
5 bulan kemudian...
Yure bergerak mondar-mandir di depan ruang operasi. Saat ini Ezka tengah mempertaruhkan nyawanya antara hidup dan mati. Ezka tengah bejuang melahirkan anak-anaknya.
"Tenanglah sedikit. Ezka pasti baik-baik saja," ujar Ezra.
"Aku susah tenang pa. Kok operasinya lama sekali sih?" tanya Yure.
"Ya ampun Yur. Baru juga masuk 15 menit yang lalu," ucap Regia.
"Benarkah? hufffffttt...rasanya aku mau gila kalau dibiarkan nunggu lama begini," Yure duduk dikursi panjang dan memangku wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah menunggu hampir 1 jam, suara bayi terdengar nyaring dari arah dalam. Yure melonjak gembira karena penantian mereka seolah terbayar sudah.
"Yes...anakku sudah lahir ma, pa," Yure bersorak gembira.
"Selamat nak. Sekarang kamu sudah resmi jadi orang tua," ujar Regia.
"Aku bahagia sekali ma," Yure memeluk Regia dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Yuda menepuk-nepuk bahu putranya itu. Setelah proses persalinan itu selasai, dan Ezka sudah siuman dari pengaruh obat anastesi, Ezkapun segera dibawa ke ruang perawatan.
Cup
Yure mengecup kening Ezka yang masih tampak lemah dan berwajah lesu.
"Terima kasih sayang. Terima kasih kamu sudah memberikan anugerah yang indah buatku," ujar Yure.
"Apa anak kalian sudah diberikan nama?" tanya Ezra.
"Sudah pa. Saat tahu jenis kelaminnya tempo hari, kami sudah memberikan nama buat mereka." Jawab Yure.
"Nama putriku kami beri nama Yuka putri bagaskara. Putraku kami beri nama Yuez putra bagaskara," sambung Yure.
"Emm. Nama yang unik," ucap Ezra.
"Kalau begitu kita harus segera mengatur acara syukuran buat cucu-cucu pertama kita," timpal Yuda.
"Ide yang bagus. Sayang Yugie dan Vania tidak berada disini, mereka pasti senang saat melihat anak Yure sudah lahir," ujar Regia.
"Kenapa? Vania masih mabuk?" tanya Marinka.
"Iya. Kemarin bahkan sempat di opname, karena dia mengalami hyperemisis gravidarum kata dokternya." Jawab Regia.
__ADS_1
"Waduh...pasti nggak enak banget itu. Serasa serba salah. Aku pernah mengalami itu saat hamil Meiza dan Moza. Saat mualnya datang, seluruh dunia terasa jungkir balik," ujar Marinka.
"Pantas saja Vania sampai kehilangan berat badan nyaris 5 kilo dalam tiga bulan terakhir," ucap Regia.
"Kasihan. Perbanyak makan buah biar ada nutrisi yang masuk," ucap Marinka.
"Dalam kulkas nyaris semua jenis buah ada. Soalnya cuma buah yang bisa dia makan. Kalau makanan berat belum bisa. Tapi tetap dipaksakan meskipun cuma sedikit," ucap Regia.
"Beruntung waktu hamil muda Yure yang mengalami hal itu. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai aku yang merasakannya," timpal Ezka.
"Hadeh...hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana rasanya. Maafin Yure ya ma, kalau Yure pernah nyakitin hati mama. Ternyata perjuangan seorang wanita khususnya seorang ibu itu sangat luar biasa," ujar Yure sembari merangkul pundak Regia.
"Itulah sebabnya kalian para lelaki jangan suka menganggap remeh perjuangan seorang istri. Meskipun istri kalian hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kalian capek kerja dikantor paling capek duduk doang sambil pegang buku,pena ataupun laptop. Sementara istri kalian dirumah mengerjakan segalanya," ucap Regia.
"Setuju. Kebanyakan lelaki emang begitu. Mentang istrinya nganggur dirumah, dibilangnya tidak kerja alias pengangguran tulen. Padahal semua pekerjaan pembantu nyaris dikerjakan oleh istri. Tanpa di gaji lagi," timpal Marinka.
"Aku enggak loh ma," ujar Yuda.
"Aku juga nggak," timpal Ezra.
Regia dan Marinka kompak mencebikkan bibirnya.
Sementara itu ditempat berbeda. Anser tengah merasa galau. Sudah 5 bulan dirinya bertunangan dengan Meiza, tapi semakin lama Meiza terasa menjauh darinya.
Moza melirik kearah Meiza yang sedang asyik bercengkrama lewat telpon dengan dokter Ilyas. Mozapun mengangkat telpon dari Anser sembari keluar dari kamar itu.
"Ya Ans?" tanya Moza.
"Apa Meiza sedang bersamamu?" tanya Anser.
Moza terdiam. Dia bingung harus mengatakan apa pada pria itu.
"Moza? kenapa kamu diam?" tanya Anser.
"Eh? dia sedang konsul skripsi. Kamu tahu sendiri 2 bulan lagi kami wisuda. jadi kami harus kejar target." Jawab Moza.
"Tapi kenapa aku merasa dia menghindariku ya? sesibuk apapun dia, masak tidak sempat balas wa walau hanya sekali saja. Selama ini cuma kamu yang selalu ngangkat telpon dariku, sedangkan setiap aku nelpon dia selalu tidak aktif," ujar Anser.
"Maafin aku Anser. Aku selalu berbohong padamu demi menutupi kesalahan Meiza," batin Moza.
"Entah mengapa aku merasa dia semakin jauh dariku. Malah orang yang seharusnya jauh malah lebih dekat denganku. Moza, kamu nggak bosan kan dengar curhatan dariku? kalau kamu bosan, kamu boleh tutup telponnya," ujar Anser.
"Nggak kok Ans. Kamu boleh cerita apapun yang kamu mau," ucap Moza.
__ADS_1
"Apa kamu tahu sesuatu tentang Meiza?" tanya Anser.
"Maksudnya bagaimana Ans?" tanya Moza.
"Apa saat ini dia tengah dekat dengan seseorang?" tanya Anser.
Deg
Jantung Moza seperti akan berhenti saat mendengar pertanyaan dari Anser. Pertanyaan yang begitu mengena dihati.
"Aku kurang tahu. Tapi sepertinya tidak. Meskipun kami satu jurusan, tapi kami berada di kelas yang berbeda." Jawab Moza.
Moza sengaja memberikan jawaban yang ambigu. Karena dia tidak ingin menyakiti perasaan pria yang diam-diam dia cintai itu.
"Aku sangat merindukannya," ujar Anser.
"Kalau kamu rindu. Kamu datangi dia saja, dengan begitu kalian bisa menyampaikan keluh kesah kalian masing-masing," ujar Moza.
"Benar juga. Kalau begitu jangan bilang padanya ya? besok aku akan memberikan kejutan untuknya," ucap Anser.
"Baiklah aku tidak bilang." Jawab Moza.
"Makasih ya Za. Setiap selesai bicara denganmu, hatiku jadi merasa tenang. Kamu buruan cari pacar gih, biar bisa nerima telpon lain selain dari aku," ledek Anser.
"Inilah teman kurang ajar. Baru di bikin senang, malah menghina," ucap Moza.
"Kamu sih dandananmu kayak laki. Coba feminim kayak Meiza dong. Pengen lihat kamu pake rok kayak apa," ucap Anser.
"Apa penampilan itu sungguh penting, dibandingkan dengan isi hatinya? hati-hati loh bagus penampilan luar belum tentu bagus hatinya." Jawab Moza.
"Eh? benar juga," ujar Anser.
"Kamu suka cewek feminim ya?" tanya Moza.
"Ya." Jawab Anser.
"Kenapa?" tanya Moza.
"Enak di lihat saja. Lebih anggun juga." Jawab Anser.
"Kalau begitu kamu sangat cocok dengan Meiza. Dia mewakili semua apa yang kamu sebutkan tadi. Kalau aku sih malah kebalikkan dari dia," ujar Moza.
Anser tahu maksud Moza. Dia sudah tahu perangai saudara kembar yang sifat dan karakternya bertolak belakang itu. Jika sewaktu remaja Meiza suka balet, Moza malah memilih karate. Jika Meiza suka mengenakan gaun, Moza lebih suka pakai kemeja. Jika Meiza suka memanjangkan rambutnya, maka Moza tidak pernah sekalipun berambut panjang. Karena Meiza feminim, Anser menyukainya. Namun anehnya Anser lebih nyaman bercerita apapun pada Moza, karena Meiza cenderung pendiam.
__ADS_1