
"Kenapa kamu tersenyum begitu? apa pertanyaanku kamu anggap lucu?" tanya Moza kesal.
Anser meraih wajah Moza dan mencium bibir istrinya itu sekilas.
"Hanya karena dulu aku mencintainya, bukan berarti saat dia jadi jadi janda, maka aku akan kembali padanya. Sekarang semuanya sudah berubah, aku tidak mencintainya lagi yang aku cintai adalah kamu," ujar Anser.
"Be-Benarkah? a-aku nggak mau ucapanmu itu hanya karena balas budi," tanya Moza.
"Tidak. Aku sudah tahu perasaanku saat ini Meski sedikit terlambat, tapi sebenarnya kamulah yang sering memenuhi hari-hariku." Jawab Anser.
"Jadi apa kamu sungguh-sungguh sudah mencintaiku?" tanya Moza.
"Emm. Sangat." Jawab Anser.
"Maaf tadi aku sudah salah sangka, karena melihatmu berpelukkan dengan Meiza. Aku pikir kalian berencana akan kembali bersama setelah dia bercerai," ujar Moza.
"Maaf sudah selalu menyakitimu. Dia yang memelukku, bukan aku yang memeluknya. Lagipula pelukkan itu tidak memiliki arti apapun diantara kami. Meiza hanya ingin menumpahkan kesedihannya saja," ucap Anser.
"Emm...apa lukamu masih sakit?" tanya Anser.
"Tidak. Kenapa?" tanya Moza.
"Aku ingin mencetak gol," bisik Anser.
"Mencetak gol? kamu ingin bermain bola? maaf tapi aku nggak mood main bola saat ini," ujar Moza.
"Bukan bola itu. Tapi gawang yang lain," ucap Anser penuh teka teki.
"Apaan sih?" tanya Moza.
Daripada banyak bicara, Anser lebih suka melakukannya dengan tindakan. Anser segera melucuti pakaiannya, hingga mata Moza jadi melotot dibuatnya.
"A-apa yang kamu lakukan? dasar mesum," ucap Moza.
Anser tidak menjawab pertanyaan Moza, sebagai gantinya pria itu mencium bibir moza dan me**matnya dengan pelan. Moza yang mulai terbuai hanya bisa memejamkan matanya, terlebih saat Anser me**mas lembut kedua aset berharganya.
Anser membantu Moza melepaskan kain yang melekat di tubuhnya. Wajah Anser tiba-tiba berubah jadi sedih, saat melihat bekas luka pada perut Moza yang mulus.
"Ke-Kenapa?" tanya Moza.
"Maaf. Gara-Gara aku perutmu tidak mulus lagi." Jawab Anser.
Moza meraih kedua sisi wajah suaminya sembari tersenyum.
"Anggap ini bukti cintaku padamu," ujar Moza.
__ADS_1
Anser mencium bekas luka Moza cukup lama. Sementara Moza mengelus kepala suaminya itu. Anser kemudian menarik kain segitiga yang masih menutupi surga dunia miliknya itu.
"Emmmpptttt...." Moza menutup mulutnya, saat Anser tiba-tiba sudah bermain di pusat intinya.
"Jangan tutup mulutmu, keluarkan saja suaramu," ujar Anser yang kemudian kembali memainkan pusat inti milik Moza.
"Ah..." akhirnya suara itu lolos juga dari mulut Moza.
Mendengar suara merdu itu, Anser semakin bersemangat untuk melanjutkan kegiatan panas mereka, hingga membuat Moza mendapatkan pelepasan pertamanya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Anser yang melihat nafas Moza masih tersenggal.
"Ya." Jawab Moza dengan wajah merona.
Anser kembali mencumbu Moza. Dan kali ini lebih berga*rah dari sebelumnya.
"Akhh...." Moza menjerit, saat milik Anser memaksa masuk perlahan.
"Gigit bahuku jika memang kamu merasakan sakit," ujar Anser.
"Emm." Moza mengangguk.
Namun bukannya menggigit, Moza meremas seprei dengan kuat. Dan suara jeritannya diredam oleh ciuman Anser ketika pria itu menghentak miliknya lebih dalam dan berhasil menjebol pertahanan.
"Maaf," ujar Anser saat melihat Moza menghembuskan nafasnya berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit dibawah sana.
"Emm." Moza mengangguk.
"Ah...ah..."
"Apa kamu ingin aku berhenti sekarang?" Anser menjahili Moza di sela-sela pacuannya yang semakin lama semakin keras.
"Aku akan menghajarmu kalau sampai kamu berhenti ditengah jalan. Ah...ah..."
"Aku akan memuaskanmu sayang," Anser semakin keras menghujamkan miliknya kedalam liang basah milik Moza.
Tubuh moza semakin berguncang hebat. Dan makin hebat pula suara mereka memenuhi ruangan itu. Dan sampai akhirnya mereka sama-sama menge**ng panjang dan lemas bersamaan.
Hosh
Hosh
Hosh
Cup
__ADS_1
"Makasih sayang," ucap Anser disela nafasnya yang memburu.
"Ans. Aku sudah memberikan segalanya untukmu. Sekali saja kamu menghianatiku, aku tidak akan pernah mengampunimu," ujar Moza.
"Aku tidak tahu kamu dapat pemikiran dari mana, kalau aku akan menghianatimu. Tapi percayalah, sekali aku memberikan hatiku pada seseorang, maka nyawaku juga milik orang itu." Jawab Anser.
"Aku tahu kamu pasti takut aku dan Meiza akan kembali seperti dulu. Tapi pantang bagiku orang yang sudah mencampakkanku, tiba-tiba berkata ingin kembali lagi padaku,"
"Apa kak Meiza berkata ingin kembali padamu?" tanya Moza.
"Tidak. Dia sangat mencinta Ilyas. Menurutmu bagaimana tentang mereka berdua?"
"Aku sama sekali tidak keberatan, jika memang mereka ingin kembali lagi. Walau bagaimanapun mereka saling mencintai dan Ilyas sudah ada niat ingin berubah." Jawab Moza.
"Ya. Jika kamu saja sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi padamu, tentu saja aku juga setuju. Sekarang tinggal keputusan Meiza saja. Aku sudah bilang padanya, agar tidak terlalu memikirkan soal janjinya waktu itu. Tapi sepertinya Meiza sudah terlanjur sakit hati pada Ilyas," ujar Anser.
*****
"Tanda tangani ini. Setelah itu kamu temui Ilyas, suruh dia tanda tangani bagianya," ujar Rakha.
Meiza menandatangani surat cerai itu dengan tangan bergetar.
"Uda saja yang berikan. Atau kirim lewat kurir," ucap Meiza.
"Kamu saja. Lebih bagus kalau surat ini jangan sampai ada orang lain yang tahu. Terlebih sekarang Ilyas bekerja di EH hospital. Jaga juga reputasi papa," ujar Rakha.
"Baiklah." Jawab Meiza lesu.
Sudah dua minggu Meiza tidak mendapat kabar dari Ilyas. Pria itu seperti hilang di telan bumi. Tentu saja Meiza sangat merindukan pria itu, meskipun dia berniat ingin menceraikannya.
Setelah selesai berpakaian, Meizapun pergi menemui Ilyas di rumah sakit EH Hospital. Suara bisik-bisik begitu mengganggu Meiza, saat wanita itu baru tiba di rumah sakit. Saat dirinya ingin berkonsentrasi mendegarkan apa yang orang-orang katakan, suara ponselnya berdering.
"Ya pa?" tanya Meiza.
"Kamu dirumah sakit, diruangan apa?" tanya Ezra.
"Aku baru nyampe loby pa. Ada apa?" tanya Meiza.
"Papa ada diparkiran. Papa akan menemanimu menemui dia," ujar Ezra.
"Ya. Mei tunggu di loby ya pa?"
Meiza tahu Ezra khawatir melepaskannya sendiri. Meiza akui dia butuh pendamping saat ini.
"Ayo," ujar Ezra saat pria itu sudah melihat putrinya.
__ADS_1
Namun saat mereka menemui Ilyas diruangannya, mereka sama sekali tidak menemukan pria itu. Ezra dan Meiza memerintahkan kepala rumah sakit, agar Ilyas menemui mereka di ruangannya. Namun alangkah terkejutnya saat kepala rumah sakit mengatakan kalau Ilyas sudah terbaring koma sejak seminggu yang lalu.
To be continue....🤗🙏