
Krieeekkkkkk
Yugie menekan handle pintu dan mendapati Vania yang sedang tersedu sedan karena menangis. Yugie mengerutkan dahinya saat melihat istrinya menangis sembari memegang 5 jarinya yang terbalut plester.
Yugie maju dengan langkah besar, dan menarik tangan Vania yang terluka.
"Ada apa? kenapa dengan tanganmu?" tanya Yugie sembari membuka semua plester yang menutupi luka Vania.
Yugie bisa melihat di kelima jari istrinya yang lembut itu terdapat luka besetan yang diapun belum tahu apa penyebabnya.
"Kenapa dengan jarimu? kenapa bisa begini?" tanya Yugie.
"Ke-Kena pisau. Hikz...." Jawab Vania kembali terisak.
"Kena pisau? kok bisa? terus kenapa sampai kelima jari yang kena?" tanya Yugie panik.
"Kamu mau bunuh diri karena di tilang?" tanya Yugie konyol.
Suara tangis Vania berhenti seketika saat mendengar pertanyaan Yugie yang konyol.
"Jangan bikin malu seragammu dengan melontarkan pertanyaan konyol seperti itu. Mana ada orang bunuh diri gegara di tilang? mana ada pula orang bunuh diri melukai jarinya. Dimana-Mana orang pasti akan melukai pegelangan tangannya." Jawab Vania kesal.
"Ya jadinya kamu luka kenapa?" tanya Yugie.
"A-Aku belajar memasak." Jawab Vania kemudian tertunduk.
Mendengar jawaban Vania, Yugie jadi terdiam. Tapi sejujur Yugie saat ini sedang menahan tawannya.
"Astaga...aku baru lihat orang memasak lukanya disemua jari. Biasanya orang luka pasti cuma di jari telunjuk saja. Ini asli parah banget punya istri modelan gini," batin Yugie.
Vania melirik Yugie. Dia ingin melihat ekspresi wajah suaminya itu. Dan tiba-tiba Yugie juga melirik kearah Vania.
"Kenapa? kamu mau menertawakan aku ya?" tanya Vania.
"Aku cuma pengen tahu, kenapa kamu tiba-tiba mau belajar memasak." Jawab Yugie.
"A-Aku mau meminta maaf padamu melalui masakkan itu," ujar Vania kembali tertunduk.
Mendengar itu Yugie mengembangkan senyumnya. Diraihnya kembali tangan Vania yang terluka, dan diciuminya berkali-kali.
Cup
Yugie kembali mencium kening Vania, yang membuat jantung wanita itu jadi berdebar.
"Terima kasih," ujar Yugie dengan senyum terbaiknya.
Sekarang apa boleh aku mencicipi hasil karya istriku?" tanya Yugie.
__ADS_1
"Se-sebaiknya tidak usah." Jawab Vania.
"Kenapa? bukankah kamu memasaknya untukku?" tanya Yugie.
"A-Aku takut kamu mati setelah memakannya." Jawab Vania.
Jawaban Vania membiat Yugie tertawa keras. Sementara Vania jadi cemberut.
"Kemarilah," ujar Yugie sembari menyeret tangan Vania ke meja makan.
Yugie membuka tudung makanan yang ada diatas meja. Dia begitu penasaran dengan hasil masakkan istrinya itu.
"Hemm...telor dadar dengan tingkat kematangan parah. Sayur sop yang sudah hampir jadi bubur. Dan nasi masih bisa dibedakan antara nasi dan beras. Tapi tidak masalah Yugie, hargai hasil masakkan istrimu. Kamu pasti bisa membimbingnya jauh lebih baik lagi," batin Yugie.
"Wahhh sepertinya lezat. Aku jadi tidak sabar ingin mencicipi buatan istriku," ujar Yugie sembari menarik kursi.
"Tuangkan nasi untukku. Aku juga mau nasi dan sayur sopnya," sambung Yugie.
Vania menuruti permintaan Yugie, dan mulai menyendokkan nasi beserta telur dadar dan sayur sop ke piring Yugie. Vania juga menyendokkan nasi, sayur serta telor dadar untuk dirinya.
Yugie mulai menyantap makanan itu dalam diam. Yugie terlihat begitu lahap memakannya hingga Vania menjadi heran sendiri.
"Apa hasil masakkanku memang seenak itu? bahkan dia makannya lebih lahap, ketimbang makan hasil masakkannya sendiri," batin Vania.
Vania mulai menyendokkan makanan kedalam mulutnya, tapi belum sampai ketenggorokkannya, Vania sudah menyemburkannya.
Uhhukkk
Uhukkkk
Uhukkkk
"Makannya pelan-pelan dong," ujar Yugie.
Yugie kembali memegang sendok makanannya, namun saat akan memasukkannya kedalam mulut, Vania mencegahnya.
"Jangan makan lagi. Aku tahu makanan ini sama sekali tidak layak untuk dimakan. Maaf sudah membuatmu kecewa," ujar Vania tertunduk sedih.
Yugie tersenyum dan meraih dagu Vania, hingga pandangan mata mereka bertemu.
"Bagiku ini masakkan terlezat didunia, karena istriku memasaknya dengan hati. Kamu bisa saja membeli makanan dari luar untuk menyenangkanku, tapi nyatanya kamu malah memasaknya sendiri dengan tanganmu hingga jari-jarimu terkena besetan pisau."
"Jadi menurutmu apa hasil masakkan ini tidak lezat bagiku? itulah sebabnya aku merasa ini makanan terlezat yang pernah aku makan selama hidupku," sambung Yugie.
"Pria ini begitu sangat menghargaiku. Mama benar, kenapa aku tidak bisa menerima pria yang begitu sabar terhadapku. Yang begitu sangat menghargaiku disaat Yure dengan tanpa perasaan mencampakanku. Bagaimana bisa aku menghinanya, dan tidak menghargainya, sementara dia begitu baik memperlakukanku. Yugie...aku rasa tidak butuh waktu lama-lama, kamu pasti bisa membuatku jatuh cinta padamu," batin Vania.
"Yugie. Terima kasih sudah sangat sabar menghadapiku. Maaf aku belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Tapi aku janji akan memperbaiki sikapku," ujar Vania.
__ADS_1
"Tidak buruk. Oh ya, apa uang gaji sudah kamu ambil?" tanya Yugie.
"Sudah." Jawab Vania.
"Itulah gajiku. Maaf aku belum bisa memberi uang lebih padamu saat ini. Aturlah uang itu agar bisa cukup untuk satu bulan," ujar Yugie.
"Emmm. Aku akan berusaha." Jawab Vania.
"Oh ya. Lain kali kalau mau pergi bilang ya? jadi aku tidak perlu khawatir lagi," ucap Yugie.
"Iya maaf karena tadi pergi nggak bilang," ujar Vania.
Yugie kembali ingin melanjutkan makan, namun lagi-lagi di halangi oleh Vania.
"Aku nggak mau kamu sakit perut hanya karena ingin menghargai masakkanku. Aku tahu rasa masakkan ini tidak layak dimakan," ujar Vania.
Yugie tersenyum sembari mengusap puncak kepala Vania.
"Kalau begitu bersiaplah. Kita akan makan diluar hari ini," ujar Yugie.
"Makan diluar? bagaimana nanti kalau uang ini tidak cukup sampai sebulan?" tanya Vania.
"Pasti cukup. Ayo kita bersiap," ujar Yugie.
Yugie menggenggam tangan Vania dan mengajaknya untuk berganti pakaian.
"Dia memang cantik, sexy. Mungkinkah kami bisa menjalani rumah tangga sebagaimana mestinya?" batin Yugie.
Vania melirik diam-diam melalui cermin. dan melihat Yugie tampak melamun menatap dirinya dari pantulan cermin. Vania kemudian bangkit dari tempat duduk dan berdiri tepat dihadapan Yugie.
"Apa aku cantik?" tanya Vania yang membuyarkan lamunan Yugie.
"Eh?i-iya." Jawab Yugie dengan wajah yang memerah.
"Iya apa?" tanya Vania.
"Kamu tadi nanya apa ya?" tanya Yugie untuk menyelamatkan rasa malunya.
"Kamu yakin tidak mendengar pertanyaanku?" tanya Vania sembari mengalungkan kedua tangan dileher Yugie.
Glekkkkk
Yugie dilanda gugup seketika saat Vania memperlakukannya seperti itu. Dan itu sudah terbaca oleh Vania.
"Apa aku cantik?" bisik Vania dengan suara sensualnya yang membuat Yugie jadi menegang.
"Iya cantik." Jawab Yugie sembari mendorong tubuh Vania dan bergegas pergi menuju mobil.
__ADS_1
"Hufffff hampir saja. Ada apa dengan Vania? bukankah dia sangat menolak disentuh? dia yang begini membuatku jadi takut," ucap Yugie sembari mengusap dadanya.
Sesaat kemudian Vania keluar dan mengunci pintu rumah itu. Merekaapun pergi untuk mencari kuliner yang mereka sukai.