Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.286. Kesepakatan


__ADS_3

"Aku tahu kamu wanita yang cerdas dan latar belakang keluargamu sangat luar biasa. Itulah sebabnya kamu begitu santai dan tidak memiliki rasa takut sedikitpun," ujar Joana.


Meiza meletakkan cangkir teh diatas meja, lalu menatap lawan bicaranya dengan wajah serius.


"Katakan apa maumu. Aku takut orang-orangku akan datang kemari dan kamu tidak memiliki kesempatan untuk bicara lagi," ucap Meiza.


"Jagan berharap pada orang-orang bodoh itu. Yang cerdas saja bisa aku kelabuhi. Kamu fikir kenapa aku bisa masuk ke kamarmu seperti ini? itu karena kalian memelihara orang bodoh disekitarmu," ujar Joana.


"Lalu apa tujuanmu menemuiku? kamu kesini tidak mungkin hanya ingin mengajakku omong kosong bukan?" tanya Meiza.


"Mari kita buat kesepakatan." Jawab Joana.


"Kesepakatan? kesepakatan apa?" tanya Meiza.


"Bercerailah dari Ilyas. Maka aku tidak akan mengincar kamu dan anakmu. Jangan buru-buru menolak, pikirkan untung dan ruginya. Deryl tidak hanya ingin melenyapkanmu dan keluargamu, tapi pada akhirnya dia akan melenyapkan Ilyas juga." Jawab Joana.


Meiza menatap lekat kearah Joana. Wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi terkejut ataupun takut. Sesaat kemudian dirinya malah mengembangkan senyum.


"Apa aku boleh menebak? kamu menyukai suamiku?" tanya Meiza dengan mantap.


"Ya. Aku hanya sedikit terlambat menyatakan perasaanku. Waktu itu aku memiliki tugas menghabisi seseorang dari negara Belanda. Aku pikir akan aman Ilyas berada di London, karena dia ditugaskan untuk menghabismu. Tapi ternyata aku keliru, dia malah terjerat oleh cintamu itu." Jawab Joana.


"Kenapa kamu begitu yakin bisa melindunginya dari Deryl? sementara kamu tahu sendiri dia saat ini sedang lumpuh?" tanya Meiza.


"Seperti yang kamu lakukan saat ini, aku sangat yakin dia bisa sembuh. Aku akan membawanya sejauh mungkin dari jangkauan Deryl." Jawab Joana.


"Katakanlah kamu berhasil membawa Ilyas kabur jauh. Lalu bagaimana dengan nasibku? Deryl mana perduli Ilyas mau kabur kemana. Karena yang dia incar bukan Ilyas, tujuan utamanya adalah keluargaku," ujar Meiza.


"Jadi kamu mau bagaimana?" tanya Joana.


"Pertama. Ilyas harus setuju dulu berpisah denganku. Kedua, kami tidak bisa bercerai sebelum anakku lahir. Sementara anakku lahir kurang lebih dua bulan lagi,"


"Kenapa harus menunggu anakmu lahir?" tanya Joana.


"Paling tidak kamu biarkan Ilyas melihat anaknya untuk terakhir kali sebelum kamu pergi membawanya."

__ADS_1


"Ketiga. Kamu harus menghabisi Deryl agar sumber masalahnya kelar," sambung Joana.


"Untuk syarat pertama dan kedua, mungkin aku bisa langsung menyetujuinya. Tapi kalau syarat ketiga, itu sangat sulit bagiku."


"Sulit kenapa?" tanya Meiza.


"Dialah yang memfasilitasi aku, saat aku latihan menembak dengan ketat. Dia yang mengeluarkan uang untuk menyewa seorang yang ahli menembak dalam pasukan militer di Australia. Dia...."


"Jadi maksudmu, kamu terikat dalam sebuah balas budi?" tanya Meiza.


"Kurang lebih seperti itu. Lagipula selama ini dialah yang mengatur semua job pekerjaan. Sehingga aku tidak kesulitan uang." Jawab Joana.


"Lalu apa bedanya dengan kamu membawa Ilyas pergi? itu berarti kamu menghianatinya, terlebih kamu melepaskan musuhnya untuk tetap hidup," ujar Meiza.


"Paling tidak aku tidak membunuh tuanku dengan syarat yang tidak setimpal," ujar Joana.


"Berapa uang yang kamu dapatkan selama dia memberimu job membunuh orang?" tanya Meiza penasaran.


"Satu orang 20 juta. Sejauh ini sudah hampir 100 orang yang aku lenyapkan." Jawab Joana.


"Huffftt...aku suka karena kamu terus terang dengan lawan bicaramu, atau bisa dibilang orang yang berseberangan denganmu. Tapi terus terang aku sangat kasihan padamu. Apa selama ini kamu tidak pernah mendapatkan informasi dengan sesama pembunuh bayaran?" tanya Meiza.


"Apa menurutmu aku bodoh, karena ingin mengekspos diriku sendiri kedepan publik?"


"Bukan di depan publik. Tapi maksudku apa kamu tidak punya teman sesama pembunuh bayaran? tapi tentu saja bukan bergerak dilingkungan yang sama," tanya Meiza.


"Tidak ada. Karena aku dilarang berkomunikasi dengan siapapun. Aku hanya diperbolehkan bekerja dengannya. Itulah sebabnya aku bisa bertemu Ilyas di markas kota S." Jawab Joana.


"Pantas saja kalau begitu. Apa kamu tahu kenapa Deryl memiliki dendam pada keluargaku?" tanya Meiza.


"Itu karena keluargamu sudah membuat orang tuanya terbunuh, padahal orang tuanya sengaja dijadikan kambing hitam oleh nenekmu dan juga pamanmu." Jawab Joana.


Jawaban Joana lagi-lagi membuat Meiza tertawa.


"Apa kamu tahu kenapa ayahnya bisa di hukum mati? sementara Deryl yang tidak tahu apa-apa sengaja mengarang cerita kalau ayahnya dijadikan kambing hitam oleh nenek dan pamanku,"

__ADS_1


"Ayahnya seorang penipu, pembunuh, pemerkosa, penjarah keringat rakyat, dan juga perampas harta keluarga. Dia di eksekusi mati karena dia melakukan pembunuhan terhadap kakak kandungnya sendiri, yang tidak lain suami dari nenekku dan ayah dari pamanku. Dia juga melakukan penyekapan pada suami nenekku yang sekarang, selama hampir 26 tahun. Apa menurutmu dia layak hidup?" tanya Meiza.


Joana tertegun saat mendengar penjelasan Meiza.


"Kamu pasti berbohong. Kak Deryl tidak mungkin menipuku," ujar Joana.


"Kenapa dia harus jujur padamu? kalau dia jujur, dia tidak akan bisa memanfaatkanmu dan mendoktrin agar adrenalin terpacu saat berniat membunuh."


"Aku tidak heran dia bisa menipumu, karena dia adalah keturunan Satyo sang penipu ulung. Bahkan kakak kandungnya saja bisa dia bunuh dan dia tipu. Termasuk para gadis-gadis desa yang dengan mudah dia perdaya."


"Deryl mana tahu cerita tentang orang tuanya. Terlebih alasan kenapa ayahnya bisa dihukum mati. Karena saat itu usianya baru 13 tahun. Remaja usia itu pasti masih sedang asyik bermain. Mana tahu dengan urusan orang dewasa. Terlebih Satyo tidak hanya memiliki satu istri, melainkan 9 istri. Itupun yang hanya diketahui saja," sambung Meiza.


"Dan kamu sudah ditipu oleh Deryl tentang uang jobmu itu," ujar Meiza.


"Apa maksudmu?" tanya Joana.


"Apa orang yang menyuruhmu membunuh seseorang, uangnya langsung masuk ke rekening pribadimu?" tanya meiza.


"Tidak. Deryl yang memberikannya padaku. Tapi dia mengatakan padaku kalau hasilnya memang bagi dua dengan dia." Jawaban Joana membuat Meiza terkekeh kembali.


"20 juta sama sekali tidak sebanding dengan resiko yang akan kamu hadapi. Saat kamu tertangkap, Deryl pasti akan lepas tangan. Apa kamu tahu? keluargaku adalah keluarga mafia?".


"Aku tahu. Ayahmu seorang mafia terbesar di negara I."


"Kami juga punya penembak jitu handal. Tidak hanya satu, melainkan puluhan. Karena mereka dilatih dengan ketat. Tapi kami tidak melarang, jika dia ingin mengambil job diluar tugas markas. Apa kamu tahu berapa bayaran yang bisa dia dapatkan saat membunuh seseorang?"


"Berapa?" Joana penasaran.


"Paling kecil 200 juta. Dan paling besar 300 juta. Sangat setimpal untuk melenyapkan nyawa seseorang yang berharga. Dan kamu? kamu pikir saja sendiri. Atau kamu bisa mencari tahu sendiri, kalau menurutmu aku berbohong." Jawab Meiza.


"Aku sama sekali tidak takut mati, karena pada akhirnya semua orang akan mati juga. Apa kamu pikir aku seorang wanita lemah? tentu saja tidak. Sebagai seorang putri dari mafia, tentu kami harus mencari bekal sendiri untuk melindungi diri sendiri."


"Kamu memang ahli dalam menembak. Tapi kamu bukan ahli bela diri sepertiku. Meski aku terlihat anggun, tapi aku sangat menguasai Wushu dan jujitsu. Jadi meski saat ini aku dalam keadaan hamil, bukan berarti aku tidak mampu melindungi diriku sendiri," sambung Meiza.


Joana merenung. Dia masih memikirkan tentang Deryl yang menipunya atau tidak. Sementara itu Meiza tersenyum tipis nyaris tak tarlihat.

__ADS_1


"Kena kau," batin Meiza.


__ADS_2