Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.180.Terbongkar


__ADS_3

"Beraninya pria tidak tahu malu ini menatapku seperti itu. Kamu sangat beruntung bang Ezra tidak ikut denganku hari ini. Bahkan meskipun aku ingin menghentikannya, pasti tinjunya lebih cepat dari mulutku," batin Marinka, yang melihat Galang dari ekor matanya.


"Sepertinya mas Galang ingin Marinka kembali padanya. Apa dia ini sedang bermimpi? mana mungkin Marinka mau meninggalkan pria sempurna seperti Ezra, demi pria yang sudah menyakitinya berkali-kali," batin Karin.


"Sepertinya aku berubah pikiran. Aku jadi pengen mencicipi teh buatanmu Karin. Maukah kamu membuatkannya untukku?" tanya Marinka.


"Tentu." Jawab Karin.


"Sebaiknya tidak usah. Kamu pasti tidak akan suka rasanya," timpal Galang.


"Tidak masalah. Apapun yang orang lain buat untuk kita, kita harus menghargainya. Terlebih itu buatan orang yang pernah kita cintai. Jangan karena hubungan pernah bermasalah, semua cacian dan celaan baru keluar saat ini. Dulu saat akan menikahinya, kamu pasti sudah tahu kalau Karin tidak bisa apa-apa," ujar Marinka dengan penuh wibawa.


"Tapi dia terlalu bodoh hanya untuk membuat teh selama 4 tahun bersamaku," ucap Galang.


"Pasangan itu di satukan untuk saling melengkapi. Itu salahmu yang mendiamkan buatannya, padahal kamu tidak menyukai rasanya. Seharusnya jadi pasangan bisa saling mengingatkan dan memberitahu, jika memang pasangan kita melakukan kekeliruan. Tanyakan berapa sendok dia memasukkan gulanya. Jika yang dia masukkan 2 sendok, kamu katakan saja minta dikurangi setengah sendok atau satu sendok untuk ukuran gulanya. Untuk hal sekecil ini saja, tidak perlu menghina mantan pasangan kita, karena ini bukan sepenuhnya salah dia. Mungkin Karin pikir kamu diam, karena kamu menyukainya." Ujar Marinka panjang lebar.


"Aku tidak salah dengar kan? dia membelaku saat ini?" batin Karin senang.


Karin berdiri dari tempat duduknya membuatkan teh untuk Galang dan juga Marinka. Karena sudah mendengar ucapan Marinka, Karin sedikit memperbaiki takaran gula dalam teh yang dia buat. Dia tidak ingin Galang jadi memiliki bahan ucapan yang bisa menghina dirinya.


"Kamu diantar supirmu?" tanya Galang.


"Ya." Jawab Marinka.


"Apa aku diperlukan disini? jika tidak, aku mau pergi beristirahat," ujar Paulin.


"Sangat diperlukan. Karena ini ada sangkut pautnya dengan anakmu Karin." Jawab Galang.


Mendengar itu tentu saja Paulin jadi gugup. Karena dia menyadari bahwa sebentar lagi kedoknya akan terbongkar.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bahas disini? aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan omong kosongmu. Sekarang aku sedang mempersiapkan kasus pembunuhan berencana yang kamu lakukan padaku dulu," tanya Marinka.


"Tunggulah sebentar. Biar Karin hadir disini dulu, baru kita akan membahasnya." Jawab Galang.


Selang 10 menit kemudian, Karin keluar dengan membawa dua cangkir teh diatas nampan.


"Silahkan," ujar Karin.

__ADS_1


"Minumlah. Biar kamu tahu perbedaannya," ujar Marinka.


"Tidak mau," ucap Galang.


"Hargai buatannya, minimal ini koreksi untuk terakhir kalinya," ujar Marinka.


"Hanya karena ucapanmu aku mau meminumnya," ucap Galang seraya mengangkat cangkir tehnya.


Namun sepertinya Galang kalah cepat dari Marinka, hingga wanita itu yang lebih dulu menilai teh buatan Karin.


"Tidak buruk, ini masih bisa diterima," ucap Marinka yang membuat senyum Karin mengembang dari bibirnya.


"Marinka benar. Ini jauh lebih enak dari terakhir Karin membuatkan teh untukku," batik Galang setelah menyesap teh nya.


"Beda kan? itu pasti karena Karin mendengar ucapanku tadi. Apa tebakkanku benar!" tanya Marinka sembari mengalihkan pandangannya pada Karin.


"Ya. Terima kasih." Jawab Karin.


"Itu artinya, kita jangan mendiamkan sesuatu yang salah. Sebagai pasangan kita wajib saling mengingatkan. Kalau selama 4 tahun kamu mendiamkannya, itu bukan bentuk dari menghargai, malah kamu membuatnya semakin bodoh."


"Hah...ya sudahlah, sudah lewat juga. Apapun itu tidak mungkin bisa kembali juga. Hubunganku dengannya juga sudah selesai, jadi aku tidak mungkin lagi mencicipi teh buatannya setiap hari. Yang penting sekarang kita bahas dulu masalah kita," ujar Galang.


"Tentu saja tidak. Karena aku sama sekali tidak bersalah dan sama sekali tidak terlibat dalam penculikkan dan kebakaran itu." Jawab Galang.


Mendengar itu Marinka jadi tertawa keras. Menurut pandangannya, pria di dekatnya itu seorang kriminal sejati. Galang sama sekali tidak merasa bersalah, ataupun takut.


"Tapi mungkin kita bisa menanyakan hal itu pada orang di hadapan kita, yang wajahnya sudah terlihat pucat dan berkeringat," sambung Galang.


Marinka mengalihkan pandangannya pada Karin. Dan benar saja, selain pucat dan berkeringat, tangan Karin yang tengah memegang nampan juga ikut bergetar. Marinka mengerutkan dahinya, sepertinya ada sesuatu yang salah dalam pikirannya selama ini.


"Aku sudah bilang padamu, bahwa aku sama sekali tidak tahu menahu tentang kejadian itu."


"Tidak mungkin! kamu pasti mengancam Karin bukan? malam itu sangat jelas, dua orang yang menculikku mengatakan, bahwa kamulah yang menyuruh mereka untuk membakar gudang itu beserta aku didalamnya."


"Omong kosong. Aku tidak pernah menyuruh orang seperti itu. Meskipun aku ingin kita bercerai dan tidak ingin menikahimu lagi, tapi aku tidak pernah berpikir untuk melenyapkanmu. Ada banyak cara menyingkirkan orang, tapi tidak dengan membunuhnya. Kalau aku ingin melenyapkanmu, sudah aku lakukan sebelum hari pernikahan kita. Kenapa harus menunggu setelah menikah?"


"Kalau bukan kamu siapa lagi? tidak mungkin para penjahat itu berbohong. Kamu ingin mengelak karena kamu takut masuk penjara bukan?"

__ADS_1


"Aku berani bersumpah demi Tuhan dan Al-Qur'an. Aku tidak pernah melakukan itu."


"Jangan mengotori kitab suci kita dengan mulut kotormu," hardik Marinka kesal.


"Inka. Percayalah padaku, aku benar-benar tidak melakukannya. Hanya satu orang yang mungkin melakukannya, dan orang itu membuat seolah-olah akulah pelakunya."


Galang mengalihkan pandangannya pada Karin, yang sudah semakin gelisah. Tidak jauh berbeda dengan Karin, Paulin juga dalam keadaan sama.


"Dan orang ini tujuannya hanya ingin menyingkirkan saingan cintanya," sambung Galang.


"Karin. Aku yakin 1000%, kamulah pelaku dibalik kejadian itu. Apa aku salah Karin?" tanya Galang.


Deg


Jantung Karin serasa ingin berhenti berdetak. Perkataan Galang laksana sebuah panah yang meluncur tepat di dadanya.


"Coba kamu perhatikan perubahan wajahnya dan bahasa tubuhnya. Orang yang tidak merasa bersalah, pasti tidak akan bereaksi seperti itu," ucap Galang.


Marinka menatap kearah Karin yang tertunduk dengan tubuh gemetar, namun anehnya Paulin juga bereaksi yang sama di matanya.


"Karin. Apa itu benar?" tanya Marinka.


"Mengakulah Karin. Karena kalau kamu tidak mengaku, aku masih punya ribuan cara agar kamu mau mengakui perbuatanmu itu," ucap Galang.


"Karin, kamu tidak usah takut dengan ancamannya kalau kamu memang bukan pelakunya. Meskipun aku membencimu, tapi aku tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah menerima hukuman," ujar Marinka.


Karin masih diam membisu, karena dia memang tidak bisa berkata-kata lagi.


"Dia tidak akan bisa menjawabmu, karena dia tidak bisa mengelak lagi," ucap Galang.


"Sebaiknya tutup dulu mulutmu. Aku ingin mendengar langsung dari mulutnya," ujar Marinka.


Brukkkkkk


Karin tiba-tiba bersimpuh dihadapan Marinka. Wanita itu bahkan mencium kaki Marinka sembari terisak.


"Maafkan aku kak. Aku benar-benar khilaf, aku sudah di butakan oleh rasa cemburuku dan ingin menguasai mas Galang sepenuhnya. Hikz..."

__ADS_1


Tangan Marinka jadi gemetar saat mendengar pengakuan Karin yang sangat diluar dugaannya. Karena meskipun dia membenci Karin, tapi 14 tahun tinggal serumah membuatnya memiliki arti tersendiri di hatinya. Tidak terasa air mata Marinkapun terjatuh, rasa sakit itu kembali datang menghujam perasaannya.


__ADS_2