Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.232. Hari Sakral


__ADS_3

Yure tampak duduk bersila di hadapan penghulu dan para saksi. Hari ini merupakan hari bersejarah bagi dirinya, karena hari ini adalah hari dimana dirinya dan Ezka akan bersatu untuk selamanya.


Yure menggosok-gosok telapak tangannya yang terasa dingin akibat grogi saat akan melangsungkan ijab qobul. Tidak lama kemudian sang mempelai wanita menuruni anak tangga, dibantu oleh dua orang MUA.


"Cantiknya...."


Mata Yure terpesona saat melihat kecantikkan Ezka setelah di dandani sedemikian rupa. Perlahan Ezka menjatuhkan bokongnya di karpet, disamping calon suaminya.


"Sayang. Kamu cantik sekali," bisik Yure yang membuat Ezka jadi tersipu.


"Ehemmm," Yuda berdehem, saat melihat putranya sedang merayu Ezka.


"Bisa kita mulai?" tanya penghulu.


"Silahkan!" ujar Ezra.


Dengan satu tarikkan nafas, Yure berhasil melakukan ijab qobul dengan lancar. Semua para saksi sudah mengucapkan kata SAH. Namun tanpa mereka ketahui, ada dua orang gadis disudut berbeda sedang merasa terluka saat ini. siapa lagi kalau bukan Vania dan Meiza.


Masih segar dalam ingatan Meiza. Saat Meiza tiba dari London bersama Moza pada malam hari, sebelum acara ijab qobul itu berlangsung. Meiza dengan berapi-api mendatangi kamar Ezka dengan amarah yang memuncak. Gadis pendiam itu untuk pertama kalinya memasang aksi protes, padahal selama ini gadis itu sangat jarang mengeluarkan suara emasnya.


Flashback On


Brakkkkkk


Meiza membuka pintu dengan lumayan kasar. Matanya memancarkan api amarah yang menyala. Ezka perlahan mendekati adiknya itu, dan menarik tangannya untuk diajak duduk di sofa.


Plakkkkk


Meiza menepis tangan Ezka dengan kasar. Perlakuan baik Ezka sama sekali tidak diterima baik oleh Meiza.


"Aku nggak nyangka kalau di belakang aku kakak lebih jahat dari seekor srigala. Kakak kan tahu kalau aku sudah lama menyukai kak Yure. Tapi kenapa kakak tega merebut dia dari aku?" tanya Meiza.


"Aku ingin bertanya padamu Meiza. Apa kalau yang Yure nikahi si Vania, apa kamu akan berlaku tidak sopan juga padanya?" tanya Ezka.

__ADS_1


"Tapi kan dia sudah lepas dari gadis itu. Seharusnya kakak nggak boleh nikung aku kayak gini. Kakak kan sudah punya Alex, kenapa harus merebut kak Yure dariku? atau jangan-jangan sebenarnya itu bukan anak kak Yure, tapi anaknya Alex." Jawab Meiza.


Plakkkkk


Satu tamparan keras bersarang di pipi Meiza. Pertengkaran yang lumayan bersuara keras itu, membuat Ezra dan Marinka jadi terusik. Merekapun keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Jangan lupakan kalau aku ini kakak kamu, meskipun kakakmu ini bukan orang baik dan suci. Kakak memang hamil diluar nikah, tapi bukan karena kakak murahan. Jangan pernah mengambil kesimpulan, sebelum tahu kejadian sebenarnya. Sekarang lebih baik kamu keluar, keluar!!!" hardik Ezka.


"Ada apa ini?" Ezra melangkah tergesa-gesa menghampiru dua putrinya yang sedang bertikai.


"Bawa putri papa ini keluar dari kamarku. Takutnya aku hilaf dan menghabisinya." Jawab Ezka dengan nafas yang sudah naik turun.


"Ada apa sih? kok ribut-ribut sama saudara sendiri?" tanya Marinka.


Tangis Meiza tiba-tiba pecah. Gadis itu memeluk erat Marinka dengan tubuh bergetar karena isak tangisnya.


"Nggak usah nangis! dasar cengeng! tadi aja kurang ajarmu selangit," ucap Ezka.


Marinka mengedipkan mata ke arah Ezra, meski diajak bicara seperti apapun, Ezka tidak akan mudah reda emosinya. Pertama memang tabiat, dan kedua kemungkinan faktor hormon kehamilan.


"Tidak. Papa nggak setuju keluar kamar ini sebelum urusan putri-putri papa di selesaikan. Katakan! ada masalah apa diantara kalian?" tanya Ezra.


"Kak Ezka merebut kak Yure dari aku .Padahal dia tahu, sudah sejak lama aku menyukainya. aku kuliah ke luar negeri, agar bisa memantaskan diri berdampingan dengan kak Yure. Tapi kak Ezka malah nusuk aku dari belakang."


Untuk pertama kalinya Ezra dan Marinka mendengar Meiza bicara sebanyak itu. Gadis yang di kenal pendiam itu, biasanya tidak banyak bicara meskipun dengan Marinka sang ibu kandung sekalipun.


Ezra memijat keningnya. Ternyata putrinya terlibat dalam kisah cinta segitiga. Dan yang membuat Ezra pusing adalah, dirinya tidak mungkin memihak satu orang saja. Karena kedua gadis itu adalah putrinya.


Ezra melangkah menuju sofa, dan duduk di tengah-tengah.


"Kalian kemarilah!" ujar Ezra.


Ezka dan Meiza dengan berat hati menuruti kemauan Ezra. Kedua gadis itu duduk di sisi kanan dan kiri Ezra. Ezra kemudian membawa kedua kepala putrinya untuk rebahan didadanya.

__ADS_1


"Meiza. Bukan maksud papa membela kakakmu. Kakakmu juga tidak mau merebut Yure darimu, kalau bukan karena dia terkena musibah dijebak oleh mantan kekasihnya yang bernama Alex itu. Beruntung orang yang menodai kakakmu adalah Yure, coba kamu bayangkan kalau itu orang yang tidak di kenal.".


"Semua ini terjadi bukan atas kemauan kakakmu, tapi ini memang sudah takdirnya. Lagipula kamu harus tahu. sebenarnya kakakmu dan Yure sudah saling mencintai sejak dulu. Bahkan jauh sebelum kamu menyukai Yure."


Mendengar itu Meiza menoleh kearah Ezka seketika. Ada rasa tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kalian bohong kan? papa bicara gitu pasti karena kak Ezka sudah terlanjur hamil dan butuh tanggung jawab seorang pria untuk menutupi aib keluarga. Jadilah kak Yure yang jadi kambing hitam."


Mendengar itu tentu saja Ezka kembali tersinggung. Ezka hampir saja melayangkan tinju kearah Meiza, kalau saja Ezra tidak menangkap tangan itu.


"Papa dengar itu? betapa kurang ajarnya dia. Mulutnya yang pendiam itu, ternyata memang sengaja dia simpan. Karena ternayata banyak menyembunyikan racun. Jadi biarkan Ezka memberinya pelajaran," ucap Ezka dengan nafas naik turun.


"Sayang. Kendalikan emosimu. kasihan anak-anak di dalam perutmu," Marinka mencoba membantu meredakan suasana panas itu.


"Meiza. Cinta itu tidak bisa dipaksakan nak. Seandainya kakakmu tidak menikah dengan Yure, apa kamu yakin Yure akan mencintaimu?" tanya Marinka.


"Meiza akan mengajukan diri. Minimal kami bisa bertunangan terlebih dahulu." Jawab Meiza.


"Itu seandainya kalau kakakmu tidak dalam keadaan mengandung anak Yure. Tapi sekarang situasinya berbeda. Apa kamu tega membiarkan keponakkanmu lahir tanpa seorang ayah?" tanya Ezra.


Meiza tidak banyak bicara lagi. Gadis itu langsung beranjak pergi meninggalkan kamar itu. Sementara Ezra dan Marinka hanya bisa menghembuskan nafas mereka.


"Istirahatlah! besok adalah hari pernikahanmu. Kamu jangan terlalu banyak pikiran," ujar Ezra sembari mengusap puncak kepala Ezka.


"Emm." Ezka mengangguk.


Ezra dan Marinka pergi meninggalkan kamar Ezka.


"Apa kita perlu membujuk Meiza?" tanya Ezra setelah keluar dari kamar Ezka.


"Beri dia waktu. Saat ini dia pasti butuh sendiri." Jawab Marinka.


Ezra dan Marinka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka. Sementara itu Meiza mengurung diri di kamarnya, dan sudah membuat kamarnya hancur berantakan.

__ADS_1


__ADS_2