
"Loh kok pulangnya cepat?" tanya Karin.
"Ini kenapa kamu pakai pakaian seperti ini?" sambung Karin sembari menyentuh pakaian dilengan Gadlyn.
Gadlyn menjatuhkam bokongnya disalah satu kursi berbahan rotan. Gadis itu menyandarkan punggungnya sebelum menjawab semua pertanyaan ibunya.
"Di suruh pulang sama Rakha." Jawab Gadlyn.
"Kenapa? apa kamu ditolak bekerja disana?" tanya Karin sembari duduk disebelah Gadlyn.
"Tidak. Tapi aku ditempatkan sebagai OG disana." Jawab Gadlyn lesu.
"OG?" Karin cukup terkejut.
"Keterlaluan banget kan dia? sama sekali tidak menghargaiku sebagai lulusan Harvard. Terlebih aku cuma jadi OG khusus buat dia. Mana tadi disuruh buat teh gagal lagi," ujar Gadlyn kesal.
Karin terdiam. Dia bisa memahami sikap Rakha pada putrinya. Walau bagaimanapun dia tetap berterima kasih pada keluarga pria itu, karena sudah mau memberikan pendidikkan yang luar biasa untuk putrinya.
"Tidak masalah. Kalau mau sukses, memang harus dari bawah dulu," ujar Karin.
"Tapi nggak jadi OG juga ma. Lilin bisa kok cari kerja ditempat lain, yang lebih bisa menghargai jerih payahku kuliah di luar negeri,"
"Tidak boleh begitu. Kamu tidak usah perdulikan tindakan Rakha. Tapi pandanglah om Ezra dan tante Marinka yang sudah susah payah menyekolahkanmu, dan juga memberikan biaya hidup selama kamu di luar negeri."
"Ya itulah sebabnya aku terima saja tadi perintah dia menjadi OG. Itu karena menghargai om Ezra dan tante Marinka. Kalau nggak, males banget deh."
"Astaga ma. Galaknya minta ampun, belagu lagi. Pantasan belum laku," sambung Gadlyn.
"Husssttt nggak boleh ngomong sembarangan. Pokoknya kamu tetap harus menjaga rasa hormat kamu sama dia. Profesional saja, anggap dia benar-benar bos yang perfeksionis," ujar Karin.
"Ya sudah ma. Lilin mau ngabarin Reno dulu, dia pasti nungguin kabar dari aku," ucap Gadlyn.
"Ya." Jawab Karin.
Gadlyn masuk ke kamarnya. Karin dan Gadlyn memang tinggal dirumah lama Karin, yang dulu dia sempat tinggali bersama Marinka. Saat ini dia hanya tinggal berdua saja bersama Gadlyn, sementara Paulin sudah meninggal sebelum dia sempat mencicipi kebebasan dari penjara.
"Hallo sayang?" sapa seorang pria diseberang telpon, saat pria itu melihat sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya.
__ADS_1
"Sayang. Kamu ada dimana?" tanya Gadlyn.
"Ada di rumah. Aku sengaja nungguin kabar dari kamu. Apa kamu tahu? Poppy baru saja mengabariku, kalau dia lulus interview di perusahaan yang dia incar," ujar Reno.
"Benarkah? wah...aku harus mengucapkan selamat padanya. Tapi aneh, kenapa dia tidak menghubungiku?" tanya Gadlyn.
"Eh?...anu, aku yang memberitahunya agar jangan mengganggumu dulu, kamu kan lagi interview juga. Mungkin nanti dia akan memberitahumu." Jawab Reno.
"Benar juga. Selamat ya untuk kalian berdua, sudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian kalian," ujar Gadlyn.
"Lalu bagaimana denganmu? apa posisi serketaris sudah bisa kamu dapatkan?" tanya Reno.
"Serketaris apanya? sangat diluar ekspektasiku. Aku malah bekerja sebagai OG disana. Mana nggak bisa mundur lagi, ini semua karena bos nya tidak suka padaku."
"Apa? OG?" Reno terkejut.
"Iya. Kamu nggak malu kan punya pacar OG?"
"E-Enggak kok. Tapi kenapa kamu ambil posisi itu? kamu kan lulusan terbaik Harvard, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari itu,"
"Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu ya? aku harus belanja buat kebutuhan pekerjaanku nanti," ucap Reno.
"Ya. Hati-Hati ya sayang," ujar Gadlyn.
"Ya." Jawab Reno yang langsung mengakhiri panggilan itu.
"Hah...nasib Reno sama Poppy mujur banget sih. Lulusan luar negeri, dapat kerjaan sesuai target. Nah aku? malang banget nasibku," gerutu Gadlyn.
"Apa aku ke apartement Poppy aja ya? pengen curhat, sekalian ngucapin selamat buat dia. Emm...bagusnya aku kasih apa ya?" Gadlyn tampak terlihat meletakkan jari telunjuknya di dagu.
"Aha...dia kan suka boneka babi. Aku berikan saja dia boneka itu," ujar Gadlyn.
Gadlyn bergegas membersihkan diri, kemudian dia berpakaian santai dan pergi ke salah satu pusat perbelanjaan.
Setelah dia menemukan apa yang dia cari, diapun bergegas menuruni tangga escalator.
"Ka. Bukankah itu Gadlyn?" tanya Yure yang melihat Gadlyn berlawanan arah dengan tangga yang sedang mereka naiki.
__ADS_1
Rakha menoleh kearah yang Yure maksud, dan melihat Gadlyn yang tengah memeluk boneka babi.
"Heh. Kekanakan. Apa dia pikir dia itu gadis berusia 15 tahun? sudah sebesar itu masih bermain boneka," batin Rakha.
"Biarkan saja. Masa kecilnya kurang bahagia," ujar Rakha yang membuat Yure jadi bertanya-tanya dalam hati akan maksud ucapan Rakha.
Rakha dan Yure memang tengah mencari kemeja baru untuk Rakha. Karena saat bertemu klien, tidak sengaja pelayan menumpahkan minuman di baju Rakha.
"Aku berubah pikiran. Aku mau pulang saja kerumah," ujar Rakha yang kemudian langsung menuruni anak tangga setelah baru saja sampai diujung tangga.
"Loh kenapa? apa kamu tidak risih pakai baju basah begitu?" tanya Yure.
Rakha melihat kearah pakaiannya yang basah di bagian dada.
"Mampir saja ke apartemenmu kalau begitu. Bukankah apartementmu dekat dari sini? aku pinjam bajumu saja. Lagipula aku tidak bisa pakai baju baru yang belum di cuci terlebih dahulu," ucap Rakha.
"Baiklah." Jawab Yure.
Sementara itu Gadlyn sudah hampir sampai di apartement milik Poppy. Gladlyn kemudian memarkirkan motor maticnya di basement apartemen. Gadis itu sangat antusias saat mendatangi apartement sahabatnya itu, karena ingin memberikan kejutan untuknya.
Gadlyn menekan tombol 17, karena unit apartemen Poppy memang berada diangka itu. Setelah menunggu beberapa lama, lift itupun terbuka, dan Gadlyn keluar dari sana.
Tat tit
Tat tit
Gadlyn menekan beberapa angka di depan pintu apartemen Poppy, karena dia memang mengetahui sandi dari apartement sahabatnya itu.
Ceklekkk
Gadlyn melangkah masuk, dan melihat suasana apartement yang tampak sunyi, karena Poppy sejak dulu memang tinggal mandiri.
Gadlyn menangkap sesuatu yang janggal dari situasi apartemen itu, karena gadis itu melihat beberapa helai pakaian tercecer di dekat sofa. Terlebih dia melihat salah baju yang sangat dia kenali, yang membuat jantung Gadlyn berdebar seketika.
Gadlyn mendekati arah pintu kamar Poppy, dan jantung gadis itu seakan berhenti berdetak, saat mendengar suara-suara aneh dari dalam sana. Dengan keberaniannya yang sudah terkumpul di ubun-ubun, Gadlyn mendorong pintu itu dengan tangan bergetar. Dan saat pintu itu berhasil terbuka lebar, Gadlyn sangat terkejut dengan apa yang dia lihat. Seketika boneka ditangannya jatuh kelantai, beriringan dengan air matanya yang jatuh membasahi pipi dan tubuh gemetar.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
__ADS_1