
1 Setengah tahun kemudian....
"Ini sih bagus banget Ma. Aku sangat suka loh hasil karya-karya MD colection ini. Meski tergolong baru, tapi saat ini sedang buming. Sepertinya orang ini akan menjadi idolaku alias adab berpakaian aku kedepannya," ujar Karin sembari memutar-mutar tubuhnya didepan cermin, karena sedang mencoba baju yang dia pesan dari Paris.
"Iya mama juga sudah dengar, saat ini sang designer jadi pencarian di media sosial. Tapi anehnya nggak ada yang tahu sosok designer hebat itu. Dengar-Dengar dia memiliki pabrik sendiri disana, tapi nggak tahu juga itu benar atau tidak." ucap Paulin.
"Hebat banget ya dia? padahal baru sekitar dua tahunan loh, dia buat brand ini. Terus hebatnya brand dia ini nyentuh sampai kalangan bawah juga. Nggak kebayang berapa banyak duit yang dia peroleh," timpal Karin.
"Kamu kalau pesan baju brand ini, beliin mama juga dong," ujar Paulin.
"Ya nanti ya Ma. Soalnya aku baru minta duit sama mas Galang buat beli baju pesta ini. Ini nggak murah loh. Soalnya aku pesan yang limited edition, buat acara peresmian cabang baru perusahaan mas Galang." Jawab Karin.
"Hebat juga suamimu,"
"Ya tentu dong Ma. Karena ada istri hebat dibelakangnya," ucap Karin penuh percaya diri.
"Mama bangga sama kamu. Nggak kebayang arwah Marinka pasti sangat menderita melihat kamu yang sudah bahagia dan kaya raya setelah merebut suaminya," ujar Paulin sembari terkekeh.
"Tentu saja. Mungkin arwahnya meraung-raung, terlebih dirinya sama sekali tidak memiliki nisan, karena hangus terbakar digudang itu," timpal Karin.
Praaanggggg
Maryam yang tidak sengaja mendengar percakapan itu tangannya jadi gemetar, dan teh yang dia buat untuk majikkannya itu hancur berantakan dilantai.
Krieeekkkkk
Karin membuka pintu kamarnya, dan terkejut mendapati Maryam ada didepan pintu. wanita itu kemudian menyeret tangan Maryam agar masuk kedalam.
"Apa kamu menguping?" tanya karin dengan penuh penekanan.
"Ti-Tidak nyonya." Jawab Maryam dengan bibir bergetar.
"Bohong! jangan kamu kira aku tidak tahu selama ini kamu selalu berpihak pada Marinka. Jadi jujur saja, apa kamu mendengar semua yang kami bicarakan?"
Maryam yang ketakutan langsung mengaku seketika dibawah tekanan Karin dan Paulin.
"Apapun yang kamu lihat dan kamu dengar, jadikan itu rahasia bagi dirimu sendiri. Itu lebih baik daripada kamu membocorkannya. Sebab, sedikit saja itu bocor pada orang lain, aku tidak akan segan-segan melakukan apa yang aku lakukan pada Marinka untuk menghabisimu," ujar Karin.
"Apa kamu mengerti?" tanya Paulin.
"Me-Mengerti nyonya." Jawab Maryam dengan tubuh yang masih gemetar.
"Bagus. Bereskan pecahan gelasnya, buat teh yang baru!" ujar Karin.
"Baik nyonya." Jawab Maryam dan pergi dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Apa kamu yakin dia tidak akan membuat masalah untuk kita?" tanya Paulin sembari menjatuhkan kembali bokongnya diatas sofa.
"Mama tenang saja, wanita itu terlalu tua mau buat masalah untuk kita. Lagipula kita tahu juga semua keluarganya di kampung. Kita cukup ancam saja, dia pasti akan menurut."Jawab Karin.
"Baguslah,"
"Lagian dia juga tidak memiliki barang bukti kalau mau melaporkan kita," ucap Karin.
"Hah...syukurlah. Tadi mama sempat takut, kalau yang dengar percakapan kita itu si Galang."
"Kenapa harus takut? ini juga sudah terjadi, si Marinka juga sudah terlanjur mati. Dia juga tidak mungkin menangisi wanita bodoh itu,"
"Benar juga. Mama cuma khawatir, karena kita mengatasnamakan dia saat peristiwa itu terjadi."
"Biarkan saja. Itu sengaja kita lakukan agar Marinka mati dengan membawa rasa sakit dan kebencian." Karin dan Paulin tertawa keras. Dan tawa itu masih bisa Maryam dengar sembari membawa pecahan gelas menuruni anak tangga.
Prakkkk
Maryam mengehempaskan pecahan gelas itu kedalam wadah sampah yang terbuat dari bahan plastik. Wanita parubaya itu menyeka air matanya dengan perasaan marah dan kesal, bahkan tubuh wanita itu masih sedikit gemetar.
"Dasar manusia-manusia laknat. Terkutuklah kalian semua yang sudah melenyapkan nyonya Marinka. Ah...nyonya...malang sekali nasibmu, kenapa orang sebaik anda mengalami nasib yang begitu tragis," batin Maryam.
"Semoga Tuhan menempatkan anda ditempat yang paling layak. Anda orang baik, dan aku orang pertama yang bersedia menjadi saksi,"
"Entah apa yang ada dipikiran tuan galang, wanita ini sama sekali tidak sebanding dengan nyonya Marinka dalam segala hal. Apa dia sudah buta? istri barunya ini bahkan kerjaannya cuma menghambur-hamburkan uang," batin Maryam.
"Tunggu!" ujar Karin, saat Maryam hendak keluar dari kamar itu.
Maryam menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Karin perlahan mendekati Maryam, dengan menyampirkan sehelai baju baru berwarna lilac dilengan rampingnya.
"Ada apa nyonya?" tanya Maryam.
Karin semakin mendekat kearah Maryam, bahkan jarak itu terlampau dekat untuk ukuran orang yang sedang berbicara secara normal.
"Berapa usiamu saat ini?" tanya Karin.
"54 tahun jawab Maryam.
"Sudah cukup tua untuk menjadi pelayan dapur rumah ini," ujar Karin, sementara Maryam hanya bisa mengerutkan dahinya karena belum mengeti arah pembicaraan Karin.
"Apa kamu sungguh masih ingin bekerja disini?" tanya Karin.
"Masih nyonya." Jawab Maryam.
"Kalau begitu sebaiknya tutup mulutmu rapat-rapat. Bersikaplah seperti orang buta, tuli, dan bisu. Apa yang kamu dengar dan lihat, cukup untuk kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Ini kali kedua aku memperingatkanmu, jadi jangan sampai kamu membuat kesalahan fatal yang akan merugikan dirimu dan keluargamu."
__ADS_1
"Kalau kamu sampai membocorkan rahasia ini, aku tidak segan-segan membuatmu menyusul Marinka. Dan tidak hanya itu, keluargamu juga akan aku bantai. Apa kamu mengerti?" tanya Karin.
"Mengerti nyonya."
"Bagus. Selagi kamu menurut, aku tidak akan mempermasalahkan usiamu yang seharusnya sudah pensiun itu."
"Terima kasih nyonya,"
"Pergilah!"
Maryam bergegas pergi. Karin sudah seperti iblis dimatanya. Saat ini Maryam hanya ingin mencari aman, karena dia memikirkan nasib keluarganya yang ada di kampung.
"Kamu mengerikan juga karin," ujar Paulin sembari terkekeh.
"Memang harus begitu, kalau mau rahasia kita tetap aman." Karin membuka lemari pakaiannya dan meraih gantungan baju, utuk semua baju-baju barunya.
"Gadlyn mama bawa ya? papamu kangen sama Gadlyn." ujar Paulin yang ingin sekali membawa sang cucu untuk menginap dirumahnya.
"Kalau dibawa buat main kesana ya boleh aja ma, tapi kalau buat nginap jangan dulu. Soalnya takut dia nangis pas bangun tidur, mama papa bisa kuwalahan nanti." Jawab Karin
"Masih suka nyariin kamu ya pas bangun tidur?" tanya Paulin.
"Masih. Padahal usianya sudah 4 tahun." Jawab Karin.
"Tapi bagus juga, jangan dibiarkan dia lebih akrab dengan pengasuhnya," ucap Paulin.
"Ya. Tapi Karin jadi nggak terlalu bebas kalau mau kemanapun," ujar Karin.
"Mau bebas kemana? nikmati saja hidupmu yang sudah sempurna saat ini,"
"Tapi kan bosan ma dirumah terus. Badanku jadi sedikit melar, karena kerjaan cuma makan tidur doang. Mana mas Galang nyuruh aku buat tambah anak lagi, nggak kebayang gimana dengan bentuk tubuhku nanti."
"Ya nggak apa-apa juga, anakmu juga sudah 4 tahun. Mungkin sudah waktunya kamu nambah momongan lagi,"
"Lihat entar deh, masih mikir-mikir dulu." Jawab Karin.
"Kamu jadi minta temani mama daftar senam ditempat Gym yang baru buka itu?"
"Jadi dong, soalnya aku pengen balik langsing. Aku nggak mau mas Galang kepincut wanita lain, kalau sampai badanku melar dan nggak ke urus."
"Ya sudah ayo, ntar kesorean."
"Oke."
Paulin dan Karin akhirnya pergi kesalah satu tempat Gym yang tidak jauh dari rumahnya. Karin ingin mendaftar kelas senam disana, karena ingin membuat tubuhnya kembali seperti semula.
__ADS_1