
"Aku harus menghubungi Rakha," gumam Yure sembari mengatur kestabilan, karena dirinya saat ini sedang menyetir dengan kecepatan yang tidak biasa.
Sementara itu tangan Yure sedang sibuk mencari kontak Rakha, namun sialnya saat di telpon nomor itu sama sekali tidak aktif.
"Kenapa saat genting begini malah nggak aktif sih?" gerutu Yure.
"Kalau begitu aku terpaksa harus bertindak sendiri dulu saat ini. Aku harus berhasil menyelamatkan kak Ezka dulu. Sial, siapa sih yang mau berbuat jahat pada kak Ezka?" Yure lagi-lagi menggerutu.
Yah...entah mengapa Yure lebih suka memanggil Ezka dengan sebutan kakak, jika dibandingkan dengan Rakha. Itulah sebabnya Rakha suka mengomeli dirinya, karena Yure hanya memanggilnya dengan sebutan nama, tanpa embel-embel kakak.
"Oh ternyata salah satu pria mesum. Tunggu sampai aku berhasil menjambak rambutmu, akan ku pites kejantananmu," gumam Yure saat melihat mobil yang dikendarai oleh Alex, memasuki kawasan hotel.
Tring
Tring
Tring
Ponsel Yure berdering. Yure hanya sekilas melirik layar ponselnya, dan pemanggil itu berasal dari Regia. Yure yang kesal karena ditelpon terus menerus, terpaksa menerima panggilan itu namun dengan mata yang masih fokus menatap antrian parkir di depannya.
"Ada apa ma?" tanya Yure.
"Kamu beli martabak dimana? di Mekah?" tanya Regia.
"Astoge ma...mana sempat Yure mikirin martabak saat ini, ada hal yang jauh lebih penting yang harus Yure kerjakan saat ini." Jawab Yure.
"Kamu nggak jadi kesini?" tanya Regia.
"Nggak tahu. Sudah dulu ya ma?"
"Yur...."
Belum sempat Regia berkata-kata, Yure sudah mengakhiri panggilan itu. Sementara Yure tampak tergesa-gesa, dia tidak ingin kehilangan jejak Ezka yang terlihat sekali sudah hilang kendali itu.
"Lex. Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Ezka yang sudah merasa tidak nyaman itu.
Ezka berkali-kali mencubit pahanya, agar dia tidak hilang kendali terhadap Alex.
"Tenanglah baby. Sebentar lagi kita akan bersenang-senang." Jawab Alex sembari meletakkan sebuah kartu, untuk membuka pintu kamar yang sudah dia pesan.
Yure melihat ke kiri dan kekanan, setelah berhasil keluar dari sebuah lift. Beruntung Alex belum benar-benar masuk kamar saat itu. Dia sempat melihat pria itu memapah Ezka, untuk memasuki sebuah kamar.
Bruukkkk
Alex melempar tubuh Ezka kesebuah ranjang empuk, Ezka sudah terlihat tidak berdaya lagi. Hanya air mata yang menjadi senjata nya saat ini, Karena gadis itu masih berharap Alex mengurungkan niatnya setelah melihat air mata tak berdayanya itu.
"Kamu tidak usah khawatir, aku pastikan kamu juga akan menyukainya," Alex menyeringai, sembari melepaskan bajunya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Ckk...siapa sih? ganggu aja," gerutu Alex.
"Kumohon siapapun itu, tolong aku," batin Ezka.
Tok
Tok
Tok
Alex yang awalnya hendak menaiki ranjang, jadi mengurungkan niatnya itu.
Krieeekkkk
"Siapa sih?" tanya Alex sembari membuka pintu.
"Tentu saja malaikat mautmu." Jawab Yure.
Bughhhhh
"Brengsek! siapa kamu?" tanya Alex sembari menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
"Sudah kubilang, aku adalah malaikat mautmu. Berani-Beraninya kamu menyentuh kakakku dan berniat buruk padannya? apa kamu merasa punya serep nyawa? aku akan mencincangmu, dan menjadikanmu makanan buaya," ucap Yure sembari kembali melayangkan sebuah pukulan.
Air mata Ezka mengalir deras, dalam ketidakberdayaan, gadis itu merasa sangat senang karena Yure akan menyelamatkan dirinya.
"Yur...Yure...." ucap Ezka lirih.
Yure yang akan melayangkan pukulan lagi, pukulan itu jadi mengambang di udara. Yure kemudian menggendong Ezka, gadis yang tengah menggunakan pakaian yabg terbilang lumayan sexy itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kakak bisa seceroboh ini? bukankah kakak juga pandai ilmu bela diri? kenapa kakak tidak pecahkan saja biji pria mesum itu?" tanya Yure sembari tetap menggendong Ezka.
Tak ada respon dari Ezka, Gadis itu malah melakukan hal-hal yang membuat Yure merasa tidak nyaman. Saat ini Ezka tengah bermain diceruk lehernya.
"Ka-Kak...tahanlah sebentar, aku akan membawamu pulang. Aku juga akan menelpon dokter pribadi keluarga Hawiranata."
"Ti-Tidak Yure, bawa aku ke apartemenmu. Tolong," ujar Ezka yang semakin tidak terkendali.
"Kenapa ke apartemenku? kakak harus segera ditangani," ucap Yure setelah berhasil meletakkan Ezka di belakang kemudi.
"Jangan banyak tanya Yur. Dengarkan saja kata-kataku," ujar Ezka dengan sisa kekuatan suaranya.
__ADS_1
Tanpa banyak tanya lagi, Yure segera menginjak gas dan mobilnya melaju dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana ini? apa aku harus menuruti kata-katanya? terlihat sekali saat ini dia dalam keadaan tidak baik-baik saja. Kalau sesuatu terjadi padanya, matilah aku," batin Yure.
"Yur...Yure..." Ezka yang sudah tidak tahan, berusaha melepaskan baju yang sedang dia kenakan.
"Ta-Tahan kak. Sebentar lagi kita akan sampai, aku akan merendam kakak kedalam bathup, biar kakak merasa lebih baik. Please jangan lepas bajumu disini," Yure mendadak panik, saat melihat Ezka yang berusaha melepas bajunya dari kaca depan.
"Ya salammm...ternodalah ini mataku, kenapa aku harus berada di situasi sesulit ini? kalau dia bukan kak Ezka, pasti sudah kulempar keluar dari mobilku," batin Yure.
Setelah memakan waktu hampir 20 menit, Yure berhasil tiba di apartementnya. Yure kemudian. Menggendong Ezka, setelah sebelumnya merapikan pakaian gadis itu terlebih dahulu.
Byuuurrrr
Tanpa pikir panjang lagi, Yure menceburkan Ezka kedalam bathup. Yure yang tidak memiliki pengalaman dengan seorang wanita, meninggalkan Ezka begitu saja di dalam bathup dan menunggu Ezka di depan pintu kamar mandi.
"Kak...bagaimana? apa jauh lebih baik?" teriak Yure dari luar pintu.
Tidak ada respon sama sekali dari dalam, yang membuat Yure jadi sedikit khawatir. Dengan jantung berdegup, Yure mendorong pintu kamar mandi dan mendapati Ezka tengah menggigil didalam bathupbdengan bibir yang bergetar dan membiru.
"Kakak?" Yure mendadak panik seketika, dan mengangkat Ezka dari dalam bathup.
"Yur...Yure...tolong bantu kakak, kakak sudah tidak kuat lagi," ujar Ezka lirih.
"Kita kerumah sakit saja ya kak? aku bingung harus melakukan apa ini," tanya Yure sembari bergegas meraih handuk dari dalam lemari.
Yure mengelap sisa-sia air ditubuh Ezka yang masih mengenakan pakaian basah.
Brukkkkk
Ezka yang sudah hilang kendali menarik tangan Yure, hingga pria itu jatuh diatas tempat tidur. Ezka kemudian menanggalkan bajunya, dan melemparkannya kesembarang arah.
"Ap-Apa yang mau kakak lakukan?" tanya Yure gugup saat melihat pemandangan indah di depannya.
"Kak. Jangan!" Yure tidak berdaya saat Ezka tiba-tiba naik diatasnya dan segera membuka kancing celana yang Yure kenakan.
Brukkkk
Yure yang masih ada akal sehat, mendorong Ezka kesamping, hingga gadis itu terjatuh diatas tempat tidur.
Grepppp
Ezka memeluk Yure dari belakang, saat pria itu berusaha untuk kabur.
"Kak. Kumohon jangan seperti ini, jangan merobohkan pertahananku. Aku sudah hampir tidak kuat lagi," ujar Yure yang memejamkan mata sembari menetralkan debaran jantungnya.
"Yur...ku mohon bantulah aku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku menginginkannya," bisik Ezka.
__ADS_1
Yure berusaha menolak semampu yang dia bisa. Karena dia tahu, sekali dia melakukan kesalahan, maka kepalanya bisa jadi tidak lagi bertengger di lehernya.