Seranjang 3 Nyawa

Seranjang 3 Nyawa
Bab.16. Bedah Plastik


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya"


"Semakin hari kondisinya semakin membaik Tuan Muda."


"Bagus. Lalu kapan bisa dilakukan bedah plastik? apa kamu sudah berhasil menghubungi dokter bedah dari Jerman itu?"


"Sudah Tuan Muda. Jika tidak memiliki halangan, besok beliau akan tiba di Indonesia."


"Apa anda ingin bertemu langsung dengan dokter William?"


"Tidak perlu. Aku akan menunggu hasil akhirnya saja. Setelah itu baru aku akan menemuinya."


"Apa Tuan Muda sudah menyiapkan foto untuk Nona Marinka?"


"Aku akan mengirimkannya lewat chat diponselmu. Buat wajahnya secantik sang dewi, buat agar tiap lelaki yang melihatnya akan terpikat oleh kecantikkannya. Aku tidak mau ada kesalahan atau cacat sedikitpun ditubuhnya."


"Baik Tuan Muda."


"Pergilah!"


"Permisi Tuan Muda."


Dokter bedah plastik senior itu keluar langsung dari ruangan Ezra. Sementara Ezra menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya.


"Apa aku tidak salah mendengar ucapanmu tadi?"


"Ucapan yang mana?"


"Kamu menginginkan dia secantik sang dewi, bahkan kamu ingin tiap lelaki yang melihatnya akan terpikat. Perkataan macam apa itu?"


"Aku hanya ingin membantu wanita malang itu. Dengan wajahnya yang baru, mungkin dia akan lebih percaya diri. Aku yakin dibalik kebakaran itu, ada sesuatu yang rumit didalamnya."


"Tapi tidak semua orang menyukai perubahan? bagaimana kalau dia tidak suka dengan wajah barunya?"


"Aku tidak bisa memberikan foto KTP nya bukan? foto Ktp sedikit banyaknya lebih berbeda dengan aslinya. Lebih baik merombak semuanya saja."


"Kamu mengambil keputusan seolah kamu ini bapaknya. Bukankah disitu ada alamat gadis itu? kenapa kita tidak memberitahu keluarganya saja?"


"Jangan! entah mengapa aku merasa gadis itu akan dibunuh dengan sengaja dan itu sangat jelas sekali. Dengan merubah wajahnya, akan memudahkan gadis itu untuk bersembunyi dan tidak dikenali lagi oleh orang yang ingin melenyapkannya."


"Benar juga. Kalau sekarang penjahat itu mendengar dia masih hiup, bisa jadi gadis ini akan diincar kembali."


"Yuda, bantu aku selidiki latar belakang gadis ini dengan detail, siapa tahu kita akan menemukan pelaku yang ingin melenyapkannya."


"Apa itu diperlukan?"

__ADS_1


"Aku rasa perlu. Aku tidak ingin membantunya setengah-setengah. Dia sudah sangat menderita saat ini, aku ingin membantu meringankan sedikit bebannya."


"Zra, jangan sampai tindakkanmu ini membuatmu terbakar."


"Maksudmu?"


"Bagaimana kalau Jihan tahu? dia akan salah paham padamu,"


"Aku yakin dia tidak sepicik itu. Jihan gadis yang baik, dia pasti senang kekasihnya menolong orang lain."


"Terserah saja. yang penting aku sudah mengingatkanmu."


"Sepertinya kita harus kembali kekantor, jam 2 nanti akan ada rapat lagi dengan rekan bisnis kita dari Singapura."


"Baiklah."


*****


Tampak seorang dokter yang usianya sekitar 40 tahunan sedang berbincang dengan dokter sofian ahli bedah plastik dalam bahasa internasional. Obrolan itu begitu panjang, karena dokter sofian ingin menjelaskan dengan detail keinginan Ezra yang ingin merubah Marinka menjadi secantik sang dewi.


Dokter William sangat faham keinginan dari kliennya itu, itulah sebabnya dia tidak ingin melewatkan satu katapun yang dokter sofian katakan. Dokter sofian sangat senang, ketika dokter William menyanggupi semua permintaan Ezra, yang artinya dirinya akan selamat dari amukkan seekor singa.


Sebagai seorang dokter bedah, dokter sofian faham, saat dokter William mengatakan proses bedah plastik tidak bisa berlangsung hanya sekali pembedahan saja, terlebih Marinka mengalami luka bakar hampir disekujur tubuhnya. Dokter Willian dan dokter Sofian sepakat akan saling membantu untuk membuat bedah plastik itu berjalan dengan sukses dan sesuai keinginan. Dan untuk bedah plastik pertama, kegiatan itu dinyatakan sukses dan harus menunggu untuk bedah plastik selanjutnya.


"Untuk bedah pertama terbilang sukses besar Tuan Muda."


"Bedah pertama? apa masih ada bedah selanjutnya?"


"Maaf Tuan Muda, sepertinya saya harus menjelaskan pada anda tentang bedah plastik yang dialami Pasien yang terbilang cukup parah. Kami sudah memperkirakan Nona Marinka akan mengalami kurang lebih 18 kali pembedahan, agar hasil yang diinginkan sesuai dengan apa yang kita harapkan."


"18 kali? sebanyak itu?"


"Iya Tuan Muda. Karena Bedah plastik dilakukan dengan teliti dan kehati-hatian. Bukan berarti bedah yang lain berlangsung sepele, tapi bedah plastik bicara tentang masa depan seseorang. Wajah dan tubuh adalah aset yang sangat berharga. Jadi siapapun yang melakukan bedah plastik, berharap hasilnya sempurna sesuai yang diinginkan."


"Baiklah. Lakukan apa saja yang menurut kalian terbaik buat dia, seperti yang kukatakan padamu, aku tidak ingin hasilnya ada cela sedikitpun."


"Baik Tuan Muda."


Hari demi hari Marinka menjalani berbagai macam pembedahan baik dibagian wajah maupun tubuhnya, hingga tidak terasa waktu tiga bulanpun sudah berlalu. Karena masih tahap pemulihan, Marinka tidak diizinkan terpapar matahari secara langsung. Marinka yang baru sadar dari komanya merasa aneh sekujur tubuhnya telah dibalut oleh perban yang sangat banyak. Bahkan wanita itu jadi teringat, dirinya saat ini persis seperti seorang Mummy difilm-film.


Marinka perlahan mengingat satu persatu kilasan yang terjadi padanya sebelum kejadian naas menimpa dirinya. Air mata Marinka menasahi kain kassa yang berada disekitar wajahnya.


"Wajahku pasti sudah hancur saat ini, itulah sebabnya aku dibalut seperti Mummy. Mungkin tiap orang yang melihatku akan merasa jijik dan berlari karena melihat wajahku yang jelek. Hikz..."


"Galang. Aku bersumpah demi hidupku, aku akan membalas semua rasa sakit hatiku padamu. Kamu lihat saja, tidak secuil perbuatanmu akan luput dari pembalasanku," ucap Marinka lirih.

__ADS_1


Tap


Tap


Tap


Suara langkah kaki yang lumayan banyak mendekati arah pintu tempat Marinka terbaring. Dokter William tampak menjelaskan pada Ezra tentang proses pembedahan yang dilakukannya pada Marinka, dan dokter William berharap Ezra sangat puas dengan hasilnya.


"Apa dia sudah sadar?" tanya Ezra.


"Seorang perawat menyampaikan pada saya, bahwa Nona Marinka sudah sadar sekitar 30 menit yang lalu." Jawab Dokter Sofian.


Krieeeekkk


Dokter Sofian menekan handle pintu dan mempersilahkan Ezra, Yuda dan dokter William agar masuk lebih dulu. Marinka menoleh saat ada orang yang memasuki ruangannya. Marinka melihat ada dua orang pria tampan yang mengenakan pakaian berbeda dari para dokter. Sekilas Marinka teringat saat kejadian kebakaran itu, sebelum dia benar-benar tidak sadarkan diri, Marinka melihat sosok tampan yang menolong dirinya meskipun terlihat samar karena kesadarannya yang mulai menurun.


"Nona Marinka, bagaimana perasaan Nona saat ini? apa jauh lebih baik?" tanya dokter Sofian.


"Dokter tahu nama saya?"


Dokter Sofian menyunggingkan senyumnya.


"Anda sangat beruntung bisa diselamatkan oleh tuan Ezra saat terjadi kebakaran itu."


"Ezra?"


"Bagaimana kabarmu Marinka?"


"Apa anda yang menolong saya?"


"Emm." Ezra mengangguk.


"Terima kasih. Tapi seharusnya waktu itu anda tidak usah menyelamatkan nyawa saya," Marinka tertunduk.


"Kenapa? apa kamu disana sengaja membakar dirimu sendiri?"


Marinka menggelengkan kepalanya.


"Kemungkinan ada segelintir orang yang tidak menyukai saya masih bernafas. Melihat keadaan saya yang seperti ini, mungkin akan lebih baik saya mati saja."


"Keadaan seperti ini? seperti apa?"


"Anda pasti tahu, tubuh saya sudah hangus terbakar. Pasti saya saat ini sangat jelek dan mengerikan. Dokter, saya pernah dengar ada obat suntikan yang bisa membuat manusia mati seketika, apa dokter bisa memberikan itu padaku?"


Dokter Sofian menoleh dengan wajah bingung kearah Ezra. Namun pria itu malah menanggapi ucapan Marinka dengan sebuah senyuman lebar.

__ADS_1


__ADS_2