Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.83. Teror


__ADS_3

Ezra terduduk lesu ketika mengetahui Marinka sama sekali tidak pernah datang ke Panti asuhan sejak pernikahan pertamanya. Marinka hanya rutin memberikan sumbangan pada panti asuhan itu, mulai dari nominal kecil, sampai nominal yang dibilang fantastis.


Sebelum meninggalkan panti, Ezra menuliskan sebuah cek senilai 100 juta untuk menyumbang panti itu.


"Kita harus mencari Marinka kemana lagi Yud?" tanya Ezra lesu.


"Aku akan mengecek seluruh penerbangan. Aku juga akan mengirim orang untuk mencari Marinka diseluruh pelosok negeri. Tapi kamu harus bersabar, ini sangat jelas memakan waktu yang cukup lama."


"Jangan terlalu lama Yud. Aku nggak mau sampai dia jatuh ke tangan orang lain."


"Kamu tenang saja, Marinka harus melewati proses perceraian denganmu dulu, baru bisa menikahi orang lain. Sebelum itu dia tidak akan bisa meskipun dia ingin. Jadi kamu masih punya kesempatan buat ketemu dia lagi."


"Hah...tapi aku ingin segera bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya Yud,"


"Aku tahu. Tapi alangkah lebih baik, kamu selesaikan dulu masalahmu dengan Jihan lebih dulu. Atau kamu temui orang tuamu lebih dulu, minta maaf pada mereka. Kamu sudah menyakiti hati mereka,"


"Ya. Tapi sejujurnya aku merasa tidak punya muka untuk bertemu dengan mereka."


"Tidak apa. Walau bagaimanapun mereka orang tuamu sendiri. Jadi sekarang kamu mau aku antar pulang?"


"Tidak. Aku masih belum mau bertemu wanita laknat itu."


"Jadi kamu mau kemana sekarang?"


"Bawa aku kerumahmu."


"Hah...baiklah, sepertinya aku juga harus melakukan sesuatu dulu pada Jihan sebelum kamu memberinya pelajaran."


"Apa yang mau kamu lakukan?"


"Tentu saja aku ingin mendapatkan uangku. Pokoknya kamu jangan ingkar janji ya? kalau duit itu aku dapatkan dari Jihan, kamu tidak boleh mengambilnya lagi dariku,"


"Ckk...duit...duit...duit saja yang kamu pikirkan, emang duit mau dibawa mati?"


"Ya mau gimana lagi. Kamu kan tahu sendiri, duit emang nggak dibawa mati, tapi nggak punya duit rasanya mau mati. Jadi duit adalah hal terpenting dalam hidupku saat ini."


"Ya terserah saja."


"Kamu lihat saja dari 160 milyar, minimal aku harus mendapatkan 100 milyar. Ah...kalau aku mendapatkan itu, aku bisa mendapatkan wanita manapun tanpa perlu takut di tolak lagi."


"Iya. Itu artinya wanita itu tidak ada bedanya dengan Jihan, yang hanya mau karena kamu punya uang. Kalau kamu sudah kere, dia akan kabur."


"Sebenarnya dulu aku memiliki gadis yang aku sukai di kampung. Tapi tiba-tiba saja dia pindah rumah, aku tidak tahu dia dimana sekarang."

__ADS_1


"Tidak usah diharapkan lagi. Gadis kampung biasa menikah di usia belia. Sekarang saja usiamu sudah 29 tahun. Bisa jadi gadis itu sudah memiliki anak 3 atau 4."


"Kamu kalau ngomong terlalu jujur Zra, aku kan jadi berkecil hati kalau begitu."


"Lagian gadis di kota ini juga masih banyak. Noh serketarisku juga suka sama kamu. meskipun dia sedikit culun, tapi dia lumayan cantik."


"Regia? suka sama aku?"


"Jadi kamu tidak tahu? aku pikir kamu tahu, tapi kamu sengaja cuek dengan dia."


"Serketarismu itu memang pintar, tapi aku tidak suka dengan kaca matanya itu."


"Ckk...pantas saja kamu tidak laku. Padahal semua wanita yang kamu sukai jelas-jelas sudah menolakmu, giliran ada gadis yang tulus sama kamu, kamu malah tidak perduli."


"Pokoknya jangan dia deh, meski jomblo seleraku masih tinggi."


"Yang tinggi juga pilih-pilih kali Yud." ujar Ezra


Yuda mencebikkan bibirnya mendengar ejekkan dari sahabatnya itu.


"Ah...akhirnya sampai juga,"


Yuda merenggangkan tubuhnya saat mobilnya sudah sampai di area parkir apartement miliknya.


Sementara itu Yuda sedang sibuk menelpon beberapa orang untuk mencari keberadaan Marinka. Setelah selesai, Yuda pun mulai melancarkan aksinya untuk meneror Jihan.


Tring


Tring


Tring


Sebuah chat masuk kedalam ponsel Jihan. Jihan yang tengah berada di kamar Ezra, bangkit seketika saat melihat 3 buat chat video masuk kedalam ponselnya.


Klik


Jihan menekan tombol play, untuk melihat salah satu video itu. Mata gadis itu membulat seketika, saat tahu itu adalah video mesum dirinya bersama dengan pemilik Agensi tempat pertama kali dirinya berkarier. Begitu juga dengan isi video yang lainnya, video itu saat dirinya dengan orang yang sama sedang bercinta namun disuasana dan tempat yang berbeda.


"Siapa kamu? apa maumu?" chat Jihan.


"Tentu saja aku sang pencinta uang. Aku mempunyai video seperti itu sekitar 200 video. Aku ingin menjualnya padamu persatu video. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa, aku akan mengirim semua video itu pada tuan Ezra. Kamu pasti tahu apa akibat dari kecerobohanmu itu bukan?"


"Aku tidak percaya kamu memiliki video hingga 200,"

__ADS_1


"Mungkin hitungan yang sebenarnya bisa mencapai jutaan video. Nona Jihan, kamu yang lebih tahu seberapa sering dan seberapa banyak lubangmu itu dimasuki buaya,"


"Sialan. Siapa sebenarnya yang menerorku ini? kenapa dia bisa mempunyai banyak videoku? bagaimana kalau sampai Ezra tahu, matilah aku. Tidak hanya terancam putus, aku bisa kehilangan pundi-pundi uangku. Tidak bisa! Ezra adalah tambang emasku, aku tidak bisa kehilangan dia. Aku harus rela berkorban sedikit, demi mendapatkan yang lebih banyak. Tidak sampai seminggu lagi, kami akan menikah bukan?" Jihan menyeringai.


"Berapa aku harus membeli video itu?"


"Satu video seharga satu milyar."


"Apa kau sudah gila? kamu ingin memerasku?"


"Terserah kalau tidak mau. Satu video saja, bisa membuat hubunganmu hancur. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa jika ATM berjalanmu itu sampai minggat."


Jihan menggertakkan giginya. Sudah bersusah payah dirinya mengumpulkan uang selama bertahun-tahun. Namun sepertinya harus hilang sekejap karena keteledorannya sendiri.


"Bagaimana kalau kita gunakan sistem borongan?"


"Apa maksudmu?"


"Aku memiliki sekitar 200 video mesummu, maka aku akan menghargainya 160 milyar."


Membaca chat itu rasanya Jihan ingin menangis darah. Uang 160 milyar bukan nominal yang sedikit baginya.


"Bagaimana ini? apa aku harus kehilangan uang 160 milyar itu? eh, bukankah aku masih punya cek 500 milyar? jadi tidak masalah kehilangan 160 milyar bukan?" ujar jihan lirih.


"Baiklah aku setuju. Bagaimana kamu menginginkan uang ini? transfer, atau uang tunai?"


"Transfer. Besok aku akan memberikan nomor rekeningnya padamu."


"Baiklah. Lalu bagaimana videonya? apa kau akan menghapusnya?"


"Aku akan memberikannya padamu."


"Setuju."


"Yes...aku kaya...ahayyyyy..." Yuda jingkrak-jingkrak diatas tempat tidurnya.


"Emm...tapi Nomor rekening siapa yang bisa kupinjam? aku tidak bisa meminjam dengan sembarang orang bukan? Jihan sangat licik, dia pasti akan membuat perhitungan dengan orang yang bersangkutan."


Yuda tampak berpikir keras, pria itu bingung karena dia sama sekali tidak memiliki sanak saudara di kota J.


Sementara itu diruangan berbeda, Ezra tampak memejamkan mata. Pria itu tengah berkeringat dingin karena sedang memimpikan Marinka yang pergi jauh bersama laki-laki lain.


TO BE CONTINUE...🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2