? mama lagi sibuk katanya," ujar Ezka yang masih bisa didengar oleh Marinka.


Marinka hanya tersenyum tiap kali mendengar percakapan kedua anaknya yang terkadang seperti orang dewasa.


"Uda nggak mau pelgi, nggak suka." Jawab Rakha yang masih asyik dengan ponselnya.


"Uda jangan main hp telus, kata papa nanti matanya lusak," ujar Ezra.


Rakha tidak lagi menggubris ucapan Ezka, yang menurutnya sangat terdengar cerewet itu. Ezka dan Rakha memang mempunyai sifat bertentangan meskipun mereka saudara kembar.


Ezka menghentakkan kakinya, dia pikir semua orang sudah mengabaikannya. Gadis kecil itu bergegas masuk kamar dan menutupnya, dia menyibukkan diri dengan semua boneka-boneka kesayangannya.


"Adikmu kemana?" tanya Marinka saat sudah selesai dengan semua berkasnya.


"Uda nggak tahu. Mama jangan ganggu Uda dulu, uda lagi sibuk."


Marinka terkekeh mendengar ucapan Putranya itu. Rakha memang pribadi pendiam dan cuek. Dia terlihat kurang peka dengan orang disekitarnya.


"Anak mama lagi sibuk apa sih. Hem?" tanya Marinka yang menjatuhkan bokongnya disamping putranya itu.


Marinka mengerutkan dahinya saat melihat anaknya sedang memainkan sebuah permainan kartu yang dikenal orang dewasa dengan permainan poker itu.


"Astaga uda, kamu main apa itu? siapa yang mengajarimu main itu?" tanya Marinka tidak senang.


Rakha langsung keluar dari aplikasi itu. Meski dia terbilang bandel, tapi dia tidak suka membuat sang mama marah.


"Apa uda tidak boleh main itu?" tanya Rakha.


"Tidak boleh dan tidak boleh dipelajari juga. Siapa yang mengajarkan itu padamu? apa papamu?" tanya Marinka yang dibalas gelengan kepala oleh Rakha.


"Uda cuma iseng." Jawab Rakha.


"Jangan lagi ya nak? itu permainan judi namanya, dosa loh."


"Judi?"


"Ya. Judi itu semacam taruhan uang, atau bisa juga barang. Tapi sangat dilarang, karena bisa menyebabkan kecanduan dan bisa menghabiskan uang kita. Apa kamu mengerti?" tanya Marinka.

__ADS_1


Marinka tidak tahu penjelasanya itu sudah benar atau belum. Atau penjelasannya itu bisa diterima oleh Rakha atau tidak. yang pasti Marinka tidak akan membiarkan anak-anaknya memiliki tabiat yang tidak baik.


"Uda ngelti." Jawab Rakha dengan ucapan cedalnya.


"Kalau begitu Uda tunggu di meja makan ya? sudah waktunya makan siang, mama mau panggil adik kamu dulu,"


"Ya."Jawab Rakha yang langsung pergi menuju meja makan.


Sementara itu Marinka mencari keberadaan Ezka yang ternyata tertidur didekat tumpukan bonekanya.


"Sudah berapa persen pembangunan pabrik di kota B? kenapa harus di kota B? kenapa nggak di kota J?" tanya Ando pada Ezra.


"Sudah 70%. Sebentar lagi selesai. Mana bisa membangun pabrik itu di kota J. Kamu tahu sendiri sudah tidak ada lagi lahan yang luas lagi buat bangun pabrik sebesar itu."


"Benar juga," ucap Ando.


"Kalau kenapa harus memilih kota B, itu karena lumayan dekat dengan kota J. Jadi tidak terlalu sulit kalau mau ngurus apa-apa yang diperlukan."


"Hah...aku salut banget dengan Arin. Aku memang sudah menduga kalau dia akan menjadi orang sukses, tapi aku tidak menyangka kalau dia terlampau sukses seperti ini. Brandnya benar-benar sudah mendunia loh," ujar Ando.


"Aku juga bangga padanya. Itulah sebabnya dia ingin segera kembali ke kota J. Dia ingin membuat negara bangga padanya. Lagipula sudah waktunya kami kembali, kuliahnya sudah selesai, usahanya juga sukses, jadi tidak ada alasan lagi buat lama-lama disini,"


"Aku akan selalu mendukung kalian," ucap Ando.


"Tapi ada sedihnya juga sih, kita jadi berpisah dan sulit mau kembali ke moment langka seperti ini," ujar Ezra.


"Nanti sesekali ajak keluargamu pulang ketanah air, jangan terlalu sibuk mencari duit, sampai-sampai tanah air sendiri dilupakan."


"Mana ada seperti itu. Meski jauh disini, aku nggak pernah malu mengakui kalau aku berasal dari sana." Jawab Ando.


Tring


Tring


Tring


"Ya sayang?"


"Abang pulangnya masih lama ya?" tanya Marinka diseberang sana.


"Sebentar lagi, kenapa?" tanya Ezra.


"Anak gadismu sedang merajuk saat ini,"

__ADS_1


"Merajuk? merajuk kenapa? apa dia bertengkar lagi dengan Uda nya?" tanya Ezra.


"Bukan. Dia merengek pengen minta diajak naik tangga mall katanya." Jawab Marinka sembari terkekeh.


"Kalau begitu ajaklah anak-anak pergi ke mall. Nanti habis pulang kerja abang akan menjemput kalian disana."


"Apa nggak akhir pekan saja bang?" tanya Marinka.


"Tidak apa. Sesekali turuti kemauannya, kasihan kalau sampai dia berkecil hati."


"Baiklah. Nanti jangan lupa nyusul ya Bang?"


"Oke." Jawab Ezra.


"Ada apa?" tanya Ando, saat Ezra sudah mengakhiri panggilan telpon itu.


"Ezka merengek minta diajak naik tangga mall." Jawab Ezra sembari terkekeh. Ando jadi ikutan tertawa mendengarnya.


"Anakmu lucu sekali,"


"Ya. Dia sangat suka naik tangga escalator. Bahkan pernah ke mall tujuannya cuma buat naik tangga itu aja."


Ezra dan Ando kembali tertawa bersama.Cerita anak-anak Ezra memang sangat lucu didengar, apalagi saat kedua anak itu sedang beradu argumen. Rakha dengan gaya bijaknya bak seorang pilosopi dunia, sementara Ezka sang gadis kecil yang selalu membuat onar setiap hari.


"Kamu kenapa seling sekali lihat-lihat kaca?' tanya Rakha tidak senang, saat melihat Ezka melihat cermin besar sembari memutar-mutar tubuhnya, agar gaun yang dia kenakan mengembang.


"Uda. Baju adek cantik tidak?" tanya Ezka dengan gaya centilnya.


Rakha hanya menoleh sekilas, dan kembali sibuk melihat kearah ponselnya.


"Cantik juga mau kamu kasih lihat siapa?" gerutu Rakha dengan ucapan sok tua nya.


"Uda. Adek dengal loh? uda jangan lagi bilang-bilang kalau yang lihat Mr. John."


"Kan memang iya?" ledek Rakha.


"Nggak mau! pokoknya nggak mau," teriak Ezka.


"Uda...adiknya diapain lagi itu?" teriak Marinka dari dalam.


"Adek mau kasih lihat baju bagus ke Mr. John Ma," teriak Rakha yang membuat suara Ezka bertambah melengking tidak senang.


Marinka hanya bisa menggelengkan kepalanya, Mr. John merupakan senjata bagi Rakha buat menjahili adiknya setiap hari. Mr. John pria parubaya yang sangat ramah, namun memiliki kebiasaan mengedipkan matanya berkali-kali. Dengan kebiasaannya itu, Rakha selalu mengatakan pada Ezka, bahwa pria itu suka Ezka karena pria itu selalu menyapa ramah pada Ezka dengan seragam Securitynya.

__ADS_1


Sejak saat itu, tiap kali melewati post penjagaan, Ezka selalu memalingkan wajahnya, tiap kali Mr. John menyapa dirinya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2