
Satyo tidak bisa berkelit lagi, ketika sebuah video pengakuan dirinya di putar ulang. Kejahatannya selama puluhan tahun satu persatu sudah terbongkar. Dan saat ini dia sedang menunggu keputusan pengadilan, karena dia sendiri sudah mengakui perbuatannya.
Sementara itu di tempat berbeda, Dirham sedang berada disebuah salon bersama Ezra. Pria parubaya itu baru dibebaskan setelah Satyo dipaksa memberitahu keberadaan Dirham yang dia sekap selama ini.
Orang-Orang yang membantu Satyo memuluskan semua rencananya, juga ikut ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara. Meskipun anak-anak Satyo berontak, itu sama sekali tidak berguna karena ayah mereka memang sudah terbukti bersalah.
"Ayah terlihat tampan. Aku yakin saat muda dulu bunda pasti tergila-gila dengan ayah," ujar Ezra saat melihat wajah Dirham yang tampak bersih setelah dicukur.
Rambut Dirham juga tampak rapi setelah dipangkas dan dibuat dengan model kekinian.
"Apa ini model rambut masa kini? semasih jaman ayah, rambut seorang pria memang banyak yang gondrong," tanya Dirham.
"Pokoknya ayah tenang saja. Saat bertemu bunda nanti, bunda pasti akan terkejut melihat penampilan baru ayah." Jawab Ezra.
"Aiihhh...ini sudah bukan jaman ayah bertingkah seperti masih muda dulu. Sekarang situasi sudah berbeda. Ayah dan bundamu, sudah tumbuh jadi orang yang berbeda,"
"Kenapa? apa ayah tidak ingin kembali bersatu dengan bunda?" tanya Ezra.
"Dia sudah pernah menikahi pria lain, tentu perasaannya pada ayah sudah jauh memudar, atau mungkin sudah tidak ada sama sekali. Berbeda dengan ayah, dihati ayah cuma ada dia meskipun sudah puluhan tahun kami berpisah,"
Ezra tersenyum mendengar ucapan pria yang tengah hilang rasa percaya diri itu.
"Bagaimana kalau ternyata bunda masih sangat mencintai ayah?"
"Mana mungkin. Terlebih ayah tidak memiliki apapun yang bisa dibanggakan. Ayah orang miskin, sementara dia keturunan bangsawan. Seharusnya sejak awal ayah tidak masuk dalam kehidupannya, jadi dia tidak perlu menderita."
"Ya sudahlah, daripada kita asal menebak. Lebih baik nanti ayah bertemu langsung saja dengan bunda,"
"Apa sebaiknya tidak usah? daripada bertemu dengan dia dan menjadi canggung, apa sebaiknya ayah bertemu dengan putri ayah saja. Ayah ingin sekali melihat rupanya," tanya Dirham.
"Bunda sedang kurang sehat, apa ayah tidak ingin bertemu dengannya?"
"Ayah malu." Jawab Dirham tertunduk.
__ADS_1
"Sudahlah. Sebaiknya sekarang kita mencari baju saja, agar tingkat kepercayaan diri ayah kembali meningkat. Oh ya, apa ayah memiliki keluarga ayah sendiri?" tanya Ezra.
"Tidak ada. Sejak kecil ayah seorang yatim piyatu. Ayah cuma anak angkat, dan mungkin kedua orang tua angkat ayah juga sudah meninggal."
"Baiklah. Ikut aku cari pakaian,"
Dirham hanya bisa menurut saja. Sesampai disebuah pusat perbelanjaan, Ezra sangat antusias memilih pakaian yang akan dia beli untuk Dirham. Setelah selesai berbelanja, merekapun pergi menuju rumah Lilian.
Saat dijalan Ezra sudah memberitahu Marinka, agar menyiapkan hidangan khusus, agar mereka bisa makan bersama.
"Nah...sebentar lagi kita akan sampai yah," ujar Ezra sembari tersenyum menghadap Dirham. Tapi pria parubaya itu hanya membalasnya dengan senyum hambar.
"Kenapa? apa ayah gugup?" tanya Ezra.
"Bukan gugup. Mungkin lebih tepatnya malu, karena ayah tidak bisa membahagiakan bundamu dan menepati semua janji-janji ayah."
"Bunda pasti akan mengerti, karena ini semua bukan kesalahan ayah. Satyo lah yang menjadi biang kerok dan kekacauan yang terjadi dalam hidup kalian. Tapi kesabaran sudah tentu berbuah manis. Kalian tidak perlu khawatir, sudah di pastikan Satyo akan mendapat ganjarannya sendiri," ucap Ezra.
"Terima kasih. Mungkin kalau tidak ada kamu dan Marinka, semuanya tidak akan berubah jadi seperti ini. Bahkan ayah sudah pasrah, jika harus mati ditempat terkutuk itu."
Pegelangan kaki Dirham memang tampak mengoreng, dan sedikit menghitam. Luka itu disebabkan oleh benda yang memasungnya selama puluhan tahun. Sementara punggung Dirham terluka akibat cambukkan yang diberikan oleh Satyo.
"Sungguh bajingan itu tidak manusiawi, menyiksa orang puluhan tahun. Apa hatinya itu terbuat dari batu? aku tidak bisa membayangkan ayah bisa melewati waktu puluhan tahun menerima siksaan yang begitu kejam seperti ini."
"Sudahlah, ayah sudah ikhlas menerima semuanya. Asalkan ayah bisa bertemu dengan hari yang membahagiakan seperti ini. Dimana ayah akan bertemu dengan putri kandung ayah." Jawab Dirham.
Satu lagi yang Ezra dapat petik dari kejadian ini. Wujud rasa cinta tertinggi dari mencintai, adalah mengikhlaskan. Ikhlas dari segala aspek, juga harus bersabar dalam menerima cobaan. Jujur, Ezra sangat mengagumi sosok ayah mertuanya itu. Kini dia mengerti, meski berpisah puluhan tahun, Lilian tidak bisa melupakan bahkan tidak bisa mencintai sosok pria lain. Karena hatinya sudah sepenuhnya milik Dirham.
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, merekapun akhirnya tiba dikediaman Lilian. Sama seperti Marinka, Dirham juga cukup mengagumi nilai seni yang terdapat pada rumah itu. Nuansa rumah itu memang sangat kental dengan nuansa kerajaan. Tiap bangunannya penuh ukiran dan mengagumkan.
"Bunda. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan bunda," ujar Ezra saat melihat Lilian tengah minum teh bersama Marinka.
"Siapa?" tanya Lilian.
__ADS_1
"Tidak tahu. Pria parubaya tapi berwajah sangat tampan," ujar Ezra mengulum senyumnya.
" Siapa sih bang? senyummu itu sangat mencurigakan," tanya Marinka yang berpura-pura tidak tahu.
"Ya sudah sebaiknya temani bunda saja kedepan," ujar Lilian.
Marinka kemudian membantu Lilian duduk di kursi roda untuk menemui tamu yang Ezra maksud. Lilian mengerutkan dahinya, karena merasa tidak asing saat melihat postur tubuh pria yang sedikit agak kurus itu.
"Siapa ya?" tanya Lilian.
Deg
Deg
Deg
Jantung Dirham berdegup dengan kencang, saat mendengar suara yang sangat dia rundukan, sudah berada dibelakang punggungnya. Suara yang diam-diam dia bingkai dalam ingatannya, agar tidak pupus dimakan waktu dan usia.
Tidak terasa air mata Dirham menetes namun secepat kilat dia menghapusnya. Dirham kemudian berdiri, dan berbalik badan untuk menatap wanita yang masih sangat dicintainya itu.
Deg
Jantung Lilian seakan berhenti berdetak, saat melihat sosok yang berdiri dihadapannya itu.
"Ma-Mas Dirham...." ucap Lilian lirih, air mata Lilian merebak seketika.
Tanpa sadar Lilian berdiri dari kursi roda. dia bahkan tidak ingat, bahwa kakinya sedang tidak kuat berjalan ataupun berlari. Namun saat melihat sosok Dirham, kekuatan itu seakan muncul, dan entah datang darimana.
Brukkkkk
Lilian berhambur kepelukkan Dirham dengan tangis yang sudah pecah. Dirhampun sudah tidak tahan lagi harus berpura-pura kuat, diapun tergugu bersama Lilian. Dipeluknya dengan erat wanita yang ada didalam dekapannya itu. Dan disaat tangis mereka mulai mereda, Dirham menyeka air mata Lilian dan kemudian mencium kening wanita itu.
"Apa kabar pacar?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Dirham. Pertanyaan khas yang sering mereka lakukan saat mereka masih berpacaran dulu.
__ADS_1
"Aku merindukanmu mas," Lilian masuk kembali kedalam pelukkan Dirham.
Sementara Marinka dan Ezra juga ikut terharu melihat pemandangan indah itu. Ezra berjanji dalam hatinya, dia akan selalu romantis sampai mereka tua nanti.