Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.158. Kaset


__ADS_3

Karin meraba-raba tempat tidurnya, namun tidak menemukan keberadaan Galang. Padahal setiap pagi pria itu selalu membangunkan dirinya, walau hanya sekedar minta ditemani sarapan dan mengantarnya bekerja didepan teras.


Tapi hari ini tidak ada kegiatan rutin itu, hingga Karin terpaksa turun kebawah untuk memastikan semuanya.


"Apa tuan sudah pergi?" tanya Karin pada pelayan.


"Sudah nyonya. Sudah sekitar 30 menit yang lalu." Jawab Pelayan.


"Apa tuan tadi sempat sarapan?"


"Tidak nyonya. Tuan sepertinya sedang terburu-buru." Jawab pelayan.


"Baiklah. Lanjutkan perkerjaan kalian," ujar Karin.


Karin kembali menaiki tangga untuk masuk kekamarnya. Wanita itu cukup lega, karena awalnya sempat berpikiran buruk.


"Mas Galang pasti ada meeting penting. Sampai-Sampai nggak sempat pamit sama aku," ucap Karin.


Karin bergegas membersihkan diri. Hari ini seperti biasa dia akan pergi ke tempat Gym, untuk bertemu dengan kekasih gelapnya.


"Sudah hampir 2 bulan kita ngelakuin ini, kamu nggak bosan minta tiap hari?" tanya Reza sembari memberikan cumbuan-cumbuan kecil dileher Karin yang jenjang.


"Aku pikir ini juga termasuk olahraga bukan? bahkan lebih cepat menghasilkan keringat." Jawab Karin dengan senyum menggoda.


"Kamu memang wanitaku yang nakal, tapi aku menyukaimu," ujar Reza.


Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan panas itu nyaris mereka lakukan setiap hari. Entah apa yang Karin pikirkan, mungkin dirinya terlanjur mengagumi tubuh pria berotot itu.


Sementara itu ditempat berbeda, Galang tengah iseng mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja. Karena terbiasa mendapat lembaran foto tiap hari, Galang jadi menunggu hal itu saat ini. Saat ini dia sangat berharap mendapatkan bukti lainnya, agar dia tidak salah menuduh istrinya dan berakibat fatal untuk rumah tangganya.


Berkali-Kali Galang melihat jam tangannya, biasanya setiap foto itu datang, tidak lebih dari jam 9 pagi. Saat ini sudah hampir jam 10, tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan foto atau petunjuk lainnya.


"Apa cuma sebatas foto terakhir itu saja yang ingin diperlihatkan padaku? sebenarnya siapa pengirimnya ini?" gumam Galang.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" Galang seperti mendapatkan angin segar, saat seseorang mengetuk pintu. Dia sangat berharap yang mengetuk pintu adalah Tono. Sang OB yang biasa mengantarkan amplop coklat berisi foto.


Memang benar yang datang adalah Tono, tapi OB itu hanya ingin mengantarkan snack siang dan secangkir teh.

__ADS_1


"Tono,"


"Ya tuan?" Tono terpaksa menghentikan langkahnya, saat Galang memanggil namanya.


"Apa hari ini tidak ada yang mengantar amplop coklat seperti hari-hari kemarin?" tanya Galang.


"Belum ada tuan." Jawab Tono.


"Ya sudah kamu boleh pergi! nanti kalau sudah ada langsung berikan padaku,"


"Baik tuan." Jawab Tono dan berlalu pergi.


Galang beranjak dari kursinya, dia merasa tidak bisa diam saja. Pria itu kemudian pergi turun kebawah untuk memastikan sesuatu.


"Apa tiap hari yang mengantarkan amplop coklat seorang kurir?" tanya Galang.


"Iya tuan." Jawab Resepsionis.


"Apa memang tidak ada nama si pengirim atau alamat?" tanya Galang.


"Tidak ada tuan."


"Baiklah. Kalian lanjutkan saja bekerja," ujar Galang.


Galang pun memasuki lift karena ingin kembali keruang kerjanya. Namun pikirannya selalu tertuju siapa orang telah mengirimnya foto-foto itu.


Seperti yang Karin katakan, kini keduanya memang tengah banjir keringat. Kegiatan panas yang berlangsung hampir satu jam itu, benar-benar memberikan kepuasan pada Karin.


Karin bergegas mengenakan pakaiannya kembali yang sudah berserakkan di lantai. Wanita itu kembali merapikan penampilannya.


"Kamu langsung mau pulang?" tanya Reza.


"Iya."


"Hah...aku merasa seperti Gigolomu, setelah kamu puas, kamu pergi gitu aja."


"Kenapa sih. Hem? apalagi kali ini yang kamu butuhkan? bukan kah baru minggu lalu kubelikan jam tangan mahal untukmu?" tanya Karin sembari mengalungkan kedua tangan di leher pria itu.


"Aku butuh modal buat buka cabang Gym yang baru," ujar Reza.


"Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Karin.


"Sekitar 1 M." Jawab Reza.

__ADS_1


"1 M?"


"Ya. Kamu kan tahu sendiri, harga alat-lat olahraga itu sangat mahal. Semua perlengkapan di tempat ini, nggak ada yang kualitas rendah."


"Baiklah. Aku akan memberikannya, tapi mungkin bulan depan aku baru bisa memberikannya untukmu."


"Tidak masalah," ujar Reza sembari membelai rambut Karin yang panjang.


"Ya sudah, aku pulang dulu."


"Oke. Besok datang lagi kan? aku sungguh ketagihan," ujar Reza sembari terkekeh.


"Lihat situasi," ucap Karin sembari mengedipkan mata genitnya.


Wanita itu kemudian menekan handle pintu dan pergi dari tempat itu. Reza menyeringai puas.


"Benar-Benar menang banyak. Sudah dapat kenikmatan, dapat materi pula. Meskipun Marina tidak bisa kudapatkan, tapi itu tidak masalah. Sudah mampu menjerat Karin, itu sudah prestasi buatku," ujar Reza sembari terkekeh.


Setelah menunggu hampir seharian, tepat pada pukul 3 sore sebuah paket datang kembali. Kali ini paket itu tidak lagi berada dalam sebuah amplop coklat, melainkan sebuah amplop putih berukuran sebuah kaset.


Galang mengerutkan dahinya saat menerima sebuah kaset. Tidak ada tulisan apapun di kertas kaset itu.


"Apa benar-benar tidak ada pesan atau surat dari si pengirim?" tanya Galang.


"Ada tuan. Kurirnya cuma menyebutkan kalau si penerima bertanya siapa pengirimnya, bilang saja kalau itu dari Marinka." Jawab Tono.


"Ap-Apa? Marinka?"


"Iya tuan."Jawab Tono.


"Ya sudah pergilah!" ujar Galang.


Tono keluar dari ruangan itu. Galang menatap kaset yang ada ditangannya dengan penuh tanda tanya.


"Jadi yang memberitahu semua ini Marinka? tapi dimana dia? apa dia masih mencintaiku? sehingga dia ingin memberitahu kebusukkan Karin?" ucap Galang lirih.


"Tapi kenapa dia tidak memberikannya secara langsung padaku? kenapa harus bersembunyi? hah...dia pasti masih takut padaku, dia pasti mengira aku akan memarahinya seperti dulu. Padahal, kalau dia ada disini, aku ingin meminta maaf padanya dan bila perlu rujuk kembali dengannya."


Sekilas Galang jadi teringat, saat-saat dirinya memperlakukan Marinka dengan kejam. Selain dengan mulutnya yang tajam, Galang juga suka main tangan dengan Marinka. Tapi Marinka tetap saja memberikan dia banyak cinta. Bahkan setelah tahu di khianatipun, Marinka masih mau menerima dirinya dengan tangan terbuka.


"Ah...mengingat semua itu, aku baru menyadari. Sikapku dulu padanya seperti bukan sikap manusia. Bagaimana bisa aku melukai wanita dengan hati selembut itu. Dia bahkan masih memberikan aku banyak cinta dan perhatian meskipun aku sudah berlaku tidak adil padanya."


"Marinka. Tunggu aku menyelesaikan urusanku dengan Karin. Aku akan berjuang mencarimu dan kita bisa rujuk kembali," ujar Galang.

__ADS_1


Galang yang penasaran, segera memasukkan kaset itu kedalam laptop untuk melihat apa yang Marinka ingin perlihatkan padanya.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2