Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
BAB.184. Sandiwara


__ADS_3

Tringgg


Sebuah chat masuk ke ponsel Ezra. Ezra megerutkan dahinya saat menerima sebuah chat dari putranya yang tak lain dari Rakha.


"Meeting kita selesai untuk hari ini. Saya punya keperluan lain," ujar Ezra.


"Silahkan tuan Ezra. Senang bekerjasa sama dengan anda," ucap salah satu rekan bisnis Ezra.


Selesai berbasa-basi. Ezra pergi kearah toilet untuk membuka isi chat putranya itu. Karena Rakha tidak hanya mengirim sebuah chat, tapi juga mengirim sebuah video.


"Papa. Siapa orang ini? dia mengganggu mama, dan sepertinya mama tidak suka dia. Papa bertengkar dengan mama? jangan marahin mama, mama nggak salah,"


Ezra membuka video yang Rakha kirim. Dan rahangnya pun mengeras seketika. Karena sudah jelas sekali Marinka sudah mengusir pria itu karena takut Ezra akan salah paham lagi terhadap Marinka.


"Karena terlalu cemburu buta, aku pasti sudah menyakiti hati istriku sendiri. Galang, karena kamu sudah berani mengacak-acak keharmonisan rumah tanggaku, jangan salahkan aku kalau aku menghancurkan hidupmu, bahkan meski Marinka melarang dengan alasan kasihan dengan putrimu."


"Ucapkan selamat tinggal dengan kesombonganmu itu. Heh, kamu merasa lebih baik dariku? jangan mimpi!" sambung Ezra.


Ezra melangkah penuh wibawa kearah meja yang terdapat Marinka, Galang, dan kedua anaknya. Melihat kedatangan Ezra, tentu saja Marinka jadi panik. Wanita itu bahkan langsung berdiri dari kursinya, karena takut Ezra akan salah paham lagi terhadapnya.


"Maaf papa terlambat," ujar Ezra sembari mengedipkan mata kearah kedua anaknya.


"Papa kok lama? apa pekeljaan lebih penting dali anak-anak papa?" tanya Rakha yang mulai bersandiwara.


"Tentu saja lebih penting anak-anak papa. Tadi papa sempat terkena macet. Oh...ada tuan Galang disini, apa boleh saya duduk? soalnya kursinya cuma ada empat disini," ujar Ezra.


Rakha dan Ezka hanya bisa menahan tawanya saat melihat orang yang sudah mengganggu mamanya kena usir oleh sang papa. Galang dengan menahan rasa malu segera bangkit dari kursinya dan sedikit merapikan pakaiannya.


"Maaf apa anda punya kepentingan lain dengan istri saya? kalau tidak ada, biarkan kami makan siang dengan tenang. Ini moment keluarga soalnya," sambung Ezra.


Galang menatap kearah Marinka. Marinka segera membuang muka.


"Sepertinya pendekatan secara halus tidak membuahkan hasil. Mereka terlihat baik-baik saja meskipun sudah ku buat badai. Dan aku harus membuat rencana lebih gila lagi," batin Galang.


"Berpikir jahatlah sebanyak apapun yang kamu mau, karena sebentar lagi aku akan membuatmu tidak bisa berpikir sama sekali. Bahkan mungkin di pikiranmu cuma ada satu, yaitu ingin mengakhiri hidupmu dengan cepat, agar bumi kami yang indah ini sedikit bisa bernafas," batin Ezra.


Tanpa bicara Galang pergi begitu saja. Marinka menatap suaminya dengan perasaan campuk aduk. Dia menunggu-nunggu apa yang akan dikatakan Ezra selanjutnya.

__ADS_1


"Ab-Abang. A-Aku...."


"Maaf," ujar Ezra tertunduk di hadapan Marinka, yang membuat wanita itu jadi bertambah bingung.


"Seharusnya setelah mengikuti acara di stasiun tv itu, cinta kita semakin kuat. Tingkat kepercayaanku semakin tinggi, tapi karena rasa cemburu yang berlebihan, abang sudah menghancurkan segalanya. Terutama abang sudah menghancurkan hatimu," ujar Ezra dengan meneteskan air mata.


Marinka meraih kedua sisi wajah suaminya, dan mencium kening pria itu.


"Adek suka melalui badai ini bersamamu. Setiap kehidupan rumah tangga, tidak ada yang berjalan mulus. Mungkin Tuhan menganggap rumah tangga kita terlalu harmonis, jadi sedikit memberi kita ujian."


"Tapi bang. Satu hal yang harus abang tahu, meskipun dia menawarkan segudang cinta dan lautan harta benda. Adek nggak akan pernah berpaling dari abang. Karena hartaku adalah abang dan anak-anak. Jadi abang jangan marah lagi ya?" ujar Marinka.


Greppppp


Ezra membawa Marinka kedalam pelukkannya. Namun saat akan mencium Marinka, wanita itu menghentikannya.


"Abang. Ini tempat umum, ada anak-anak juga," ucap Marinka setengah berbisik.


"Oh iya lupa," ujar Ezra sembari terkekeh.


"Nah...anak-anak. Cepat habiskan makanan kalian. Setelah ini papa akan mengajak kalian bermain sepuasnya," ucap Ezra.


Mereka pun makan bersama, setelah selesai Marinka dan Ezra menemani anak-anaknya bermain di tempat permainan. Marinka dan Ezrapun duduk di sebuah kursi panjang yang di sediakan disana.


"Hentikan saja kalau adek ingin dia membangun 100 masjid itu. Abang nggak mau dia punya alasan lagi untuk menemuimu dan memprovokasiku," ujar Ezra.


"Ya. Sebenarnya tujuanku membangun masjid itu hanya ingin menguras hartanya, dan agar dia lebih fokus kesitu. Adek nggak perduli dengan apa yang dia lakukan, adek ingin dia sibuk dak tidak menggangguku lagi. Tapi pria tidak tahu malu itu selalu saja punya cara untuk membuat abang jadi marah padaku," ujar Marinka.


"Itu bukan salahmu. Ini karena abang yang bodoh karena mudah termakan provokasinya. Tapi dengan kejadian ini, cinta kita semakin kuat bukan?" tanya Ezra.


"Emm." Marinka mengangguk, dan kemudian merebahkan kepala dibahu kokoh suaminya itu.


"Sebenarnya ada satu cara lagi agar pria gila itu tidak mengganggumu," ucap Ezra yang membuat tubuh Marinka tegak seketika.


"Apa?" tanya Marinka.


"Aku harus segera membuatmu hamil. Dan untuk itu kita harus bekerja lebih keras lagi bukan?" ucap Ezra sembari menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


Marinka memutar bola mata dengan malas. Ujung-Ujungnya Ezra tidak bisa lepas dari urusan kasur. Ezra tertawa melihat ekspresi tidak senang diwajah istrinya itu.


Sementara itu di sudut lain, Galang yang belum benar-benar pergi di buat geram, karena melihat Marinka dan Ezra tampak baik-baik saja . Mereka terlihat sangat harmonis dan mesra.


"Pulang yuk dek?" tanya Ezra.


"Kenapa cepat sekali pulangnya? anak-anak juga masih main," tanya Marinka.


"Pengen itu," bisik Ezra.


"Hisssttt abang...." ujar Marinka sedikit mencubit paha suaminya.


"Kan udah 2 hari libur dek?"


"Salah siapa?" tanya Marinka.


"Salah abang. Makanya untuk menebus 2 hari ini, kita akan bermain sedikit lebih lama."


"Nggak-Nggak. Lagipula adek sama sekali nggak keberatan."


"Abang yang berat dek. Berat di ujung ini,"


"Aihh...abang ini. Ya sudah ayo pulang,"


"Yes!" Ezra gembira.


Marinka dan Ezrapun mengajak anak-anak mereka pulang. Sesampai dirumah, sesuai perkataan Ezra, pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia benar-benar membuat Marinka kelelahan hari itu.


"Lagi?" tanya Ezra setelah mereka selesai bertempur untuk yang ke 4 kalinya.


Kepala Marinka menggeleng cepat, tubuhnya benar-benar lemas.


"Nggak mau bang. Adek capek banget ini," ujar Marinka.


Ezra mengusap puncak kepala Marinka dan mencium kening istrinya yang sudah memejamkan matanya itu.


"Benar kata orang. Penyelesaian terbaik masalah rumah tangga, yaitu saat berada diatas ranjang," batin Ezra terkekeh.

__ADS_1


Ezra kemudian membawa Marinka kedalam pelukkannya, merekapun tidur untuk melepas lelah karena terlu lama bertempur.


__ADS_2