Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.183. Marah 2


__ADS_3

"Ckk...masih kelihatan bengkaknya. Abang dirumah saja hari ini," ujar Marinka sembari melihat luka lebam diwajah suaminya.


Ezra meraih tangan Marinka dan menggenggamnya.


"Nggak apa. Abang ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah selesai abang janji akan pulang cepat," ucap Ezra.


"Ya sudah, hati-hati kalau begitu,"


Cup


Ezra mencium kening Marinka setelah istrinya itu mencium tangannya. Marinka melambaikan tangan saat Ezra mulai menjalankan mobilnya.


Marinkapun bersiap-siap untuk pergi ke kantornya, karena ingin memeriksa stok barang yang ada di setiap gerai. Setelah menyelesikan pekerjaannya, Marinkapun segera pulang kerumah karena ingin memasak makanan spesial untuk suaminya.


Setelah selesai memasak semua makanan kesukaan Ezra, Marinkapun bergegas mandi dan sedikit berdandan untuk menyambut kedatangan suaminya.


Ting tong


Ting tong


"Itu pasti bang Ezra," ujar Marinka yang bergegas menuruni anak tangga.


"Biar saya yang buka," ucap Marinka saat melihat salah satu pelayan ingin membukakan pintu.


Krieeekkkk


"Abang udah...."


Senyum Marinka hilang seketika dari bibirnya, saat melihat orang yang datang bukanlah suaminya, melainkan Galang sang pengacau dimatanya.


"Ada apa?" tanya Marinka dengan wajah datar.


"Apa begini caramu menyambut seorang tamu?" tanya Galang.


"Silahkan masuk," ujar Marinka sembari masuk lebih dulu.


Galang duduk di sebuah sofa, dan kemudian menyilangkan kakinya.


"Ada keperluan apa kamu datang kemari?" tanya Marinka.


"Aku cuma mau memberitahumu, Karin dan mamanya sudah aku jebloskan ke penjara. Dan kalau tidak ada halangan, mungkin minggu depan adalah jadwal sidang pertama. Kamu harus datang kepersidangan itu karena kamu sebagai korban."


"Baiklah. Apa adalagi?"


"Masalah pembangunan masjid. Aku sudah membuat rencana pembangunan 5 masjid, sekarang lagi di hitung jumlah bahan dan dana yang diperlukan. Mungkin tidak bisa langsung membangun 100 masjid, tapi aku berjanji akan mengabulkan semua permintaanmu itu."


"Baguslah. Apa ada lagi?" tanya Marinka.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sangat membenciku. Inka, mas minta maaf atas kejadian kemarin. Apa lukamu baik-baik saja? mas sangat mengkhawatirkanmu,"


Marinka menghela nafas panjang. Dia sangat takut Ezra tiba-tiba datang dan salah paham lagi padanya.


"Lukaku baik-baik saja, dan aku tidak membencimu. Tapi tentu saja kita ini harus mempunyai batasan. Aku ini seorang wanita bersuami, memasukkan pria lain kedalam rumah tanpa izinnya tentu saja tidak di benarkan. Dan aku sudah melanggarnya saat ini demi menghormati tamu. Jadi tuan Galang, aku mohon kamu juga mengerti kesulitanku saat ini."


"Kenapa? apa dia memarahimu? memukulmu? katakan padaku!"


"Ckk...jangan samakan dia sama kamu. Dia bukan pria seperti itu. Dia sangat menyayangiku. Jadi aku minta tolong padamu, jauhi aku karena kita tidak punya urusan lagi,"


"Apa aku boleh berkata jujur? aku benar-benar menyukaimu dan mencintaimu. Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku yakin kita bisa kalau kamu mau menjalani hubungan kita dari awal lagi."


"Berhenti bicara omong kosong. Kamu dan aku adalah hal yang tidak mungkin bisa di satukan lagi. Cinta...cinta...cinta apa yang kamu bicarakan. Sungguh kata-kata yang menggelikan untuk di dengar."


"Please beri aku kesempatan untuk membuktikan padamu kalau aku serius dengan ucapanku. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu."


"Apa kamu sudah tidak waras? menyuruh wanita bersuami dan mempunyai anak untuk bercerai dan berhubungan denganmu. Aku rasa kamu perlu pergi ke psikiater. Bagaimana bisa kamu membuat hubungan orang yang baik-baik saja, menjadi buruk seketika. Benar-Benar tidak waras. Pergilah dari rumahku!" usir Marinka.


Marinka beranjak dari tempat duduknya, dan melangkah pergi. Tapi Galang menarik tangannya sedikit kuat hingga tubuhnya membentur tubuh Galang, dan pria itu memeluknya.


"Kenapa kamu tidak mau melihat ketulusanku? seharusnya kamu beri aku kesempatan, setelah itu baru bisa memutuskan. Walau bagaimanapun kita ini pernah bersama bukan?"


"Lepaskan brengsek!" hardik Marinka yang berusaha melepaskan pelukkan Galang.


"Apa-apaan ini?" Ezra muncul tiba-tiba, membuat tubuh Marinka menegang seketika. Sementara Galang menyeringai puas dibibirnya.


Marinka mendorong keras tubuh Galang dan segera menghampiri suaminya.


Ezra tidak menggubris ucapan Marinka, pria itu mendekati Galang, yang membuat Marinka jadi panik seketika


"Sepertinya peringatanku kemarin sama sekali tidak kamu gubris. Jangan salahkan aku kalau kesombonganmu itu akan berakhir sebentar lagi," Ezra menekankan setiap kata-katanya. Bahkan jarak antara Ezra dan Galang terlampau dekat saat ini.


"Kenapa? apa kamu takut bersaing denganku? walau bagaimanapun kami pernah bersama dan tidur diranjang yang sama. Meski kamu mendapat keperawanannya, tapi aku cukup puas mengambil keuntungan disaat dia sedang tertidur lelap."


"Apa maksudmu bicara seperti itu? bang, adek mohon jangan terprovokasi dengan ucapannya. Dia tidak pernah melakukan itu padaku. Jadi abang..."


"Diam! masuk kamar!" hardik Ezra.


Ini kali pertama Ezra membentak Marinka, membuat wanita itu terluka dan menangis. Marinka bergegas menaikki anak tangga, dan memasukki kamarnya.


"Jangan kira hubungan kami akan hancur, hanya karena kamu ingin menggoda istriku kembali. Aku pastikan sehelai rambutnya, kamu tidak akan pernah mendapatkannya. Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku melubangi kepalamu!" ujar Ezra lirih namun masih bisa Galang dengar.


Galang menyeringai dan menatap lekat kearah mata Ezra.


"Sepertinya kamu sedang takut saat ini. Dan hanya orang yang tidak percaya diri yang merasakan itu. Dan secara tidak langsung, kamu mengakui kalau aku punya kelebihan dibandingkan dirimu." Galang pergi begitu saja dan Ezra bergegas naik ke kamar dan membuka pintu cukup kasar.


Marinka menyeka air matanya yang sudah membasahi seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Puas kamu peluk-pelukkan dengan pria lain? apa kamu tidak berpikir kalau anak-anak bisa melihat kelakuanmu itu?"


"Kenapa abang nggak mau mendengar penjelasanku? dia yang tiba-tiba memelukku, adek nggak sempat menghindarinya."


"Lalu kenapa kamu mengundangnya kerumah?"


"Siapa yang mengundangnya? dia datang sendiri dengan alasan ingin memberitahu kalau Karin dan Mamanya sudah dijebloskan ke penjara. Minggu depan aku harus hardir di persidangan."


"Omong kosong. Bahkan kamu berdandan hanya untuk menyambut kedatangannya. Hal yang tidak pernah kamu lakukan selama kita menikah,"


"Apa abang akan percaya kalau adek bilang, adek berdandan karena ingin menyambut kedatangan abang?"


"Tentu saja tidak percaya. Kamu sudah kuperingatkan, jangan dekat-dekat sama dia. Ini malah memasukkan pria itu kedalam rumah. Itu artinya kamu tidak menganggap peringatanku,"


"Jadi adek harus bagaimana agar abang percaya?"


"Terserah kamu mau apa," ujar Ezra yang kemudian masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu.


Marinka kembali terisak. Malam itu Ezra tidak tidur bersama Marinka. Pria itu lebih memilih untuk tidur di ruang kerja. Sampai keesokkan harinya pun pria itu masih marah, dan pergi ke kantor tanpa berpamitan.


"Kita mau kemana Ma?" tanya Rakha.


"Kita akan pergi ke mall untuk membeli kebutuhan kalian." Jawab Marinka.


"Mama saja yang pergi dengan Ezka. Uda dirumah saja,"


"Tidak bisa. Mama pengen ajak kalian berdua jalan-jalan. Kita mau beli baju baru, kalau kamu nggak ikut nanti nggak pas ukurannya." Alasan Marinka.


"Baiklah." Jawab Rakha.


Merekapun pergi ke mall. Setelah selesai berbelanja, mereka pun mampir kesalah satu restaurant untuk makan siang.


"Marinka," sapa Galang.


"Ya Tuhan...apa pria ini hantu? kemanapun aku pergi, sepertinya selalu ada dia yang menghantui. Gara-Gara pria brengsek ini aku jadi bertengkar dengan suamiku," batin Marinka.


Dengan tidak tahu malunya, Galang menarik kursi disebelah Marinka dan duduk disana.


"Apa yang kamu lakukan? pergilah dari sini!" ujar Marinka dengan penuh penekanan.


Rakha mengerutkan dahinya karena menyadari Marinka tidak suka di dekati oleh pria asing di depannya.


"Marinka aku minta maaf padamu atas insiden kemarin. Aku tidak bermaksud membuatmu bertengkar dengan suamimu."


"Kalau begitu pergilah. Jangan pernah ganggu hidupku lagi. Aku tidak mau suamiku salah paham lagi padaku. Kamu sudah cukup membuat masalah dalam hidupku, jadi tolong lepaskan aku. biarkan aku bahagia, aku tidak mungkin meninggalkan suamiku karena aku sangat mencintainya."


"Tuan. Bukankah disana itu istri anda?" tanya salah satu kolega Ezra.

__ADS_1


Ezra menoleh kebelakang, dan benar saja. Pria itu melihat Marinka sedang duduk bersebelahan dengan Galang. Sementara di depan dua orang dewasa itu, ada Rakha dan Ezka disana yang membuat gigi-gigi Ezra terkancing seketika.


TO BE CONTINUE...🤗🙏


__ADS_2