Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.273. Siuman


__ADS_3

Anser terlihat sedikit lemas karena dirinya memaksa suster untuk mengambil darah miliknya sesuai kebutuhan Moza. Setelah beristirahat beberapa waktu, Anser akhirnya keluar dari ruangan itu dan pergi berkunpul bersama Ezra dan yang lainnya.


"Wajahmu terlihat pucat. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ezra.


"Aku baik pa. Bagaimana? apa operasinya sudah selesai?" tanja Anser.


"Belum. Dokter masih sedang berusaha didalam. Berdo'a saja tidak terjadi sesuatu dengannya." Jawab Ezra.


Tubuh Anser merosot didinding. Rasa penyesalan yang dia rasakan saat ini, merupakan pukulan berat baginya.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku Moza. Jangan biarkan aku berkubang dalam penyesalan," batin Anser.


Anser tertunduk sembari merangkul kedua lututnya. Sesaat kemudian dokter keluar dengan menyampaikan berita yang kurang mengenakan telinga semua orang.


"Saat ini nona Moza sedang kritis. Luka tusukkan di perutnya cukup dalam dan sedikit menggores lambungnya. Berdo'a saja semoga ada keajaiban," ujar dokter.


Tubuh Anser gemetar. Tiba-Tiba rasa takut kehilangan menyeruak dalam dirinya. Ada rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.


"Tidak Moza. Berjanjilah kamu akan baik-baik saja. Maafkan aku...maafkan aku...hikz..."


Pukkk


Rakha menepuk bahu Anser yang tampak bergetar.


"Percayalah dia tidak selemah itu. Aku tahu perasaanmu saat ini sedang kacau balau. Tapi aku percaya keajaiban itu pasti ada," ucap Rakha.


"Aku banyak hutang sama dia Uda. Aku begitu sangat kejam selama ini sama dia. Padahal dia sangat mencintaiku, tapi aku malah mengabaikan perasaannya. A-Aku sangat menyesal. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengannya. Hikz...."


"Jadi kapan Moza bisa di pindahkan ke ruang perawatan dok?" tanya Ezra.


"Sebentar lagi. Dia akan kita pindahkan ke ruang ICU." Jawab dokter.

__ADS_1


"Kira-Kira kapan dia akan sadar dok?" tanya Marinka.


"Setelah masa kritisnya lewat." Jawab dokter.


Hati Marinka sebagai seorang ibu terasa hancur. Ezra berusaha menyabarkan istrinya itu dengan merangkul pundaknya.


"Sudahlah. Dia pasti akan baik-baik saja. Aku melatih ilmu bela dirinya dengan cukup keras. Dia tidak selemah itu," uajr Ezra.


"Aku tidak pernah melihat dia selemah ini. Bahkan sejak kecil bisa di hitung dirinya mengalami sakit. Aku merasa buruk melihatnya seperti ini. Hikz ...." Marinka terisak.


Tidak berapa lama kemudian, Moza keluar dari ruang operasi. Alat bantu kebidupan semua terpasang dibeberapa bagian tubuhnya. Anser benar-benar tidak tega melihatnya.


Setelah dibawa ke ruang ICU, merekapun bergantian menjenguk Moza. Karena mereka hanya diperbolehkan masuk satu-satu. Dan Anser memilih bagian terakhir, karena dia ingin bicara pada Moza lebih banyak.


Saat tiba giliran Anser, pria itu masuk dengan langkah kaki gemetar. Hatinya terasa sakit saat melihat Moza yang biasa segar bugar dan tangguh, kini terlihat lemah tak berdaya.


Anser meraih tangan Moza dan mencium tangan istrinya itu berkali-kali dengan lelehan air mata.


Anser mengajak Moza bicara panjang lebar,. Tanpa pria itu tahu Moza bisa mendengar atau tidak dengan apa yang dia ucapkan.


Saat malam harinya Anser memutuskan dirinyalah yang akan menjaga Moza Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan merawat istri yang telah meyelamatkan hidupnya itu.


Namun saat tengah malam, hal tak terdugapun terjadi. Moza tiba-tiba kejang, hingga membuat Anser jadi panik. Anser menekan tombol darurat untuk memanggil dokter jaga. Anserpun kini menunggu diluar sembari mondar-mandir dengan panik.


"Kumohon bertahanlah. Jangan membuatku takut," air mata Anser membasahi wajahnya.


Bayang-Bayang saat Moza mengatakan cinta sebelum tidak sadarkan diri, menjadi slide yang bermain di otaknya. Juga saat terakhir mereka berciuman mesra di dalam air.


"Kamu bilang ciumanku sungguhan, tapi hatiku palsu. Sepertinya hatiku tidak palsu lagi. Aku mohon beri aku kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin kamu dengar. Jangan buat aku semakin merasa bersalah. Aku mohon. Hikz...."


Kriekkkkk

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Anser.


"Sudah membaik. Beruntung anda segera menyeladarinya dan bertindak dengan cepat. Tapi untungnya ada kabar baik. Nona Moza sudah melewati masa kritisnya." Jawab dokter.


"Ja-Jadi dia akan sembuh? kapan dia akan sadar?" tanya Anser dengan tidak sabar.


"Kita tunggu saja. Tapi saya sarankan jangan jauh-jauh darinya. Agar kalau ada hal yang darurat, bisa segera ditangani." Jawab dokter.


"Saya mengerti dok." Jawab Anser.


Dokter itu berlalu dari hadapan Anser. Anser segera mendekati Moza kembali dan menggenggam tangan istri tomboynya itu.


"Dokter bilang kamu sudah melewati masa kritis. Kamu pasti tidak ingin membuatku khawatirkan? kamu pasti tidak ingin membiarkan para penjahat itu lolos dengan mudah kan? kalau begitu cepatlah bangun. Kita bisa menghajarnya bersama," ujar Anser.


"Sepertinya aku baru menyadari satu hal setelah kamu seperti ini. Mungkin ini adalah salah satu bentuk kebodohanku yang lain. Tapi Za, aku baru sadar kalau aku begitu takut kehilanganmu. Apa ini bisa di artikan bentuk dari cinta? atau hanya rasa bersalah?"


"Cepatlah sadar. Aku ingin membuktikannya saat kamu sadar nanti,"


Anser mengajak Moza berbicara banyak hal. Tanpa dia sadari dirinya belum tidur sama sekali. Hingga akhirnya matanya itu tidak sanggup bertahan, setelah waktu menunjukkan pukul 5 pagi.


*****


Mata Moza perlahan membuka. Matanya begitu sangat berat dan perlahan menyesuaikan dengan cahaya sekitar. Saat matanya sudah berhasil membuka dengan sempurna, Moza melihat Anser tertidur dengan kepala di tepi tempat tidur.


Moza tersenyum melihat Anser yang tampak tertidur lelap. Dia tahu Anser pasti lelah menjaganya.


"Tuhan. Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan buat melihat Anser lagi. Mungkin Engkau juga tahu, kisah kami belum kelar dan masih membutuhkan waktu yang panjang . Tapi bagiku tidak apa, melihatnya baik-baik saja aku sudah sangat senang," batin Moza.


Seorang suster kemudian masuk, karena ingin mengecek keadaan Moza. Moza meletakkan jari di bibirnya, agar suster jangan berisik dan mengganggu tidur Anser. Suster itu tersenyum mengerti, dan diam-diam melakukan tindakkan pada Moza, untuk memeriksa tekanan darahnya dan juga suhu tubuhnya.


Setelah selesai suster itu keluar, namun dia berpapasan dengan keluarga Moza yang lain.

__ADS_1


__ADS_2